
Alamat rumah pria tua yang diberikan Bu Sari ternyata berada di luar kota. Firo sendiri yang akan menemuinya langsung, Ia terpaksa harus meninggalkan Medina sementara di rumah.
"Jangan ke mana-mana sebelum aku pulang, Honey!" itu pesan Firo kepadanya.
"Baiklah, Tapi ijinkan aku keluar sekali ini saja untuk membeli perlengkapan bayi kita bersama Lela dan Agung, Setelah itu aku janji tidak akan kemanapun," seru Medina berjanji kepada Firo.
"Tidak bisakah ditunda sebentar sampai aku pulang," ujar Firo.
"Aku takutnya kelamaan, Sayang. Lagipula hanya sebentar. Aku janji!" ucap Medina dengan muka memelas.
Sebenarnya Firo ragu memberi ijin istrinya untuk keluar. Namun karena Medina terus merengek kepadanya, Firo terpaksa menyetujui.
"Baiklah, Tapi ingat! Jangan terlalu lama di luar, Honey. Sebelum malam pokoknya kalian harus ada di rumah!" tegas Firo.
Medina mengangguk tanda setuju, Ia sangat senang akhirnya suaminya memberinya ijin keluar untuk membeli perlengkapan bayi yang akan di belinya bersama Lela dan Agung. Sebenarnya Nyonya Vika bisa membelinya sendiri. Namun ibu hamil itu bersikeras tetap ingin memilih sendiri perlengkapan untuk bayinya.
"Jaga diri baik-baik ya, Sayang!" Firo mengecup perut istrinya yang sudah membesar, "Papa pergi dulu ya," tambahnya.
Dengan berat hati Firo meninggalkan istrinya, Ia berjalan menuju pintu depan mobil. Sementara Medina masih terus melihatnya.
"Tunggu," celetuk Medina menghentikan langkah suaminya, "Sayang, Apa kamu hanya berpamitan dengan anakmu saja." Medina mengerucutkan bibirnya.
Firo mengerutkan keningnya, "Bukankah tadi aku sudah berpamitan."
"Sepertinya masih ada yang ketinggalan," ucap Medina masih cemberut.
Firo berhenti sejenak sebelum masuk ke dalam mobil sambil berpikir, "Tidak ada yang perlu aku bawa. Jadi tidak ada yang ketinggalan, Honey"
Aish. Kenapa kamu tidak bisa romantis seperti yang ada di film. Gerutu Medina.
"Baiklah, Pergilah!" rajuk Medina.
Firo segera membuka pintu mobil, Namun sebelum masuk Firo masih melihat muka Medina yang di tekuk.
Kenapa hati wanita sulit di tebak? batin Firo.
Firo kembali menutup pintu mobilnya dan berlari mendekati istrinya lagi. Tanpa pikir panjang dengan lembut Firo memegang leher istrinya lalu perlahan ******* bibirnya.
Tak ada malunya di siang bolong itu Firo ******* habis bibir merah muda itu cukup lama. Bahkan Firo tak memperdulikan posisi mereka sedang ada di luar. Beruntung tidak ada orang yang melihatnya karena masih berada di halaman rumah mereka.
"Apa begini caranya berpamitan denganmu, Honey" Firo menatap mata istrinya sambil menautkan bibir mereka, Kali ini lebih lama lagi.
Sebenarnya bukan itu yang Medina mau. Ia hanya ingin dikecup keningnya. Tapi suaminya malah mengartikan lain.
"Kalau masih ada yang ketinggalan aku akan menundanya besok, Honey" bisik Firo tangannya beralih ke tempat yang lain.
Meskipun bukan kali pertama, Wajah Medina begitu memerah mendapati kelakuan suaminya.
"Sayang, cukup! Sudah tidak ada yang ketinggalan," sahut Medina melepas tangan Firo di area kegemaran suaminya.
Padahal mereka baru saja melakukannya pagi tadi. Tapi melihat kelakuan istrinya, Firo begitu tergoda ingin menunda kepergiannya dan kembali lagi ke arena pertempuran mereka.
"Kalau begitu aku pergi dulu, Jaga dirimu baik baik ya, Honey" ucap Firo sambil mengecup kening istrinya.
"Hati-hati dijalan ya, Sayang" sahut Medina sembari mencium punggung tangan suaminya.
Padahal kepergian Firo hanya beberapa hari. Namun sepertinya Medina begitu berat melepas kepergian suaminya. Sambil mengelus perutnya satu tangannya melambai ke arah mobil suaminya yang sudah melaju.
