
Hari ini Dara melahirkan putrinya ditemani oleh Abi di dalam ruang bersalin. Edward dan Yuna yang sudah dua hari sebelumnya berada di Jakarta ikut menemani Ghani yang hanya bersama bik Tarsih di kamar rawat Dara.
"Bu Talsih, mommy sama adek masih lama?" tanya batita imut itu.
"Kayaknya masih lama mas" sahut bik Tarsih yang gemas dengan tuan kecilnya.
Semenjak Dara hamil anak kedua, dia selalu membahasakan 'mas' ke Ghani lalu 'adek' ke debaynya. Dan akhirnya berlaku ke semua pelayan di rumah.
Sekarang di rumah hanya tinggal keluarga Abi karena Antasena sudah menikah dengan Naina dan memilih tinggal di rumahnya sendiri. Naina sendiri pindah mengajar di sebuah Universitas swasta di Jakarta. Antasena sendiri tidak masalah Naina mengajar pula mereka belum dikaruniai anak.
"G sabar lah nunggu mommy Dara sama baby girl. Kan prosesnya lama" sahut Duncan yang memang diminta Edward menemani little brother sembari mengutak-atik Ipad-nya.
"Tapi mas dah ga sabal" sahutnya sambil cemberut.
"Harusnya yang ga sabar tuh Abang, G. Kan Abang dah minta duluan adiknya G buat Abang D" goda Duncan.
"Abang jahat! Itu adik emas!" teriak Ghani hampir menangis.
"Yeee waktu G bayi, adik G dah Abang cup dulu!" Duncan semakin gemas menggoda little bro nya yang sudah mulai memerah pipi dan hidungnya mau menangis.
"Bik Talsssiihh ! Abang nakal!" akhirnya melengking lah suara tangisan Ghani.
"Lho lho kok G nangis?" suara Naina yang baru saja datang membuat Ghani menghambur ke tantenya yang langsung menggendong batita itu.
"Abang jahat aunty! Adek G mau diambil!" adunya sambil nangis kejer di ceruk leher Naina. Antasena yang berada di belakang istrinya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya begitu melihat siapa yang menjahili keponakannya.
"D, kamu kok jahil banget sih sama G?" tegur Antasena ke bocah bule bermata biru itu.
"Gemes soalnya Oom" kekeh Duncan.
"Haaaiissshhhh, kamu tuh kayak mamamu. Nakal!" sahut Antasena sambil mengacak-acak rambut Duncan yang nyengir jahil.
Naina masih berusaha membujuk Ghani supaya berhenti menangis dan akhirnya berhasil ketika Naina menyetelkan anime detektif Conan.
"Astagaaaaa G, kamu tuh! Kok bisa sih bikin mommy mu ngidam nonton Conan." Antasena teringat wkatu Dara hamil Ghani, setiap hari selalu nonton anime itu. "Yank, jangan yang ada pembunuhan lho ya."
"Nggak mas. Ini yang kasus yang nggak ada pembunuhannya, mbak Dara dah kasih kodenya" sahut Naina yang masih memangku Ghani.
"Ya udah, soalnya mas Abi dah parno takut Ghani jadi detektif beneran" kekeh Antasena.
Tak lama Edward dan Yuna masuk ke dalam kamar Dara dan disusul oleh ibu cantik yang baru saja melahirkan putrinya ke dunia yang didampingi oleh suami tampannya. Dara tampak lelah di tempat tidur yang didorong oleh suster dan bidan.
"Mommy!" jerit Ghani begitu melihat mommynya.
"Kamu nggak nangis kan mas Ghani?" tanya Dara pelan. Proses kelahiran keduanya ini memang agak susah dibandingkan waktu Ghani karena baby girlnya lumayan besar. Waktu Ghani lahir beratnya 3,5kg sedangkan baby girlnya ini 3,9kg.
"Nangis" jawab Ghani.
Abi langsung menggendong Ghani karena terkejut mendengar dia menangis. "Lho mas Ghani kenapa nangis?"
Ghani menunjuk Duncan dengan muka marah. "Abang D mau ambil adik G! G Ndak suka! Itu adik G!"
