Menikahi Suami Sahabatku

Menikahi Suami Sahabatku
Bilang Dong Mas!


Abi dan Dara memutuskan untuk jalan-jalan ke mall setelah Diana tadi ditelpon rumah sakit karena ada emergency yang membuatnya ngomel panjang x lebar x tinggi jadi mereka memutuskan pulang.


Kini keduanya berada di sebuah mall besar daerah Jakarta Pusat. Dara sudah pernah kesini dulu bersama Yanti dan ketika keduanya tiba disini, ada rasa sedih yang hadir mengingat kebersamaan mereka.


"Maaf kalau teringat Yanti" ucap Abi melihat wajah sedih istrinya.


"Nggak papa kok mas, toh sekarang atau nanti pasti kita kesini" senyum Dara.


"Kamu mau kemana dan beli apa Adara?" tanya Abi sambil menggandeng tangan Dara.


"Jalan-jalan aja tapi nanti kalau ada toko buku, mampir ya. Aku mau beli beberapa buku" jawab Dara.


"Boleh aja" sahut Abi.


Sepasang suami istri itu lalu jalan-jalan mengelilingi mall dan ketika sampai di sebuah toko buku besar, Dara masuk ke bagian fiksi ditemani Abi yang masih setia di belakangnya.


"Kamu mau beli novel?" tanya Abi yang dijawab anggukan oleh Dara. "Beli saja yang kamu suka, aku ke bagian komik Eropa dulu."


"Mas Abi mau beli apa?"


"Tintin dan Asterix."


Dara hanya tersenyum mendengar suaminya ternyata penggemar komik karya Hergé dan René Goscinny & Albert Urdezo. Dara masih menikmati memilih novel dan kini tas belanjanya sudah ada sepuluh novel baik dari pengarang barat maupun lokal.


"Bu Dara?" Dara menoleh dan Maya berada di belakangnya.


"Maya? Sama siapa kesini? Beli apa?" tanya Dara.


"Sama papa cuma tadi papa ke bagian buku bisnis. Aku sih mending ke bagian resep atau novel roman" cengir Maya.


"Kamu masih 15 tahun, belum waktunya baca novel adult begini sayang" senyum Dara.


Maya menunjukkan novel teenlit yang masih sesuai dengan usianya dan beberapa komik jepang yang berada di tas belanjanya. Dara memberikan jempol menunjukkan setuju pilihan Maya.


"Sayang." Maya menoleh ke arah papanya yang berada di belakangnya.


Papa manggil 'sayang' tapi kok matanya ke arah Bu Dara? Modus ih papa! Mau jadi pebinor pa? - batin Maya geli. Tapi Bu Dara nya cuek ga lihat papa.


"Halo, Pa. Ketemu Bu Dara disini ternyata aku" ucap Maya.


"Bu Dara, kita bertemu lagi" senyum Damien.


"Selamat siang pak Damien" sapa Dara ramah.


"Nggak sama Abi kesininya?" tanya Damien sembari celingukan.


"Sama mas Abi kok. Nggak mungkin lah saya pergi tanpa suami saya" senyum Dara lagi.


"Sudah cari novelnya?" tanya Abi dari belakang sembari memeluk pinggang Dara. "Damien."


"Abimanyu." Damien melihat bagaimana posesifnya Abi memeluk Dara.


"Sudah mas."


"Yuk ke kasir. Aku sudah selesai juga. Damien, Maya, kami permisi dulu" pamit Abi dengan tersenyum dingin.


"Mari pak Damien, Maya. Besok masuk sekolah ya May" pamit Dara. Maya menganggukkan kepalanya.


"Silahkan Bu Dara, Abimanyu." Damien menatap kepergian keduanya dengan perasaan cemburu. Jujur sejak pertama kali melihat Dara di ruang konseling, Damien sudah tertarik dengan guru cantik itu.


"Pa, hati-hati jangan jadi pebinor walaupun aku suka sama Bu Dara" bisik Maya.


Damien hanya tersenyum lalu memeluk putrinya lalu keduanya melanjutkan membeli buku.


***


Mood Abi jelek lagi gara-gara bertemu Damien kesekian kalinya.


Tuh orang kayak jelangkung! Datang ga diundang pulang bomat dah!


Dara yang melihat suaminya cemberut hanya cekikikan. Tentu saja Abi mendelik melihat istrinya menertawakan dirinya.


"Kamu kenapa?" tanya Abi kesal.


"Nggak papa" senyum Dara sambil memalingkan wajahnya.


Abi langsung doubel bete. Ketika mbak bagian kasir menyebutkan total belanjaan mereka, Abi menyerahkan kartu debet platinumnya. Keduanya lalu keluar dari toko buku dengan tangan kanan Abi masih setia menggenggam tangan kiri Dara, sedangkan tangan kiri Abi membawa kantong belanja yang berisi buku.


