
Satu bulan kemudian,
Setiap hari dari pagi sampai malam Firo selalu membantu Ny.Vika mengurus usaha onlinenya. Dari pada dia di acuhkan istrinya di rumah. Firo lebih baik membantu ibu mertuanya mengurus toko online yang tidak jauh dari apartemen. Firo merasa tenang karena ada Agung dan Lela yang menjaga istrinya di rumah.
Semenjak kejadian malam itu Firo selalu menyibukkan diri agar bisa menahan hasratnya. Ny.Vika sangat menyukai hasil kerja keras menantunya. Firo sangat pintar dalam mengelola usahanya. Omset Ny.Vika naik dua kali lipat semenjak Firo membantunya.
Setiap sebulan sekali Shaka mampir ke tempat mereka karena bisnisnya di negara itu juga semakin maju. Shaka tidak memberitahu ayahnya kalau Firo ada di singapore. Gara-gara peristiwa malam itu juga Shaka sudah tidak berani mengajak Firo ke bar lagi.
Sudah hampir empat bulan semenjak bertemu dengannya lagi, Medina tetap tidak ada perubahan kepada Firo. Nyonya Vika yang melihat itu merasa kasihan terhadap Firo karena selama ini ia sudah cukup sabar dengan anaknya.
Malam itu sebelum tidur, Nyonya Vika mengajak Medina duduk berdua. Sementara karena saking capeknya bekerja seharian, Firo sudah berada di kamarnya untuk beristirahat.
"Bagaiman keadaan cucuku, Mey? Apa sudah tahu jenis kelaminnya?" tanya Ny.Vika.
Mereka duduk santai sambil meminum teh di balkon depan yang menghadap keluar.
Medina tersenyum sambil mengelus perutnya, "Kata dokter bayinya sangat sehat dan jenis kelaminnya laki-laki,"
Usia kehamilan Medina sudah enam bulan.
Nyonya Vika sangat senang mendengar kabar itu. Setelah beberapa menit berbincang Ny.Vika memberanikan diri membahas tentang Firo. Ia ingin agar anaknya merubah sikapnya kepada Firo.
"Mey, Apa kamu akan terus menerus seperti itu terhadap suamimu? Tak seharusnya kamu seperti itu kepada Firo," ujar Ny.Vika berbicara ke intinya.
Medina terdiam mendengar ucapan ibunya, "Aku tidak tahu, Bu" ucap Medina menghembuskan nafas pelan, "Aku masih belum bisa melupakan kematian ayah"
"Apa kamu tidak kasihan dengan anakmu? Bukankah dia juga cucu dari Bram?" tutur Ny.Vika.
Mendengar itu Medina langsung terperanjat.
Nyonya Vika juga memberikan pengertian kepada Medina agar tak seharusnya ia seperti itu kepada Firo. Selama ini juga Firo sudah cukup menderita karena kelakuan Tuan Bram.
"Jangan menyimpan dendam di hatimu, Mey! Karena dendam itu seperti sampah di tubuhmu. Semakin kamu menyimpannya dendam itu akan membusuk di tubuhmu," ucap Ny.Vika terhadap Medina.
Nyonya Vika lalu menceritakan semuanya bagaimana Firo ketika kecil berada di rumah itu. Ny.Vika tau semuanya dari orang suruhannya yang sengaja mencari tau semua info tentang Tuan Bram.
Mendengar cerita itu Medina yang dari tadi menahan air matanya lalu menangis sesenggukan. Tak seharusnya ia membenci suaminya. Firo sudah cukup menderita di rumah itu. Bahkan Firo tak pernah menunjukan betapa sedihnya dirinya terhadap Medina.
"Biarkan hukum yang akan membalas perbuatan Bram, Kamu salah kalau bersifat tidak adil seperti itu terhadap suamimu. Dendam di hatimu yang membuat kamu takut melihat wajah suamimu. Pikirkan seandainya anak yang di dalam perutmu memiliki wajah yang sama dengan Bram. Apakah kamu tetap tidak ingin melihatnya?" ujar Ny.Vika tegas.
Ucapan ibunya barusan seakan menjadi tamparan untuk Medina. Ternyata benar apa kata ibunya. Ia harus berusaha membuang rasa dendam di hatinya.
Medina masih menangis di tempat duduknya, "Maafkan aku, Bu!"
"Jangan meminta maaf padaku! Masuklah kedalam kamarmu. Kamu harus meminta maaf kepada suamimu," seru Ny.Vika tegas.
