Menikahi Suami Sahabatku

Menikahi Suami Sahabatku
Rasa yang Terpendam


Arkan sudah duduk di sofa sambil senyum-senyum saat Milea keluar dari kamarnya dengan muka bantal. Terlihat gadis itu agak cemberut pagi ini.


 


“Selamat pagi sayang, gimana tidurnya semalam ? Nyenyak ?”


 


“Gimana bisa nyenyak, “ gerutu Milea yang berjalan ke arah dapur, mengambil botol air mineral dan meneguknya hingga setengah.


 


“Kenapa ? Berisik ?” Arkan mendekati Milea dan mengambil botol yang tadi diminum gadis itu dan meneguknya hingga habis.


 


“Ar,  kenapa minum dari botolku ?” protes Milea.


 


“Kenapa ? Takut dianggap sebagai ciuman bibir ? Kan kemarin kamu sudah mencium bibirku,” ledek Arkan sambil menaikturunkan alisnya.


 


“Aku belum sikat gigi. Semalam tidak bisa nyenyak karena baru pertama kalinya tidur di hotel begini hanya berdua sama cowok,” ketus Milea.


 


“Nggak apa-apa, kan aku tidur di kamar terpisah dan nggak diam-diam masuk ke kamar kamu,” sahut Arkan sambil tertawa.


 


“Tetap aja aku merasa aneh,” gerutu Milea sambil berjalan menuju kamar mandi.


 


“Mili,  jangan mandi dulu, aku mau ajak kamu untuk menikmati kegiatan air yang ada di dekat hotel.”


 


“Nggak mau,” Milea menggeleng. “Aku nggak mau jauh- jauh dari pantai. Kamu tahu kan kalau aku nggak bisa berenang. Di kolam yang tenang aja susah apalagi di laut yang berombak.”


 


“Pakai jaket pelampung, sayang, itu sudah keharusan, lagian aku nggak akan jauh-jauh dari kamu.”


 


“Gombal,” Milea mencibir dan meninggalkan Arkan yang tertawa bahagia.


 


 


Milea tersenyum bahagia saat keduanya duduk di teras restoran untuk menikmati sarapan pagi. Arkan mengharuskan Milea sarapan dulu sebelum jalan-jalan menyusuri pantai dan melakukan aktivitas. Wajah Arkan ikut tersenyum bahagia apalagi mendengar Milea terus berceloteh persis seperti yang biasa dilakukannya saat mereka pacaran di bangku SMA.


 


“Keren banget, Ar. Pertama kalinya sarapan kayak di film-film, bisa berada di teras hotel dengan pemandangan laut begini.”


 


“Kalau kamu suka, kita bisa sering-sering begini.”


 


“Hmmm… pemborosan. Pasti kamu keluar uang cukup mahal untuk semua ini,” ujar Milea sambil menggeleng.


 


“Aku bekerja keras kalau bukan untuk membahagiakan istri dan anak-anakku terus buat siapa ?  Buat istri tetangga ?”



“Diihh udah niat mau selingkuh aja,” Milea mencebik dan Arkan tertawa.


 


“Mili,” Arkan menggenggam jemari Milea yang ada di atas meja dan menatap gadis itu dengan penuh cinta. 


 


“5 tahun bukan waktu yang singkat untuk menahan rindu dan memendam cintaku padamu.  Ucapan Mami membuat aku jadi balik menyesal karena keputusanku 5 tahun lalu justru membuat lebih banyak yang terluka : kamu, Kak Henri dan Kak Arumi. Mungkin kalau aku bicara jujur saat itu, hanya Kak Henri dan Kak Arumi yang terluka dan kita…”


 


“Ar, apa yang sudah terjadi tidak akan bisa dirubah lagi. Kamu menyesal sampai nangis darah tidak akan bisa membuat kita kembali ke masa lalu. Sekarang yang paling penting adalah mendamaikan Kak Arumi dan Kak Henri. Aku yakin cinta mereka mampu menciptakan kata maaf dan menerima kenyataan kalau Kak Henri dijebak oleh Dina 5 tahun yang lalu.”


 


“Ya, sepertinya kita tidak boleh kendor meyakinkan Kak Arumi kalau ini semua bukanlah kesalahan dan kemauan Kak Henri.”


 


“Habis ini kita mau ngapain, Ar ?”


 


“Jalan-jalan dulu di pantai, ya. Tunggu makanannya diproses dengan baik baru kamu pilih mau melakukan aktivitas yang mana.”


 


Milea mengangguk sambil tersenyum. Keduanya berjalan sambil bergandengan tangan di pinggir pantai menikmati semilir angin pagi dengan aroma laut yang khas. Rasanya Arkan tidak akan pernah cukup untuk membayar waktu 5 tahun jauh dari Milea.


 


Keduanya menghabiskan waktu dengan kegiatan air yang berada di dekat hotel. Milea menikmati semuanya dengan penuh semangat dan lupa akan rasa cemasnya karena tidak bisa berenang.


 


“Kamu senang ?” tanya Arkan sambil merapikan rambut Milea yang basah setelah melakukan kegiatan air.


 


“Banget. Aku senang banget, Arkan. Ternyata tidak semenakutkan seperti yang aku bayangkan,” sahut Milea dengan penuh semangat.


 


“Mau liburan ke pantai lagi ?” Arkan menggandengnya untuk kembali ke hotel.


 


“Mau, tapi ke pantai yang lain, boleh ?” tanya Milea dengan nada malu-malu.


 


 


“Mau, aku mau banget Arkan. Aku pernah ke Bali sekali, tapi waktu masih umur 7 tahun dan tidak ada kenangan yang spesial untuk diingat.”


