Menikahi Suami Sahabatku

Menikahi Suami Sahabatku
Hati yang Terluka


Sudah seminggu berlalu Arumi benar-benar menghindari bertemu dengan Henri. Ia berangkat pagi-pagi sebelum Henri bangun dan setiap pulang ke apartemen, Arumi langsung masuk ke kamar, menguncinya dan tidak pernah keluar lagi.


“Pak Henri sejak tadi menghubungi kantor mencari Ibu. Pak Henri minta dihubungi kembali karena ada hal penting,” ujar Milea saat Arumi kembali ke ruanganya.


Arumi hanya diam dengan wajah datar masuk ke ruangannya. Milea yang sudah seminggu ini memperhatikan situasi Arumi dan Henri akhirnya nekat ikut masuk ke dalam ruangan Arumi.


“Kamu mau ngapain ikutin saya ?” tanya Arumi dengan nada tidak suka saat melihat Milea di belakangnya.


“Hari ini kalau boleh, saya mau bicara sebagai adiknya Ibu, bukan asisten,” sahut Milea.


“Memangnya kamu sudah mau menerima Arkan kembali sampai berani bilang begitu ?”


“Belum, tapi saya sangat mengerti bagaimana perasaan Ibu sama Pak Henri. Situasinya hampir mirip dengan kejadian saya dan Arkan 5 tshun yang lalu.”


“Terus apa pengertianmu bisa menghapuskan kenyataan kalau Mili adalah darah daging Henri ? Kondisinya berbeda dengan kamu dan Arkan. Kalau Arkan hanya menanggung status sementara perbuatan Henri menghasilkan manusia lain,” sahut Arumi penuh emosi.


“Bu, apa yang terjadi pada Pak Henri diluar kesadarannya, kalau tidak mana mungkin Pak Henri bisa bersikap biasa-biasa saja selama Dina hidup dan pada saat berdekatan dengan Emilia.”


Arumi terdiam dan menghempaskan tubuhnya ke sofa. Seluruh tubuh dan hatinya teramat lelah karena meski menyibukkan diri di siang hari, Arumi tidak mudah memejamkan mata di malam harinya.


“Apa yang terjadi pada Ibu memang lebih berat daripada yang saya alami saat Arkan memutuskan untuk menikahi Dina sedangkan Ibu tidak mungkin menghapus Emilia dari kehidpan ini.”


“Syukurlah kalau kamu paham kenapa hatiku begitu berat memaafkan Mas Henri.”


“Saya sama seperti Ibu, kecewa dan sakit hati sampai rasanya ingin membeli mesin waktu untuk mencegah semua ini terjadi dan menjadikannya baik-baik saja, tapi semua itu tidak akan menghapus sumber masalahnya : DINA.”


“Memang ada yang jual ?” ketus Arumi.


“Kalau ada yang jual, Ibu yang beli saya nebeng ke dalamnya saat Ibu melakukan perjalanan ke masa lalu. Kita kerjasama berdua supaya Dina tidak mudah menjadikan kita sebagai korban keegoisannya. Bukan kita saja, tapi pria-pria yang kita cintai, jangan sampai ikut jadi korban juga.”


Akhirnya untuk pertama kalinya sejak kegalauan hatinya seminggu ini, Arumi tertawa mendengar ocehan Milea apalagi ekspresi wajahnya terlihat lucu.


“Jadi kamu mencintai Arkan tapi gengsi mengakuinya ?” ledek Arumi sambil mencibir.


“Bukan gengsi tapi ragu karena masih ada sisa-sisa sakit hati, persis sama seperti situasi Ibu sekarang.”


“Terus sekarang setelah semuanya jelas kalau Mili bukan anak Arkan dan alasan kenapa Arkan sampai menikahinya, kamu masih menolak permintaan Arkan untuk kembali padanya ?”


Milea menghela nafas dan wajahnya seperti orang sedang berpikir keras. Arumi kembali tertawa melihat ekspresi Milea. Sekarang ia semakin mengerti kenapa adiknya sangat mencintai gadis yang duduk di seberangnya.


“Susah banget tinggal jawab Arkan : aku mencintaimu. Jangan sampai setelah Arkan bertemu lagi denganmu dan merasa kalau hatimu sudah tidak mungkin lagi digapai olehnya, Arkan mulai membuka hatinya untuk orang lain dan kamu hanya bisa kembali patah hati.”


”Kalau sampai terjadi berarti Arkan tidak benar-benar mencintai saya karena baru usaha begitu udah mau nyerah aja. Selain itu artinya saya tidak berjodoh sama Arkan,” ujar Milea sambil mencibir.


“Aku akan sabar menunggu kok, Sayang, nggak akan gampang menyerah,” suara Arkan yang tiba-tiba muncul dari balik pintu membuat mata Milea membola dan ingin segera keluar dari ruangan Arumi.


Namun Milea sadar kalau ia harus melewati Arkan karena pria itu masih berdiri di depan puntu sambil senyum-senyum.


“Aku ikutan juga kalau Kak Rumi beli mesin waktu. Akan aku bongkar semuanya dan mencegah Kak Henri diper-ko-sa sama Dina.”


“Huuss bicaramu jangan asal, Ar,” tegur Arumi sambil melotot, Arkan hanya terkekeh melihat wajah kakaknya.


“Duuhh yang masih cinta sama suami,” ledek Arkan berjalan mendekat.


Melihat Arkan sudah tidak lagi berdiri di pintu, Milea bergegas melintas jauh dari Arkan untuk kembali ke mejanya.


“Mau kemana, Sayang ?”


