
Paket yang dikirimkan oleh Duncan akhirnya sampai ke mansion Giandra. Rhea langsung excited melihat paket yang khusus untuk dirinya karena biasanya paket yang datang untuk kedua kakaknya dan itu pun isinya buku atau Lego.
Dara pun membawa paket itu ke meja ruang tengah agar semua bisa melihat apa isinya termasuk Abi yang penasaran sama hadiah oleh calon mantu yang pedenya kebangetan. Pede bakalan jadi suami Rhea nanti maksudnya.
"Mommy, Dik Rhea buka ya!" seru Rhea.
"Buka saja."
Rhea membuka bungkus paket itu dengan semangat. Ketika berhasil membukanya, tampak sebuah kotak perhiasan dari kayu. Rhea membukanya dan menjerit senang.
"Dik Rhea dapat anting, mommy!" serunya.
Abi dan Dara melihat sepasang anting-anting berbentuk bunga dengan berlian di tengahnya.
Astaga anak itu! Bisa-bisanya sudah mengirim perhiasan buat Rhea! - batin Abi.
"Wah cantiknya!" puji Dara.
"Mommy, pasangin di kuping Dik Rhea" pinta putrinya.
Dara pun melepas anting-anting lama Rhea yang merupakan anting bayi, dan menggantinya dengan anting dari Duncan setelah sebelumnya dia bersihkan dengan alkohol sedikit agar Rhea tidak iritasi.
Ghani hanya mencebik. "Modusnya Abang D nggak ilang-ilang!"
Rhea pun melihat di kaca dan cekikikan merasa cantik mengenakan anting dari Abang bulenya.
"Dik Rhea jadi cantik ini mom!" serunya senang.
"Rhea kan memang cantik" ucap Abi.
"Bener kaaaannnn" ucap Rhea centil lalu memeluk Abi.
"Beeeuuu sok manja kamu dek!" goda Ghani.
"Biarin! Wek!" sahut Rhea sambil mengulurkan lidahnya dengan tetap menggelayut manja dengan ayahnya.
Gozali hanya menatap keluarga itu dengan perasaan galau. Dia belum berani memberikan sesuatu pada Rhea dan harus dia akui, gadis cilik itu semakin cantik mengenakan anting-anting pemberian Duncan.
Aku harus bisa lebih dari Duncan Blair.
"Mommy, telpon Abang Duncan dong. Dik Rhea mau ucapin terimakasih" pinta Rhea kepada mommynya.
Dara melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 1 siang yang berarti London masuk pagi.
"Boleh. Mommy coba telepon dulu ya" ucap Dara yang mengambil ponselnya lalu mencoba menghubungi Duncan.
"Assalamualaikum aunty" sapa Duncan yang masih di sofa mengenakan Hoodie.
"Wa'alaikum salam. D, Rhea cari kamu tuh!" Dara menyerahkan ponselnya ke Rhea.
"Abang D! Lihat!" Rhea memamerkan antingnya ke Duncan. "Makasih ya Abang!"
"Wah, sudah sampai dan dipakai sama Rey ya" senyum Duncan.
Ghani yang ingin menjahili Abangnya pun mendekati Rhea dari belakang.
"Gercep ya bang?" goda Ghani.
"Haruslah!" sahut Duncan tanpa malu.
"Gercep apaan sih mas?" tanya Rhea polos.
"Gerak cepat" jawab Ghani.
"Lho memang bang Duncan gerak cepat apaan?" Rhea menatap wajah Duncan di layar ponsel dan sukses membuat bocah bule itu memerah wajahnya.
Ghani tertawa terbahak-bahak. "Ya ampun bang, B aja kaleee nggak usah salting begitu!"
"Pergi sana G! Aku masih mau ngobrol sama Rey!" usir Duncan kesal.
"Ingat bang, adikku masih kecil!" gelak Ghani sembari meninggalkan Rhea yang asyik menelpon Duncan.
***
Abi dan Dara hanya menatap kotak kayu yang tadinya merupakan tempat anting milik Rhea dan rupanya ada surat di dalamnya.
Every year, Abang D akan kirim untuk Rey. Ini yang pertama sampai nanti waktunya Rey menjadi milik Abang.
Abi langsung memijat pelipisnya.
"Duasar anaknya Edward!" umpatnya lalu menyimpan surat itu supaya Ghani dan Rhea tidak mengetahuinya.
