
“Jadi sejak awal kamu sudah tahu siapa ayah kandung Emilia, kan ?” tanya Arumi saat melihat wajah Arkan.
Ketiga orang yang lainnya terlihat penasaran menunggu jawaban Arkan yang masih terdiam.
Henri yang tidak bisa menahan rasa penasarannya langsung mengambil kertas yang masih dipegangArkan.
“Apa maksudnya ini Arumi ?” suara Henri sedikit tinggi saat bertanya pada istrinya.
“Bukankah seharusnya aku yang bertanya padamu, kenapa bisa begini ?” Arumi tersenyum sinis.
“Sebetulnya apa yang kalian bicarakan ?” mami Mira mulai tidak sabaran juga dan meminta lembaran yang dipegang menantunya.
“Kenapa kamu menyimpan rahasia ini, Ar ? Kenapa ?” Arumi berteriak sambil menggebrak meja membuat semua yang ada di situ terkejut .
”Kenapa kamu membiarkan pernikahan kami terjadi ? Kenapa tidak kamu biarkan saja Dina menuntut pertanggungjawaban dari laki-laki brengsek yang sudah menghamilinya ?” Arumi masih berteriak dan mencondongkan tubuhnya ke arah Arkan yang duduk di seberangnya.
Air mata Arumi sudah keluar sejak tadi, menumpahkan emosi yang ditahannya sejak lama.
“Sayang, aku sungguh-sungguh…”
“Apa ?” Arumi langsung memotong dengan tatapan bernyala-nyala karena rasa marah. “Kamu masih pura-pura tidak tahu kalau kamu sudah menghamili Dina ?”
”Kenapa bisa seperti ini, Henri ?” Mami Mira mulai meneteskan air mata, tidak menyangka kalau Dina bukan hanya membuat kesalahpahaman antara Arkan dengan orangtuanya, sekarang memberikan kenyataan pahit pada putri sulungnya.
“Tapi aku tidak pernah meniduri Dina apalagi sampai membuatnya hamil !” protes Henri dengan suara yang mulai meninggi.
“Lalu itu apa ?” Arumi menunjuk pada kertas yang dipegang papi Firman. “Bukti tes DNA itu tidak bisa berbohong kalau Emilia adalah anak kandungmu !”
“Aku berani bersumpah demi nyawaku sendiri, Rumi, aku tidak pernah merasa pernah meniduri Dina !”
Plak !
Tangan Arumi langsung menampar wajah Henri. Keduanya sudah dalam posisi berdiri berhadapan.
“Jangan mudah mengucapkan sumpah !” desis Arumi dengan wajah penuh kebencian.
“Cukup Kak Arumi !” ujar Arkan yang masih duduk di sofa. “Apa yang dikatakan Kak Henri sama sekali bukan kebohongan.”
“Jadi kamu sudah tahu sejak awal kalau anak yang dikandung Dina adalah anak Mas Henri ? Kenapa kamu tidak memberitahukannya sebelum pernikahan kami terjadi ?”
Arumi kembali berteriak dan mendekati Arkan lalu menarik kemeja Arkan hingga pria itu bangun dari sofa.
“Karena Dina melakukannya dengan cara yang sangat licik dan semua itu hanya demi obsesinya padaKak Henri,” sahut Arkan sambil menatap kakaknya dalam-dalam.
“Jangan mengarang cerita baru,” desis Arumi dengan senyuman sinis.
“Tolong lepaskan aku, Kak. Aku akan menceritakan kejadian yang sebenarnya.”
Arkan menyentuh kedua lengan Arumi dan berusaha menenangkan kakaknya yang dipenuhi rasa kecewa dan marah.
Arumi menurut dan duduk di sebelah Arkan membuat Milea akhirnya pindah ke sofa di sebelah Henri.
Arkan pun mulai bercerita tentang apa yang pernah disampaikan Dina kepadanya 5 tahun yang lalu. Bagaimana Dina bisa menjebak Henri tapi tetap membuat pria itu tidak tahu kejadian yang sebenarnya.
Dan bagaimana Dina akhirnya membuat Arkan menerima permintaan Dina untuk menikahinya dan membuat skenario seolah-olah Arkan pelakunya.