“Ini masih jam kerja, Pak. Saya mau kembali bekerja,” sahut Milea mencoba membalas tatapan Arkan, namun senyuman di wajah pria itu membuat jantungnya berdebar hingga Milea membuang pandangan ke lain arah.


“Saya bisa minta ijin sama boss kamu untuk menculik kamu sekarang juga,” ledek Arkan mendekatkan wajahnya membuat Milea menundukkan kepala dengan wajah merona.


“Jangan pamer kemesraan di depanku,” ketus Arumi sambil beranjak dari sofa.


“Udah tahu hatiku lagi kesal dan galau sama suami, kalian malah sok mesra di depanku,” gerutunya dengan wajah ditekuk.


“Makanya jangan kelamaan kabur dari kenyataan,” ledek Arkan. “Sampai Kak Henri menyuruh aku kemari untuk memastikan kalau Kak Rumi baik-baik saja.”


“Ooohh jadi kamu kemari bukan tulus mau menghibur kakakmu tapi terpaksa karena disuruh Mas Henri ?”


Arkan tergelak melihat Arumi melotot kepadanya sementara tangannya masih kuat mencengkram Milea yang berusaha mencari celah untuk melepaskan diri dari Arkan.


“Kamu tenang dulu atau aku cium di depan Kak Rumi ?” ancam Arkan dengan alis terangkat sebelah.


“Saya harus kembali kerja. Telepon di meja saya berbunyi terus.”


Arkan tersenyum dan membenarkan alasan Milea. Pintu ruang kerja Arumi memang tidak ditutup rapat oleh Arkan hingga mereka masih bisa mendengar suara dari luar.


“Urusan kita belum beres,” bisik Arkan sebelum melepaskan Milea.


Begitu terlepas, Milea segera melesat keluar ruangan dan menutup pintu rapat-rapat. Arkan tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya.


Ia pun melangkah mendekati meja Arumi dan duduk di hadapannya.


“Aku bersyukur karena perbuatan Dina akhirnya terbongkar, tapi melimpahkan semua kesalahan pada Kak Henri juga tidak bisa dibenarkan. Aku benar-benar terkejut saat mendengar Dina mengakui perbuatan gilanya pada Kak Henri dan salahku juga menutupi semuanya hingga Emilia tumbuh sampai sekarang. Seharusnya aku tidak hanya menyuruh Dina tapi membawanya langsung untuk mengugurkan kandungannya saat itu.”


“Kamu gila, Ar ? Itu sama saja membunuh manusia yang tidak bersalah,” protes Arumi sambil melotot.


“Terkadang seseoarang harus dikorbankan untuk membuat banyak orang bahagia. Kalau Dina tidak egois dan penuh obsesi, Emilia tidak akan hadir di antara kita dan menciptakan sedikit kekacauan. Tapi Milea bilang semua itu tidak akan menjamin kalau hidup Kak Rumi, Kak Henri, aku dan Milea lebih bahagia.”


Arkan tersenyum menatap kakaknya yang bersandar pada kursi kerja dan mengatupkan kedua jemarinya di depan bibir.


“Apa yang terjadi pada hidup kita tidak bisa dirubah karena sudah jadi masa lalu dan banyak kesalahan hanya akan menyisakan penyesalan.


Kebahagiaan yang sebenarnya adalah tentang hari ini dan bagaimana kita akan membuat cerita baru di masa depan.”


”Pasti kamu mengambil kalimat Milea lagi,” cebik Arumi.


“Tidak bisakah Kakak pura-pura tidak tahu dan membuat aku sedikit bangga karena melihatku jadi bijaksana dan puitis ?” sungut Arkan.


“Bilang pada Milea, kalau semua kata itu percuma dia ucapkan untuk menghiburku apalagi menasehatimu kalau ujung-ujungnya cintamu tetap ditolaknya,” ledek Arumi sambil tergelak.


“Bukan ditolak tapi perlu waktu. Lagipula terbiasa sama Kakak aku jadi tahu kalau wanita itu memang senang dirayu makanya kalian tidak mau langsung menjawab kalau mendengar pernyataan cinta. Jaim, malu-malu tapi mau.”


“Kakak tidak termasuk di dalamnya,” protes Arumi sambil melotot.


“Yakin ? Bagaimana kalau pemikiran Kakak soal aku malah terjadi pada Kak Henri ? Selama 5 tahun kalian menikah aku melihat bagaimana Kak Henri begitu mencintai Kakak dan selalu mengalah. Maaf kalau aku menyinggung perasaan Kak Rumi, tapi sebagai sesama lelaki apalagi seusia Kak Henri, bohong kalau dia tidak mengharapkan adanya keturunan setelah pernikahan. Kak Henri selalu menunggu Kakak berhenti mengejar mimpi, tapi sayangnya Kakak tidak pernah puas dan malah melebarkan mimpi Kakak. Jangan sampai Kak Henri lelah menunggu Kakak mengejar mimpi dan akhirnya berpaling saat ada cinta yang menawarkan kehidupan yang lebih baik.”


Arumi terdiam dan tidak tersinggung karena Arkan membalikkan ucapan yang Arumi sampaikan pada Milea.


“Kenyataan kalau Emilia anak kandung Kak Henri tidak bisa dihapuskan, tapi bukankah Kak Henri tidak keberatan untuk melepaskan Emilia dan tidak membesarkannya bersama Kak Rumi ?”


Arkan beranjak bangun dan membiarkan Arumi berpikir soal hatinya. Ada hal lain yang harus dikejar Arkan : cinta Milea.