
Suara gemericik air membuat Dara terbangun dari tidurnya. Posisinya sekarang tengkurap menghadap ke sebuah pintu bewarna coklat tua yang mulai dihapalnya.
Aku di kamarnya mas Abi?
Dara pun membalik tubuhnya menghadap langit-langit kamar Abi. Kepalanya terasa pusing dan tubuhnya remuk redam. Dara menoleh ke sisi kosong kasur yang berada di sebelah kanannya dan tampak berantakan. Dara membuka selimut dan terkejut melihat tubuhnya polos tanpa busana ditambah banyaknya jejak di kulitnya yang mulus.
Apa yang terjadi semalam?
Dara berusaha mengingat-ingat setelah mereka keluar dari restauran Damien.
Seingatku aku berjalan dengan mas Abi ke mobil dan di dalam aku merasa pusing... Mas Abi menggendong ku ke kamar... mencium ku... Dan...
"Oh my God! Astaghfirullah!" pekik Dara panik.
Bisa-bisanya aku bilang begitu? Ya ampun Adara Utari! Alkohol benar-benar bikin kacau semuanya!
Dara tahu di bawah pengaruh alkohol, disaat mabuk adalah saat kamu mengatakan kejujuran perasaanmu.
Wajah Dara memerah ketika mengingat tiga kata yang dia ucapkan. Aku ingin kau.
"Astagaaaaa Daraaaaa!!!" Dara mengambil bantal dan menutup wajahnya yang merah padam.
Abi yang di kamar mandi mendengar teriakkan istrinya tertawa terbahak-bahak. Dia tahu pasti Dara malu sekarang mengingat kejadian semalam. Betapa tidak, pengaruh alkohol membuat Dara menjadi lebih liar, lebih seksih dan lebih ber***irah. Abi benar-benar seperti mendapatkan jackpot yang dia sendiri pun baru merasakan hal seperti ini.
Sepertinya aku harus sering-sering membuat Adara mabuk jika hasilnya menyenangkan kayak semalam.
Abi keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk putih yang menutupi tubuh bawahnya, sengaja untuk menggoda istrinya yang masih setia menutup wajahnya dengan bantal.
"Adara" panggil Abi. Dara tetap tidak bergeming.
"Adara!"
Dara membuka sedikit bantalnya yang hanya menunjukkan matanya dan menatap Abi.
"Apa mas?" gumamnya tidak jelas di balik bantal namun setelahnya dia berteriak lagi.
"Pakai baju dulu sanaaaa!!!" wajah Dara semakin merah melihat suaminya hanya memakai handuk dan memamerkan tubuhnya yang beroti sobek dan liat.
Abi tertawa terbahak-bahak lagi.
Istriku lucu sekali kalau lagi malu-malu meong gitu.
Abi pun duduk di pinggir tempat tidur lalu menepuk lengan Dara yang kini tidak mulus karena ada tanda disana.
"Adara, kamu buka dulu bantalnya" pinta Abi.
"Nggak mau!"
Abi semakin gemas melihatnya. Direbutnya bantal Adara yang ternyata malah menutup matanya rapat-rapat.
Abi mengusap wajahnya kasar bercampur geli melihat polah tingkah istrinya yang tampak menggemaskan. Tidak ada Dara yang seorang guru bimbingan konseling, yang ada hanyalah Adara Utari istrinya yang lagi malu to the max.
"Dengarkan aku sayang, buka dulu matamu. Kamu harus bertanggung jawab tahu!" ucap Abi dengan senyum dikulum.
Masih memejamkan matanya, Dara bertanya dengan nada pelan "Tanggung jawab apa?"
"Buka dulu, baru kamu tahu apa" jawab Abi lembut.
Pelan Dara membuka matanya dan bersirobok dengan mata Abi yang menatapnya mesra. Wajah Dara memerah lagi melihat wajah Abi.
"Lihat, apa yang kamu lakukan di kulitku yang mulus ini!" Tanpa malu Abi menunjukkan beberapa tanda yang dibuat Dara semalam.
Dara terperangah. Astagaaaaa, semalam aku begitu hebohnya kah? Aku benar-benar seperti perempuan ja**Lang!
"Apa yang ... aku lakukan?" cicit Dara panik.
"Yang kamu lakukan semalam, benar-benar Adara yang liar" bisik Abi dengan nada mesum di sisi telinga Dara.
