
Medina yang sudah di tangani Dokter dan perawat dianjurkan beristirahat sejenak di ruangannya. Sementara bayi yang baru dilahirkannya harus dirawat di ruangan terpisah khusus bayi prematur.
"Selamat, Kamu sudah menjadi ayah, Nak" ucap Ny.Vika kepada Firo yang dari tadi menunggu di luar.
Firo yang dari tadi merasa sangat khawatir akhirnya bisa bernafas dengan lega, "Syukurlah, Bagaimana keadaan anak dan istriku, Bu? Bolehkah aku menemui mereka sekarang" Firo begitu kegirangan hendak masuk kedalam ruangan.
"Mereka berdua baik-baik saja, hanya saja.. " Nyonya Vika menahan tangan Firo, "Untuk sementara bayimu harus dirawat di ruangan NICU karena bayimu lahir prematur," ucapnya lagi.
"Apa? Prematur?" Firo belum mengerti maksud Nyonya Vika. Apa maksud dari prematur ia tidak mengerti.
"Ya, karena bayimu lahir belum cukup bulan," ucap Ny.Vika, "Kalau kamu mau melihatnya, Mari Ibu antar" seru Ny.Vika.
Nyonya Vika berjalan ke arah ruang NICU diikuti Firo di belakangnya.
Selang beberapa menit mereka telah sampai di depan ruangan NICU.
"Lihatlah itu bayimu," tunjuk Nyonya Vika ke arah bayi yang berada dalam inkubator.
Mereka hanya bisa melihat didepan tembok kaca ruangan NICU. Dokter belum boleh mengijinkan siapapun masuk keruangan itu kecuali tim medis.
"Bolehkah aku masuk Dok? Aku ingin mengadzani anakku?" tanya Firo kepada Dokter.
"Sebenarnya tidak boleh tuan, Tapi kalau hanya sebentar kami mengijinkannya," sahut Dokter yang ada di ruangan itu.
Sebelum masuk Firo mensterilkan tangan dan tubuhnya dahulu dengan menggunakan hand sanitizer dan baju pelindung. Dokter memberikan ijin sebentar kepada Firo yang ingin menemui anaknya namun belum boleh menyentuhnya.
Nyonya Vika menunggu diluar hanya melihat lewat dinding kaca. Ny.Vika begitu tersenyum bahagia saat Firo mendekatkan wajahnya ke arah anaknya. Ada pancaran kebahagiaan di raut wajah Firo.
"Apakah anakku baik-baik saja, Dok?" tanya Firo kepada dokter di sebelahnya seusai mengadzani putranya.
"Kami akan mengusahakan yang terbaik untuk anak anda, Tuan" sahut Dokter.
"Berapa lama putraku di dalam sana, Dok? Kenapa tubuhnya di pasang banyak selang?"
Melihat putranya berada di dalam inkubator, Firo seperti teringat ia dulu ketika kecil yang terkurung di dalam ruangan terpisah berbeda dengan keluarganya. Firo merasa iba dengan anaknya, melihat tubuh sekecil itu harus terpasang berbagai selang di tubuhnya agar bisa bertahan hidup.
"Sekitar satu bulanan, Tuan. Sampai berat badan dan kondisi anak anda stabil. Anda banyak berdoa saja, Tuan" Dokter kembali menjelaskan.
Firo kembali melihat bayinya di dalam inkubator. Bayi itu seperti sedang memperjuangkan hidupnya sendirian. Ada perasaan tidak tega menyeruak di hatinya. Bayi itu nampak tidak bebas dalam bergerak.
"Maaf tuan, Waktu berkunjung anda sudah habis. Demi kebaikan untuk putra anda. Kami mohon anda bisa mengerti" ucap Dokter dengan halus meminta Firo agar keluar ruangan.
Firo mengerti maksud ucapan dokter kepadanya. Sebelum pergi ia melihat kembali putranya di dalam inkubator.
Baru sehari hidup di dunia kamu sudah harus berjuang seorang diri di sana. Aku yakin kamu akan menjadi anak yang kuat, Drago. Ucap Firo di dalam hati sebelum meninggalkan ruangan itu.
***
Dua bulan berlalu.
