
Sepulang dari Surabaya, Abi menceritakan semua kejadian disana sampai mereka bertiga membuang baju yang mereka pakai untuk buang sial menurut Antasena. Dara tertawa terbahak-bahak membayangkan suami, adik iparnya dan suami sahabatnya bergidik berada disana.
Abi bersyukur Dara tidak marah harus mengeluarkan uang sebanyak itu demi Gozali.
"Mas, uang bisa dicari tapi Gozali tidak bisa diganti dengan uang. Terimakasih bersedia mengeluarkan dana yang tidak sedikit itu." Dara memeluk suaminya.
"Tapi tidak ada yang gratis lho nyonya Abimanyu" kerling Abi usil.
"Iisshhhh!" cebik Dara sebal. Abi tertawa melihat wajah istrinya yang menggemaskan.
"Ohya kamu tahu, ternyata Imah itu punya simpanan emas lho" ucap Abi sembari mengganti bajunya.
"Ohya? Tapi kenapa bang Gala bilang cuma Nemu uang dan buku nikah?" tanya Dara surprise.
"Rupanya emas itu disimpan di bawah laci lemari baju. Jadi anak buahnya si Mangga waktu bongkar untuk mencari informasi, menemukan itu."
Abi yang sudah mengganti bajunya dengan kaos rumah dan celana piyama membuka duffle bagnya dan memberikan tas kecil khas toko emas kepada Dara.
Istri cantiknya itu lalu membuka tas itu dan terkesiap melihat isinya.
"Ini haknya Gozali, mas" seru Dara.
"Hu um. Melihat ibunya Imah yang seolah bomat soal anaknya membuatku semakin yakin memutuskan hubungan Gozali dengan neneknya. Dia bukan orang yang bisa menjadi orangtua yang baik. Kamu tahu, kost-kostan yang kita datangi tadi, itu hanya kedok. Perempuan itu adalah seorang mucikari, sayang." Abi menatap istrinya serius.
Dara menutup mulutnya. "Astaghfirullah!"
"Untung kamu nggak ikut. Aku tidak bisa kebayang perempuan itu bakalan kamu hajar, sayang. Aku dan Antasena hanya bisa istighfar mendengar semua ucapan wanita gila itu!"
"Imah beruntung mendapatkan Sukri dan mengeluarkannya dari lembah hitam serta menaikkan derajatnya" gumam Dara.
"Yuk ke kamarnya Gozali. Kita bicarakan ini" ajak Abi kepada istrinya yang mengenakan gaun rumah tanpa lengan bewarna biru dengan polkadot putih.
***
Gozali sedang mengerjakan pe er nya ketika pintu kamarnya diketuk.
"Buka saja nggak dikunci" ucapnya dengan agak teriak.
"Gozali?" suara Dara saat membuka pintu membuat Gozali meletakkan pensilnya dan menyambut ibu angkatnya.
"Maaf Bu, Gozali kira G yang masuk" jawab Gozali sembari mencium punggung tangan Dara. "Bapak" sapa bocah itu ke Abi.
Meskipun Abi dan Dara berulang meminta agar Gozali mengganti panggilannya seperti Ghani dan Rhea, namun bocah itu tetap memanggil bapak dan ibu. Akhirnya mereka pun tidak meributkan lagi dan membiarkan supaya Gozali nyaman.
"Boleh kami masuk Goz?" tanya Abi.
"Silahkan.". Gozali bergeser lalu duduk di kursi belajarnya, sedangkan Abi dan Dara duduk di sofa. Mereka kagum melihat kerapihan kamar putra angkatnya jika dibanding Ghani yang masih suka berantakan.
"Gozali, bapak mau memberikan sesuatu padamu" ucap Abi.
"Mau kasih apa pak?" tanya Gozali bingung.
Abi mengeluarkan tas kecil dan diberikan kepada Gozali.
"Ini adalah simpanan almarhum ibumu, Goz. Sekarang menjadi milikmu."
Gozali membuka tas kecil itu dengan tangan bergetar. Matanya terbelalak melihat isinya adalah perhiasan ibunya.
"Pak...?" mata bocah itu berkaca-kaca. Dara pun menghampiri Gozali.
"Simpanlah, itu milikmu" ucap Dara lembut sambil mengusap kepalanya.
Gozali menggelengkan kepalanya. "Aku nggak berani simpan, Bu. Aku titip ibu saja ya."
"Baik, akan ibu simpan apalagi ini amanah." Dara menyimpan tas kecil itu di saku gaun tidurnya.
"Goz, bapak ada rencana mengadopsi kamu secara resmi menjadi anak bapak dan ibu serta menjadi kakak bagi G dan Rhea karena kamu lebih tua dari mereka semua. Bagaimana?" Abi menatap Gozali dalam.
