Menikahi Suami Sahabatku

Menikahi Suami Sahabatku
Kukejar Cintamu


“Kita mau kemana ?” tanya Milea sambil mengerutkan dahi menatap Arkan dari samping.


Arkan benar-benar minta ijin pada Arumi supaya bisa membawa Milea sebelum jam pulang kantor, padahal Milea sudah menolak dan mencari berbagai alasan pekerjaan.


“Mau cari tempat sepi, bermesraan sama kamu biar digrebek warga dan akhirnya langsung dinikahkan. Rasanya aku nggak sabar nunggu kamu mengucapkan aku juga cinta padamu Arkan.”


Milea mendengus kesal dan membuang pandangan ke samping jendela. Bisa-bisanya Arkan berpikir untuk menikahinya dengan cara seperti itu.


“Aku serius nih, kita mau kemana ? Aku harus kasih kabar sama Mama dan Papa,” rengek Milea saat melihat mobil Arkan malah masuk ke jalan tol yang mengarah keluar kota.


“Ke pantai, aku akan mengajakmu menginap di pinggir pantai. Masalah ijin nggak usah khawatir, malah Mama kamu dengan senang hati menyiapkan pakaian ganti untuk putrinya.”


“Jangan main-main deh, Ar,” Milea terlihat mulai panik dan mengambil handphone dari dalam tasnya.


“Siapa yang main-main. Hanya satu syarat yang harus aku penuhi kalau masih mau bernafas dengan baik. Besok aku harus mengantarmu pulang dalam keadaan utuh dan tidak tersentuh, kecuali Papa bilang kamu mau langsung menikah denganku,” ujar Arkan sambil terkekeh.


“Ar, jangan gila deh !” Milea memukul bahu pria yang masih tertawa di sampingnya.


Sambungan telepon ke Mama sudah terhubung dan mata Milea membola saat Mama bilang kalau Arkan sudah ijin pada mereka untuk membawa Milea menginap satu malam di kawasan Carita.


Arkan berjanji tidak akan merusak Milea sebelum hubungan mereka sah dan bersedia diberi hukuman apapun kalau sampai melanggarnya.


“Akan Om buat kamu menderita seumur hidup kalau berani melakukan itu sama Milea !”


“Aman Om, saya janji akan sabar menunggu,” Arkan senyum-senyum. “Lagipula kata orang akan lebih berkesan kalau unboxingnya pas sudah sah.”


Arkan senyum-senyum sendiri saat mengingat percakapannya dengan kedua orangtua Milea sementara gadis itu sedang berdebat di handphone dengan Mama Lili.


“Kamu pakai pelet apa sih sampai Papa dan Mama begitu gampangnya memaafkan kamu dan sekarang tanpa kompromi lagi sama aku langsung kasih ijin kamu bawa anak gadisnya kabur,” gerutu Milea dengan bibir mengerucut.


“Cinta sayang, pakai ketulusan cinta. Orangtuamu pasti bisa melihat bagaimana hati ini begitu tulus mencintaimu sejak dulu sampai detik ini.”


“Sampai detik ini doang kan ? Selanjutnya nggak ada yang tulus,” sahut Milea masih dalam nada emosi.


“Seumur hidup dong, sampai maut memisahkan kita, Sayang, “ Arkan mencubit sebelah pipi Milea dengan gemas membuat Milea tambah cemberut.


Akhirnya Milea hanya bisa pasrah dan menyenderkan kepalanya pada jendela. Tidak mungkin juga mendadak minta diturunkan Arkan di tengah jalan tol begini.


Terlalu lelah dengan perasaan kesalnya, Milea tertidur dan Arkan membangunkannya saat mereka sudah sampai di hotel.


Milea hanya mengikuti Arkan yang mengurus pemesanan kamar sampai akhirnya petugas hotel membawa mereka ke lantai 2 menuju kamar dengan balkon yang langsung menghadap pantai.


“Kamu senang ?” tanya Arkan saat melihat wajah Milea berbinar sambil berdiri di balkon. Tanpa sadar Milea langsung mengangguk dan tersenyum.


“Sebetulnya maunya aku tidur sekamar denganmu, tapi demi menjaga godaan iman dan badan, aku ada di kamar sebelah kalau kamu butuh sesuatu. Ganti baju dan jangan mandi dulu, aku mau mengajakmu jalan-jalan di pantai.”


Milea mengangguk dan bersiap-siap saat Arkan keluar dari kamarnya. Limabelas menit kemudian keduanya sudah berada di pantai.


“Akhirnya aku bisa mewujudkan janjiku padamu,” ujar Arkan sambil menggandeng jemari Milea.


Awalnya Milea berusaha melepaskannya, namun melihat tatapan Arkan yang tulus akhirnya ia membiarkan jemari pria itu menggenggamnya.


”Janji apa ?” Milea menautkan alisnya berusaha mengingat-ingat janji apa yang pernah diucapkan Arkan.


“Membawamu berlibur ke pantai saat kita masih kelas 11. Ini semua baru permulaannya saja, setelah menikah nanti aku akan membawamu ke pantai yang akan membuatmu mengingatnya seumur hidup.”


