
Duncan dan Rhea sampai di sebuah apartemen yang dekat dengan kampus Julliard School tempat Rhea sekolah. Sengaja Abi dan Dara memilihkan apartemen yang keamanannya ketat karena mereka sangat khawatir meskipun tahu Duncan mengirimkan pengawal bayangan bagi putrinya.
"Selamat malam nona Rhea, tuan Duncan" sapa penjaga pintu bernama Stan Lee meskipun dia bukan Stan Lee pengarang komik Marvel yang sering menjadi cameo di banyak filmnya.
Ketika Duncan dan Rhea mengetahui namanya memang asli itu, sempat bergurau bahwa dia salah profesi sebagai penjaga apartemen bukannya komikus.
"Saya seperti terkena kutukan memiliki nama yang sama dengan The Real Stan Lee" gurau pria berusia 40 tahun itu. "Lagi pula, aku kulit hitam, dia kulit putih."
Duncan sendiri meminta Stan Lee untuk menjaga Rhea selama disana. Rhea sendiri terkadang ngobrol dengan Stan jika dia pulang kuliah dan mengetahui bahwa dia orang tua tunggal yang istrinya meninggal karena sakit. Anaknya sekarang sudah SMA dan sedang mencoba masuk NYU lewat jalur beasiswa atlet. Rhea pernah beberapa kali bertemu dengan Rachet, putra Stan.
"Malam Stan" sapa keduanya.
"Nona Rhea, ada kiriman paket untuk anda." Stan pun mengeluarkan sebuah kotak besar yang dibungkus dengan kertas kado cantik.
"Dari siapa ya?" Rhea hendak menerima kotak itu tapi sudah diambil alih oleh Duncan.
"Sudahkan discan isinya Stan?" tanya Duncan.
"Tentu saja Sir. Isinya bukan bom kok" kekeh Stan yang memang dibekali alat canggih oleh Duncan untuk melihat isi paket agar tidak terjadi hal-hal aneh. Apalagi semenjak peristiwa 9-11, mereka lebih harus waspada.
Duncan hanya nyengir mendengar gurauan Stan.
"Terimakasih ya Stan" ucap Rhea.
"Selamat beristirahat."
Duncan dan Rhea pun berjalan menuju lift dan masuk ke dalam. Rhea memijit tombol 5 tempat apartemennya berada.
"Apa itu kiriman dari mom ya?" tanya Rhea pada dirinya sendiri.
"Aunty Dara sama Oom Abi kan akan datang besok Jumat jadi buat apa kirim kado buat kamu?"
"Apa mas Ghani?" Rhea masih penasaran.
Duncan tertawa. "G itu bukan tipe sok romantis begini, Rey. Lagipula dia kan masih sibuk menjadi polisi baru. Bisa jadi malah dia nggak ketemu kamu."
"Kan mas Ghani memang pengen gabung NYPD dari kecil" kekeh Rhea.
Ting!
Suara lift sudah sampai. Keduanya pun keluar menuju apartment Rhea yang berada di ujung. Gedung apartemen eksklusif ini ada 10 lantai dan masing-masing lantai hanya ada lima kamar. Sebagian besar penghuninya adalah mahasiswa Julliard seperti Rhea yang memiliki banyak uang.
Rhea memasukkan kode dan sidik jarinya di handle apartemen miliknya lalu terbuka lah sebuah ruangan yang tertata rapi dengan warna putih mendominasi. Handle canggih itu hanya bisa dibuka oleh Rhea, Duncan, Abi dan Dara yang masing-masing memiliki password dan sidik jari yang terdaftar. CCTV ada di setiap sudut bahkan di depan pintu apartemen, jadi penjaga tahu siapa saja tamu penghuninya.
"Aku selalu suka apartemen mu ini Rey" ucap Duncan sembari meletakkan box besar itu.
"Bukannya Abang yang milih?" tanya Rhea.
"Iya sih tapi Oom Abi juga setuju."
Rhea pun berjalan ke pantry lalu membuatkan kopi untuk Duncan. Lalu membuka kulkas dan menemukan brownies yang masih ada beberapa potong.
"Abang mau makan malam apa? Rhea masakin."
Duncan yang sedang mengecek ponselnya hanya menggeleng. "Gak usah masak. Masa birthday girl masak? Kita pesan saja ya terus makan disini sembari menikmati pemandangan."
