
Ghani dan Gozali sekarang duduk di kelas 2 SD. Seperti biasa, Ghani memilih sekolah yang tidak terlalu jauh dari mansionnya dan tidak mau sekolah elite dengan alasan bosan dengan anak-anak tukang pamer. Abi dan Dara tertawa mendengar alasan putranya.
"G nggak mau ah, sekolah kok isinya hanya pamer. 'Aku habis dari Disney land Paris', 'aku habis beli iPad baru' dan lain-lain. Malas aku dengarnya Mom!" keluh Ghani ketika masuk kelas 1 di SD internasional. Akhirnya Ghani pun pindah dan masuk ke SD negeri yang sama dengan Gozali.
Semenjak Ghani masuk ke SD Negeri itu, EQ dan SQ bocah tampan itu semakin terasah. Dia semakkn tahu bahwa hidup teman-temannya tidak seperti dirinya yang memiliki banyak barang mewah. Ghani tidak pernah mau dijemput memakai mobil mewah Daddynya dan memilih mobil sederhana mommynya.
Pagi ini, Abi dan Ghani memutuskan pergi jalan-jalan berdua ke restoran Jepang yang terletak di sebuah mall Jakarta Selatan. Dara dan Rhea pergi berdua karena hari ini jadwal ujian piano Rhea.
Disini, Abi mendengarkan cerita putranya. Dara selalu mendidik kedua anaknya untuk bercerita apapun karena dengan begitu, mereka bisa mengetahui dengan siapa mereka berteman, bertemu dan masalah apa yang dihadapi keduanya.
"Dad, aku tidak mau dilihat dari uang yang dimiliki Dad tapi aku mau berteman dengan siapa saja karena Daniswara Ghani Giandra bukan Ghani anaknya pak Abimanyu Giandra Presdir Perusahaan Otomotif" ucap Ghani sambil makan sushinya.
"Lho kan kamu memang anaknya pak Abimanyu Giandra dan ibu Adara Utari" kekeh Abi geli mendengar argumen putranya.
"Iya tapi G mau jadi diri G sendiri Dad."
Abi merangkul putra tampannya yang semakin hari semakin dewasa dalam berpikir.
"Kamu tahu G, Dad senang kamu punya kepribadian yang baik seperti ini. Kamu itu punya cara tersendiri untuk menunjukkan rasa simpati dan empati kamu." Abi sering mendapatkan cerita dari Dara bahwa putranya dikenal anak yang tegas dan tidak segan membantu temannya selama itu baik.
"Mom cerita kalau kamu pulang kemarin minta mom mengantarkan temanmu yang jatuh dari tangga."
"Iya Dad, Yudha kasihan itu, kakinya cacat karena kecelakaan waktu kecil. Orangtuanya sudah meninggal waktu kecelakaan itu dan sekarang tinggal sama neneknya."
"Aduh kasihan. Neneknya kerja apa G?"
"Neneknya buka warung kelontong gitu. Karena kecelakaan itu kakinya Yudha jadi pincang Dad."
"Dan kata mommy, kemarin kamu menghajar kakak kelasmu yang membuat Yudha jatuh?"
Abi memang memasukkan Ghani dan Gozali ke Dojo Taekwondo dan Kendo. Tujuan hot Daddy itu adalah agar kedua sahabat itu memiliki kemampuan bela diri karena Abi mau mereka memiliki bekal nantinya.
"Habis, mereka meledek Yudha 'Kaki separo' kan jahat Dad! Mereka nggak tahu apa yang terjadi sama Yudha kok bisa-bisanya menghina begitu. Yudha itu nggak pernah recokin hidup mereka kok mereka kayak gitu!" omel Ghani kesal.
Abi mengusap kepala putranya yang harum jeruk dari shampoo anak-anaknya.
"G, membela Yudha bagus tapi kamu juga harus tahan diri. Tidak semua harus kamu selesaikan dengan otot. Apa Conan Edogawa atau Sherlock Holmes melawan atau membalas dengan otot? Nggak kan. Mereka melakukan deduksi dengan otaknya."
