
Sudah dua bulan semenjak peristiwa mengerikan itu, Gozali masih proses konseling dengan psikolog anak teman kuliah Dara dulu. Awal Gozali tinggal di mansion Giandra, setiap malam dia berteriak memanggil kedua orangtuanya. Dara pun bertindak menjadi ibu dan terapisnya berdasarkan ilmu yang dia miliki. Abi pun menyetujui Gozali diterapi traumanya dengan tenaga profesional karena Dara hanya sarjana psikologi bukan psikolog.
Selama ini pula, Manggala menyuruh anak buahnya untuk mencari keluarga almarhum Sukri dan Imah agar tahu keadaan sanak saudaranya yang mengalami peristiwa tragis. Cukup sulit karena tidak adanya informasi jelas tentang keduanya. Bahkan mereka menikah di Jakarta dan mengganti KTP serta kartu keluarga Jakarta. Dukcapil pun tidak memiliki data dari kedua orang itu. Manggala tidak menyerah dan tetap berusaha mencari tahu keluarga atau next of kin dari Gozali Ramadhan.
***
Menginjak bulan ketiga, Gozali sudah semakin bisa mengikis traumanya. Support dari keluarga Giandra membuatnya lebih mampu menghadapi kenyataan dan bisa menerima semuanya. Di sekolah pun, para guru dan teman-temannya memberikan dukungan positif kepada Gozali dan pelan-pelan menjadi bocah yang dulu lagi.
Pagi ini kelima anggota keluarga Giandra sedang menikmati acara nonton anime The Demon Slayer yang menceritakan bagaimana seorang kakak berusaha mencari obat untuk adiknya yang berubah menjadi demon.
Abi dan Dara duduk di sofa sembari mengawasi ketiga anak yang duduk di karpet tebal asyik nonton anime. Dara selalu mendampingi anak-anaknya nonton anime atau film kartun apapun agar mereka tetap pada jalurnya.
"Assalamualaikum" sebuah suara membuat mereka menolehkan kepalanya.
"Wa'alaikum salam" sapa kelimanya kompak.
"Hai mbak!" seru Naina yang datang dengan putri mereka yang berusia tiga tahun, Humaira, yang biasa dipanggil Maira.
"Wah dik Naina" sapa Dara sembari berdiri dan keduanya pun cipika-cipiki. "Halo Maira" sapa Dara pada ponakannya yang masih malu-malu. Ghani, Rhea dan Gozali mencium tangan Naina.
"Dik Maira, ayo sini main sama mbak Rhea" ajak Rhea kepada adiknya menunjukkan banyaknya boneka. Maira pun mengangguk mengikuti kakaknya.
"Hai Nai, mana Anta?" tanya Abi tanpa berdiri dari sofanya.
"Ada mas lagi parkir mobil. Tadi kayaknya ada mobilnya kak Stephen sama mobil satu lagi ga kenal aku" jawab Naina yang duduk di sofa seberang Abi.
"Assalamualaikum" sapa Antasena dan Stephen berbarengan.
"Wa'alaikum salam." Abi pun berdiri menyambut tamu-tamunya.
"Mas Ghani, dek Rhea, Gozali, ayo Salim dulu sama Oom Anta dan Oom Stephen." pinta Dara yang dituruti oleh ketiganya.
"Dah kalian main dulu, Daddy mau ngobrol ma Oom Anta dan Oom Stephen." Abi mengajak keduanya ngobrol di ruang kerjanya namun sebelum naik tangga, dia melihat sosok Manggala yang masih menelpon.
"Itu bukannya Pak Gala yang polisi temannya Nabila ya?" tanya Abi ke Stephen.
"Iya, katanya mau ketemu kamu. Penting!" jawab Stephen.
"Aku nggak paham" ujar Antasena.
"Nanti kamu akan paham" kekeh Stephen.
Manggala pun selesai menelpon lalu masuk ke dalam rumah Abi.
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikum salam. Ada pak Gala kemari?" tanya Abi bingung.
"Whoah! Jangan panggil pak kalau di luar kantor. Panggil nama saja enak!" kekeh Gala.
"Dik Dara, Dik Naina" sapanya yang mendapat pelototan dari Abi dan Antasena.
"Dik?" seru Abi dan Antasena barengan.
