Menikahi Suami Sahabatku

Menikahi Suami Sahabatku
Ibu Macam Apa Kau?


Abi dan Dara sekarang berada di tempat tidur seperti biasa mereka melakukan pillow talk tentang apapun. Ghani dan Gozali sudah tidur terpisah setelah Gozali meyakinkan kedua orang tua angkatnya kalau dia baik-baik saja. Jadi Abi menempatkan Gozali di kamar seberang bersebelahan dengan kamar kerja Abi.


Abi memeluk Dara sembari mencium pucuk kepala istrinya yang hampir sepuluh tahun mendampinginya. Dara pun sangat menyukai posisi berpelukan seperti ini dengan meletakkan kepalanya di dada suaminya.


"Tadi ngobrol apa aja mas sama dik Sena, mas Stephen dan bang Gala?" tanya Dara sambil memainkan jarinya di dada Shirtless Abi.


"Anak buah Mangga eh Gala sudah menemukan keluarga Gozali."


Dara mendongakkan kepalanya menatap suaminya.


"Ohya? Lalu?"


Abi pun menceritakan apa yang mereka bicarakan di ruang kerjanya dan membuat Dara mengerenyitkan dahinya ketika tahu latar belakang Imah.


"Astaghfirullah, aku nggak tahu kalau Imah punya masa lalu kelam. Soalnya selama ini, dia selalu santun dan attitude nya baik" ucap Dara.


"Itu didikan dari Sukri, sayang. Dia memang jatuh cinta dengan Imah dan berusaha menaikkan derajatnya lalu mendidiknya sesuai dengan kaidah agama. Kalau suami bisa mendidik istrinya menjadi lebih baik, niscaya kehidupan rumah tangga pun akan mendapatkan berkah. Gozali buktinya. Siapa yang menyangka kedua orangtuanya punya kehidupan yang lebih buruk daripada disini? Tapi apa yang mereka didik ke Gozali sangat jauh dari latar belakang mereka. Gozali menjadi anak yang santun, dewasa, pintar dan beretika walaupun kedua orang tuanya hanya buruh serabutan."


"Bagaimana anak kedepannya, adalah bagaimana ibunya mendidiknya." Dara bergumam sendiri.


"Kamu itu ibu yang hebat, Adara. Aku melihat perkembangan G dan Rhea menjadi anak-anak yang mandiri dan saling menyayangi. Selain IQ yang kita tahu anak-anak cerdas, EQ dan SQ mereka pun bagus."


"Terimakasih mas. Aku bisa begini karena dukunganmu juga yang membuat semuanya lancar." Dara mencium rahang tegas Abi.


"Jadi apa rencana mas ke neneknya Gozali" tanya Dara kembali ke topik utama.


"Gala dan Stephen akan mengajukan surat peralihan wali asuh ke aku dan nenek Gozali harus menandatangani surat itu. Makanya besok weekend kami akan ke Surabaya mendatangi wanita itu."


"Bagaimana jika nenek Gozali ingin memeras kita mas? Aku tidak mau membuat Gozali terluka lagi."


Abi menatap Dara sambil nyengir. "Itu pun sudah kita persiapkan."


"Bagus! Aku tidak mau ada masalah di rumah tangga kita dari orang luar!" ucap Dara tegas. Ibu dua anak itu sangat protektif jika menyangkut suami dan anak-anaknya.


"Nyonya Abimanyu Giandra, how can you are be so possessive?" kekeh Abi.


"I learned from the best teacher" bisik Dara parau.


"So, would you allow this teacher give a reward to his student?" goda Abi sembari mencium pipi Dara dan menurun ke ceruk leher istrinya.


"I take the reward, Sir" kekeh Dara sembari kegelian.


"Whoah! Adara, kamu semakin nakal tapi aku suka!" Abi pun menyatukan bibirnya ke bibir istrinya.


***


Sabtu pagi ini keempat pria tampan itu berada di arena longue bandara Juanda Surabaya setelah subuh tadi berangkat dari Jakarta menggunakan pesawat pribadi milik Stephen. Ketiga pria mengenakan pakaiannya kasual sedangkan satu orang tetap mengenakan seragam kepolisian.



Gala sedang menunggu mobil yang menjemput mereka. Sengaja dia memutuskan menggunakan mobil patroli sebagai bagian dari intimidasi.


Stephen sendiri sudah menyiapkan semua berkas yang diperlukan untuk melakukan pengalihan wali asuh Gozali.


Abi dan Antasena sendiri sudah menyiapkan segala sesuatunya jika rencana mereka tidak berjalan lancar.


"Ingat mas, jangan lebih dari 200juta!" bisik Antasena.


"Dara sendiri bilang tidak mau mengeluarkan uang sepeser pun karena menganggap kita membeli Gozali" sahut Abi.


"Kita kan semua tahu orang seperti apa jika menemukan angsa emas." Antasena menatap serius kakak sepupunya.


"Kita lihat saja nanti."


Manggala masuk ke dalam longue.


"Yuk berangkat! Mobilnya sudah datang."