"Deduksi itu apa Dad?" tanya Ghani mendongak ke wajah ayahnya.
"Deduksi itu mengambil kesimpulan dari keadaan yang umum atau penemuan khusus dari sekitarnya. Ingat nggak, waktu Sherlock Holmes memecahkan kasus klub rambut merah? Dia kan mencari sesuatu yang tidak biasa di sekitar tempat kejadian dan akhirnya tahu kan alasan dibuatnya klub rambut merah." papar Abi yang akhirnya menjadi hapal kasus-kasus Sherlock Holmes karena setiap malam mendongengkan Ghani.
"Jadi menurut Dad, aku harus menyelediki apa kelemahan kakak kelasku itu agar tidak mengganggu Yudha?" mata Ghani berbinar-binar mendengar dirinya bisa mencari deduksi.
"Bingo!" ucap Abi. "G, kamu beneran mau jadi detektif?"
Ghani mengangguk mantap. "G mau jadi detektif tapi nggak disini Dad."
"Maunya dimana?"
"NYPD."
Ya ampun, impian dari kecil masih saja itu nggak berubah!
***
Rhea sedang menunggu giliran bermain piano. Hari ini adalah ujian kenaikan tingkat dasar bagi anak-anak usia 5-10 tahun dan gadis cilik cantik itu tidak sabar untuk segera memainkan pianonya.
Mengenakan gaun abu-abu dan celana jeans pendek serta rambutnya digerai, membuat para orang tua disana merasa gemas melihat putri Nyonya Abimanyu Giandra.
π© Diana Blair : Ya ampun Rhea cantiknya
π© Nabila Cahill : Duh pengen aku bawa pulang
π© Yuna Blair : Anak cantik mau ujian piano ya?
π© Shanum Al Jordan : Wah boleh nih buat Yuki πππβοΈ
π© Yuna Blair : Mbak, kamu ribut dulu deh sama Edward Sono!
π© Shanum Al Jordan : Tar aku bilang mas Hiro. Hehehehe
π© Dara Giandra : Doain ya ujian piano anak wedhok lancar jalannya.
π© Vivienne Neville : Aaiiiihhh anak cantik! Sukses ya ujiannya.
Dan setelah itu para aunty heboh sendiri dan Dara pun pamit karena giliran Rhea untuk ujian piano dan dia hendak merekam putrinya karena Abi dan Ghani memiliki acara 'boys hangout' berdua di rumah. Pula Rhea nggak mau dilihat dad dan masnya karena malu. Akhirnya Abi dan Dara pun berbagi tugas.
***
Duncan yang sekarang duduk di junior high boarding school di London, mendapatkan kiriman foto dari mommynya.
"Rey" bisiknya ketika melihat wajah gadis cantik berusia lima tahun itu.
Duncan tidak bosan-bosannya melihat gadis cilik yang sudah disukainya sejak baru lahir.
"Tak sabar aku menjadi dewasa dan kamu jadi dewasa juga Rey. Pasti cantik sekali lebih dari mommy dan Tante Dara" kekehnya.
Duncan pun memprint foto Rhea dan menyimpannya di dalam dompetnya.
"My little Rey."
***
Abi dan Ghani melihat video aksi Rhea bermain piano dengan lincah dari ponsel Abi karena Ghani tidak diijinkan memliki ponsel oleh mommynya. Kedua ayah dan anak itu kagum dengan luwesnya Rhea memainkan tuts piano termasuk mengambil nada sulit.
"Adikmu itu kayaknya bakalan jadi pianis deh" kekeh Abi.
"G dukung ajah dek Rhea jadi pianis. Dia sangat berbakat, bahkan sudah pintar membaca not balok" sahut Ghani.
"Kamu nggak mau belajar sih G" gelak Abi. "Mom dan Dad pada pintar main piano lho."
"Malas Dad! Mending G disuruh hitung aljabar daripada membaca not balok yang kayak berudu nggak jelas gitu!" cebik Ghani sambil cemberut.
Abi tertawa terbahak-bahak.
***
Yuhuuu
Up pagi dulu yaaaa
Thank you for reading
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu β€οΈπβ€οΈ