Nyonya Vika tidak mau anaknya menjadi istri yang durhaka terhadap suaminya.
Medina yang merasa bersalah akhirnya masuk kedalam kamarnya. Di sana sudah ada Firo yang sedang tertidur sangat pulas.
Medina melihat suaminya yang sedang terlelap. Ia tidak tahu Firo selama ini menanggung penderitaan di rumah itu. Medina pernah mendengar cerita dari Bi inah namun tidak sedetail yang di ceritakan ibunya. Sudah banyak hal buruk yang diterima suaminya.
Medina berjalan mendekat ke arah suaminya.
Awalnya wajah itu berubah menjadi Tuan Bram ketika muda. Wajah yang terlelap itu seakan sedang tersenyum menyeringai kearahnya.
Namun pikiran itu segera di tepisnya. Medina mencoba menarik nafas panjang menenangkan pikirannya.
Tidak! Aku harus bisa menganggap suamiku bukan pembunuh ayahku. Batin Medina.
Medina memejamkan matanya sesaat.
Netra Medina yang awalnya menutup ia biarkan perlahan membuka dan menatap lekat wajah suaminya. Sekarang perasaanya sudah mulai lega.
Medina mendekatkan tubuhnya di sebelah suaminya yang tertidur. Mencoba menatap lekat pria yang sudah menanam benih di perutnya.
Jari telunjuknya menempel ke setiap inci wajah Firo. Medina menyentuh dengan lembut rambut suaminya. Turun ke dahi lalu sudut matanya. Telunjuknya beralih menyentuh pipi dan hidung mancung suaminya.
Suaminya begitu sangat tampan ketika tidur. Bibirnya yang tipis tertutup rapat begitu terlihat sangat manis dengan warna merah alaminya.
Medina tidak tahu kalau sebenarnya Firo sudah terbangun. Hanya saja ia berpura-pura membiarkan istrinya menyentuh wajahnya.
Saat telunjuk istrinya menempel di bibirnya. Dengan cepat Firo menangkap jari lentik itu.
Medina terkaget ketika netra suaminya sudah menatap balik dirinya.
"Apa kamu habis menangis, Honey" ucap Firo pelan sambil mengusap lembut pipi istrinya. Medina sudah ada di sebelahnya.
"Apa aku menyakitimu lagi," ucap Firo lagi dengan suara berat.
Mendengar ucapan suaminya. Air mata menetes lagi di pipinya.
"Jangan menangis! Aku akan menutup mukaku. Apa kamu takut melihatku?" ujar Firo. Tangannya mencoba meraih benda apapun untuk menutup mukanya.
Medina segera meraih tangan suaminya,"Maafkan aku! Aku yang salah," ucap Medina.
Firo yang mendengar itu terdiam sesaat.
Mereka saling melihat.
"Aku tak seharusnya mengacuhkan mu, Kamu tidak salah. Tapi aku yang salah! Aku mohon maafkan aku, Suamiku"
Medina lalu memeluk tubuh suaminya sambil menangis.
Firo memeluk balik istrinya. Ia mengelus rambut istrinya yang sudah memanjang.
"Apa kamu sudah mau melihat mukaku?" Firo memegang lembut wajah istrinya. Medina mengedipkan mata pertanda iya.
Melihat itu Firo tersenyum senang. Akhirnya istrinya sudah kembali utuh seperti dulu lagi. Firo merasa malam ini istrinya telah kembali seperti dulu lagi. Tidak hanya tubuhnya tetapi juga hatinya telah kembali lagi kepadanya. Firo mencium lembut rambut istrinya.
"Aku sudah memaafkan mu, Honey" ucap Firo tulus.
"Jangan menangis lagi ya, Kasian anak kita. Bukankah anak kita lelaki? Aku tidak mau anak kita cengeng seperti ibunya," Firo kembali mengusap pipi istrinya.
Medina mengangguk.
"Tapi malam ini ada hal yang tidak aku maafkan," seru Firo.
Mendengar itu Medina terkaget, "Kesalahan apa lagi yang aku lakukan?"
Firo tersenyum licik ke arah istrinya.
"Kesalahan mu adalah membangunkan tidurku!" bisik Firo.
Firo lalu lebih mendekatkan tubuhnya.
"Lalu, apa aku harus minta maaf lagi" Medina menatap balik suaminya.
"Tentu!" ucap Firo, "Tapi dengan cara yang lain" bisiknya lagi di telinga istrinya.