
Milea keluar dari ruang HRD dengan wajah cemberut. Belum cukup gara-gara kelakuan Arkan semalam, Papa langsung memberikan wejangan hampir semalam suntuk dan mengeluarkan banyak larangan, pagi ini Milea dipanggil oleh pihak HRD Perusahaan.
“Maaf kami harus mengabarkan kalau surat permohonan pengunduran diri kamu tidak bisa diproses lebih lanjut alias ditolak oleh Ibu Arumi,” ujar Ibu Halimah, sang asisten HRD Manager.
“Tapi Bu Arumi sudah setuju saat saya bicara langsung dengan beliau,” protes Arumi.
Bu Halimah memperlihatkan pesan yang dikirim oleh Arumi.
Saya menolak pengunduran diri Milea untuk saat ini karena tidak memungkinkan untuk mencari asisten baru dalam waktu singkat. Minta Lea menunggu sampai saya kembali ke kantor.
Milea hanya bisa menghela nafas saat membaca pesan yang terpampang di layar handphone Bu Halimah dan pamit karena tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.
Milea merogoh handphone dari saku blazernya dan langsung mengetik pesan untuk Arumi tapi hingga 5 menit menunggu, pesan itu hanya centang 1. Milea pun langsung menekan nomor Arumi untuk melakukan panggilan tapi langsung dijawab oleh mesin otomatis.
“Kenapa, Cantik ?” sapa Kiki yang ikut masuk ke dalam lift bersama Milea.
“Pengunduran diri aku mendadak tidak bisa lanjut karena ditolak Bu Arumi dan kalau mau lanjut harus nunggu Bu Arumi, masalahnya Bu Boss nggak bisa dihubungi.”
“Ya nggak bisa lah, Sayang. Bu Rumi lagi pergi bulan madu, mau kejar target sama suaminya, jadi jangan coba-coba ganggu mereka.”
Milea menggerutu, rupanya selain memutuskan untuk mengadopsi Emilia, keduanya berniat juga memiliki anak sendiri.
“Kemungkinan Bu Rumi akan mengalihkan beberapa pekerjaannya sama eike, you dan Hanum,” ujar Kiki dengan gaya khasnya.
“Mana bisa begitu,” protes Milea dengan wajah masam. “Cari pengganti dulu baru mengalihkan tugas ke asisten yang baru. Bisa-bisa aku beneran batal pindah kalau ditambahin tugas dan tanggungjawab.”
“Jangan begitu, you mau nggak dikasih ijin untuk pacaran sama adiknya, Si Tampan dan Macho itu ?”
”Mana boleh urusan pribadi dicampuradukkan dengan pekerjaan, nggak profesional,” gerutu Milea.
Kiki tertawa dan menarik Milea untuk menemaninya ke gudang bahan yang letaknya di luar gedung utama.
***
Milea merenggangkan otot-ototnya. Tidak berarti ketidakhadiran Arumi membuat pekerjaan Milea jadi lebih ringan dan bisa pulang lebih awal. Milea melirik jam dinding yang ada di ruangan, sudah jam 18.15 dan beberapa pekerjaan masih belum selesai.
Merasa tubuhnya sudah mulai letih, Milea memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya esok lagi. Ia pu mematikan komputer dan merapikan tasnya.
Dahi Milea berkerut saat melihat Arkan sudah berdiri di pintu lobby tengah berbincang dengan 2 orang sekuriti.
Cowok satu ini memang nekad dan bandel, padahal dua malam yang lalu jelas-jelas Papa melarang Arkan untuk dekat-dekat Milea sampai kedua orangtua Arkan merestui hubungan mereka.
Milea pura-pura tidak tahu kalau Arkan sedang menunggunya dan ia melewati pria itu tanpa pamit pada petugas sekuriti seperti biasanya.
“Suka banget sih kabur dari aku,” tegur Arkan yang sudah berjalan sejajar dengannya.
Tanpa minta ijin, Arkan menggandeng Milea dan menarik gadis itu menuju parkiran.
“Mau kemana ? Apa kamu lupa kalau Papa melarang kita jalan bareng selama orangtua kamu masih menentang ?”
“Mana mungkin aku melupakan kejadian itu. Kits kayak maling yang ketahuan lagi mencuri,” sahut Arkan santai dan tidak peduli dengan gerakam tangan Milea yang berusaha lepas dari genggamannya.
“Papa kamu udah mengembalikan ijinnya dan aku diperbolehkan pacaran sama putrinya dengan catatan bisa menahan diri dan menjaga kehormatan Nona Milea.”
Arkan memberi isyarat supaya Milea masuk ke dalam mobil saat pintu sudah dibukakan olehnya.
Milea masih mematung dan menatap Arkan dengan tatapan curiga tapi pria itu malah tersenyum membuat ketampanannya makin bertambah.
Handphone Milea bergetar membuatnya urung masuk ke dalam mobil Arkan. Begitu melihat tulisan di layar handphone, buru-buru Milea menjauh untuk menerima panggilan dari Papa.
Tidak sampai 5 menit Milea sudah kembali mendekati Arkan dengan tatapan curiga.
”Kamu ngomong apa sama Papa ?”
