
Prosesi eksekusi mati telah dimulai, Dua belas regu tembak yang sudah ditutup mukanya sudah memasuki lapangan tembak, Mereka berjejer rapi menghadap tiang yang akan digunakan Tuan Bram meregang nyawa.
Komandan pelaksana memeriksa kesiapan dua belas regu penembak. Komandan pelaksana memberi komando, Mengatur barisan regu penembak agar menempati posisi yang sesuai. Jarak antara mereka dan terpidana mati hanya berjarak delapan meter.
Setelah regu penembak siap, Komandan pelaksana melapor kepada Jaksa eksekutor. Disaksikan jaksa eksekutor, Komandan regu penembak lalu mengisi masing-masing satu amunisi ke dalam senjata laras panjang yang akan mereka gunakan. Dari dua belas amunisi, Tiga di antara amunisi yang telah ia pasang merupakan peluru tajam dan sisanya merupakan peluru hampa.
Semua sudah siap, Tuan Bram dengan wajah tertutup memasuki lapangan tembak bersama beberapa anggota polisi bersenjata lengkap. Kemudian kedua tangan dan kaki Tuan Bram diikat kuat di salah satu tiang yang menjadi sandarannya meregang nyawa. Tuan Bram memilih posisi berdiri untuk eksekusi yang akan dilaluinya.
Seorang rohaniawan mendatangi dan menenangkan Tuan Bram yang sudah dalam posisi siap di ikat di tiang eksekusi. Tuan Bram tidak bisa melihat siapa saja yang ada di depan, Karena matanya yang sudah tertutup rapat menggunakan kain hitam. Dadanya mulai bergemuruh setelah seorang dokter menempelkan tanda berwarna hitam tepat di jantungnya.
Komandan regu sedang mengisyaratkan regu penembak dengan sebuah pedang di tangannya. Regu penembak sudah siap membidik beberapa detik lagi. Sekarang dua belas senjata laras panjang sudah mengarah tepat di jantung Tuan Bram.
***
POV Tuan Bram.
Langkah kakiku mulai terasa lemas saat memasuki lapangan tembak. Dengan mata yang tertutup aku berjalan dituntun beberapa orang di sampingku. Aku tidak tau siapa saja mereka. Bahkan aku tidak tau ada berapa orang yang ada disini dan berapa orang yang akan menembak ku.
Meskipun tubuhku sudah melemas saat kaki dan tanganku mulai mereka ikat dengan kencang. Pendengaran ku mendadak tajam karena tempat itu terasa sunyi dan sepi.
Hanya ada suara hentakan kaki dan suara seorang yang melapor kepada atasannya bahwa eksekusi mati untukku akan segera di laksanakan. Seorang rohaniawan yang aku kenal memberiku tuntunan doa untuk menemaniku di detik terakhir.
Mendengar itu dadaku mulai bergemuruh. Apalagi saat seseorang telah menempelkan sesuatu di kiri dadaku. Aku yakin ini bukan mimpi dan ini adalah akhir dari hidupku.
Derap langkah sudah mulai tak terdengar. Sunyi sepi dan gelap yang aku rasa. Sebentar lagi sebuah peluru menembus dadaku. Aku mulai berdoa kepada tuhan agar dosaku di ampuni. Berbagai doa telah ku panjatkan kepada Allah agar mau menerima jasadku setelah meninggal nanti. Tak ada sesuatu yang harus aku takutkan untuk meninggalkan dunia ini. Karena sejatinya semua makhluk yang bernyawa akan kembali kepada-Nya.
Bayangan Fira, Tiba-tiba muncul di depanku. Ia mengulurkan tangan agar aku ikut bersamanya. Wanita itu sangat cantik sekarang, Dengan mengenakan gaun warna putih bersih ia tersenyum hangat untukku.
DORR!
Suara tembakan begitu terdengar keras.
Aku balas tersenyum kepada Fira, Lewat beberapa detik aku mulai merasa sesuatu mengenai dadaku. Bukan satu peluru, Sepertinya ada tiga yang menembus jantungku. Sakit sudah pasti, Sesuatu yang menancap di dadaku itu membuat nafasku mulai tertahan di tenggorakan.
Sakit, sesak, perih, Itu semua membuatku tak bisa menghirup oksigen dengan nyaman. Lambat laun otakku sudah tak bisa berpikir. Tubuhku benar-benar tak bisa menahan rasa sakit itu. Semua sudah terasa gelap, Aku hembuskan pelan sisa nafasku sambil menyebut nama Allah.
***
Di luar lapangan tembak.
DOR!
