
Dengan sangat puas Medina akhirnya bisa lari dari cengkraman pria jahat seperti Sony. Medina sengaja menyuruh Agung keluar rumah untuk membeli kebutuhan rumah. Dengan begitu ia bisa leluasa memikirkan cara untuk kabur.
Kalau saat itu ia tak berpura-pura Amnesia. Sony pasti sudah mencekik lehernya hingga tewas. Untung saja cara itu berhasil membuat Sony mengurungkan niat jahatnya.
"Aku pergi dulu, Lelaki bodoh," umpat Medina kepada Sony yang berusaha melepas borgol di tangannya.
Semakin mencoba lepas dari borgol semakin membuat tangan Sony memerah. Satu tangan kirinya ia gunakan agar bisa membukanya.
Namun bagaimanapun caranya tetap saja Sony tidak bisa membukanya.
"Lihat saja aku akan membalas perbuatan mu, jala**" teriak Sony keras.
Medina menarik gagang pintu lalu menutup dengan keras pintu itu.
Brakk!
Tangannya dengan mengunci pintu agar Sony yang ada di dalam semakin sulit untuk keluar.
Dengan langkah cepat ia meninggalkan kamar Sony.
Medina sudah sampai di depan halaman rumah Sony.
Langkahnya terhenti ketika melihat Agung dari jauh hendak berjalan ke arah rumah. Agung tak sempat melihat Medina. Segera ia sembunyikan tubuhnya di baling dinding samping agar menghindar dari pandangan Agung.
Tepat setelah Agung memasuki pintu depan. Dengan berlari cepat Medina menjauhi rumah itu.
Samping kanan dan kirinya hanya ada perkebunan dan pepohonan yang rindang. Medina tidak tahu harus pergi kemana cahaya lampu di pinggir jalan menuntun dirinya agar terus berjalan ke depan.
Aku harus pergi kemana? pikirnya.
Sesekali ia menengok ke belakang memastikan agar Sony tak mengejarnya.
Perutnya sedikit keram.
Sambil memegang perutnya, Ia memutuskan untuk mencari tempat bersembunyi sementaranya. Di bawah pepohonan rindang ia memutuskan untuk beristirahat sejenak.
Medina menarik nafas panjang. Karena lelah ia merebahkan tubuhnya. Di balik pepohonan ia mendudukkan pantatnya di rerumputan.
Perutnya mendadak keram lagi.
Seharian hanya beberapa suap masuk ke mulutnya. Hawa di tempat itu berasa sangat dingin. Kancing bajunya hampir semuanya lepas hanya menyisakan kaos yang sengaja dirangkap.
Medina duduk meringkuk di balik dedaunan tangannya ia silangkan agar sedikit hangat.
Tak ada alas untuk ia duduk, bibirnya sedikit ia gigit menahan rasa keram di perutnya.
Medina kembali menoleh ke belakang, ia begitu takut Sony akan menemukannya. Ingin sekali ia berjalan ke depan, namun perutnya tak bisa diajak kompromi. Medina sudah memastikan dirinya akan aman bersembunyi di situ.
Medina meraih daun pisang di depannya. Dibelahnya daun pisang itu menjadi dua. Satu untuk alasnya, satu lagi untuk menutup tubuhnya yang kedinginan.
Di hatinya ia berdoa agar ada orang yang lewat segera menolongnya.
Jalan itu begitu sangat sepi. Dari tadi tidak ada satupun orang yang melewatinya. Bahkan kalau ada yang lewat langkahnya pasti terdengar dari jauh karena saking sepinya.
***
Shaka sedang menikmati secangkir kopi di dekat jendela kamar hotel bersama Firo di sebelahnya.
Firo memutuskan untuk menginap di hotel tidak jauh dari puncak. Karena dia tidak ingin segera pulang kerumahnya.
Shaka menyeruput kopi panas sambil menikmati pemandangan puncak di depannya.
Langit begitu cerah bertaburan bintang Shaka begitu menikmatinya. Berbeda dengan Firo yang hanya memikirkan istrinya, Istrinya dan istrinya.
Firo membayangkan istrinya bersama dengan dirinya menikmati udara puncak bersama dengannya duduk menikmati kopi dengan pemandangan langit yang bertaburan bintang seperti yang sedang ia lakukan sekarang.
Shaka meraih ponsel yang ada di sakunya lalu membukanya.
Tidak ada pesan masuk, gumamnya.
Shaka memandangi foto di layar kontak ponselnya.
Sudah lama kita tidak bertemu.gumamnya lagi.
Shaka tersenyum sendiri mengingat seorang gadis yang akan di jodohkan dengannya.
