
Malam yang semakin dingin di tambah hujan yang begitu derasnya menambah hasrat mencari kehangatan begitu alamiah.
Firo masih bergumul di selimutnya sambil memeluk erat istrinya. Ia kembali tersenyum setelah melewati malam yang panjang di rumah mertuanya.
Bagaimana tidak menolak saat istrinya memancingnya membuat hasrat alaminya harus di keluarkan malam itu.
Medina tertidur sangat nyenyak di sampingnya. Istrinya tertidur sangat nyenyak ketika mereka telah selesai menyatukan calon benih cinta mereka. Seakan sudah di beri suntikan obat tidur baru sepuluh menit berlalu Medina tertidur sangat nyenyak sekali.
Firo masih memandangi lekat wajah istri yang sudah dinikahinya sejak enam bulan yang lalu.
Jari tangannya menelusuri setiap inci wajah istrinya yang putih bersih.
Kenapa dari kecil wajah teduh itu membuat dirinya begitu yakin kalau Medina adalah jodohnya.
Hidung istrinya memang tak semancung dirinya. Bahkan tubuhnya yang kurus masih sama seperti awal Firo menikahinya. Hanya saja di bagian tubuh tertentu Medina terlihat sedikit berisi. Bagian tubuh kesukaan suaminya.
Firo tak sedikitpun memikirkan wanita lain selain istrinya. Hanya cukup satu istrinya yang membuat dia tertarik. Bahkan dari awal Firo tak peduli kalaupun istrinya tak mencintainya. Cukup Medina di sampingnya itu sudah cukup membuatnya seperti di cintai.
"Aku tak peduli walaupun tak ada anak di pernikahan kita, Asalkan kamu selalu menemaniku sampai kapanpun, honey" ucapnya sebelum Medina tertidur.
"Aku ingin menua bersamamu," ucapnya lagi, Begitu tulus sambil membelai rambut hitam istrinya.
Lama kelamaan istrinya terlelap.
Firo kembali memeluk erat tubuh Medina agar tak kedinginan. Kelopak matanya perlahan menutup di barengi hujan yang mulai mereda.
***
"Tak bisakah acaranya di undur lagi," ucap Syerli di sebelah suaminya.
"Walaupun di undur tetap saja aku akan menikahinya," sahut Sony.
Mata Syerli yang membengkak gara-gara terlalu banyak menangis membuat wajahnya tak secerah biasanya. Biasanya Syerli tak lepas dari kosmetik dan baju mewah yang melekat di tubuhnya. Tetapi hari ini ia tampak kusut dengan baju yang belum ia ganti dari semalam.
Syerli tak sempat mengganti baju. Matanya yang sudah sangat berat sehabis menangis membuatnya terlelap begitu saja. Di dalam hatinya sudah tak memikirkan bagaimana penampilannya sekarang.
"Apa kamu yakin wanita itu akan meminta bercerai denganmu? Setelah anaknya lahir." tanya Syerli.
Sony merapihkan ujung dasinya,"Aku yakin karena aku tidak akan memberinya surga di rumah ini, Aku yakin lama kelamaan dia tidak tahan dan akan minta cerai," seru Sony.
"Tapi bagaimana dengan anaknya, Apa mungkin dia mau menyerahkannya?" Syerli membantu Sony merapihkan dasinya.
"Aku akan buat dia menyerahkannya, Kamu hanya perlu bersabar sebentar." ujar Sony.
Kecupan dari suaminya mulai terasa hambar tidak semanis seperti biasanya. Besok lusa dia akan berbagi suami dengan wanita lain di rumahnya.
***
Acara pernikahan Sony dan Niky di adakan di rumah Niki.
Sudah hampir siang namun calon mempelai pria belum juga datang. Padahal pesta pernikahan sudah di gelar dari pagi. Pak Joko sengaja menggelar pesta pernikahan mereka tidak terlalu mewah hanya keluarga dekat dan tetangga sekitar saja yang mereka undang.
Niki dengan pakaian kebayanya duduk di tepi kasur menunggu calon suaminya yang belum juga datang. Medina mencoba menelepon berkali-kali Sekretaris Andre agar mereka cepat datang ke pernikahan adiknya. Karena semua sudah bersiap di ruang tengah.
Firo dan Niko terlihat lebih akrab dari biasanya. Mereka duduk di luar sambil menunggu kedatangan calon mempelai laki-laki. Berkali-kali Niko melihat jam tangannya, Niko begitu kesal karena Sony nampak mempermainkan mereka.
