Menikahi Suami Sahabatku

Menikahi Suami Sahabatku
Help!


Ini part agak gimana gitu. Jangan rumpiin Eike yeee. Truly dapet wangsit nya begini


Gomen


Pertama kali bikin story konflik


Abi, Dara, Stephen dan Diana akhirnya selesai berkaraoke dan sebelum mereka pulang, Marcell ikut bergabung dengan kedua pasutri.


Kini kelimanya makan malam di ruang kantor Marcell yang sudah disiapkan makanan oleh pria anime itu.


"Pasien mana yang meninggal Di?" tanya Marcell sambil menggigit chicken wings.


"Pasien ngeyel ku. Sudah ta bilang berhenti merokok tapi masih saja. Ya sudah, semalam nggak tertolong."


"Apa kamu yang menghandel semalam?"


"Nggak Cell, semalam aku sudah tidur. Bahkan suara ponsel pun aku tidak dengar" jawab Diana.


"Ponselnya aku silent, Cell. Diana tampak lelah, jadi kubiarkan istirahat" sahut Stephen.


"Eh Dara, gelangmu itu Ruby ya?" tanya Marcell yang memang suka batu-batuan.


Dara menoleh ke pergelangan tangannya yang memang melingkar gelang Ruby pemberian Maya Xavier.



"Iya, diberikan oleh salah seorang muridku" jawab Dara tanpa menyebutkan nama.


"Bagus. Cocok di tanganmu" puji Marcell.


"Murid-muridnya Dara kan anak orang berduit, wajar jika dia mendapatkan hadiah mahal" senyum Diana.


Kelimanya pun menghabiskan makan malam sambil bercerita macam-macam.


***


Kedua pasang pasutri itu keluar dari tempat Marcell sekitar pukul sepuluh malam. Abi tadi memarkirkan mobilnya berbeda empat mobil dari mobil Stephen. Tempat karaoke Marcell masih ada beberapa pengunjung walaupun tidak banyak, ada sekitar lima orang datang.


Marcell pun mengantar mereka hingga ke depan dan keempatnya pun berjalan bersama menuju mobil masing-masing.


Stephen dan Diana sampai ke Range Rover nya sedangkan Abi dan Dara masih harus berjalan lebih jauh dari tempat mobil Stephen terparkir.


"Hati-hati di jalan ya kalian berdua" ucap Diana sambil memeluk Abi dan Dara. Begitu juga Stephen yang memeluk sahabatnya.


"Kalian juga ya" ucap Dara.


Sepanjang jalan Dara kepo kenapa Abi tidak jealous ketika dia dipeluk dan dicium pipinya oleh Edward dan Stephen.


"Karena aku pun sama kepada Diana dan Yuna dan aku tahu kamu juga tidak ada feeling kepada mereka berdua, begitu juga aku. Murni persahabatan" ucap Abi sambil tersenyum. "Kamu adalah cintaku, sayangku, my other half, Adara."


Dara tersenyum melihat suaminya. Mereka sampai di tempat mobil mereka terparkir.


Ketika Dara hendak membuka pintu mobil, entah darimana datangnya sekelompok orang datang menyerangnya. Jeritan Dara mengejutkan Abi yang berusaha menolong istrinya namun dia sendiri diserang tiga orang pria yang datang dari belakangnya dan salah seorang memukul kepala Abi dengan tongkat baseball. Tiga orang pria menangkap tubuh Dara dan salah seorangnya membekap mulutnya dan membuatnya pingsan hingga dibopong dua pria lain masuk ke dalam mobil yang langsung melesat meninggalkan area karaoke.


Abi masih berusaha melawan tiga orang yang menyerangnya namun dia sendiri merasakan pusing di kepalanya akibat pukulan tadi. Darah segar mengucur dari kepalanya. Dia masih mendengar suara Stephen dan Marcell serta beberapa orang yang membantu Abi sebelum dirinya pingsan.


"Adara..." bisiknya lemah dan semuanya gelap.



"Abiiii... Abiiiii" teriak Diana yang terdengar sayup-sayup.


***


Abi terbangun dan dia mengenali bahwa dirinya di rumah sakit. Seketika dia teringat istrinya yang diculik. Tanpa mempedulikan pusing di kepalanya Abi langsung bangun yang membuatnya terkapar lagi karena rasanya mau pingsan lagi.


"Hei! Hei! Kamu jangan bangun dulu Bi" cegah Diana yang baru masuk ke ruangan Abi.


"Adara, Di! Adara diculik!" racaunya. "Istriku diculik! Ya Allah istri dan anakku!" Abi benar-benar menangis sekarang, dia merasa tidak berdaya tidak mampu melindungi istri dan anaknya.


"Kamu pulihkan dulu baru cari Dara." Diana mengecek kondisi kepala Abi yang cukup parah terkena pukulan hingga harus dijahit 10 jahitan.


"Nggak bisa Di! Aku harus cari istri dan anakku!" teriaknya histeris yang membuat Marcell bersama perawat masuk ke ruangan Abi karena Diana tidak kuat menahan tubuh besar Abi.


Diana terpaksa memberikan cairan penenang melalui infus Abi agar tenang. Tak lama, Abi pun memejamkan mata dan tertidur.


"Ya ampun, aku tidak tahu alasan apa mereka menculik Dara." Marcell memukul tembok ruang Abi emosi. Istri sahabatnya diculik di areanya bahkan di depan matanya sendiri!


Diana menangis tersedu-sedu di sofa sekarang setelah tadi dia tidak bisa menangis karena panik melihat Abi.


