
Dengan cepat Firo melajukan mobilnya menuju arah pulang. Bobi ikut bersamanya di dalam mobil. Diperjalanan tak habisnya Firo berpikiran buruk mengenai istrinya. Firo merasa sangat ketakutan dan terburu-buru, ia mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Berkali-kali ia harus menyalip beberapa mobil yang melaju didepannya. Beruntung tak terjadi apa-apa di jalanan.
Sebelum menuju rumah Tuan Bram, Firo menempatkan Bobi ke tempat yang aman dan tidak terjangkau siapapun. Firo tidak mau saksi kunci kejahatan ayahnya akan di habisi sebelum diadili.
Jam menunjukan pukul sebelas malam. Firo sudah sampai di halaman depan rumah Tuan Bram. Ia langsung keluar dari mobil berlari menuju pintu gerbang.
Tidak biasanya didepan rumah itu ada banyak pengawal yang berjejer rapi di pintu masuk. Ada empat orang yang menunggu gerbang depan sedang berdiri tegak. Nampaknya mereka dalam status waspada mengawasi rumah itu.
Firo dengan langkah cepatnya menuju pintu gerbang. Ia benar-benar sangat marah kali ini.
"Tuan muda, Anda dilarang masuk ke dalam," ucap salah satu penjaga menghentikan tubuh Firo.
Bug!
Firo menghantam muka pria itu. Ia tidak peduli siapapun yang mengganggu langkahnya tak segan segan Ia habisi.
Satu orang menghampiri pengawal yang dipukul Firo dan sisanya mengepung Firo, "Anda dilarang masuk, Tuan!"
"Minggir!" bentak Firo mendorong tubuh mereka yang menutupi jalannya.
"Tuan," salah seorang menarik tangan Firo. Namun Firo segera menghempas tangan itu.
"Jangan halangi aku!" teriak Firo sambil menarik baju salah satu pengawal.
Sekarang posisi Firo sudah ada di tengah-tengah mereka. "Tuan dilarang masuk, Sebaiknya tunggu diluar!" tegas seorang pengawal berjalan mendekati Firo.
"Mundur!" tegas Firo.
Firo mengarahkan pistol ke salah satu kepala pengawal yang ia tarik bajunya, "Beri aku jalan! Atau aku tembak kepala pria ini," ketus Firo.
Seluruh pengawal memundurkan langkahnya.
"BUKAA..." Teriak Firo keras sambil menendang tempat sampah disebelahnya.
Brug!
Dor!
Peluru dari senjata api berjenis glock meyer 22 itu mampu mengarah tepat ke arah tempat sampah yang ditendangnya. Walaupun bukan penembak jitu namun tembakannya tepat sasaran membuat tempat sampah itu hancur berkeping-keping.
"Jangan halangi aku, Atau aku bunuh kalian satu persatu!" bentak Firo keras.
Karena takut dengan Firo yang membawa senjata api akhirnya mereka membuka pintu gerbang yang dari tadi mereka tutup rapat.
"Beri aku jalan!" Firo menarik salah satu pengawal sebagai sandra.
Mereka semua menghindar namun tetap waspada.
"Dimana, Ayahku menyembunyikan istriku?" teriak Firo, "Katakan padaku sekarang!"Firo begitu geram.
"Kami tidak tau, Tuan! Kami hanya menjaga rumah ini," sahut salah satu pengawal.
Dor.
Karena kesal dengan jawaban mereka, Firo menembak salah satu kaki pengawal.
Satu pria ambruk tertembak.
"Ampuni kami, Tuan! Kami benar tidak tau dimana istri anda. Kami hanya bertugas menjaga rumah ini," ujar seorang pengawal ketakutan karena pistol Firo mengarah kearahnya.
"Kalian tidak berguna!" Firo menendang pengawal itu.
Firo yang kesal dengan jawaban semua pengawal itu segera masuk ke dalam rumahnya menuju kamar ayahnya.
"Jangan ikuti aku! Kalau kalian tidak ingin aku bunuh!" sergah Firo.
Firo lalu berlari masuk kedalam rumah. Di rumah itu tidak ada orang yang dicarinya. Hanya ada pembantu yang berlalu lalang ketakutan melihat Firo karena menatap tajam kearah mereka.
