Menikahi Suami Sahabatku

Menikahi Suami Sahabatku
Jangan Ragu


Milea baru saja turun ke lobby saat waktu menunjukkan pukul 8 malam. Hari ini Milea terpaksa lembur demi pekerjaan yang banyak tertunda karena acara bulan madu Arumi.


“Arkan, kamu kok nggak bilang kalau jemput aku ?”


Milea menyentuh pelan bahu pria yang tertidur bersandar di sofa. Begitu matanya terbuka, Arkan langsung tersenyum dan guratan keletihan terlihat di wajahnya.


”Besok-besok kalau capek nggak usah jemput aku.”


“Aku cuci muka dulu,” ujar Arkan sambil beranjak bangun.


Tidak sampai 10 menit, Arkan sudah kembali di hadapan Milea. Tangannya terulur siap menggandeng kekasihnya.


”Mau makan apa ?”


“Ar, kita pulang aja, kamu tuh kelihatan capek banget. Kita bisa ketemu lagi besok, kalau perlu aku yang datang ke kantor kamu.”


Arkan tertawa pelan dan mencubit pipi Milea dengan gemas.


“Mulai agresif nih ceritanya ? Sayangnya besok aku harus berangkat ke Yogya, mungkin sekitar 5 hari aku di sana, menggantikan Kak Henri yang lagi cuti dinas demi istrinya.”


“Naik apa ? Bawa mobil sendiri ?”


“Rencananya naik pesawat, di sana ada orang proyek yang akan mengantarku kemana aja.”


Milea hanya mengangguk tanpa bicara apapun.


”Kenapa, kok diam ? Takut kangen ya sama aku ?” ledek Arkan sambilt tertawa.


“Iya, gara-gara kamu nemuin aku tiap hari, pasti rasanya aneh kalau pas pulang kantor nggak lihat sopir ganteng nunggu di lobby.”


“Hadeuuhh bisa juga kamu ngegombal, jadi pingin cepat-cepat diajak nikah aja.”


Arkan tertawa bahagia, satu tangannya mengacak rambut Milea dengan gemas.


“Ar, berantakan nih,” gerutu Milea.


“Jadi sekarang mau makan apa, Sayang ? Mau yang mahal juga boleh asal jangan minta mau makan aku soalnya belum sah.”


“Dasar cowok mesum, baru juga dikasih restu sama Mami, bawaanya langsung pingin ajak nikah aja,” cibir Milea.


“Aku ikut aja kemana kamu ngajak aku, asal jangan ke kamar hotel.”


Arkan kembali tertawa renyah. Rasanya bahagia melihat Milea tidak sekaku biasanya dan mulai menanggapi candaanya.


Arkan pun membawa Milea ke rumah makan yang menyajikan makanan khas Sunda, memesan menu ikan goreng dan cumi bakar adalah kesukaan Milea.


“Arkan makan deh, jangan lihatin aku terus kayak gitu, bikin nggak nyaman aja,” gerutu Milea saat makanan di mulutnya sudah berhasil ditelan semua.


“Udah kenyang lihatin kamu makan, ditambah lagi bahagia banget bisa balik pacaran sama kamu kayak dulu lagi.”


“Mana ada cinta doang bikin kenyang. Makan dulu atau aku bakal pulang sendiri dari sini.”


Arkan tertawa dan menuruti permintaan Milea. Kekasihnya ini sekarang sedikit keras kepala, apa yang diucapkannya bukan sekedar gertakan biasa.


Keduanya menikmati makan malam sambil bernostalgia tentang masa-masa indah saat mereka masih di bangku SMA. Mengingat-ingat bagaimana melalui masa itu dengan kenakalan remaja pada umumnya. Arkan sempat beberapa kali bertemu dengan teman-teman yang berbeda-beda.


“Mereka tahu kalau kamu sudah menikah dengan Dina ?”


“Sepertinya begitu, sebulan setelah pernikahan kami, Dina sempat memposting foto pernikahan kami di medsosnya. Kami sempat bertengkar karena perjanjian awalnya tidak ada publikasi di medsos atau dengan cara apapun. Dengan alasan malu karena perutnya semakin membesar, Dina bilang hanya dengan cara itu dia bisa menghindari pikiran buruk orang kalau dia hamil tanpa suami.”


Milea tersenyum tipis dan beranjak dari kursi setelah Arkan selesai melakukan pembayaran.


“Aku ke toilet dulu,” ujar Milea sebelum Arkan bertanya padanya.


Milea menatap wajahnya di depan kaca selesai cuci tangan. Ia sempat menghela nafas beberapa kali setelah membuka halaman medsos milik Dina yang belum ditutup. Sejak kejadian pernikahan Dina dan Arkan, Milea sempat memutuskan hubungan dengan Dina dan Arkan termasuk di medsos.


Ada rasa tidak nyaman saat membaca komentar di postingan Dina. Bukan hanya postingan foto Dina dan Arkan saat menjadi pasangan pengantin, terlihat beberapa foto Dina melakukan selfie dengan Arkan.


Milea yakin kalau foto dengan Arkan itu diambil tanpa seijin yang bersangkutan dan diatur sedemikian rupa hingga terlihat seperti pasangan yang berbahagia.