“Aku ingat kejadian itu,” gumam Henri sambil menarik nafas panjang. “Gadis itu terlalu pintar membuat aku berpikir apa yang dikatakannya benar.”
“Jadi kamu ingat pernah terbangun di kamar hotel ?” tanya papi Firman.
“Iya,” Henri mengangguk. “Saya habis bertemu klien di restoran hotel dan sempat minum 2 gelas bir, tapi saya yakin saat itu saya tidak mabuk karena ingat kalau masih harus setir mobil.”
“Lalu apa maksudmu Dina terlalu pintar ? Apa yang dikatakannya ?” tanya papi Firman.
“Pagi itu Dina masuk ke kamar didampingi satu manajer hotel. Dina bilang kalau pihak hotel menghubunginya karena namanya ada di urutan pertama dalam daftar telepon keluar dan masuk.”
“Bukannya kamu memakai sandi untuk membuka handphone ? Dan bagaimana bisa nama Dina ada si urutan paling atas ?”ketus Arumi.
“Dia menghubungiku beberapa kali saat meeting sampai aku akhirnya menjawab. Aku ingat dia menanyakan apakah aku punya nomor handphonemu yang lain karena nomor yang biasa tidak bisa dihubungi.
Soal handphone, Manajer hotel bilang akulah yang meminta mereka menghubungi istriku dengan handphoneku yang temtu saja sudan tidak terkunci.
Mereka tidak tahu nama istriku dan langsung menghubungi Dina. Karena sudah terlalu malam, Dina minta tolong pihak hotel mengurusku dan berjanji akan datang besok paginya.”
“Kamu yakin kejadiannya seperti itu, Henri ?” tanya Mami Mira.
“Saya tidak lupa dengan penjelasan Manajer Hotel tapi saya benar-benar tidak ingat apa yang terjadi malam itu, Terakhir yang saya ingat waktu belum terlalu malam saat saya keluar dari restoran, tapi saat itu kepala saya mulai pusing dan badan saya tidak nyaman.”
“Kamu tahu kalau aku tidak pernah memakai sopir saat itu, Sayang. Semakin lama tubuhku tambah tidak enak sampai akhirnya aku dibantu petugas hotel.”
“Tapi kamu masih bisa mengingat wajah kan ? Apa tidak lihat kalau yang ada di depanmu adalah perempuan lain ?”
“Aku benar-benar lupa detil kejadiannya, Arumi. Sungguh yahg aku ingat hanya rasa pusing dan panas menyerang tubuhku.”
“Itu semua hanya alasan…” Arumi masih berteriak-teriak karena emosi.
“Cukup Kak Rumi !” potong Arkan. “Dina sudah menyusun rencananya dengan baik. Dia tidak hanya sendirian. Mereka semacam sindikat yang sering menjebak laki-laki berkantong tebal. Aku yakin kalau Manajer itu adalah salah satu temannya.”
“Arkan ! Jangan asal bicara tentang Dina, biar bagaimana…” protes Mami Mira
“Kenapa ?” Arkan memotong ucapan mami Mira sambil tersenyum sinis. “Mami masih lebih percaya pada orang lain daripada anak sendiri ?”
“Bukan begitu…”
“Mami tahu kenapa aku mulai menjauh dari Dina ?” suara Arkan meninggi.
“Arkan !” Mami Mira langsung tidak suka mendengar ucapan putranya.
“Aku tidak peduli bagaimana Dina menjalani hidupnya tapi jangan harap aku bersedia menerima perempuan semacam itu untuk menjadi istriku,” tegas Arkan dengan nada sinis.
“Tapi keputusanmu itu sangat menyakitkan untukku !” Arumi kembali membentak Arkan.
“Dina hanya obsesi pada Kak Henri,” desis Arkan. “Apa Kakak pikir ia bisa menjadi perempuan baik-baik setelah mendapatkan Kak Henri ? Apa Kak Rumi tega membiarkan Kak Henri hidup dengan perempuan semacam Dina ? Kalau saja Kakak bisa mengabaikan ucapan banyak orang soal kemiripan Emilia dan Kak Henri, semua ini tidak akan Kakak lakukan kan ?”
“Bagaimana mungkin aku mengabaikan ucapan orang-orang yang menganggap kalau Emilia itu adalah anak Henri ?” tatapan Arumi yang masih dipenuhi rasa marah membuat Arkan menarik nafas panjang.