”Memangnya sudah pasti aku akan menikah denganmu ?” cibir Milea.


“Beneran nggak mau menikah sama duda tapi perjaka ini ? Kalau kali ini kamu melepasku, aku nggak akan memaksakan diri mengejarmu lagi. Aku nggak mau buat kamu tersiksa karena perasaan cintaku padamu.”


Milea terdiam dengan kepala menunduk. Arkan sudah bukan lagi pria yang dulu, ada sedikit rasa khawatir kalau ucapannya benar-benar akan menjadi kenyataan.


Sejujurnya hati Milea kembali menghangat saat mendapat kepastian soal pernikahan Arkan dengan Dina dan status Emilia yang ternyata bukan benih Arkan.


“Nggak harus bulan depan juga nikahnya,” ledek Arkan sambil tertawa.


“Masalah Milea biar jadi urusan Kak Rumi dan Kak Henri. Kita hanya perlu memikirkan hubungan kita yang sempat berantakan 5 tahun terakhir.”


Milea terdiam dan beberapa kali terdengar helaan nafasnya yang terasa berat.


“Kenapa Mili ?” Arkan berhenti dan memegang kedua bahu Milea yang masih menundukkan kepalanya.


“Aku tidak ingin kita menjalin hubungan apalagi menikah tanpa restu orangtua,” Milea mendongak menatap mata Arkan dalam-dalam.


“Masalah orangtua, bukankah orangtuamu…. Aahh maksudmu sikap Mami yang masih ketus padamu ?”


Milea mengangguk. Arkan tersenyum dan menangkup wajah Milea.


“Mami itu gengsi mengakui kalau pilihannya ternyata salah. Meski mami sudah mengenal Dina sejak kecil, tapi hanya fokus ingin menjadikan putri sahabatnya sebagai menantu sampai menurup mata soal kepribadian Dina sendiri.


Jangan khawatir soal mami, Kak Rumi pasti akan membantu apalagi Kak Rumi sangat mendukung kita kembali bersama.”


“Beda banget sama orangtuaku yang bikin kesal dan membuatku malu,” gerutu Milea. “Nggak ada jaim-jaimnya atau membuatmu lebih keras berusaha, malah gampang banget baik lagi sama kamu.”


“Nggak masalah Milea, aku nggak akan pernah meremehkan orangtuamu dan menganggap mereka gampangan. Papa dan Mamamu adalah orang tua yang terbuka dan melihat suatu masalah lebih condong ke hal positif daripada negatifnya. Itu sebabnya mereka mudah memaafkan setelah mendengar penjelasan dan permintaan maaf dariku.”


Milea terdiam dan menoleh ke arah pantai. Udara sore terasa sejuk dan angin bertiup cukup kencang.


“Aku mencintaimu, Milea,” Arkan menyibakkan rambut Milea yang tertiup angin dan menutupi sebagian wajahnya.


Milea melepaskan ikatan rambut dan mengikat ulang rambutnya.


“Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Milea. Kali ini aku tidak akan mudah menyerah terhadap rintangan yang menghalangi hubungan kita termasuk masalah mami. Berdirilah di sampingku Milea. Aku tidak bisa berjanji membuat perjalanan hidup kita selalu rata, namun aku berjanji akan selalu berada di sampingmu dalam keadaan apapun.”


Milea terdiam, menundukkan wajah dan kakinya yang tanpa memakai alas bermain di pasir.


“Milea,” Arkan mengangkat dagu gadis itu. “Aku tidak akan memaksamu untuk menerimaku saat ini juga, tapi percayalah kalau aku tidak akan lagi mengambil keputusan tanpa membicarakannya denganmu seperti 5 tahun yang lalu.”


Milea mengerjap dan tanpa terduga ia langsung memeluk Arkan membuat pria itu terkejut dan langsung tersenyum bahagia.


Arkan pun balas memeluknya dan mencium kepala Milea penuh cinta.


“Jangan cium rambutku, belum keramas,” gerutu Milea berusaha melepaskan pelukan Arkan namun pria itu menahanya sambil tertawa.


Arkan malah sengaja menciumi rambut Milea lalu turun menciumi wajah Milea hingga gadis itu memekik kegelian.


“Arkan stop deh… Arkan…”


“Katakan dulu kamu mencintai aku, mencintai Arkan.”


“Nggak mau ! Pemaksaan !”


“Mau aku melakukan lebih dari ini di sini ?”


“Iya.. iya… aku cinta padamu, Arkan. Aku cinta padamu,” ujar Milea di sela-sela tawanya


.Arkan melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Milea.


”Beneran kamu cinta sama aku dan bukan terpaksa ?” tanya Arkan sambil senyum-senyum.


“Lepasin dulu,” Milea melirik tangan Arkan yang memegang bahunya. Arkan pun mengikuti permintaan Milea


.Milea berjinjit dan mencium bibir Arkan sekilas lalu berlari menjauhi Arkan.


“Itu jawaban aku,” pekik Milea saat berada sedikit jauh dari Arkan.


“Gadis nakal !” gumam Arkan sambil tersenyum dan bergegas mengejar Milea.