Benar-benar tidak mudah menjalin hubungan kembali dengan Arkan. Setelah mendapat restu dari kedua keluarga, Milea harus bersiap-siap untuk menghadapi cibiran dan ucapan sinis sebagian orang yang akan berpikir kalau Milea lah yang menyebabkan retaknya rumahtangga Dina dan Arkan bahkan mungkin sebagian akan berpikir kalau dirinya yang menjadi alasan Dina bunuh diri.


Aku pikir kehadirannya adalah bukti cintamu


Tapi aku terlalu berharap kalau mimpiku bisa menjadi nyata


Mulut bisa berdusta namun mata bicara apa adanya


Rasanya perih dan pedih


Bagaimana aku bicara soal cinta saat kamu justru membencinya dan mengabaikan kehadirannya


Ia hanya mahluk lemah yang tidak mengerti artinya benci dan cinta


Ia adalah kebahagiaanku yang mengharapkan cintamu juga, namun tidak pernah kunjung tiba


Aku lelah melangkah sendrian


Aku hanya bisa menangis tanpa ada yang menenangkan


Dengan setulus hati aku doakan, semoga hidupmu akan lebih bahagia dengannya


Tulisan terakhir Dina di laman mendsosnya sangat mengganggu pikiran Milea apalagi begitu banyak komentar datang dari teman-teman sekolah mereka.


Beberapa di antaranya bahkan menanyakan ada apa dengan rumahtangganya, siapa orang yang dimaksud Dina dan banyak pertanyaan lain yang cukup mengganggu Milea.


Sayangnya tidak ada satupun yang dijawab Dina apalagi 3 hari sesudahnya, Dina mengakhiri hidup layaknya orang yang putus asa.


”Ada masalah apa lagi ? Apa ada ucapanku yang menyinggung perasaanmu ?” tanya Arkan saat mobilnya sudah kembali ke jalan raya.


“Apa kamu pernah melihat medsos Dina ?” tanya Milea dengan senyuman tipis.


“Kamu lupa kalau sejak dulu aku tidak pernah suka menggunakan medsos dan kamu yang memaksa bahkan membuatkan akun untukku ? Sejak putus denganmu, aku tidak pernah menyentuhnya sama sekali.”


“Jadi kamu tidak pernah terganggu dengan postingan Dina setelah kalian menikah ?”


Arkan menatap Milea sejenak dengan dahi berkerut hingga ia memutuskan untuk menunda mengantar Milea pulang.


“Mau kemana ? Ini sudah hampir jam 10, Ar. Besok pagi kan kamu harus berangkat ke Yogya.”


“Aku nggak akan tenang pergi ke Yogya kalau situasi kita begini.”


“Arkan…”


“Mili, kamu bisa pura-pura di depan orang lain tapi tidak bisa membohongi aku. Lebih baik katakan apa yang mengganjal di hatimu dan kita akan cari jalan keluarnya bersama.”


Arkan membawa Milea ke taman yang ada di dekat rumah Milea. Terlihat sepi karena hari sudah mulai larut, hanya tinggal beberapa pedagang gerobak.


“Jadi ?” tanya Arkan dengan posisi duduk menghadap ke Milea.


Milea mengeluarkan handphone dan memperlihatkan akun medsos Dina. Arkan melihatnya satu persatu.


”Jangan jadikan beban karena sudah banyak yang tahu kalau aku bercerai dengan Dina sebelum tulisan terakhirnya diposting. Tidak semua orang akan menghakimi kamu sebagai tokoh antagonis yang ada dalam tulisan Dina, terutama mereka yang mengenal siapa kamu dan Dina. Kita yang akan menjalaninya berdua dan keluarga kita sudah sama-sama tahu kondisi yang sebenarnya.”


“Terkadang aku tidak nyaman saat harus marah dengan perbuatan Dina karena dia sudah tidak ada lagi di dunia ini, apalagi Dina meninggal dengan cara bunuh diri. Tapi kenapa selalu ada saja yang terihat saat kita ingin memulainya kembali,” ujar Milea sambil menarik nafas dalam-dalam.


“Aku sempat marah bahkan sangat marah pada Dina selama bertahun-tahun bahkan setelah ia tiada. Dina seolah tidak pernah puas dalam hidup sekalipun ia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya. Aku sangat membencinya karena seringkali tega menghancurkan hidup orang lain demi kebahagiaannya.


Tapi setelah kamu kembali ke sisiku, aku tidak peduli lagi dengan semua perbuatan Dina di masa lalu karena aku yakin bersamamu aku pastinbisa melewati semuanya dengan baik termasuk pandangan negatif orang tentang kita.


Apa yang terjadi tidak perlu kita jelaskan pada mereka karena tidak ada seorang pun yang dirugikan atau menanggung akibatnya.”


Milea terdiam bahkan saat Arkan meraih jemari gadis itu dan menggenggamnya.


“Kita sudah mendapatkan kembali cinta yang hilang selama 5 tahun dengan dukungan sepenuhnya dari keluarga, jadi jangan ragu-ragu lagi. Aku akan selalu ada di sisimu untuk menghadapi semuanya. Tidak perlu kita menjelaskannya satu persatu karena yakinlah kalau kebenaran akan bicara dengan sendirinya.”


Milea akhirnya menggangguk dan perlahan mulai tersenyum.


”Aku percaya padamu dan tidak akan mengecewakan kedua orangtua kita.”


“Terima kasih Mili, Sayang,” Arkan mengusap pipi Milea lalu memberikan ciuman di kening kekasihnya itu.