“Sudah kubilang kalau aku ini laki-laki yang bertanggungjawab dan serius denganmu, aku nggak pernah ragu untuk memperjuangkan cintaku padamu. Papa sudah membuktikan kalau aku bisa menjaga kehormatanmu saat kita pergi ke pantai dan akan selalu begitu sampai hubungan kita sah di mata Tuhan dan dan hukum.”
Arkan tersenyum dan sengaja melongok hendak mrmasangkan sabuk pengaman.
“Mau ngapain kamu ?” Milea langsung melotot saat posisi Arkan begitu dekat dengannya.
“Mau pasangin sabuk pengaman, kalau boleh tambahan cium akan aku terima dengan senang hati,” sahut Arkan sambil terkekeh.
“Aku bisa sendiri,” ketus Milea buru-buru memasang sabuk pengamannya.
Arkan tertawa dan menutup pintu mobil lalu berputar ke sisi kemudi.
“Kita mau kemana ?” tanya Milea masih dengan nada ketus.
“Mau ke hotel lagi gimana ?” Milea kembali mengerucutkan bibirnya membuat Arkan tertawa.
“Sabtu nanti ke rumah ketemu Papi Mami mau ? Seingatku Kak Rumi sudah balik dari bulan madu.”
“Aku ini asistennya Bu Rumi tapi nggak tahu kalau bossku pergi bulan madu,” gerutu Milea.
”Surat pengunduran diriku juga dibatalkan padahal Bu Arumi sudah setuju dan aku sudah melamar ke perusahaan lain. Seharusnya lusa aku wawancara, tapi kalau begini, mana mungkin aku datang ke sana kalau ujung-ujungnya nggak bisa keluar dari perusahaan.”
“Kak Rumi berencana mengurangi kesibukannya karena ingin menjalankan program punya anak, jadi pasti membutuhkan kamu untuk membantu pekerjaannya di kantor. Tidak gampang mencari asisten baru yang bisa langsung dipercaya. Kamu mau bantu Kak Rumi kan ? Kasihan mereka belum diberi keturunan padahal sudah 5 tahun menikah.”
Milea terdiam, pandangannya ke arah jendela samping dengan wajah ditopang tangan yang bersandar pada sisi pintu.
***
“Kenapa ?” tanya Henri saat melihat istrinya tertawa sambil memegang handphone.
“Lihat nih kelakuan adik iparmu,” Arumi memperlihatkan handphonenya pada Henri.
“Arkan lagi rempong membujuk Milea yang ngambek gara-gara aku nggak kasih dia keluar dari perusahaaan. Nggak gampang cari asisten yang bisa dipercaya dan serba bisa kayak Milea.”
“Plus bonus bisa bikin Arkan pulang ke rumah setiap hari,” timpal Henri sambil rebahan di samping istrinya.
”Arkan cerita kalau semalam mereka habis tertangkap basah sama papanya Lea saat lagi berduaan di rumah Milea,” ujar Arumi sambil tertawa
“Gara-gara Arkan terlalu bersemangat memberitahu Lea soal rencana kita mengadopsi Emilia dan permintaan Papi supaya Lea datang ke rumah menemui Papi dan Mami.”
“Pasti lebih dari sekedar ngobrol.”
“Itu dia, Arkan cerita Lea malah mengusirnya pulang jadi sekalian Arkan isengin mumpung orangtua Lea nggak ada di rumah. Ternyata pas mereka lagi pelukan, orangtua Lea mendadak nggak jadi menginap dan jadilah keduanya harus melewati malam panjang penuh dengan wejangan.”
“Kayaknya selama aku kenal, Arkan bukan cowok yang jahil, tapi sejak bertemu kembali dengan Milea, dia mendadak jadi cowok iseng yang suka menjahili Milea.”
“Itulah kenapa aku ngotot tetap mempekerjakan Milea sebagai asisten. Aku seperti menemukan Arkan yang hilang setelah 5 tahun terakhir berubah jadi pria sensitif, jutek dan gampang emosi. Aku yakin kalau adikku itu benar-benar bucin banget sama Lea dan aku senang karena dialah yang menjadi pujaan Arkan.”
“Terus rencana kita sendiri gimana ?” tanya Henri sambil menyandarkan kepalanya di paha Arumi.
“Bukannya kita udah sepakat mau mencoba lagi untuk fokus punya anak ?” sahut Arumi sambil membelai kepala suaminya dan mengecup kening pria itu.
“Terima kasih atas hatimu yang mau memaafkan aku, Sayang.”
Henri menahan tengkuk Arumi dan mencium bibir istrinya. Tidak lama Arumi menjauhkan diri dari kecupan Henri.
“Pegal,” keluh Arumi.
“Akan aku buat kamu nggak pegal meski akan kelelahan.”
Henri beranjak bangun dan mengambil handphone yang ada di tangan Arumi lalu meletakkannya di nakas.
Tanpa menunggu lama, Henri langsung mencium bibir Arumi yang sudah rebah di atas ranjang. Keduanya seakan lupa dengan rasa lelah karena harus menempuh perjalanan dari Jakarta ke Maldives hampir 11 jam lamanya.
Keduanya sudah sepakat untuk lebih banyak meluangkan waktu bersama dan fokus berusaha menghadirkan sang buah hati di dalam pernikahan mereka. Bulan madu ini adalah langkah awal yang mereka ambil untuk mewujudkan harapan itu.