Menikahi Suami Sahabatku

Menikahi Suami Sahabatku
Cumbokur?


Abi membeku mendengar suara yang sangat dia hapal. Damien memiliki aksen khas yang semua orang yang mengenalnya tahu siapa si pemilik suara.


"Adara!" teriak Abi di telepon.


"Astaghfirullah mas! Sebentar ada orang tua murid berpamitan, ya harus aku urus dulu!" suara Dara menjadi tidak enak lagi.


"Apakah orang tua murid itu bernama Damien Xavier?" nada suara Abi terdengar dingin namun Dara bisa meraba ada tendensi cemburu.


"Betul, dia tadi namanya Pak Damien. Anaknya yang aku kasih konseling. Kenapa mas?" tanya Dara polos.


Sumpah demi apapun, Abi ingin agar Dara keluar dari sekolah itu agar tidak bertemu Damien tapi jika dia melakukan itu, bisa sebulan Dara marah padanya dan dia tidak betah. Baru dua hari ini dia didiamkan saja sudah blingsatan, apalagi sebulan?


"Tidak apa-apa. Makan siang dulu Adara, jangan sampai telat. Kamu baru saja sembuh!" Abi menahan semua emosi dan egonya agar Dara tidak curiga dan marah.


"Baik mas. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam."


Abi mengambil asbak di meja tamu dan melemparkannya ke brangkas besi dengan penuh emosi. Tentu saja asbak tak ada dosa itu pecah berkeping-keping.


"Ssiiiiaaaallll !!!"


Kemudian dia menelpon Jun.


"Jun! Panggil OB ! Suruh bersihkan ruangan saya!" perintah Abi.


"Baik pak!"


Jun hanya bisa mengelus dadanya yang tampaknya si jantung harus bekerja ekstra seharian ini demi si boss yang muring-muring tidak jelas.


***


Dara makan siang bersama Ninik dan Rina di kantin sekolah. Dara sangat suka sekolah ini karena semuanya terjamin. Maklumlah anak-anak yang sekolah disini orang tuanya dari keluarga kaya apalagi menunya berganti setiap Minggu temanya dan kali ini Jepang.



Dara sangat menikmati menu hari ini berupa ikan salmon grilled, sup miso dan tumis bakso wortel serta satu kotak susu.


"Bu Dara, tadi kayaknya Maya sama Daddynya menghadap ya?" tanya Rina sambil menggigit bakso.


"Iya, tadi Maya dan pak Damien datang" jawab Dara kalem.


"Pak Damien itu duren sawit lho!" celetuk Ninik.


"Hah?" Dara menatap kedua rekannya. "Maksudnya?"


"Duda Keren Sarang Duwit!" kekeh Rina.


"Owalah" Dara hanya tersenyum.


"Beruntung lho Bu Dara bisa ketemu pak Damien, soalnya tidak semua guru BK bisa menikmati parasnya selama konseling" ucap Rina yang memang masih jomblo, beda dengan dirinya dan Ninik yang sudah menikah.


"Nanti kalau kontrak saya selesai kan bisa saya limpahkan ke Bu Rina biar bisa ketemu pak Damien" kekeh Dara santai.


"Serius Bu? Bener ya, anak bimbingan Bu Dara nanti limpahkan ke saya saja" cengir Rina sambil mengedip-kedipkan mata bambinya.


"Serius!" jawab Dara sambil membuat tanda V pada jarinya.


"Yes! Pak Duren Sawit, aku otw padamu!"


Dara dan Ninik hanya tersenyum melihat tingkah Rina yang absurd. itu.


"Eh tapi jujur lho, aku lebih suka kalau Bu Dara tetap bekerja disini nggak hanya sekedar menggantikan Bu Lusi yang cuti melahirkan" komentar Ninik.


"Lagipula saya juga janji sama suami hanya tiga bulan saja kok bekerjanya" jawab Dara apa adanya.


"Masih ada 2,5 bulan lagi. Kita nikmati saja ya Bu Dara. Eh siapa tahu ada mukjizat suami Bu Dara mengijinkan ibu lanjut kerja kan asyik tuh atau Bu Lusi memutuskan stay at home demi debay nya" mata Ninik menerawang menghalu.


"Bu Dara" sebuah suara berada di belakang Dara yang membuat guru cantik itu membalikkan tubuhnya.