Firo melihat sekilas Shaka yang sedang memandangi foto seorang gadis dari sudut matanya.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Firo.
Shaka menarik nafas berat.
"Entahlah, dia begitu berbeda dengan gadis lainnya," sahut Shaka.
"Kalau kamu menyukainya, jangan terlalu lama untuk mendapatkannya. Kalau keduluan lelaki lain, kamu akan di buat menyesal" ucap Firo.
Semenjak Shaka sering bersamanya, Firo menjadi hangat kepadanya sama seperti dulu lagi.
Dering di telepon ponsel Firo berbunyi menghentikan obrolan mereka.
Firo lalu berbicara di telepon dengan seorang yang meneleponnya.
"Apa?" mata Firo di buat terbelalak.
Orang suruhannya berhasil melacak riwayat pembayaran black card milik Sony.
"Tuan, baru saja Tuan Sony menggunakan kartunya di daerah kampung atas tepatnya di restoran cepat saji X jam satu siang tadi," ucap seorang di teleponnya.
Shaka yang di sebelahnya ikut mendengarkan.
"Terima kasih atas infonya. Seperti janjiku aku akan memberimu bonus uang lima puluh juta karena berhasil memberiku informasi yag sangat penting. kalau ada info lagi segera hubungi aku lagi," ucap Firo.
"Terima kasih, Tuan. Aku akan mencari informasi lagi selanjutnya,"
Firo lalu menutup teleponnya.
Bagi Firo uang lima puluh juta tidak ada artinya asal ia mendapatkan informasi mengenai istrinya. Bahkan dia rela mengeluarkan uang berapapun asal istrinya di temukan.
"Berarti dia tidak jauh dari sini," ucap Firo.
"Aku yakin istriku ada bersamanya," ucap Firo lagi.
Shaka dengan cepat meraih kunci mobil dan segera menghabiskan sisa kopinya.
"Kalau begitu, ayo kita mencari lagi istrimu," ucap Shaka sambil berdiri lalu mengambil jaketnya.
Firo tersenyum mendengar ucapan sahabatnya. Shaka begitu sangat bisa di andalkan.
Tangannya merangkul ke bahu Shaka. Seperti dulu saat mereka kecil.
***
"Tuan, apa yang terjadi?" tanya Agung terkaget melihat Sony dengan tangan terborgol di tiang ranjang.
"Cepat cari cara agar bisa membuka borgol ini!" teriak Sony.
Agung dibuat kalap. Dengan berbagai kunci apapun ia tak bisa membuka borgol milik tuannya.
"Apa yang terjadi tuan? Dimana Nona Meysa?" tanya Agung.
"Jangan banyak bertanya, Banci! kamu harus cepat melepaskan tanganku. Wanita sialan itu pasti sudah berlari jauh," teriak Sony lagi.
Sony menendang Agung yang hendak menolongnya karena kesal.
"Ba-baik tuan, tunggu sebentar!" ucap Agung.
Agung lalu berlari kebelakang mengambil sesuatu untuk melepaskan tangan Sony dari borgol itu.
Selang beberapa menit Agung membawa gergaji mesin di tangannya.
"Apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan memotong tanganku?" teriak Sony.
Matanya begitu ketakutan ketika melihat Agung membawa gergaji mesin di tangannya.
Agung mendekatinya dengan raut muka berbeda dari biasanya.
Sepertinya Agung marah. gumamnya.
Gergaji mesin itu sudah pada mode on. Siap memotong apapun di depannya.
Agung mengarahkan gergaji mesin itu di dekat Sony.
"Agung, sadarlah jangan lakukan itu!" Sony begitu ketakutan.
"Ini tidak akan sakit!" ucap Agung mengarahkan gergaji mesin.
Mata Sony terbelalak.
"Ti-tidak... jangan, Gung" ucap Sony takut.
Tak.
Akhirnya terpotong juga tiang ranjang itu. Agung sengaja memotong tiang ranjang karena ia tak bisa menemukan kunci borgol.
Sony bernafas lega karena sudah berfikiran negatif terhadap Agung.
"Terima kasih, Gung" ucapnya sambil mengatur nafasnya.
Walaupun ditangannya masih menempel borgol itu ia tak begitu masalah.
"Cepatlah cari Nona Meysa sampai ketemu, Gung!" ucapnya kepada Agung.
Dengan nafas masih menggebu. Sony berlari keluar hendak mencari Medina.
"Aku tahu kamu masih di sekitar sini, wanita sialan!" ucap Sony menyeringai.
***
Sementara mobil Shaka dan Firo sedang melaju mencari Medina.