Dara spontan mendorong Abi hingga menjauh dari dirinya. Lalu entah mendapatkan kekuatan darimana, Dara bangun dan membungkus tubuhnya dengan selimut lalu menuju kamarnya sendiri. Namun belum sempat dia sampai pintu, tubuhnya langsung digendong Abi.
"Mas! Mau dibawa kemana aku?!" berontaknya.
"Mandi lah!" jawab Abi kalem lalu masuk ke dalam kamar mandi miliknya.
***
Mungkin Dara awam tentang hubungan suami istri namun dia tahu, dia bisa begini karena rasa cintanya kepada suaminya. Tanpa memiliki perasaan mendalam pada Abi, tidak mungkin dia akan bisa berbuat seperti semalam. Dara bukan pel**cur yang bisa berbuat tanpa ada perasaan di dalamnya.
"Adara" panggil Abi yang bingung melihat istrinya melamun tanpa mengeringkan rambutnya padahal hair dryer sudah di tangannya sedari tadi.
"Eh iya mas?" Dara masih mengenakan bathrobe sedangkan Abi sudah memakai kaos dan celana jeans. Keduanya kini berada di kamar Dara.
"Kamu mau kapan mengeringkan rambutmu kalau kamunya malah melamun?" goda Abi yang membuat Dara terkejut.
"Astaghfirullah!" Dara pun bersiap mengeringkan rambutnya.
"Nggak usah ngebayangin kejadian semalam. Kita bisa melakukan lagi kalau kamu mau" bisik Abi dengan nada menggoda.
"Mas Abimanyu!!! Keluar sanaaaa!!!" bentak Dara dengan wajah memerah yang ditimpali tawa Abi.
Rasanya senang sekali menggoda Adara seharian. Wajahnya kalau memerah semakin menggemaskan!
Ponsel Abi tiba-tiba berbunyi. Tampak nama Stephen disana.
"Pagi bro" sapa Abi ramah sembari keluar kamar Dara karena istrinya sedang memakai hair dryer.
"Pagi. Istrimu lagi ngeringin rambut juga?" kekeh Stephen di seberang. Keduanya tertawa terbahak-bahak, membuat para pelayan disana terhenyak karena Abi tidak pernah tertawa lepas seperti itu selama ini.
"Gara-gara kakakmu yang mafia bejat itu ber live show ria! Kampret dia!" umpat Abi.
"Brengsek memang bang Edward! Padahal dulu dia sempat jumawa tidak mau jatuh cinta sama cewek Indonesia sampai-sampai dia taruhan dengan Mike Cahill anak bossnya."
"Ohya? Taruhan apa?" tanya Abi kepo.
"Mike bertaruh bahwa jodohnya bang Edward orang Indonesia. Jadi mereka bertaruh. Kalau Mike kalah, Lamborghini Aventador nya dia jadi milik bang Edward. Tapi kalau bang Edward kalah, Porsche 911 nya jadi milik Mike."
"Dan Edward kalah!" kekeh keduanya.
"Ohya, Diana bilang minta kita berenam makan siang di restoran milik sepupu Yuna. Bisa kan Bi?"
"Berenam dengan kakakmu yang durjana itu?" sahut Abi.
"Yup. Deal bro?"
"Deal. Jam sebelas kita berangkat." Abi melirik jam dindingnya yang menunjukkan pukul sepuluh pagi.
"Oke. Nanti aku kirim share lokasinya."
"See you there!" Abi pun memutuskan panggilan teleponnya lalu masuk ke dalam kamar Dara yang masih sibuk mengeringkan rambut panjangnya.
"Adara" panggilnya agak keras karena bersaing dengan suara hairdryer.
"Apa mas?" tanya Dara setelah mematikan hairdryer nya.
"Bersiap-siaplah, kita diajak makan siang oleh Stephen dan Diana."
Dara tersenyum senang. "Baik mas."
"Jangan lupa pakai baju tertutup" Abi menyibakkan rambut Dara. "Biar ini nggak kelihatan" ucapnya sambil menunjukkan tanda merah di leher jenjang Dara.
"Mas Abi nakaaaaallll!!!" umpat Dara kesal.
Abi tertawa terbahak-bahak melihat wajah marah Dara yang gemesin.
***
Doubel Up yaaaa
Udah ah yang hareudang ga perlu detail.
kapok gak lolos review ... ๐๐๐
don't forget to like vote n gift
Tararengkyu โค๏ธ๐โค๏ธ