"Lho kan bener thow? Masa aku panggil sayang?" tanya Gala dengan muka polos yang membuat Dara dan Naina tertawa terbahak-bahak.
"Haaaiissshhhh! Kelamaan temenan sama keluarga Pratomo gini deh!" umpat Abi.
Setelah anak-anak pada Salim ke Gala, keempat pria itu masuk ke ruang kerja Abi yang sudah direnovasi pada saat Rhea lahir.
"Oke bro. Ada berita apa?" tanya Abi setelah keempatnya duduk di sofa.
"Aku eh anak buahku sudah menemukan keluarga Gozali" ucap Manggala.
"Dimana?"
"Surabaya tepatnya di bekas lokalisasi Dolly."
Abi, Antasena dan Stephen terkejut mendengar penjelasan Gala.
"Jadi... sebentar aku buka catatan dulu" Gala membuka ponselnya "Imah itu adalah salah satu psk disana bertemu dengan Sukri. Oleh Sukri, Imah ditarik dari Dolly dan diajak menikah namun orang tua Imah dalam hal ini tinggal ibunya, tidak setuju Imah kawin..."
"Nikah bang" potong Antasena sambil nyengir.
Manggala melotot sebal "Iya nikah. Ibunya tidak setuju karena Sukri cuma buruh serabutan dan Imah adalah sapi peras ibunya itu. Akhirnya keduanya kabur dari Surabaya ke Jakarta, menikah disini, mengganti KTP dan KK disini."
"Aku tidak akan menyerahkan Gozali ke orang tua seperti itu meskipun itu neneknya!" tegas Abi.
"Apa ada keluarga dari Sukri?" tanya Stephen.
"Sukri itu yatim piatu dan info dari anak buahku, dia anaknya ustadz sebuah pesantren kampung di kota malang. Orangtuanya meninggal karena sakit waktu Sukri berusia tujuh belas tahun. Ini info yang didapat dari sebuah pesantren kecil di kampung sana." Gala menyimpan ponselnya lagi.
"Berarti next of kin tinggal nenek Gozali" sahut Antasena.
"Aku sudah tahu model orang tua itu. Kita datang dengan pakaian perlente, langsung dia menjual cucunya pada kita dengan harga mahal" celetuk Abi.
"Lebih baik kita kesana dengan membawa surat perjanjian supaya nenek Gozali tidak berani menuntut macam-macam ke Abi. Nanti aku bantu, Bi" jawab Stephen.
"Ada baiknya bang Gala ikut dengan kita. Kalau ada polisi kan dia nggak bakalan macem-macem" sahut Antasena.
"Bisa kita atur. Steve, kamu buat surat perjanjian dan surat pengalihan wali asuh Gozali dari neneknya ke Abi. Nanti aku kirim nama lengkap si nenek itu" putus Gala.
"Oke bro."
"Lho Stephen bukannya pengacara perdata kasus white collar ya?" tanya Antasena.
"Kamu pikir aku cuma urusan money laundry dan penggelapan saja? Banyak kasus perdata lainnya yang aku urus juga selain white collar crime" cengir Stephen.
"Berapa biayanya Steve?" tanya Abi.
"Ini aku pro Bono ya Bi, demi kemanusiaan tapi bayarannya yang sebenarnya makan malam di rumahmu setelah kasus ini selesai" kedip Stephen.
"Hanya dinner di rumahku? Gampang. Gala, bawa istrimu sekalian, Anta juga." Abi menatap ketiga orang di ruang kerjanya.
"Istri?" tanya Gala.
"Lha memang kenapa?" tanya Abi bingung.
"Aku belum menikah!" gelak Gala.
"Haaaahhhh?" seru ketiga pria disana.
"Aku patah hati dengan Nabila jadi memutuskan tar ajah deh menikahnya, cari cewek kayak Nabila itu sulit."
"Ya ampun bro" kekeh Abi.
"Kalau Nabila bisa dikloning, baru aku mau menikah" gelak Gala absurd.
"Kamu kira film science fiction?" ujar Stephen.
"Berharap kan boleh" cengir Gala cuek.
"Astaga, benar-benar deh temannya Nabila satu ini" keluh Stephen.
***
Yuhuuu
Up malam dulu
See you tomorrow kalau ga lupa
Thank you for reading
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️