“Aku mengerti perasaan Kakak dan sekarang hanya kita berenam yang tahu tentang masalah ini. Biarkan semua berjalan seperti biasa dan jauhi Emilia. Kalau perlu Papi dan Mami minta pada Tante Heni untuk membawanya keluar kota atau kalau perlu ke luar negeri.”
“Kamu pikir semudah itu ?” bentak Arumi.
“Aku sudah pernah minta supaya kalian menjauhi Emilia dan keluarga Dina supaya tidak akan pernah ada yang tahu kalau Emilia adalah anak Kak Henri. Mengajaknya masuk ke dalam keluarga kita dengan cara apapun sama saja seperti menelan racun yang perlahan akan membuat kita kesakitan lalu mati.”
“Jadi apa yang kamu inginkan, Arumi ?” tanya papi Firman. “Semua ini tergantung pada keputusanmu.”
“Apa maksud Papi ?” ketus Arumi sambil menatap papi Firman.
“Papi setuju dengan saran yang disampaikan oleh Arkan. Selain kita berenam, tidak ada yang tahu masalah Emilia adalah anak kandung Henri.
Kalau kamu tetap ingin bersama Henri tanpa bayang-bayang Emilia, lupakan tes DNA ini dan lanjutkan hidup kalian seperti biasa.
Papi yang akan bicara langsung Om Irwan dan memintanya untuk membawa Mili sejauh mungkin dari keluarga kita karena sudah terbukti kalau anak itu bukanlah anak kandung Arkan.”
“Papi pikir pria brengsek ini akan menerima keputusan seperti itu ?” Arumi melirik Henri dengan tatapan dan senyuman sinis.
“Aku bisa, Arumi,” tegas Henri. “Aku bisa melakukannya kalau memang kamu menginginkannya. Kalau perlu kita yang akan pergi menjauh. Akan aku buatkan tempat usaha yang baru untukmu asal hidup kita lebih tenang.”
“Aku ini seorang perempuan Henri, kamu pikir semudah itu aku melakukannya ? Kamu pikir tidak akan beban untukku kalau sampai memisahkan anak itu dengan ayah kandungnya ?” pekik Arumi.
“Arumi sayang,” Papi Firman beranjak bangun dan mendekati putrinya. Tangannya langsung merangkul bahu Arumi.
“Papi tahu kalau kenyataan pahit ini sangat menyakitkan, tapi bukan hanya untukmu sendiri.
Papi, Mami dan Henri sama sakitnya mendengar kenyataan ini. Bukan hanya kamu korbannya, tapi Arkan dan Henri juga korban perbuatan Dina.
Ambillah waktu untuk menenangkan hatimu dan pikirkan semuanya dengan kepala dingin.”
“Sayang,” Henri memberanikan diri mendekat dan berlutut di depan Arumi.
Awalnya pria itu ragu meraih jemari Arumi, namun semua itu ditepisnya dan Henri langsung meraih jemari Arumi dan menggenggamnya.
“Aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan asal jangan memintaku bercerai denganmu. Aku tidak bisa menghapus jejakku pada Emilia. Mungkin karena anak itu terlahir dari niat jahat ibunya sampai aku sendiri tidak merasa ada ikatan batin dengannya. Aku sungguh-sungguh Arumi.”
“Tapi kenyataannya kamu begitu menyayanginya seperti anakmu sendiri !” bentak Arumi.
“Kita sama-sama menyayanginya karena anak itu seperti tidak pernah memiliki orangtua sejak lahir. Kamu lupa kalau kamulah yang memintanya memanggil kita mommy dan daddy.
Aku sangat mencintaimu, Arumi. Sekalipun selama ini kita sering berjauhan tapi tidak pernah terpikir olehku untuk mengkhianatimu sama seperti aku percaya kamu tidak akan pernah berpaling dariku.”
Arumi menatap dalam-dalam mata Henri yang memancarkan ketulusan dan kejujuran hatinya. Tapi tidak mudah meredam kekecewaan dan sakit hati mengetahui kenyataan ini, apalagi melupakannya begitu saja.
“Aku akan selalu menunggu dan membantu mengobati lukamu,” ujar Henri sambil mempererat genggamannya.