
Sore ini ruang rawat Dara ramai dengan para tamu yang rusuh. Edward dan Yuna datang dengan membawa hadiah mewah untuk baby G ( bukan merk jam tangan ) supaya tidak samaan dengan Duncan berupa baju-baju baby dari brand-brand ternama termasuk gendongan bayi dari Gucci.
Dara yang melihat kado dari Edward dan Yuna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena dalam bayangannya dia bakalan menggendong baby G dengan selendang batik bukan gendongan yang harganya selangit.
Stephen dan Diana pun sama memberikan kado berupa peralatan untuk Dara berupa minyak esensial, sabun dan berbagai macam keperluan ibu melahirkan.
"Sementara baru itu, nanti lainnya menyusul" ucap Diana.
Dara hanya manggut-manggut mendengar para sultan heboh sendiri.
"Namanya siapa Bi?" tanya Stephen sambil melihat bayi tampan itu.
"Daniswara Ghani Giandra."
"Huruf depannya D?" sahut Edward. "Harus diganti panggilannya. Gimana kalau Ghani atau G biar enak."
"Biar nggak ketukar dengan Duncan mu kan?" kekeh Abi.
"Bingo!" senyum Edward.
Marcell yang baru datang, langsung heboh dengan balon biru dan buket bunga di tangan.
"Dara, jika kamu butuh babybrother untuk mengasuh baby boy mu, aku bersedia!" ucap Marcell sungguh-sungguh.
"Cell, kalau kamu yang datang, jadinya baby bother alias bayi pengganggu!" gelak Yuna.
"Ah aku kan hanya bother ke Abi nggak ke Dara" cengir pria berwajah anime itu. "Ohya siapa namanya?"
"Daniswara Ghani Giandra" jawab Abi bangga.
"Kok aku langsung kebayang Dennis the Menace Yaaaa?" terawang Marcell sembari meletakkan telunjuknya di dagunya bergaya berpikir.
"Marceeeelllll !!!" geram Abi jengkel mendengar komentar teman gadha akhlak satu itu.
Semua orang di dalam ruang rawat Dara tertawa mendengar ucapan Marcell yang menyinggung tokoh anak kecil berambut blonde yang pintar, kreatif dan usil.
"Maaf aku baru datang" suara Antasena terdengar di depan pintu. Pria imut itu langsung mencuci tangannya dengan sabun disinfektan sebelum bertemu dengan kakak sepupu iparnya dan keponakannya.
"Selamat ya mbak, akhirnya nongol juga si Boy" ucap Antasena sembari menyalami Dara.
"Terimakasih dik Sena" senyum Dara.
"Wah beneran Ra, kalau kamu bosan sama Abi, aku bersedia menerimamu dan Dennis the menace" celetuk Marcell yang mendapatkan pelototan tajam Abi. "Aku sudah jatuh cinta padamu setelah melihat senyumanmu... Eh sebentar itu lagunya siapa ya."
Abi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya yang pening menghadapi Marcell.
"Daddy, why baby boy won't play with D?" tanya Duncan yang sedari tadi cemberut karena little brother nya tidur terus.
"Cause your little bro still feel sleepy" jawab Edward sambil mengelus kepala putra bulenya.
"Tadi waktu lahiran..." suara Yuna terhenti ketika seorang dokter dan perawat datang.
"Selamat sore pak Abimanyu, Bu Abimanyu, bapak ibu semua" sapa dokter itu ramah.
"Sore. Lho kak Thomas?" sapa Diana.
"Eh ternyata Diana tho?" sapa dokter Thomas ramah sambil bersalaman dengan Diana. "Bu Abimanyu teman kamu Di?"
"Sebenarnya aku bersahabat sama suaminya dari SMA lalu menjalar deh menjadi sahabatku sekarang" senyum Diana. "Ohya perkenalkan ini suamiku Stephen, lalu itu dua kakak iparku Edward dan Yuna yang sedang lihat baby G dan putranya." Diana menunjuk dua pria imut yang sedang duduk manis "Kalau dua pria ini teman dan adik pak Abimanyu, Marcell dan Antasena."
Dokter Thomas yang merupakan dokter anak menyapa semua tamu di ruangan yang luas itu.
"Maaf semua, tapi baby G, mengikuti panggilan pak Abi, harus kembali ke ruang bayi" senyum dokter Thomas.
Serentak para orang dewasa di ruangan itu langsung mendesah sedih. "Yaaaaahhhhhh."
Dokter Thomas tersenyum. "Besok kalian bisa bertemu bayi tampan itu lagi."
Abi memcium pipi putranya begitu juga Dara sebelum putranya dipindah ke box bayi oleh suster.
"Bye G" ucap Duncan sendu kehilangan little brothernya.
"Besok D boleh kok main kesini lagi sama mommy" bujuk Dara.