"Tampaknya D serius itu mas."
"Rhea masih bayi!" desis Abi kesal.
Dara tertawa pelan. "Sayang, mau sampai kapanpun mas pasti menganggap Rhea bayi."
"Iyalah! Dia kan satu-satunya princess mas! Kalau Adaraku, adalah ratuku" ucap Abi sambil mencium pipi istrinya.
"G, kalau kamu sudah menikah, akan tahu rasanya" kekeh Abi jahil.
"G nikah nanti saja lah kalau sudah sukses jadi detektif!" sahut Ghani asal.
"Astaga nih anak!" Abi menepuk jidatnya.
"Goz, kamu sakit?" tanya Dara yang melihat Gozali hanya diam dari tadi sembari bermain rubik.
"Nggak Bu, Gozali cuma kesal main rubik nggak jadi-jadi" ucap Gozali yang masih berkutat sejak tadi.
"Tumben kamu mainnya lama Goz" komentar Ghani sambil mencomot macaroni schotel buatan Dara lalu menempel ke mommynya manja. Dara sekarang diapit oleh suami dan putranya yang lagi mode manja to the max.
"Iya nih, nggak tahu kenapa G" sahut Gozali.
Gimana aku bisa konsentrasi kalau mendengar suara Rhea asyik ngobrol dengan Duncan dengan suara menggemaskan begitu!
***
Rhea membawa ponsel mommynya ke halaman belakang dan tiduran di rumput, sedangkan ponselnya dia sandarkan di sebuah pot bunga.
"Rey, nanti kamu gatal-gatal lho tiduran di rumput" tegur Duncan yang merasa gemas melihat gadis ciliknya.
"Nggak kok. Kan rumputnya habis dibersihkan."
Ya Allah, betapa indah ciptaan mu.
"Rey, Abang mau tanya boleh?"
Rhea menatap abangnya. "Abang mau tanya apa?"
"Abang boleh nggak sayang sama Rey?"
Rhea tertawa. "Kan Abang memang sudah sayang ma dik Rhea."
"Iya sih. Kalau sayangnya Abang lebih dari sekarang boleh nggak?"
"Hah? Dik Rhea nggak ngerti."
Duncan merubah posisinya menjadi duduk dan menatap Rhea serius.
"Kalau Rey besar nanti, mau nggak Rey sama Abang?"
"Mau sama Abang kemana?"
"Maksud Abang, Rey jadi istrinya Abang kalau Rey sudah besar nanti."
Mata indah Rhea membola. "Kayak mom dan Daddy?"
"Iya, kayak mom dan Dad."
"Dik Rhea mau!" jawab Rhea tegas dan nyaris membuat Duncan terjatuh dari sofa saking terkejutnya.
"Benar? Kenapa Rey mau sama Abang?"
"Nggak tahu tapi dik Rhea memang mau kayak mom dan Dad sama Abang."
Astagaaaaa jantungku! Oom Abi, aku menang kali ini!
"Janji ya Rey kalau Rey cuma sama Abang ya." Duncan menatap dalam Rhea.
"Iya. Dik Rhea cuma sama Abang soalnya Abang gemesin kalau cemberut." Rhea tertawa. Duncan tersenyum mendengar alasan Rhea.
Untung video call ini aku rekam jadi ada bukti otentik ke Oom Abi dan Dad supaya nggak gegeran terus kalau bertemu. Oom Abi, anakmu sudah aku ikat dari bayi jadi jangan protes!
"Janji ya Rey." Duncan mengulurkan jari kelingkingnya.
"Abang, jarinya kan ga bisa kena" kekeh Rhea.
"Besok libur natal, Abang pulang ke Jakarta nanti janji jari kelingking ya" ucap Duncan dengan wajah lembut memandang gadis kecilnya.
Rhea mengangguk.
"Ohya Rey, sampai kapan pun antingnya jangan dilepas ya. Nanti kalau Abang sudah punya uang lagi, Abang ganti yang lebih bagus."
Rhea menggeleng. "Nggak usah, dik Rhea suka yang ini kok." Gadis cilik itu tersenyum manis sambil memegang kedua telinganya.
Suwer, aku harus periksa ke dokter jantung ini!
***
Yuhuuu
Up pagi dulu Yaaaa
Thank you for reading
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️