Sampailah ia di dalam ruang baca ayahnya. Di ruangan itu terdapat berbagai contoh tanaman dan bunga yang di taruh didalam wadah kaca berukuran sedang. Firo mengamati satu persatu dedaunan itu. Di dalam botol kaca ada salah satu bunga berwarna ungu yang sudah di awetkan bertuliskan "Aconitum".
Jadi gara-gara ini semua kamu menghabisi orang-orang yang tidak bersalah.
Firo mengambil beberapa contoh dari bunga yang berwarna ungu dan daun ganja, Ia lalu menciumnya. Benar saja aroma salah satu daun itu tampak tidak asing di hidungnya. Daun yang sudah mengering itu tampaknya adalah daun ganja yang sudah dikeringkan.
"Biadab!" umpat Firo.
Di dinding ruangan itu ada pedang panjang yang tergantung. Firo lalu meraihnya dan memecahkan semua botol kaca di sana menggunakan pedang itu.
Prank.. prang.. prang..
Pantas saja berkali-kali Firo mencoba mengirim seorang anak buahnya untuk menyelidiki ayahnya, Namun tetap masing-masing dari mereka tidak sanggup dan lebih memilih mundur. Rupanya ayahnya adalah salah satu jaringan mafia terbesar di negaranya.
Firo menoleh ke sebuah foto yang nampak beberapa orang duduk berjejer, masing-masing menggunakan topeng. Tidak ada satupun wajah mereka yang terlihat.
Ada beberapa dokumen transaksi penting di meja ayahnya. Firo lalu mengamankan barang bukti yang didapatnya ke dalam tas berukuran besar.
Hari ini kamu harus mati di tanganku!
*
Sreg.. sreeeeegggghh..
Suara pedang yang ia bawa menggores jalanan rumah Tuan Bram yang beraspal. Firo berjalan sangat cepat menyelusuri setiap sudut rumah itu mencari istrinya yang belum ia temukan.
Sementara Nyonya Vika sudah melapor kepada polisi atas kehilangan putrinya. Sayangnya polisi tak menanggapi laporannya karena belum 24 jam. Bahkan Agung masih mencari Medina di setiap penjuru kota.
Sekarang Firo tengah berdiri di depan taman samping. Firo segera menendang kasar gerbang yang menutup halaman itu.
Benar saja di kebun itu ada berbagai tanaman yang ia baru ketahui kalau itu adalah ganja. Sebelumnya Firo tidak terlalu peduli.
Tanaman ganja yang sudah sangat lebat itu sudah mulai meninggi dan menutupi semua area perkebunan.
Jadi ini semua yang menyebabkan kematian ibuku!
Srek.. Srek..
Firo membabat sedikit demi sedikit tanaman ganja yang sudah tumbuh memanjang dengan pedang ditangannya. Ia ingin menghancurkan semua tanaman haram dan bunga beracun yang menghancurkan hidup keluarganya. Ingin rasanya ia membakar habis semua yang ada di kebun itu.
Firo benar-benar seperti orang gila lagi malam itu karena belum menemukan istrinya. Kemana dia harus mencari istrinya? Firo yang semakin geram tak bisa mengatur emosinya. Tenaganya hampir terkuras habis malam itu. Keringat dan rasa pegal ditubuhnya sudah dihiraukannya agar segera menyelamatkan istrinya.
Karena kesal Firo sampai menangis seorang diri di kebun yang banyak ditumbuhi daun ganja itu.
"Kenapa aku harus terlahir sebagai anakmu. Bram keparat!" teriak Firo keras memecahkan keheningan malam.
Firo sudah sangat putus asa.
Derap langkah menghampiri Firo yang sedang berdiri ditengah di antara tanaman ganja yang sudah meninggi. Firo tak menyadari sama sekali ada bahaya di belakangnya yang sedang mengintai dirinya.
Dengan cepat dari belakang sebuah tangan menghantam kepala Firo menggunakan sebuah balok kayu.
Bug.
Ambruk! Tubuh Firo terjatuh tepat di antara tanaman ganja di atasnya. Dengan sekali pukulan di kepalanya membuat Firo tak sadarkan diri.
Firo, Pria yang malang harus menerima imbas dari perbuatan buruk ayahnya.
###
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.
Terima kasih.