Karena putranya masih di rumah sakit. Medina masih tinggal di rumah sakit. Selama dua bulan keluarga mereka sengaja menyewa kamar VIP khusus untuk mereka tidur di rumah sakit.
Dua bulan ini juga Firo selalu bolak balik ke rumah sakit menemui anak dan istrinya. Setiap hari Medina di rumah sakit di temani Lela bergantian dengan Ny.Vika membantu mengurus ia dan bayinya.
Kasus Tuan Bram dan Sony sedang berjalan di pengadilan. Mereka masih menunggu sidang mengenai putusan hukuman yang pantas kepada mereka.
Resort dan hotel milik Tuan Bram sementara ini dipegang oleh Shaka. Sementara Firo lebih memilih mengikuti jejak mertuanya berjualan online di berbagai e commerce yang terkenal di Asia. Firo yang sangat tekun belajar dari mertuanya mampu mendirikan usahanya sendiri. Bahkan semenjak kelahiran putranya, Usaha Firo melejit drastis dan terkenal secara online maupun offline.
"Bagaiman keadaan Drago sekarang, Honey?" tanya Firo begitu memasuki kamar inap.
Orion Drago, Nama bayi itu sedang di gendong Medina dengan posisi seperti anak kangguru. Bayi itu terlihat lebih sehat dan berisi dibandingkan saat pertama kali dilahirkan.
Medina yang sedang mengendong, langsung menurunkan putranya dari gendongannya segera memberikan kepada Firo.
"Drago sangat sehat, Dokter membolehkannya pulang sekarang," ucap Medina sambil tersenyum, "Pelan-pelan sayang menggendongnya."
Kini bayi mungil itu beralih ke tangan Firo.
Ayah baru itu tampak kikuk menggendong anaknya.
Ia memandangi wajah anaknya yang tampak lucu sedang menggeliat di tangannya.
Perkembangan Drago sangat cepat. Bahkan Ia termasuk bayi yang kuat mampu bertahan di dalam inkubator selama sebulan lebih. Kini berat badannya sudah mencapai tiga kilogram. Bayi itu terlihat sangat sehat dan berisi.
"Untung saja wajahnya mirip denganmu, Honey." ucap Firo sambil mengelus pipi anaknya.
"Memangnya kenapa? Kalau mirip denganku?" Medina ikut memandangi wajah Drago.
"Kalau wajahnya mirip aku. Bisa-bisa aku merasa tersaingi," sahut Firo meledek istrinya.
"Kalau begitu kita cukup punya anak satu saja. Kalau kamu merasa tersaingi"
"Tentu saja tidak. Nanti malam aku akan segera membuat adik untuk Drago agar ia memiliki teman untuk bermain," goda Firo di telinga istrinya.
Mata Medina membulat sempurna.
"Apa?"
***
Di penjara Tuan Bram.
Tuan Bram duduk termenung di dalam sel jeruji besi. Polisi memisahkan Tuan Bram dari tahanan lainnya sampai hakim memutuskan hukuman yang pantas untuk Tuan Bram.
Di sana ia hanya sendirian meringkuk di lantai yang begitu dingin sambil meratapi nasibnya. Dari awal masuk ke penjara sampai dua bulan ini, Tidak ada satupun keluarga yang menjenguknya. Ia begitu sangat sedih dan kesepian.
Mungkin inikah yang dirasakan Firo selama ini. Batin Tuan Bram menyesali perbuatannya.
Maafkan aku, Firo. Semoga kalian baik-baik saja di sana.
***
Di Rutan.
Sony berada satu Rutan dengan tahanan lainnya.
Awal mula Sony masuk ke dalam sel, Ia disambut hangat dengan bogem mentah beberapa penghuni Rutan lainnya. Perilaku angkuh Sony membuat geram penghuni lainnya. Mereka tidak mengetahui siapa Sony sebenarnya.
"Jangan sentuh aku! Kalau tidak kalian akan menyesal!" teriak Sony.
"Jangan belagu, Kamu disini tidak lebih dari sampah seperti kami!" Beberapa bogem mentah mendarat ke tubuh Sony yang semakin bertambah kurus.
Sudah dua bulan ini Sony beradaptasi dengan penghuni Rutan lainnya. Setiap hari ia bagaikan budak yang terlihat sangat bodoh dan lemah.
###
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.
Terima kasih.