
Duncan menghabiskan weekendnya dengan berolahraga di gym pribadinya yang berada di basement berdekatan dengan kolam renang. Hari ini dia memang tidak ada acara dengan Rhea karena gadis itu ada tour bersama grup musik klasik nya ke New Jersey. Pengawal bayangan yang dikirimkan untuk mengawal Rhea pun selalu memberikan laporan.
Duncan bukannya tidak mau ikut melihat penampilan gadisnya hanya dia tahu itu adalah salah satu mata kuliah yang harus diikuti Rhea sebelum dia membuat tugas akhir dan diwisuda setelah hampir empat tahun kuliah di Julliard School. Duncan bangga dengan gadisnya yang di usia 19 tahun sudah bisa mendapatkan gelar sarjana musik dari kampus terkenal.
Suara di intercom tempat gym Duncan berbunyi. Pria itu lalu melepaskan sarung tinjunya untuk memencet tombol intercom.
"Yeah?"
"Tuan, ada nona Rhea di gerbang."
Duncan terkejut mendengar gadisnya berada di gerbang mansionnya.
"Suruh dia masuk!"
Duncan mengambil kaosnya lalu naik ke lantai satu untuk menemui Rhea.
***
"Rey" sapa Duncan yang kemudian terdiam karena melihat style Rhea yang pagi ini mengenakan baju model Sabrina dengan rambut digerai seperti biasanya.
"Hai. Uh, Abang mandi dulu deh! Keringetan gitu!" protes Rhea.
"Besok kalau udah menikah, kita bakalan keringatan tiap malam" goda Duncan asal.
"Mommmyyyy !!! Bang Duncan mesuuuummm!" teriak Rhea seolah mommynya ada disana.
Duncan tertawa terbahak-bahak lalu menuju lantai dua ke kamarnya.
"Rey, kalau mau makan, minta sama Albert ya" teriak Duncan sebelum masuk kamar.
"Iyaaaa" balas Rhea.
"Nona Rhea, mau sarapan apa?" tanya Albert kepala pelayan rumah Duncan.
"Mac and cheese sama fish and chips."
Albert tersenyum. "Siap nona."
***
Duncan mengerenyitkan dahinya melihat makanan yang terdapat di hadapan Rhea.
"Kamu mau makan itu?" tanya Duncan tidak percaya gadisnya makan banyak pagi ini.
"Aku lapar bang" sahut Rhea cuek.
Duncan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Rhea memang cuek kalau soal makanan, selama dia suka kenapa tidak.
"Yakin Abang kenyang cuma makan salad?" ledek Rhea melihat Duncan makan sayuran.
"Kalau masih lapar kan bisa minta punyamu" kekeh Duncan.
Keduanya pun memulai sarapan.
"Kamu kok udah pulang dari New Jersey?" tanya Duncan.
"Sebenarnya kemarin malam sudah sampai apartemen cuma aku capek bangets jadinya langsung tidur lupa kabarin Abang. Pengawal Abang juga kayaknya capek tuh."
"Pantas nggak ngabari."
Rhea menatap Duncan. "Jangan dimarahi ya. Dia kan juga manusia."
Duncan tersenyum. "Nggak lah. Abang nggak sesadis itu."
***
Sepasang kekasih itu menikmati pagi yang cerah itu dengan tiduran di sofa besar Duncan. Sesuai dengan janjinya dengan Abi, Duncan tidak akan berbuat lebih dari hanya sekedar peluk.
Kamu macem-macem sama Rhea, aku sunat lagi sampai habis!
Duncan pun bergidik jika mengingat ancaman calon mertuanya.
"Eh bang, Minggu depan pulang ke Jakarta yuk!" ucap Rhea.
"Ada apa?" tanya Duncan sambil mencium rambut Rhea yang harum bunga.
"Perusahaan Daddy ulang tahun terus tadi dad minta aku pulang. Abang bisa ikut kan?"
"Bisalah. Kapan acaranya?"
"Hari Sabtu tanggal 8."
"Kita pulang hari Rabunya. Abang selesaikan pekerjaan Abang jadi kita bisa di Jakarta lebih lama."
Rhea tersenyum senang. "Kita pesan tiket dulu" ucapnya sambil membuka ponselnya.
Duncan terbahak. "Sayangku, apa kamu lupa kalau calon suamimu ini punya pesawat pribadi?"