 


“Tapi kita nikah dulu, ya ?” tanya Arkan sambil tersenyum. Milea mengerutkan dahinya.


 


“Kamu tahu Mili, pantai itu membawa suasana romantis apalagi buat yang lagi kasmaran kayak kita. Godaannya banyak, aku takut khilaf kalau sering ke pantai berdua sama kamu. Aku sih bakal bertanggungjawab kalau sampai kebablasan, tapi…”


 


“Arkan iihh… nggak perlu membahas sejauh itu,” gerutu Milea sambil memukul bahu Arkan yang tertawa-tawa.


 


“Kita udah cukup umur kok untuk menikah, sudah melebihi batas aturan yang ditetapkan oleh pemerintah jadi…”


 


“Nggak ada hubungannya dengan aturan pemerintah. Memangnya uang kamu sudah cukup banyak untuk memberi makan anak istri ? Eehh bukan uang dari orangtua kamu, ya, tapi murni hasil kerja kamu sendiri.”


 


“Sudah lumayan, tapi aku belum punya rumah sendiri karena maunya cari sama calon istri. Minggu depan mau cari-cari rumah denganku ? Jangan membayangkan punya rumah mewah dengan sepuluh kamar, aku baru mampunya beli rumah sederhana.”


 


Milea terdiam, keduanya sudah sampai di depan kamar. Arkan menautkan alis saat melihat Milea mendadak diam.


 


“Mili, aku salah ngomong ?”


 


“Nggak, kamu nggak salah ngomong, kok,” Milea tersenyum. “Cari rumahnya boleh ditunda dulu karena maunya aku dapat restu dulu dari orangtuamu. Kalau sudah dapat restu, jalan untuk menuju halal pasti lebih lancar.”


 


Arkan langsung memeluk Milea dengar erat membuat Milea terkejut.


 


“Terima kasih karena kamu selalu mengajarkan hal-hal baik padaku. Aku janji akan berjuang dulu untuk mendapatkan restu Papi dan Mami.”


 


 


*****


 


Sementara di Jakarta, wajah Arumi terlihat panik saat mendengar kabar kalau Henri ditemukan di apartemen mereka dalam keadaan tidak sadar. Sudah 2 hari ini Arumi memilih tinggal di rumah orangtuanya dan hubungannya dengan Henri masih dalam kondisi perang dingin.


 


Sabtu pagi ini, Henri sudah janjian dengan asistennya untuk mengunjungi lokasi proyek. Begitu sampai di lobby, Pramono, asisten Henri langsung menghubungi bossnya, namun tidak diangkat. Berpikir kalau Henri sedang mandi, Pram pun menunggu di parkiran tapi hingga 30 menit tidak ada tanda-tanda bossnya itu turun dan menemuinya.


 


Pram tidak berani menghubungi Arumi karena tahu hubungan keduanya sedang tidak baik dan akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi pihak keamanan apartemen dan minta bantuan untuk mendatangi unit yang ditempati Henri dan Arumi.


 


5 menit tidak ada jawaban dari dalam apartemen, akhirnya Pram nekat menghubungi Arumi yang langsung memberikan nomor kode pintu pada Pram.


 


Ternyata Henri  ada di dapur dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ada sedikit luka di pelipisnya yang sudah mulai mengering. Sepertinya Henri terkena pecahan gelas yang terlihat berantakan di dekatnya.


 


“Kita doakan saja yang terbaik, Sayang,” ujar Mami Mira sambil mengusap punggung putrinya saat mereka menunggu di depan ruang UGD.


 


Arumi hanya mengangguk di sela isak tangisnya. Sejak mengetahui kalau Emilia anak Henri dan Dina, Arumi benar-benar menghindari Henri meski sekali-kali mereka masih berkomunikasi. Minggu ini jadwal Arumi cukup padat karena deadline pekerjaan. Tidak ingin masalahnya dengan Henri semakin membuatnya stress, Arumi memilih tinggal di rumah orangtuanya 2 hari terakhira .


 


“Bagaimana keadaan suami saya, Dok ?” Arumi bergegas bangun dan menemui dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.


 


“Kelelahan hingga tensi darahnya naik, untung saja tidak terkena stroke. Sementara ini jangan biarkan Pak Henri terlalu lelah dengan pekerjaan dan sebisa mungkin pikirannya dibuat tenang.”


 


“Terima kasih, Dokter,” sahut Papi Firman menanggapi penjelasan dokter.


 


Arumi yang masih menangis memeluk Mami Mira dengan perasaan lega. Hatinya memang terluka karena mendapati kenyataan yang tidak terduga, tapi Henri pasti lebih terluka lagi karena ia memiliki anak yang tidak pernah diinginkannya dan akhirnya dijauhi oleh wanita yang dicintainya.


 


Tidak lama, dari dalam ruang UGD, brankar Henri didorong keluar menuju kamar rawat inap yang sudah disiapkan oleh Papi Firman.


 


“Sayang, kamu di sini ?” lirih Henri yang baru saja sadar dan langsung tersenyum begitu melihat Arumi ada di sisi brankarnya.


 


“Iya, aku kemari begitu mendapat kabar dari Pram,” ujar Arumi berusaha tersenyum di sela tangisnya. Tangannya menggenggam jemari Henri yang terangkat sedikit.


 


“Terima kasih,” lirih Henri yang kembali memejamkan matanya sambil tersenyum.


 


Arumi membiarkan tangannya digenggam Henri. Kehangatannya masih sama dan rasanya ada rasa rindu yang membuncah hingga Arumi ingin memeluk Henri seperti biasanya.