Sontak semua orang dewasa yang di ruangan itu tertawa melihat ekspresi Ghani yang marah sambil bersidekap dalam gendongan Daddynya menatap abangnya tajam.
"Boy, nggak ada yang mau ambil baby girl adiknya G kok" bujuk Abi.
"Benel dad?" wajah Ghani langsung sumringah.
"Iyalah. Kan adek punya Daddy, mommy dan Ghani" sahut Abi sambil melirik Edward tajam.
"Wait and see saja Bi" kekeh Edward.
"Anakku baru brojol, Ed!" sarkasme Abi. Yuna dan Dara hanya menghela nafas panjang melihat keributan tanpa ending yang jelas diantara keduanya.
"Selamat siang bapak ibu dan adik-adik, permisi ini baby girlnya" salah seorang suster membawa boks bayi cantik ke sebelah tempat tidur Dara.
"Wah cantiknya" seru semua orang disana.
"Sudah kamu IMD kah Ra?" tanya Yuna.
"Sudah mbak tadi di ruang bersalin. Alhamdulillah Asiku lancar sama seperti jaman Ghani" jawab Dara sambil mengelus pipi putrinya.
"Namanya siapa mbak?" tanya Naina yang jadi kepingin memiliki anak secepatnya.
"Namanya adek Lea ya dad?" celetuk Ghani.
Abi hanya mendelik. "G, celadmu harus dibenerin deh. Masa adikmu jadi kayak princess Leia di Star Wars namanya?"
Dara hanya tersenyum mendengar protes sang Daddy pasalnya nama Rhea adalah idenya.
Duncan menatap bayi cantik yang masih tertidur itu.
"Halo Rey. You are mine since you were born" bisiknya.
***
Ghani tetap mengeyel nggak mau pulang bareng bik Tarsih dan Antasena. Dia mau tidur dengan mommynya. Untung Abi sudah meminta tempat tidur besar untuk istrinya jadi Ghani muat disana. Abi juga meminta ekstra bed demi batita imutnya.
"Nanti kalau sudah bobok, pindah saja mas ke tempat tidur." Dara paham sekali Ghani di fase kecemburuan anak sulung yang mendapat seorang adik. Meskipun sejak hamil dia selalu memberikan pengertian pelan-pelan tapi tetap saja fase itu ada.
"Mommy, tadi Abang D bilang kalau dek Lea mau diambil. G ga kasih" cerita Ghani.
"Memang tadi Abang D bilang apa nak?" tanya Dara sambil mengusap-usap kepala putranya.
"Kata Abang, adek sudah dicup dali G bayi" lanjut Ghani sambil memainkan baju mommynya.
"Dicup?" tanya Abi bingung.
"Maksudnya sudah di klaim mas" jawab Dara.
"Haiissshh, mereka berdua itu Yaaaa" sahut Abi gemas.
"Terus mas Ghani bilang apa sama Abang?" tanya Dara lembut.
"Katanya adik Lea..."
"Rhea sayang" protes Abi.
"Lea."
"Rrrrhhhheeaaa." Abi menekankan huruf 'R'.
"Llllleeeeaaa" balas Ghani sambil menatap judes Daddynya.
Dara terkikik melihat kedua pria kesayangannya saling ribut.
"Sudah nanti G bisa bilang R mas" bujuk Dara demi melihat hidung Ghani mulai memerah menahan tangis.
Kedua prianya sama-sama keras kepala.
"Trus Abang bilang apalagi?" bujuk Dara ke Ghani.
"Iya Abang bilang nanti mau ambil adek G" jawab Ghani sambil beringsut dalam pelukan mommynya.
"Tidak ada yang mengambil adek mas Ghani kok. Abang Duncan cuma godain soalnya kan nanti mas Ghani mainnya sama adik Rhea jadi Abang kesepian tuh" ucap Dara lembut berusaha memberikan pengertian agar Ghani tidak marah kepada Duncan.
Tak lama Ghani pun tertidur dalam pelukan Dara.
"Mas, kayaknya kita harus sudah waspada deh sama mas Edward dan Duncan" bisik Dara takut membangunkan Ghani.
"Hu um. Mereka berdua benar-benar pengen jadi besan dan menantuku."
***
Yuhuuu udah up Yaaaa
See you tomorrow
Thank you for reading
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️