Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Menemui Tuan Bram 2


Bunyi telepon membangunkan Medina dari tidur siangnya. Medina masih melihat dirinya di peluk erat Firo yang sama-sama terlelap ketika selesai melakukan olahraga barunya.


Telepon yang berada di nakas sebelah tempat tidurnya di angkatnya. Ternyata telepon itu berasal dari rumah utama yang menyuruhnya menemui Tuan Bram Malam ini.


Dengan kondisi masih perih di bagian intinya dia mulai membersihkan dirinya di kamar mandi.


Selang beberapa menit Firo ikut terbangun. Firo mendapati istrinya tidak ada di sebelah nya hendak mencarinya. Firo duduk bersandar di kasurnya segera memakai boxer di atas tempat tidurnya Firo melihat noda merah di sprei kasurnya yang menandakan dia telah berhasil mengambil mahkota istrinya.


Tak berapa lama bau harum sabun mandi tercium di hidungnya. Medina keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang menempel di tubuhnya. Tubuh Medina yang habis mandi membuatnya terangsang untuk mendekat.


"Aku suka bau tubuhmu" Firo memeluk Medina dari belakang dengan badan terbuka dan hanya menggunakan boxer.


"Cepatlah mandi hari sudah sore" Medina masih malu melihat Firo yang memeluknya.


"Tapi aku maunya mandi sama kamu, Honey"


Medina masih kegelian dengan tingkah Firo yang masi merayunya seakan meminta lagi.


"Cepatlah mandi badanmu bau keringat"


"Tapi kamu suka kan" Firo tambah erat memeluknya.


"Tadi ada pelayan yang menelepon, Daddy menyuruhku menemuinya."


"Apa menurutmu aku di panggil karena tadi siang aku masuk ke taman samping?"


"Sepertinya begitu, Kamu tidak perlu takut bilang aja yang sesungguhnya Honey, kalau kamu ke sana hanya mencari kucing Shaka. "


"Tapi aku takut, Firo"


"Aku akan menemanimu, " Firo masih merangkul tubuh Medina seakan meminta lagi.


"Baiklah kalau begitu aku akan mandi dulu ,tunggulah sebentar, Honey" Sebelum bergegas ke kamar mandi Firo mencium rambut Medina dulu.


*


Waktu menunjukan jam tujuh malam, mereka berdua bergegas untuk menemui Daddy nya di rumah utama.


Penampilan Medina terlihat begitu sederhana namun aura cantiknya tetap terlihat dengan make up polosnya.


Cara jalan Medina kali ini sedikit berbeda lain dari biasanya, Dia seperti menahan sakit di daerah intinya. Kalau bukan karena ajakan mertuanya Medina tidak sanggup untuk berjalan jauh.


"Honey kenapa denganmu sepertinya cara jalanmu berbeda"


"Ini semua gara-gara kamu,Punyaku terasa sakit, perih sekali"


Medina mengerucutkan bibirnya.


Firo tersenyum.


Apakah sesakit itu? sampai dia tidak bisa berjalan. Batin Firo sambil memperhatikan istrinya.


"Maafin aku, Honey. Lain kali aku akan lebih pelan lagi melakukannya," bisik Firo dengan suara seraknya.


Medina langsung memukul dada suaminya karena Firo terus menggodanya. Firo hanya meringis.


"Apa perlu aku gendong?" Firo membungkukkan badannya.


Medina mendekati lalu menjewer telinga Firo.


"Auwwwww"


"Lain kali aku tidak mau melakukannya lagi"


Firo mencium pipinya.


"Mesum!"


***


Tuan Bram.


"Kenapa anak itu susah sekali di bilangin" Ucap Tuan Bram.


"Sepertinya Nona muda hanya mencari kucingnya Tuan"


" Aku tidak peduli, berarti dia sudah melanggar larangan ku, aku paling tidak suka dilanggar.Perintahkan dia agar menemui ku sekarang"


"Baik Tuan, saya akan menghubunginya"


***


Di ruangan Tuan Bram.


Firo dan Medina memasuki ruangan ayahnya.


"Selamat malam Daddy,"


Dari tadi Medina sudah gemetar ketika melihat tatapan Tuan Bram kepadanya.


"Masuk lah!" seru Tuan Bram.


Tuan Bram melihat mereka satu persatu yang duduk di depannya.


"Apa kamu sudah tahu aturan rumah ini?" Tuan Bram berbicara langsung kepada intinya.


"Sudah Daddy," ucap Medina pelan


"Kenapa kamu melanggarnya?" tanya Tuan Bram lagi.


"T-tadi a-ku" Medina tak bisa menjawab karena ketakutan.


"Dia hanya mengambil kucing Shaka yang ada di sana" Tiba-tiba Firo berbicara membela Medina.


Tuan Bram tersenyum dengan perkataan Firo.


Anak ini benar-benar sudah sembuh. Pikir Tuan Bram.


"Aku sangat berterima kasih kepadamu, karena kamu telah berhasil menyembuhkan Firo, Tapi aku paling tidak suka ada yang melanggar larangan ku, termasuk menantuku sendiri," ucap Tuan Bram Tegas.


Firo balik menatap Ayahnya.


"Bisakah kamu tidak berkata seperti itu di depan istriku?" bentak Firo tidak menyukai Daddy nya yang berkata sambil menunjuk nunjuk istrinya dengan jarinya.


"Baiklah maafin Daddy dan kali ini akan Daddy maafkan kesalahan kamu, Tapi tidak untuk selanjutnya, apa kamu mengerti?" Tuan Bram mulai merendahkan nada bicaranya.


"Terima kasih, Daddy" ucap Medina.


"Kalau tidak ada yang di bicarakan lagi, sebaiknya kita cepat pergi dari sini" Firo menarik tangan Medina agar cepat keluar.


Selain membenci Nyonya Stella Firo juga membenci ayahnya sendiri, Karena ternyata dia juga ikut andil membuatnya menderita. Firo tidak peduli penyamarannya terbongkar bahwa dia sudah tidak gila hanya untuk melindungi istrinya.


Dia benar-benar sepertiku. Batin Tuan Bram sambil tersenyum ketika mereka berdua keluar ruangan.