"Yaaayyy! Besok kita ke here ya mommy?" tatap batita bermata biru itu kepada mommy cantiknya.
"Absolutely D, besok kita kesini lagi."
***
Setelah semua tamu pulang, sekarang tinggal Abi dan Dara berduaan di ruangan yang luas itu. Abi sudah menggeser sofa panjang menjadi dekat di tempat tidur Dara. Sekarang posisinya dia tiduran di sofa itu dengan selimut dan bantal yang dibawakan oleh Antasena tadi.
"Akhirnya rombongan sirkus pulang juga" ucap Abi sambil menguap.
"Mas, ini ibu barusan wa katanya lusa baru bisa ke Jakarta sampai waktu akikah Ghani."
"Lho kan ada bik Tarsih, Mirna dan pelayan lain mas. Aku nggak sendirian lho" senyum Dara.
"Tapi kalau ada ibu, mas lebih ayem sih."
"Iya sih mas. Sayang, ya mas, kedua orang tua mas sudah nggak ada. Kalau ada, nggak kebayang aku ibu dan mama rebutan Ghani" kekeh Dara.
"Yang ada kita diacuhkan, Adara. Ghani menjadi primadona, kita jadi anak tiri" senyum Abi.
Abi kemudian bangun dari sofa dan bersandar di pinggir tempat tidur dan menatap Dara dengan mesra.
"Terimakasih Adara Utari ku, istri Abimanyu Giandra, mommy dari Daniswara Ghani Giandra. Hidupku menjadi lebih berwarna. Terimakasih bersedia hidup bersamaku, menua bersamaku dengan baby G dan calon adiknya lagi... Aduh!" Abi mengusap lengannya yang dicubit oleh Dara. "Sakit sayang!"
"Ini jahitan bawah saja belum kering sudah mikir punya adik lagi buat Ghani!" pelotot Dara.
"Lho dari jauh-jauh harus direncanakan sayangku" ucap Abi sambil nyengir.
"Kamu ingin punya anak perempuan mas? Tapi kalau nanti dijodohkan sama baby D gimana?" goda Dara.
Bibir Abi langsung cemberut. "Edward sialan! Main booking anakku saja! Duncan sama saja!"
Dara tertawa geli melihat wajah suaminya.
"Mereka itu ada masalah apa sih sama aku kok bisa julidnya kayak gitu? Marcell lagi! Rasanya pengen aku coret-coret mukanya dengan spidol !"
Dara semakin tertawa keras. Suamiku benar-benar absurd!
"Jangan gitu mas, tanpa bantuan mereka, aku masih bisa diculik lho" Dara mengusap wajah tampan Abi.
"Kau benar. Mereka berjasa menolong kita berdua sayang."
"Jangan lupa Damien. Karena chip di gelang Ruby ku, jadi lebih mudah kan?" Dara mengerling ke suaminya.
"Haaaiissshhhh, aku lupa calon pebinor itu!" Abi mengacak-acak rambutnya kesal.
"Ohya tadi waktu mas ngobrol dengan Edward dan Stephen, dik Sena bilang kalau Damien mengirimkan kereta dorong bayi silver cross Aston Martin limited edition." Dara memperlihatkan foto yang dikirim Antasena.
Abi langsung melongo. "Astaga sayang itu bagus sekali!"
Dara menatap Abi. "Mahal ya? Aku kok eman-eman kalau mahal tapi dipakai cuman sebentar."
Astaga istriku. Apakah kamu tahu teman-temanmu itu uangnya jauh lebih tidak berseri dibandingkan suamimu ini?
"Nggak kok sayang, nggak mahal cuma sepuluh juta." senyum Abi. Kalau kamu tahu harga aslinya bisa protes lagi.
"Oh."
"Sudah ya, sekarang tidur. Hari ini sangat melelahkan bukan?" Abi mencium kening istrinya. "Eh, ngomong-ngomong berapa lama aku harus libur?"
"40 hari sayang" senyum Dara.
"HAAAAHHHH? Selama itu?" wajah Abi langsung lemas.
"Sementara suamiku, kau bersolo karier dulu ya dengan sabun" cekikik Dara.
Abi langsung melirik menyelidik ke arah wajah Dara yang memerah.
"Nyonya Abimanyu Giandra, darimana kamu mengetahui tentang solo karier dan sabun?" tatapnya tajam ke istrinya dengan senyum smirk.
"Eerrrr... itu aku... tahu dari ... " Dara tak mampu menjawabnya.
"Kalau begitu, istriku, sebaiknya kau membantuku daripada aku bersolo karier?" goda Abi sambil menaik turunkan alisnya.
"Haaaahhhh?"
***
Orang tua Dennis eh Danis ...
***
Yuhuuu
Up pagi dulu Yaaaa
Met weekend
Thank you for reading
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️