Gozali membalas tatapan Abi. "Apa bapak dan ibu yakin? Gozali cuma anak buruh yang mengalami musibah dan menjadi yatim piatu."
Dara hanya tersenyum. "Kamu jangan insecure gitu Goz. Tentu saja bapak dan ibu yakin, pula dengan resmi kamu diadopsi membuat kamu terlindungi secara hukum."
"Gozali menurut saja kepada bapak ibu baiknya bagaimana karena selama ini Gozali sudah menganggap bapak dan ibu sebagai orangtua kedua."
Abi dan Dara saling memandang dengan lega menanggapi jawaban Gozali.
"Alhamdulillah. Senin besok kita urus ya semua administrasi nya, nanti dibantu oleh Oom Stephen juga."
Gozali mengangguk.
"Masih buat pe er kah? Jangan terlalu malam tidurnya" Dara mengusap kepala Gozali lagi.
"Sedikit lagi kok Bu."
"Ya udah, kami istirahat dulu." Abi merangkul pinggang Dara dan keluar dari kamar Gozali.
Dara menutup pintu kamar Gozali pelan sedangkan yang ditinggalkan menatap foto kedua orangtuanya yang berhasil diperoleh dari pak polisi Gala.
"Ayah, bunda, nggak usah khawatir. Gozali sudah aman di rumah bapak Abi dan ibu Dara. Kalian berdua tenang ya disana. Nanti Goz kirimkan Al Fatihah saat tahajud."
Bocah kecil itu mencium foto dalam pigura.
"Doakan ya ayah, bunda agar Gozali bisa membalas semua kebaikan Pak Abi, Bu Dara, G dan Rhea."
***
Hari Minggu pagi ini sudah dimulai dengan keributan di halaman belakang. Rupanya Abi mengajak kedua putranya berenang dan Ghani mengusulkan untuk balapan bersama Gozali.
Dara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar keributan seorang pria dewasa dengan dua bocah laki-laki.
Mirna yang sedang membantu Dara menata sarapan di meja makan hanya tersenyum melihat kehebohan disana.
"Rumah semakin ramai ya bu" kekeh Mirna.
"Di belakang ramai, di tengah juga ramai" sahut Dara sambil tertawa.
Tidak heran karena Rhea sedang asyik memainkan pianonya belajar lagu milik Beethoven berjudul Moonlight Sonata.
"Saya senang lho Bu, mansion nggak seperti dulu. Sekarang makin semarak."
"Aku bersyukur akan semua ini Mirna. Meskipun jalan kehidupan kami banyak terjal tapi kami bisa melaluinya." Dara menyiapkan teh wasgitel kesukaannya yang menurun ke Rhea.
"Iya lho Bu, semua pelayan disini jadi semangat bekerjanya bersama bapak dan ibu."
"Semoga kalian betah ya" senyum Dara.
"Assalamualaikum" sebuah suara terdengar dari ruang tamu.
Rhea yang duduknya dekat dengan ruang tamu langsung berteriak senang.
"Tante Yunaaa" serunya.
"Rhea! Salam dulu" teriak Dara.
"Wa'alaikum salam Tante!" cekikik Rhea.
Dara meninggalkan meja makan dan menyerahkan kepada Mirna untuk menyambut tamunya.
"Wa'alaikum salam mbak Yuna" sapa Dara ramah dan hanya tersenyum melihat Rhea sudah dalam gendongan Yuna.
"Sorry pagi-pagi kemari" ucap Yuna sambil cipika cipiki dengan Dara. "Ada yang kangen main kesini."
"Ohya?" Dara kemudian melihat seorang bocah bule tampan berada di depan pintu.
"Halo D. Apa kabar? Gimana London?" sapa Dara yang mendapatkan ciuman tangan dan pipi dari Duncan.
"London begitulah Tante. Hai Rey" sapa Duncan ke gadis cilik yang dalam gendongan mommynya.
"Rhea, turun dong kasian Tante Yuna keberatan tuh!" tegur Dara.
"Baik mommy." Rhea pun turun.
"Yuk, Abang D gandeng Rey" ajak Duncan sedikit modus.
"Bang! Modus amat sih?" kekeh Yuna geli melihat putranya.
"Mom! Be quiet!" desis Duncan judes namun wajahnya tetap memerah.
Dara dan Yuna tertawa.
"Rey, mas Ghani dimana?" tanya Duncan sambil menggandeng gadis cilik cantik itu.
"Di belakang lagi berenang sama Daddy dan Bang Gozali" jawab Rhea apa adanya.
Brengsek!
***
Launching visual dulu yak! ๐๐๐
***
Yuhuuu
Up malam Yaaaa
Lanjut besok
Thank you for reading
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu โค๏ธ๐โค๏ธ