Setelah menunggu lama akhirnya Sony bersama Tuan Bram serta sekretaris Andre sampai juga di rumahnya.
Setengah jam kemudian,
Akad nikah telah selesai kini Niki telah sah menjadi istrinya. Tuan Bram tidak bisa berlama-lama di sana. Setelah mengucapkan selamat kepada kedua mempelai Tuan Bram bersama Sekretaris Andre pamit pulang. Hanya ada Sony dan dua pengawalnya yang berada di rumah Pak Joko.
Sony yang duduk di sebelah Niki raut wajahnya sangat datar sekali. Jangankan untuk berfoto sekedar untuk tersenyum saja bibirnya sangat rapat sekali seperti sudah terkunci.
"Kapan acara ini selesai? " tanya Sony kepada Niki.
"Paling sore hari," sahut Niki.
"Aku tidak bisa berlama-lama di sini. Sebaiknya kita cepat pulang sekarang!" ucap Sony.
"Pulang!" mata Niki membulat.
"Iya pulang ke rumahku. Bukankah sekarang kamu sudah menjadi istriku," ujar Sony lagi.
"Tapi tidak sekarang, " ujar Niki.
"Setelah selesai sore ini kita harus cepat pulang, " ujar Sony di sebelah Niki.
Niki mengangguk pelan.
Kedua pengawal Sony masih berdiri tidak jauh dari tempat duduk tuannya. Niko melihat ke arah Sony dengan sangat muak.
Akhirnya acara selesai. Niki langsung mengemasi barang barangnya untuk di bawa ke rumah Tuan Bram. Bu Sari berkali kali mengeluarkan air mata seakan tidak ikhlas anaknya meninggalkannya.
"Bu aku pamit dulu ya, Niki harus ikut suami Niki" ucap Niki.
Bu Sari memeluk erat anaknya.
"Nak, titip Niki adikmu. Tolong jaga dia, " ucap Bu Sari kepada Medina.
Medina juga akan pulang kerumahnya bersama Firo.
"Ya, bu! Aku pasti menjaganya" ucap Medina memeluk ibunya.
"Aku juga akan menjaganya, " ucap Firo yang berdiri di samping Medina.
"Terima kasih, Nak"
"Ibu tidak tahu kalau tidak ada kalian. Ibu pasti akan sangat khawatir, " ucap Bu Sari lagi.
"Ibu tidak perlu khawatir, " seru Medina menenangkan ibunya.
Dari kejauhan Sony sudah menunggu Niki di depan mobilnya. Dua orang pengawal selalu ada di sebelahnya.
"Niki," ucap Sony memanggilnya.
"Yah, "
"Aku tidak punya banyak waktu," ujar Sony lagi dari kejauhan.
"Ya sebentar, " sahut Niki.
Niko menghampiri Sony yang sedang berdiri di depan mobilnya.
"Tidak bisakah kamu tidak berteriak seperti itu," ujar Niko.
Sony menoleh ke arah Niko.
"Aku peringatkan padamu, Kalau tidak melihat adik ku. Sudah ku pastikan sudah ku bunuh kamu hari ini. Sekali saja kamu melukai adik ku, Aku tidak akan tinggal diam." ucap Niko kepada Sony. Telunjuknya ia arahkan tepat di muka Sony.
Sony membersihkan bekas tangan Niko yang menempel di bajunya. Dia tersenyum mendengar ucapan itu.
" Iya kakak ipar," ucap Sony sambil tersenyum meledek.
"Aku tidak takut, sekalipun kamu adalah orang kaya. Aku masih ingat saat kamu memukuliku. Aku tidak akan melupakan itu." ucap Niko kepada Sony menarik kerah bajunya.
Kedua pengawal yang ada di samping Sony menarik tangan Niko agar tidak melukai tuannya.
"Lepaskan aku, " Teriak Niko.
Niko mencoba melepas tangannya.
"Apa yang kamu lakukan dengan adikku?" tiba-tiba Firo mendatangi mereka.
Kedua pengawal lalu melepaskan tangan Niko.
"Berani-beraninya kalian tidak sopan di rumah ini.Ingat kalian hanya tamu di sini." ucap Firo tegas.
Sony tersenyum menanggapi.
Sudah mulai berani kamu. Batin Sony.
Firo lalu mendekati Sony dan berbisik di telinganya.
"Aku sudah tahu siapa sebenarnya orang yang meracuni tamu di hotel ku," ucap Firo di telinga Sony.
"Aku akan membuatnya mati karena perbuatannya,"
Firo menatap tajam mata Sony.