"Mas, makan es krim dulu yuk" ajak Dara sambil menunjuk sebuah cafe es krim. Abi hanya mengangguk.


Keduanya pun masuk ke dalam cafe dan memilih duduk di pojok ruangan yang tidak terlalu ramai. Seorang pelayan mendatangi mereka membawa menu dan mencatat pesanan mereka.


Setelah pelayan itu pergi, Dara memandang suaminya yang masih cemberut. Dara mengambil ponselnya dan memotret wajah Abi.


"Ih sebel deh!" keluh Dara.


"Kenapa?" tanya Abi.


"Mas Abi tuh biarpun cemberut masih aja tetep cakep!" Dara menunjukkan hasil fotonya.


"Ish, salah komen aku" cebik Dara. Abi terkekeh. Tak lama es krim pesanan mereka datang.


"Udah nggak usah cemberut mas soal tadi. Anggap ajah dunia itu tidak selebar daun kelor" ucap Dara sambil menikmati banana split, sedangkan Abi lebih memilih es krim goreng.



"Sebel aja dua hari berturut-turut ketemu tuh orang" omel Abi.


"Mpe tiga hari dapat payung" kekeh Dara.


"Nggak lucu Adara!" Abi kembali jutek mode on.


"Iya deh mas" senyum Dara sambil memasukkan buah Cherry ke dalam mulutnya.


Abi yang melihat cara Dara makan Cherry langsung berdesir. Entah kenapa di matanya Dara seksih sekali walaupun hanya makan buah kecil bewarna merah itu.


Pasti bibirnya Adara rasa Cherry sekarang. Duh rasanya ingin menciumnya sekarang juga!


Abi menjadi blingsatan sendiri.


Ini kenapa yang dibawah juga ikutan rumpi? Brengsek!


"Adara!" panggil Abi dengan wajah kaku.


"Ya mas?" tanya Dara sambil menghabiskan es krimnya.


"Sudah selesai kan?"


"Sudah."


Abi mengambil tas belanjanya lalu menarik Dara dengan tergesa-gesa. Dara kaget dengan perlakuan Abi yang sepertinya menahan sesuatu. Setelah membayar, Abi menyeret Dara seperti dikejar waktu.


"Mas! Mas! Mau kemana?" tanya Dara bingung karena mereka malah bukan ke tempat parkir.


"Diamlah Adara!" bentak Abi yang menuju bridge arah ke hotel.


Dara tersentak pertama akibat bentakan Abi dan kedua mereka menuju hotel. Seketika gadis itu paham kenapa suaminya seperti itu.


Abi langsung memesan kamar deluxe dan mereka masuk ke dalam kamar hotel. Abi melempar sembarang kantong belanjaannya dan langsung mencium Dara dan membopongnya ke atas kasur empuk.


Siang menjelang sore itu, keduanya pun berolahraga di atas tempat tidur.


***


Setelah pergulatan, Abi memeluk Dara sembari mengatur nafas yang tadi memburu. Dara hanya tersenyum mengingat tadi Abi wajahnya seperti menahan sesuatu yang memang harus disalurkan.


"Mas, kenapa nggak bilang kalau mas pengen sama Dara?" kekehnya sambil mengusap-usap dada Abi.


"Eh? Itu..." wajah Abi memerah. Dara semakin tertawa melihat wajah suaminya yang malu-malu.


"Kenapa?" Dara memposisikan tubuhnya diatas Abi untuk menatap wajah suaminya.


"Ya, masa kudu bilang? Tar kesannya gimana" ucap Abi sambil menatap Dara kikuk.


Dara menyandarkan dagunya diatas dada Abi masih menatap wajah tampan itu.


"I love you Adara" ucap Abi dalam.


Wajah Dara langsung sumringah. "Akhirnya aku mendengar kalimat itu. Terimakasih mas. Saranghae" ucap Dara sambil mengecup bibir Abi.


"Aku yang berterima kasih Adara. You are my other half that I'm looking for even I have to face hard road before I met you. ( kamu adalah belahan jiwaku yang aku cari selama ini meskipun aku harus menghadapi banyak cobaan sebelum bertemu denganmu )" Abi masih terus menatap Dara mesra. "No matter what happened between us, promise me, never ever leave me ( Tidak perduli apa yang terjadi diantara kita, berjanjilah, jangan pernah tinggalkan aku )."


"I promise."


Abi mencium bibir Dara dan mel**matnya dan mereka pun melakukannya lagi.


***



***


Yuhuuu


Up pagi dulu yaaaa


Masih uwu-uwu dulu deh


Thank you readers ku


Jujur Eike surprise atas suport kalian.


Mamaciihh bangets


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️