***
Setelah menunggu beberapa menit sore itu Medina bersama Lela diantar Agung menuju pusat perbelanjaan. Hari ini pertama kalinya Medina pergi sendiri tanpa didampingi suaminya.
Nyonya Vika sedang berada di gudang onlinenya yang ada di indonesia. Nyonya Vika sedang mengurusi barang-barang yang baru datang dari luar negri. Biasanya Firo yang membantunya, Namun karena Firo ada urusan keluar kota terpaksa Ny.Vika sendiri yang mengurusinya.
Merek bertiga sudah sampai di pusat pembelanjaan yang terbesar di kota itu. Di sana menjual beraneka ragam produk termasuk semua kelengkapan bayi yang mereka cari.
Begitu memasuki area baby and kids, Medina begitu antusias memilih barang apa saja yang akan di belinya. Bersama Lela ia memilih semuanya. Sementara Agung yang merasa sakit di perutnya masih berada di toilet basement.
Mereka berdua sudah memasuki area Baby and Kids.
"Non, sepertinya ini akan diperlukan," ucap Lela menunjuk baby stroller berwarna biru.
Medina mengangguk setuju dengan Lela, setelah memilih stroller mereka lalu memilih kasur bayi dan beberapa perlengkapan lainnya. Seperti baju bayi, selimut bahkan sampai kaus kaki bayi ia sudah siapkan semuanya. Barang-barang yang di beli Medina semuanya bernuansa biru.
"Mba, pesanannya silahkan di cek kembali" seorang karyawan memanggil Lela untuk mengecek kembali barang belanjaan yang akan dikirim ke rumahnya.
"Non, Aku memeriksa barang-barang dulu sebentar ya," ucap Lela kepada Medina.
Suasana toko sangat ramai, Suara Lela tidak terlalu terdengar di telinga Medina. Ditambah lagi ia sedang asik memilih beberapa model jumpsuit yang terlihat lucu itu.
Karena tidak ada jawaban, Lela akhirnya meninggalkan Medina. Lagipula menurut Lela ia hanya pergi sebentar mengecek barang yang sudah dibelinya.
Lima menit kemudian,
"Kalau yang ini bagus yang man-?"
Medina belum selesai mengucapkan kata-katanya dia baru sadar kalau Lela tidak ada di sebelahnya.
Kemana perginya Lela? Apa mungkin dia sedang berada di toilet. Pikir Medina.
Medina kembali memilih barang-barang lagi sambil terus melihat catatan yang di berikan ibunya. Catatan barang apa saja yang dibutuhkannya.
Sudah hampir setengah jam Lela tak segera kembali sementara hari sudah hampir mendekati malam. Medina tidak mau sampai malam ia masih disitu.
Medina bertanya kepada karyawan menanyakan Lela, Namun berkali-kali mereka tetap saja menjawab tidak tahu. Medina pikir mungkin Lela sudah ada di basement bawah menemui Agung duluan.
Medina tidak tau kalau Lela sedang dikurung di dalam toilet wanita.
Setelah membayar, Akhirnya Medina memutuskan untuk kembali ke mobil yang ada di basement seorang diri. Sementara barang-barang yang sudah di belinya ia tinggal karena akan dikirim langsung ke alamat rumahnya.
Medina melangkah ke ruangan yang berisi puluhan mobil yang berjejer rapih. Suasana basement terasa sepi saat itu. Medina berjalan mecari mobil yang di parkirnya. Dengan perut buncitnya ia berjalan seorang diri sambil terus memeganginya. Medina tidak tau kalau Agung sedang menyusulnya kedalam.
Tiba-tiba,
Sebelum ia sampai ke mobil, Sebuah tangan menariknya dan dengan cepat membekap mulutnya. Mata Medina membulat sempurna mendapati dirinya sudah dikungkung oleh seorang pria yang menutup mukanya dengan masker.
"Tol... " Medina mencoba berteriak.
Medina mencoba melepaskan tangan itu, Namun tenaganya tak cukup kuat. Bahkan untuk berteriak minta tolong pun ia tak bisa karena tangan itu menutupi mulutnya dengan rapat.
Pria dengan penutup muka itu menarik tubuhnya memasuki sebuah mobil. Medina dengan kondisi hamilnya ditarik dengan cepat masuk kedalamnya. Rupanya di dalam mobil itu sudah ada satu orang yang sedang memegang kemudi dengan penutup muka yang sama.
Sesaat kemudian mobil yang membawa Medina langsung melaju dengan cepat meninggalkan area parkir basement.
###
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.