Menikahi Suami Sahabatku

Menikahi Suami Sahabatku
Say Goodbye


2,5 Bulan Kemudian


Hari ini adalah hari terakhir Dara bekerja di SMA Jakarta Internasional sesuai dengan kontrak yang dia tanda tangani. Banyak rekan guru yang menyayangkan kalau guru cantik itu tidak memperpanjang kontraknya. Bahkan para siswa terutama yang laki-laki banyak yang memberikan rangkaian bunga dan hadiah sebagai tanda perpisahan.


Di hari terakhir ini Dara pun membawa Abi bersama untuk diperkenalkan kepada rekan-rekannya sekalian berpamitan. Abi sendiri yang menyetir Range Rover nya karena harus membawa banyak hadiah dari guru dan murid-muridnya. Rekan-rekan gurunya pun terkejut kalau suami Dara adalah salah satu pengusaha terkenal.


Meskipun hanya tiga bulan bekerja, namun Dara sudah banyak mengambil hati banyak pihak di sekolah. Ada hal yang membuat Dara terkejut ketika mendapatkan info bahwa Maya Xavier memutuskan pindah ke Moskow mengikuti ayahnya yang harus menyelesaikan masalah disana. Setelah ujian semester, Maya pun langsung terbang ke Moskow menyusul ayahnya.


"Ada titipan dari Maya Xavier buat Bu Dara" kata salah satu teman Maya.


Dara menerima kotak panjang yang dibungkus kertas kado bewarna pink.


"Terimakasih ya" senyum Dara.


Usai acara perpisahan dan sedikit drama dari Ninik dan Rina, Dara dan Abi pun meninggalkan sekolah tersebut untuk kembali ke mansion.


"Kamu ikut aku ke kantor ya" ucap Abi setelah memerintahkan para pelayan untuk mengurus barang-barang yang ada di mobil.


"Oke mas" jawab Dara manis.


Kali ini keduanya memakai mobil Mercedes Benz GLC silver yang dulu digunakan menjemput Dara.


"Ternyata fans mu banyak ya sayang" gerutu Abi sebal. "Sainganku terlalu banyak. Mulai dari bayi sampai anak ABG."


Dara tertawa mengingat Duncan Blair yang begitu posesif dengan dirinya.


"Aku kangen sama baby D" senyum Dara.


"Jangan pernah kangen sama bayi posesif itu!" omel Abi.


"Ih mas tuh, Duncan itu batita mas, ba-ti-ta. Bukan pria matang kayak mas" ucap Dara sambil ngikik.


"Apa kamu bilang? Mas matang? Kamu pikir mas tuh buah apa?" sungut Abi dengan nada sudah naik satu oktaf.


"Haaaiissshhhh, susah ngomong sama orang yang cemburuan" gelak Dara.


"Iyalah, kamu tuh punya mas. Gak boleh ada punya selain mas!"


"Lho kalau kita punya anak, masa mas ya mau egois? Nggak bisa gitu dong mas. Harus berbagi lah" sahut Dara sewot.


Kok bisa ada pria egoisnya minta ampun sama anak sendiri?


"Perjanjian ya Adara, kalau kamu hamil dan punya anak, kamu harus 90% ke mas, sisanya ke anak."


Dara mendelik. "Enak ajah! Nggak bisa gitu dong mas! 50-50!"


"80-20!"


"50-50!"


"70-30!"


"Angka terakhir. 40-60! 40 mas, 60 anak. Titik!" hardik Dara.


"Lho kok mas cuma 40?" wajah Abi pun manyun.


"Take it or leave it?" ancam Dara.


"Memang kalau mas leave it, apaan?"


"Selama dua tahun setengah selama anak masih asi, mas tidur terpisah sama Dara." Wajah Dara serius menatap Abi. Jiwa emak-emaknya muncul kalau udah soal anak.


"Hah? Tega kamu" keluh Abi.


"Makanya jangan egois jadi orang tua!" sungut Dara.


"Take it deh!" Kebayang tidur tanpa Dara di sebelah selama itu bisa bahaya demi kelangsungan kegiatan nge-gym di kasur.


Dara tersenyum devil. "Nah gitu dong!"


Abi hanya menghela nafas panjang.


Anak belum jelas jadi atau nggaknya, tapi Dara udah protektif dan galaknya melebihi macan.


***


Abi dan Dara berjalan saling bergandengan masuk ke dalam lift yang berada di basement menuju lantai tempat ruangan Abi.


Jun pun sudah siap di depan lift sembari membawa berkas yang harus ditandatangani oleh Abi.


"Maaf Jun, agak terlambat dari janji saya tadi" ucap Abi sambil terus berjalan.