"Maya? Ada apa nak?" tanya Dara.


"Bisa konseling dengan ibu usai makan siang?" tanya Maya penuh harap. Gadis berambut coklat pendek itu masih tampak biru pada bibirnya.



Maya Xavier


"Boleh Maya, tunggu ibu di depan ruang BK. Ibu selesaikan makan siang ibu dulu."


Maya tersenyum senang. "Terimakasih Bu Dara. Permisi Bu Ninik, Bu Rina."


"Silahkan Maya" sahut Rina.


Maya pun meninggalkan ketiga guru itu menuju ruang BK sedangkan Dara segera menyelesaikan makan siangnya lalu kembali ke ruangannya sedangkan Ninik dan Rina masih di kantin.


***


Maya sudah menunggu di kursi tunggu depan ruang BK ketika melihat guru cantiknya berjalan menuju ke arahnya.



"Maya mau konsultasi di ruangan atau dimana?" tanya Dara lembut.


"Hah? Bagaimana Bu?"


"Kamu nyamannya gimana? Mau ngobrol di ruangan ibu atau dimana?"


"Di taman boleh Bu?" tanya Maya ragu-ragu.


"Boleh saja. Kamu sudah ijin guru pengampu kelas hari ini?" Dara tidak mau Maya konseling dengannya namun meninggalkan kelas yang masih ada pelajaran.


"Jam yang ini kosong Bu. Makanya saya bisa minta konseling sama ibu."


"Baiklah, yuk ke taman" ajak Dara. Kedua guru dan murid itu menuju sebuah meja taman yang memang disediakan disana.


***


Abi duduk bersandar di kursi kebesarannya sambil menengadah ke langit-langit ruangannya. Kedua tangannya saling dikaitkan di perutnya.


Sebegitu luasnya Jakarta kenapa bisa Dara bertemu dengan Damien. Abi tidak habis pikir.


Suara ponsel Abi mengagetkan dirinya yang masih melamun. Berharap itu istrinya namun lagi-lagi harus kecewa karena yang menelpon Stephen.


"Halo bro" sapa Stephen ramah.


"Apa Steve" jawab Abi.


"Kumpul yuk. Ajak Dara. Sudah sembuh kan bini lu?"


"Alhamdulillah udah. Kumpul dimana?"


"Di resto VR, baru tuh bro. Diana dapat undangannya untuk empat orang jadi sekalian lah bayar ongkos obati Dara kita kencan berempat."


"Oke lah bro. Jam berapa?"


"Jam delapan sih undangannya. Nanti gue share lock deh!"


"Oke Bro. See you later."


"Bye!"


***


Jam setengah lima Dara sudah sampai di rumah dan langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Usai mandi dan sholat asar, Dara pun turun menuju dapur untuk mengecek menu malam ini.


"Tadi tuan Abi telepon katanya nyonya dan tuan ada acara keluar jadi tidak makan di rumah" kata bik Tarsih.


"Oh ya? Kok mas Abi gak bilang ya?" Dara mengerenyitkan alisnya.


"Lupa mungkin nyonya" timpal Mirna sambil tersenyum.


"Mungkin. Yang penting kalian makan malam lho ya, jangan lupa dik Sena dimasakkan juga" ucap Dara.


"Nanti biar tuan Anta minta sendiri mau makan apa, biasanya begitu sih nyonya."


"Baiklah, aku ke kamar dulu ya."


"Silahkan nyonya."


Dara berjalan menuju tangga untuk menuju kamarnya bersamaan Abi masuk rumah. Meskipun hatinya masih mendongkol, namun Dara tetap berusaha menjadi istri yang baik.


"Baru pulang mas?" sapanya sambil tersenyum yang membuat Abi menjadi salah tingkah.


"Sudah. Kamu siap-siap ya, ada undangan makan malam sama Stephen dan Diana malam ini." Abi mengecup kening Dara.


"Dress codenya apa mas?" tanya Dara sembari keduanya naik tangga.


"Night gown karena acara makan malam resmi."


Dara mengangguk.


"Aku siap-siap dulu ya mas." Dara menuju kamarnya yang hanya dipandangi Abi.


Setidaknya sudah mau diajak bicara.


Abi pun masuk ke kamarnya.


***


Yuhuuu


Up dulu ya


Kalau author khilaf, semoga bisa triple up hari ini.


thank you readers ku


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️