"Terserah Abang aja deh." Rhea pun menyiapkan kopi untuk Duncan.
"Sushi ajah ya Rey" tawar Duncan.
"Boleh."
Duncan pun memesan sushi langganan mereka dan keduanya duduk di sofa sembari menonton tv yang sedang memutar film klasik detektif Columbo.
"Tahu nggak bang, ini film yang membuat mom dan mas Ghani serius nonton berdua. Habis itu keduanya malah membahas detektif yang super ngeyel itu."
Duncan mencium kepala Rhea karena posisi mereka saling menempel dan pria itu memeluk gadisnya.
"Sekarang tahu kan kenapa G ngeyel pengen jadi detektif karena aunty Dara penggemar berat film seri kriminal begini." Rhea tertawa mendengar analogi Duncan.
"Oh kotaknya. Aku buka ya bang" Rhea pun bangkit dan membawa kotak itu diatas meja depan sofa.
"Abang saja yang buka." Duncan pun membuka kertas kado yang membungkusnya. Setelah menemukan tutup kotaknya, Duncan pun membukanya. Terdapat kotak warna oranye yang membuat para wanita pasti ngiler.
"Hermès?" Rhea terkejut.
"Dari siapa?" tanya Duncan.
"Bang Gozali."
"Si Gozilla kasih kamu Hermès?"
Duncan pun membaca tulisan di kartu itu.
Happy birthday my lovely Rhea
Panjang umur, sehat dan sukses kariernya.
love Bang Gozali
"Apa-apaan ini Gozilla!" umpat Duncan kesal.
Rhea tertawa terbahak-bahak melihat wajah kekasihnya seperti ingin memcincang daging Wagyu.
"Bang, udah lah. Jangan marah-marah nanti cepat tua lho!" goda Rhea.
"Apa? Abang tua? Abang masih 25 tahun sayang!" Duncan tetap masih kesal.
Suara bel terdengar di depan pintu apartemen Rhea.
"Bang itu sushinya datang, ga usah marah-marah."
Duncan melepaskan jasnya kasar dan melemparkannya asal, meninggalkan dia hanya mengenakan kaus biru tua ketat yang menunjukkan bentuk tubuhnya yang berotot.
Rhea hanya terkikik melihat Duncan masih ngomel-ngomel sembari membuka kotak oranye itu. Tampak sebuah tas cantik yang Rhea tahu harganya pasti lumayan.
"Haaaahhhh" hembusnya seperti tidak terlalu antusias.
"Sayang, sushinya sudah datang. Abang atur di meja ya" ucap Duncan sembari menata pesanan mereka.
Usai menata, Duncan melihat gadisnya hanya. memandang tas warna hitam itu dengan tatapan sendu.
"Kenapa? Nggak suka tasnya?" tanya Duncan sembari duduk di sebelah Rhea.
"Bukan selera Rhea ini sih" kekeh gadis itu.
"Abang tahu. Kamu lebih suka kalau dibelikan tas ransel atau tas selempang Louis Vuitton kan?" kerling Duncan.
Rhea terbahak. "Abang tahu saja brand favorit Rhea."
"Apa sih yang Abang nggak hapal soal kamu Rey." Duncan menarik tangan gadisnya "Yuk makan."
Rhea duduk di meja makan sementara Duncan mengambil kopi yang tadinya di meja depan sofa dan meletakkan di meja makan. Kemudian dia mengambil dua botol air mineral dingin dan dua botol soda dari lemari es Rhea.
"Terimakasih Abang, menemani Rhea hari ini, memberikan kado yang tidak ternilai." Rhea menatap Duncan yang duduk di hadapannya.
"Love you my Rey. Today, tomorrow, forever."
Keduanya pun mulai makan malam dengan menu sushi yang merupakan favorit Rhea tanpa mereka ketahui, ponsel Rhea bergetar terus di dalam tas. Tentu saja gadis itu tidak mengetahui karena ponselnya dalam mode silent dan getar.
***
Kemana ini Rhea? Apa masih sama bule satu itu?
Gozali menatap layar ponselnya yang terdapat wallpaper Rhea disana.
Kenapa tidak diangkat?
***
Yuhuuu Up sore Yaaaa
Thank you for reading
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️