Terdengar sampai luar bunyi tembakan yang mengisyaratkan bahwa eksekusi ayahnya telah di lakukan. Firo yang setengah sadar kini bertambah lemas, ia tak kuasa menahan kakinya untuk tetap berdiri.
Firo memejamkan matanya. Ya, ini bukan mimpi tapi nyata. Mendengar suara tembakan barusan, Membuatnya kaget. Seperti ia sendiri yang sedang tertembak. Rasanya sakit tapi tidak berdarah.
Firo memegangi dadanya yang terasa sakit, Matanya mulai mengeluarkan air mata. Menangis tapi tak bersuara, Itu yang sedang di alaminya. Tubuhnya terjatuh ke tanah, Bahkan Medina ikut menahan tubuhnya agar bisa berdiri. Drago yang sedang menemani mereka terlihat bingung dengan apa yang terjadi terhadap orang tuanya.
"Sayang, Bangun! Petugas sudah membolehkan kita masuk kedalam," ucap Medina membangunkan Firo yang duduk di tanah.
Medina tidak mau membawa anaknya masuk ke dalam melihat langsung mayat kakeknya. Ia menyuruh suaminya agar menjemput mayat ayahnya.
Firo berjalan masuk ke dalam didampingi Shaka dan beberapa petugas kepolisian.
Sampai di dalam, Sekumpulan orang sedang mengurusi mayat Tuan Bram yang akan di masukan ke dalam peti mati. Sebelum peti ditutup, Firo telah lebih dulu melihat mayat ayahnya, Wajahnya begitu berseri, tidak ada rasa ketakutan di raut wajahnya. Bahkan Tuan Bram meninggal saat sedang tersenyum.
"Daddy, Aku sudah ikhlas menerima kepergian mu!" ucap Firo mencium tangannya.
***
.
.
Firo berjalan menuntun Medina di pantai yang pernah mereka singgahi sebelumnya.
Firo menuntun Drago dengan tangan kirinya, Sementara istrinya menuntun Elard dengan tangan kanannya. Mereka berempat berjalan mendekati bibir pantai.
El dan Drago, Kedua anak laki-laki itu terlihat bahagia. Bagi El, Kedua orang dewasa yang menuntunnya sekarang sudah seperti orang tua baginya.
"Sepertinya kisah ini akan berlanjut sampai ke anak cucu kita," ucap Firo tersenyum.
Mereka berdua memutuskan duduk di bibir pantai membiarkan tubuh mereka terkena hempasan ombak. Sementara kedua anak lelaki bernama El dan Drago asik bermain pasir pantai tidak jauh dari orang tuanya duduk.
Medina menoleh ke arah suaminya, "Aku berharap kebaikan akan selalu menang dalam dunia ini, Termasuk kisah anak cucu kita selanjutnya," sahut Medina, Kepalanya ia sandarkan di pundak suaminya.
Kedua orang dewasa itu saling menggenggam tangan sembari melihat ke arah barat menatap matahari yang akan terbenam perlahan.
(Tamat)
.
.
****
****
****
****
Terima kasih sudah membaca Novel ini sampai akhir. Jujur saja kalau bukan karena like dan komentar kalian sebagai penyemangat ku. Author tidak bisa sampai menyelesaikan Novel ini sampai tamat.
Like, Komentar, Vote dan hadiah yang kalian berikan sangat berarti bagi author. Author berterima kasih banyak atas segala macam dukungan yang kalian berikan.
Author ingin menjelaskan definisi "Menikahi Pria Gila" di sini menurut pandangan saya,
Menikahi Pria Gila karena harta seperti Tuan Bram.
Menikahi Pria Gila karena ambisi seperti Sony.
Menikahi Pria Gila karena tekanan batin seperti Firo.
Menikahi Pria Gila karena Si Joni seperti Shaka.
Dalam cerita ini, Di mohon lebih bijak dalam menanggapinya, Ambil sisi positifnya dan buang sisi negatifnya. Semoga para reader semua di beri kesehatan dan keberkahan yang berlimpah. Amiiin.
Author juga ingin menyampaikan banyak permintaan maaf kalau ada sebagian kata-kata yang ada di novel ini menyinggung pembaca. Author tidak bermaksud menyudutkan atau menyamakan pihak manapun. Novel ini murni dibuat karena kehaluan Author.
Untuk terakhir kalinya, Author meminta dengan sangat! komentar, Kritik saran dari kalian sebagai bentuk apresiasi terhadap karya author yang masih receh ini.
Komentar apapun yang akan kalian ucapkan akan author kenang di dalam novel ini sebagai bentuk penyemangat author.
Terima kasih semuanya...
Sampai jumpa di karya selanjutnya...
Salam hangat.
Afsheen.