
Hari sudah berganti malam, Bintang di langit sudah mulai menampakan wujudnya. Medina berjalan dengan anggun menggandeng tangan Firo suaminya.
Rambut Medina yang sudah mulai melewati bahunya ia gerai dan sedikit menjepit ujung kanan dan kirinya menyimpul ke belakang. Dengan senyum yang begitu manis Firo berjalan di sampingnya.
"Malam ini kamu terlihat cantik, Honey" seru Firo terhadap wanita yang berjalan di samping kirinya.
Medina tersenyum simpul, "Apa hanya malam ini aku terlihat cantik di matamu?" ujarnya.
"Apa hanya malam ini aku mengatakan kalau wanita di sampingku ini memang cantik?"Firo membalikan pertanyaan.
"he'em setahuku memang begitu," sahut Medina.
"Kalau begitu aku akan mengatakannya setiap hari kalau istriku adalah wanita yang paling cantik di mataku," ujar Firo.
"Kamu memang pandai merayuku," sahut Medina.
Langkah kaki mereka di sambut hangat oleh Agata yang sudah menunggu kedatangan Firo di pesta wedding yang memakai jasa Agata.
Dari jarak jauh mata Medina tidak lepas pandangannya melihat seorang wanita yang pernah di lihat sebelumnya. Ia semakin mempererat gandengan tangannya.
Bukankah dia wanita yang bersama Firo malam kemarin.
Agata yang berdiri jauh mendatangi mereka berdua.
"Senang bertemu Anda Tuan Muda Firo," sambut Agata sembari memeluk Firo tiba-tiba.
Firo yang tidak menyangka akan di peluk secara tiba-tiba oleh Agata langsung terkaget.
Kenapa dia memelukku. gumam Firo.
Medina yang melihat itu langsung menganga melihat kelakuan wanita di sebelahnya. Ia menatap tidak suka.
Firo segera melepas pelukan Agata yang membuatnya risih.
"Maaf, memang aku sudah terbiasa seperti ini kalau sudah akrab dengan klien ku, jangan curiga terhadapku ya," ujar Agata terhadap Medina yang menatapnya tidak suka.
Medina menarik Firo agar menjauh dari Agata, "Sebaiknya anda harus menghentikan kebiasaan anda terhadap suamiku Nona, suamiku tidak suka anda peluk," ucap Medina membalas Agata.
Firo tersenyum mendengar ucapan istrinya.
"Sepertinya saya tidak salah, karena sebelumnya kami terbiasa melakukannya," tambah Agata memanasi.
"Apa! terbiasa"
"Jangan terlalu terbawa emosi, Aku dan suamimu hanya sekedar rekan bisnis," ujar Agata.
Firo yang mendengar ucapan Agata langsung teringat dengan kejadian kemarin bersama Agata.
Mata Medina membulat sempurna melihat Firo yang mendadak gugup di sebelahnya. Kata 'terbiasa' yang di ucapkan Agata membuat telinganya memanas bahkan sampai ke hatinya.
Medina menatap tajam suaminya.
"Maaf Nona Agata, aku dan istriku sepertinya akan ke sana dulu, bukankah kita belum menikmati jamuan pestanya," ujar Firo mencoba menjauhkan Medina dari Agata.
Firo segera menarik tangan Medina.
Agata yang melihat itu tersenyum menang.
Medina terpaksa ikut suaminya malam ini, Firo yang awalnya tidak ingin datang terpaksa harus datang karena Tuan Bram mendesaknya berdalih ada klien dari luar negri yang akan menjalin kerjasamanya hanya bisa bertemunya malam ini.
Medina merayu Firo agar mau datang. Namun Firo tetap tidak akan datang kecuali dengan istrinya. Niko yang sedang berada di rumah sakit ia tinggal dahulu, beruntung ada perawat yang mau di bayar khusus untuk merawat Niko malam ini.
***
Medina berdiri di samping Firo tapi tak sedekat seperti awal ia datang bersamanya. Dipikiran Medina masih mempertanyakan kata 'terbiasa' yang Agata katakan terhadapnya.
Apa dia berselingkuh dengan Agata di belakangku?
Berarti yang di lihat malam itu benar suaminya dengan Agata.
Medina mengambil segelas air dingin untuk mendinginkan tenggorokannya yang dari tadi mengering karena tak berkata apapun terhadap Firo yang dari tadi berdiri di sampingnya.
"Kalau kamu tidak nyaman berada disini, sebaiknya kita pulang saja," ujar Firo, Ia tak suka istrinya mendiamkannya.
"Lalu ngapain kita kesini kalau harus pulang lagi"
"Dari awal aku tak ingin datang kesini," sahut Firo ketus.
"Tapi Daddy menyuruhmu menemui klien yang datang dari luar negri sekarang," ucap Medina.
Firo menarik napas panjang mencoba merendahkan emosinya.
"Baiklah, setelah klien itu datang kita segera pulang!" ucap Firo.
Beberapa menit kemudian dua orang memakai stelan jas hitam berwajah bule datang di pesta itu.
Mereka berdua adalah orang yang ditunggu Firo. Didampingi Sekretaris Andre mereka membicarakan kerja sama bersama kedua bule itu dan Agata.
Mereka berlima duduk di satu meja di ruangan lain yang tidak jauh dari aula yang sedang diadakan pesta pernikahan. Medina tidak bisa ikut duduk bersamanya karena sedang membicarakan bisnis yang sudah lama di rencanakan. Dua orang itu akan membangun Mall di tengah hotel milik Firo dan Agata yang memiliki tanah tempat berdirinya hotel.
Medina duduk tidak jauh dari pesta pernikahan yang sedang berlangsung. Sesekali matanya melihat kedua mempelai yang terlihat sangat bahagia. Terkadang dalam hati Medina merasakan iri, kenapa mertuanya yang banyak memiliki hotel tak memberinya pesta pernikahan yang layak seperti pasangan pengantin lainnya. Tetapi perasaan iri itu segera ia tepis, mengingat awalnya ia dan Firo tidak sama seperti pasangan umumnya.
Seorang lelaki dengan memakai kaca mata lewat di depannya. Ia terlihat tergesa-gesa. Tanpa sengaja ia menjatuhkan sesuatu dari kantongnya. Medina melihat dengan jelas lelaki itu terlihat terburu-buru.
Medina ingin menghentikan langkahnya mencoba memberi tahu.
Namun lelaki itu berjalan sangat cepat sekali. Medina berjalan mendekat mengambil benda yang terjatuh dari saku pria tadi. Ia lalu memungutnya dan memasukan ke dalam sakunya.