Suara ponsel Rhea berbunyi dan tampak panggilan video dari sang mommy. Tanpa menunggu persetujuan Duncan, Rhea langsung menggeser tombol hijau.
"Assalamualaikum mommy" sapa Rhea.
"Wa'alaikum sal... Astaghfirullah kalian berdua!" seru Dara melihat putrinya dalam pelukan Duncan di sofa.
"Kami nggak ngapa-ngapain kok aunty" ucap Duncan dengan tanpa bersalah.
"Awas ya D! Rhea masih kecil!"
"Aunty, Rey udah Gedhe. Gedhe semuanya" sahut Duncan asal yang terkena keplakan di dadanya oleh Rhea.
"Duncan Sherlock Blair! Pergi kau dari tubuh putriku!" bentak Abi ketika melihat keduanya tiduran di sofa sambil berpelukan. "Apa kamu minta disunat lagi?"
Rhea tertawa terbahak-bahak. "Dad, abis entar punyanya Abang!"
"Oom Abi percaya sama saya. Rey tetap saya jaga sampai kami menikah nanti."
Abi menyipitkan matanya dan menatap tajam calon menantunya. "Awas kalau kamu aneh-aneh!"
"Kamu bisa pulang kan sayang?" tanya Dara kepada putrinya.
"Bisa mom. Besok Rabu kami pulang ke Jakarta."
"Kamu ikut pulang juga D?" tanya Abi.
"Ikut lah Oom. Lagipula Rey kan pulang dengan pesawat pribadi aku."
Aku harus pulang lah demi menjaga Rey dari Gozilla yang pasti ada disana.
"Ya sudah. Kami tunggu Kamisnya ya. D, kamu tidur di rumah Edward kan?" tanya Abi.
"Kemungkinan."
"Ohya apa kamu sudah dengar kalau Nadya mau menikah?" tanya Dara.
"Akhirnya anak itu mau menikah juga setelah lebih suka urus minyak." Nadya adalah putri Stephen Blair, Oom Duncan. Dia bekerja di perusahaan minyak internasional yang membuatnya sering traveling.
"Mbak Nadya menikah sama siapa mom?" tanya Rhea.
"Nadya mau menikah dengan dokter Agra, anak rekannya Tante Diana. Sebenarnya semi dijodohkan sih tapi mereka memang suka beneran" jawab Dara.
"Dokter Agra lebih tua apa lebih muda dari Nadya?" tanya Duncan mengingat sepupunya berusia sekitar 29 tahun.
"Lebih tua Agra dua tahun kayaknya. Kalau Neil, masih jomblo, lagi senang-senangnya urus kantor Oom mu."
Nadya dan Neil adalah saudara kembar. Usia mereka dua tahunan diatas Duncan. Nadya adalah sarjana geologi dari ETH Zürich - Swiss Federal Institute of Technology sedangkan Neil kakak kelas Ghani di Harvard Law School.
"Ya sudah. Rhea, pulang jangan nginep di rumah D!" tukas Abi.
Rhea hanya tersenyum. "Oke dad tapi punya Abang jangan dipotong nanti Daddy nggak bisa dapat cucu."
"Rhea Greesa Giandra! Siapa yang ngajarin kamu punya pikiran kayak gitu?" teriak Abi panik sedangkan Dara yang berada di sebelahnya tertawa terbahak-bahak. "Duncan!"
Duncan yang terbengong-bengong mendengar ucapan no filter gadisnya sampai tidak bisa berkata-kata.
"Bukan saya Oom. Yakin!" ucap Duncan panik.
"Awas kalian berdua!" ancam Abi.
"Udah mas, nanti tensimu naik lagi" bujuk Dara. "Kalian berdua, jaga kepercayaan kami ya. Duncan, kamu yang harus lebih bisa menahan diri karena sekali kalian membuat kami kecewa, susah untuk mendapatkan kepercayaan kami lagi."
Rhea dan Duncan terdiam mendengar ucapan Dara yang tenang namun tegas.
"Baik mom."
"Siap aunty."
"Sampai bertemu di Jakarta ya anak-anak. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Rhea dan Duncan hanya saling memandang.
"Mommyku kalem-kalem gitu ternyata menyeramkan."
Duncan hanya bisa mengangguk.
***
Yuhuuu Up malam Yaaaa
Lanjut besok ( ternyata udah 4 chapter yaaaa )
Thank you for reading
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️