***


Kedua mobil Toyota Fortuner milik kepolisian Surabaya berjalan beriringan menuju ke sebuah rumah yang jaraknya tidak jauh dari lokalisasi Dolly yang berada di daerah Putat Jaya.



Beberapa polisi turun dan kemudian disusul Abi, Antasena dan Stephen. Gala memang sengaja dijaga oleh beberapa anggota kepolisian karena jabatannya di Jakarta sudah tinggi.


Mereka sampai di sebuah rumah sederhana dua lantai yang tertulis 'menerima kost putri.'


"Kulonuwun!" sapa Gala di depan pintu yang terbuka.


"Njih, sekedap!" Tak lama keluarlah seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahunan dengan dandanan menor. Memang si ibu itu hanya memakai daster tapi make up wajahnya begitu mencolok.


Antasena pun beringsut berdiri di belakang Abi merasa mual melihatnya.


Untung Naina nggak hamil, bisa bahaya aku mbatin ini! - batin Antasena.


Amit-amit! Sontak ketiganya langsung nyebut nama istri masing-masing.


"Yang benar aja Bu pagi-pagi ngamar?" sahut Gala cuek. "Boleh kami duduk?"


"Monggo lah" sahut ibu genit itu mempersilahkan para tamunya duduk.


Antasena, Abi dan Stephen sepakat tanpa suara setelah ini akan membuang baju yang mereka kenakan karena takut terkena bakteri atau penyakit apapun yang berada di sofa yang bewarna tidak jelas itu.


"Begini Bu. Apa ibu punya putri bernama Imah?" tanya Gala hati-hati.


"Hah! Aku Wis ora nduwe anak wedhok meneh! Sakpenake ninggalke aku lungo Karo buruh kere Kuwi! Wis ora ta anggep anak arek Kuwi!"


( Aku sudah nggak punya anak perempuan lagi. Seenaknya ninggalin aku pergi sama buruh miskin itu. Sudah tidak aku anggap anak lagi! )


Ketiga pria tampan itu tidak mengerti apa yang diucapkan hanya bisa meraba bahwa si ibu itu sudah tidak peduli dengan Imah.


"Bu Sutarmi, saya cuma mau menyampaikan kalau Imah dan suaminya Sukri meninggal tiga bulan lalu dan maaf kami baru bisa menemukan ibu karena tidak ada dokumen tentang keberadaan keluarganya." Gala menatap tajam si ibu yang bernama Sutarmi.


"Hah? Arek Kuwi mati?" sejurus kemudian dia tertawa. "Kandani ngeyel. Salahe Melu arek kere Kuwi!"


Gala hanya menggeleng-gelengkan kepalanya gemas melihat ada ibu yang santai saja mendengar darah dagingnya tiada.


"Pak polisi Ono acara Opo mrene? Ora arep grebek aku tah?" tanya Bu Sutarmi.


"Saya bukan bagian asusila Bu Sutarmi."


Gala terdiam sejenak.


"Kami kesini untuk meminta ibu memberikan tanda tangan untuk peralihan perwalian asuh cucu ibu kepada pak Abimanyu" Gala menunjuk Abi.


"Cucu? Cucu apa?" tanya Bu Sutarmi.


"Imah dan Sukri meninggalkan anak laki-laki ketika meninggal dan selama ini pak Abimanyu yang merawat dan mengasuh Gozali Ramadhan, nama cucu ibu."


"Opo Kowe sugih?" tanya Bu Sutarmi ke arah Abi yang hanya menatap datar ke wanita itu.


"Sugih? Tidak tapi kami berkecukupan" sahut Abi.


"Opo anakku ninggalin warisan?" tanya Bu Sutarmi ke Gala.


"Hanya uang 300ribu dan dua buah buku nikah."


"Tidak ada sertifikat atau apapun itu? Eh tapi Imah kawin sama orang kere jadi ora iso tuku opo-opo ya!" kekeh Bu Sutarmi yang membuat Antasena dan Abi semakin jijik melihatnya.


Stephen mengeluarkan berkas pengalihan wali asuh dan memberikan kepada Bu Sutarmi.


"Silahkan dibaca dulu Bu" ucap Stephen.


Bu Sutarmi membaca surat itu lalu menatap keempat pria itu.


"Aku mau menyerahkan cucu dari anak nggak berguna itu asalkan kalian memberikan aku uang ganti rugi selama Imah minggat!"


Antasena menganga meskipun sudah bisa menebak.


"Apa misalnya kami bersedia memberikan uang kompensasi, Bu Sutarmi tidak mengganggu keluarga Giandra? Karena jika ibu melanggar perjanjian, polisi akan bertindak!" Ancam Stephen.


"Aku ora urus putuku, sing penting aku enthuk Duwit!" sergahnya kasar.


( aku nggak urus cucuku, yang penting aku dapat uang )


Abi dan Antasena hanya bisa beristighfar dalam hati.


"Berapa?" tanya Gala.


"500juta!"


Dasar Setan betina !


***


Yuhuuu


Up pagi ya


Insyaallah kalau author udah agak well lanjut nanti Yaaaa. kalo nggak ya besok.


Thank you for reading


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️