"Ini salahku Cell, kalau saja aku tidak mengajaknya karaoke" Raung Diana yang dipeluk oleh Marcell. Diana tampak berantakan apalagi blus putihnya banyak terkena darah Abi ketika ia memeluk kepala Abi selama perjalanan ke rumah sakit.


Marcell hanya bisa mengelus lengan Diana tanpa berucap apa-apa. Hatinya merasa bersalah terlambat menyelamatkan Dara.


Stephen masuk ke dalam ruangan Abi melihat istrinya masih shock dalam pelukan Marcell.


"Sayang" bisiknya sambil berjongkok di depan Diana yang langsung menghambur ke suaminya.


"Cell, CCTV tempat mu berfungsi kan?" tanya Stephen yang kini memindahkan tubuhnya ke sofa sambil memeluk Diana.


"Berfungsi semua bro. Ambil saja kalau Edward membutuhkannya."


"Besok Edward kemari bersama Bryan. Kita akan mencari Dara. Kasihan Abi melihat istrinya diculik di depan mata." Stephen menatap Abi yang masih dalam pengaruh obat penenang.


"Apakah kamu ada ide nama siapa orang yang punya masalah pribadi dengan Abi?" tanya Stephen.


"Damien!" seru Stephen dan Diana.


"Siapa Damien? Damien Xavier maksudmu?" tanya Marcell hati-hati.


Pasutri itu mengangguk.


"Kok bisa?" Marcell bingung karena bidang bisnis Damien dan Abi berbeda jauh.


"Panjang ceritanya" sahut Diana.


"Kepolisian gimana Steve?" tanya Marcell.


"Aku sudah melaporkan bahkan Kapolda nya sendiri turun tangan karena ini penculikan besar istri seorang pengusaha terkenal. Apalagi aku dan Edward yang menjadi backing Abi belum nanti Yuna ikut turun."


Suara ponsel Diana berbunyi. Stephen yang dekat dengan tas Diana yang terletak di meja kecil sebelah sofa, mengambilkan tasnya. Diana pun mengambil ponselnya dan tampak nama Yuna Pratomo di layar. Kedua wanita itu saling menguatkan dan meyakinkan bahwa Dara akan segera ditemukan.


"Edward dan Bryan berangkat malam ini dari London tapi aku tidak bisa ikut, Duncan lagi sakit. Tampaknya dia merasakan Tante Daranya lagi tidak baik-baik saja" ucap Yuna dari seberang.


"Terima kasih mbak. Mohon doanya ya buat Dara dan Abi juga."


"Abi parah kah?"


"Lumayan mbak. Preman-preman itu menyerangnya brutal!"


"Semoga Edward, Bram dan Bryan bisa segera menemukan."


"Aamiin."


Sementara itu Stephen sibuk menelpon beberapa orang kepercayaannya untuk mencari info mobil yang dipakai menculik Dara. Dia tadi sempat melihat model dan plat nomornya walaupun dia yakini itu palsu.


Sedangkan Marcell menelpon asistennya untuk segera mengirimkan semua rekaman CCTV nya ke Edward dan Bram sebagai salah satu hacker andalan klan McGregor.


Semua orang yang mengenal Abi dan Dara berusaha membantu pasutri itu.


***


Dara mengerjap-kerjapkan matanya dan melihat matahari pagi masuk ke dalam jendela kamarnya. Teringat kejadian semalam, Dara pun terbangun sembari memegang perutnya yang membuncit. Keringat dingin mulai muncul di dahinya takut jika anaknya kenapa-kenapa.


"Nak, kamu tidak apa-apa di dalam?" bisik Dara.


Entah sang bayi mengerti ucapan mommynya, Dara merasakan gerakan dalam perutnya dan hatinya merasa lega ketika bayinya menendang perutnya.


Setelah merasakan bayinya baik-baik saja, Dara baru mengedarkan pandangannya dan melihat kamar yang tertata cantik dan rapi. Nuansa peach mendominasi kamarnya dan Dara melihat ada dispenser air mineral yang masih penuh.



Pelan-pelan dia turun dari tempat tidur dan merasakan karpet bulu yang tebal. Dara berjalan ke arah dispenser dan mengisi gelas yang ada disana dengan air putih lalu meminumnya hingga tandas.


Dara berjalan menuju jendela dan betapa terkejutnya dia ketika melihat pemandangan di luar



Pantai? Aku berada di pantai? Dimana ini? Bali? Mas Abi, Ya Allah mas Abi dipukul orang semalam.


Rasa panik kembali merayapi Dara mengingat kejadian semalam.


Ini bukan prank! Ini penculikan!


Dara melihat bahwa dia kini berada di lantai dua sebuah rumah yang berada di pantai yang tidak tahu pantai mana. Dara mencoba mencari jalan untuk keluar namun masih belum menemukan.


Tiba-tiba kenop pintu kamarnya berputar. Dara berusaha untuk melindungi dirinya dengan mencari-cari alat yang bisa digunakan untuk melawan namun tidak menemukan bahkan gelas yang dipakai pun dari plastik.


Dara akhirnya menemukan sebuah sisir yang digunakan untuk menyasak rambut berujung runcing. Diam-diam dipegangnya di belakang tangan kanannya.


Pintu pun terbuka. Dan ...


"Halo Dara" sapa pria itu.


"Kamu??!!"


***


Yuhuuu


Maaf kalau adegan berantemnya kurang greget bis bayanganku ma hasil ketik gak sinkron ( mencari kata-kata yang pas sih benernya yang susah )


Kan udah aku spoiler uwu-uwu dulu sebelum gedubrak


Siapa hayooooo


Lanjut besok yaaaa


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


Bubye ... met istirahat Readers ku