"Nggak papa kok pak, telat sebentar kok" jawab Jun.


Abi, Dara dan Jun masuk ke dalam ruangan bernuansa putih, hitam dan coklat sesuai dengan selera Abi.


"Kamu tinggal saja Jun, saya periksa dulu" jawab Abi tanpa melihat Jun.


"Baik pak, permisi Bu Dara."


"Silahkan Jun."


Jun pun pergi meninggalkan ruangan Abi dan menutupnya pelan.


Dara pun membuka ponselnya dan membaca banyak pesan yang masuk ke akun WhatsApp nya. Kebanyakan dari para rekan kerja dan murid-muridnya yang heboh tahu siapa suaminya.


Tiba-tiba kepala Dara terasa berputar dan segera meletakkan ponselnya.


Kok tiba-tiba pusing ya. Apa gara-gara tadi aku berdebat nggak jelas sama mas Abi?


Dara mengingat-ingat apa tadi sarapannya kurang banyak tapi dia makan nasi kuning lumayan banyak.


Mungkin aku kecapekan tadi ketemu banyak orang dan agak panas juga hawanya tadi jadi kepanasan kena sinar matahari.


Tapi makin kesini pusingnya makin menjadi. Pelan- pelan Dara berjalan menuju meja suaminya.


"Mas..." panggilnya pelan dan badannya terasa oleng.


Abi mendongak dan melihat istrinya wajahnya memucat, segera dia bangkit dari kursinya memegang tubuh Dara sebelum ambruk ke lantai.


"Adara! Adara!" Abi menepuk-nepuk pipi istrinya namun Dara tak bergeming. Keringat dingin mulai terbit di dahi Abi.


"Jun! JUUUNNN!" teriaknya ke asistennya yang langsung membuka pintu.


"Ada apa pak?"


"Panggil Antasena suruh siapkan mobil! Ini kunci mobilnya" Abi melempar kunci mobilnya ke Jun yang langsung ditangkap dan segera asistennya ke ruangan Antasena.


Abi langsung membopong Dara menuju lift dan tampak Antasena berlari mendekati Abi.


"Mbak Rara kenapa mas?" tanya Antasena panik.


"Mas nggak tahu! Tahu-tahu dia pingsan!" wajah Abi semakin panik.


Begitu lift terbuka, mereka langsung masuk. Abi tampak tidak sabar liftnya sampai ke basement. Begitu lift terbuka di basement, Antasena langsung unlock mobil dan membuka pintu belakang untuk Abi yang masih membopong Dara.


Antasena langsung menuju kursi pengemudi, memasang seatbelt, dan bergegas meluncurkan Mercedes Benz GLC menuju rumah sakit.


Abi masih memangku Dara sambil terus memeluk dan menepuk-nepuk pipinya. Istrinya tidak pernah seperti ini.


"Adara! Adara! Ayo bangun, sayang!" panggilnya berulang kali.


Antasena sendiri sudah tersambung dengan Diana yang meminta segera membantu Abi. Karena Antasena mantan pembalap, hanya dalam waktu 10 menit sampai di rumah sakit tempat Diana bekerja.


Sesampainya di depan pintu IGD, Diana sudah siap dengan brankar walaupun Abi ingin membawa Dara sendiri.


"Kamu manut Bi! Taruh Dara diatas brankar! Biarkan kami bekerja!" bentak Diana.


Akhirnya Abi pun menurut meletakkan tubuh istrinya diatas brankar dan Diana membawanya ke ruang periksa.


Abi rasanya lemas dan tanpa disadari dirinya menangis sambil dirangkul oleh Antasena.



"Mas, duduk dulu. Aku belikan minum dulu" Antasena pun menuju vending machine yang menjual minuman. Dia membeli dua botol air mineral yang satu diberikan ke Abi, satu untuk dirinya. Jujur ini kali pertama Antasena ngebut kembali setelah sekian lama dia meninggalkan dunia balapan.


Abi masih terpekur di kursi sambil terus menangis. Melihat Dara pingsan selalu terbayang-bayang.


Bagaimana dia tidak tahu istrinya sakit?


Setengah jam kemudian Diana keluar dari ruang rawat dan wajahnya pun tampak muram. Hati Abi langsung mencelos. Tanpa berbicara Diana memeluk Abi.


"Selamat ya, kamu bakalan jadi Daddy" bisik Diana.


***


Yuhuuu


Up tiga chapter nih...


Thank you readers ku tersayang


Makasih buat semua like vote n gift plus komen-komennya.


Makasih dukungannya buat Eike yang ngehalu suka typo ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Tararengkyu โค๏ธ๐Ÿ™‚โค๏ธ