
"Siapa yang menelepon mu, Gung?" tanya Medina mendekati Agung.
"Tadi Tuan Sony yang meneleponku, Nona" sahutnya.
Medina sangat bosan sekali berada di rumah itu, terlebih lagi ia hanya di rumah.
Sebenarnya Medina ingin kabur dari rumah itu. Namun dia masih ingin mencari informasi dari Sony.
Agung selalu di dekatnya. Membuat ruang geraknya terbatas.
Medina tidak ingin kembali ke rumah Tuan Bram. Ia tidak mau melihat lagi pembunuh ayahnya ada di depan matanya.
Rasa bencinya kepada Tuan Bram sedikit membuat perasaanya sedikit pudar kepada Firo.
Bagaimana mungkin aku mengandung cucu dari seorang pembunuh ayahku sendiri.
Masih terngiang di ingatannya detik-detik ayahnya dibunuh. Itu yang membuatnya tidak melupakannya sekarang. Hampir dua puluh tahun ia amnesia. Ternyata orang yang serumah dengannya adalah musuh besarnya.
"Aku sangat bosan di sini, bisakah kita keluar sebentar, Gung" ucap Medina.
"Jangan, Nona! Tuan Sony akan marah besar kepadaku kalau sampai Nona keluar rumah, bahkan hanya di halaman sekalipun," ujar Agung mendekati Medina.
Medina terdiam sesaat.
"Kenapa tidak boleh, padahal aku hanya ingin pergi berkebun saja," Medina meruncingkan ujung bibirnya.
"Sebaiknya Nona bicara langsung saja kepada Tuan Sony agar memberi Nona ijin keluar," ucap Agung, "Aku tidak berani membantah perintah tuan, Nona" tambahnya.
Medina masih terus berfikir.
"Baiklah akan ku coba," sahut Medina.
Aku ingin sekali mencari ibuku, setelah aku menemui ibuku aku juga ingin menemui mu, sayang! Kamu tidak tahu kan aku sedang mengandung anakmu?.
Medina mengelus perutnya yang masih rata.
Dia sangat bahagia atas kehamilannya. Walaupun ia merasa sedih ketika tahu kenyataannya, Firo adalah anak dari pembunuh ayahnya.
Aku ingin tahu bagaimana reaksi mu mendengar kalau aku hamil, sayang.
Medina kembali bergumam sambil melihat cincin pemberian suaminya sambil tersenyum sendiri.
***
Sony merasa lega karena mobil di depannya tidak menuju ke tempatnya.
Mobil yang di kendarai Shaka berbalik arah tepat di pertigaan.
Dengan senyum sumringah Sony menuju tempat tinggal sementaranya.
Kalian tidak akan menemukanku, Bodoh! umpatnya.
Sony memarkirkan mobilnya tepat di depan halaman rumahnya.
Dengan begitu santai ia berjalan menuju pintu depan. Sony sengaja mengunci pintu rumahnya agar Medina dan Agung tak bisa keluar rumah ketika ia pergi.
"Istriku, ini pesanan yang kamu inginkan," ucap Sony menunjukan dua bungkus makanan cepat saji di tangannya.
Cuihh! ingin sekali aku meludahinya. Batin Medina.
Medina menoleh. Rasanya ia ingin sekali menyudahi permainan rumah-rumahan mereka. Dia seakan sedang terperangkap di jebakan tikus.
Besok aku akan mencari tahu keberadaan ibuku. Aku tidak peduli! aku ingin cepat keluar dari rumah ini.
"Apa kau senang, istriku? Kalau begitu cepat makanlah!" ucap Sony menyerahkan dua kantong kepada Agung.
"Agung, berikan kepada Nona muda mu,"
"Baik, Tuan" Agung mengambil dua kantong itu lalu menaruhnya di atas piring.
"Nona, makanlah! mumpung masih hangat," ujar Agung sembari menyediakan makanan di atas piring.
Medina mengambil satu piring dan menaruhnya di atas meja.
"Cepat habiskan! setelah ini datanglah ke kamarku," ucap Sony duduk di sebelahnya.
"Aku sangat merindukanmu, istriku" tangannya ia sapukan ke pipi Medina.
Singkirkan tanganmu dari pipiku, Lelaki sialan! batin Medina.
Rasanya Medina ingin sekali menampar pemilik tangan itu.
Berani-beraninya kamu menyentuhku! gumam Medina.
Posisinya benar-benar sangat di rugikan. Di sisi lain ia ingin sekali kabur hari itu juga. Di sisi lain ia ingin mencari informasi dari Sony.
Aku tidak ingin berlama-lama disini, sepertinya malam ini aku harus mencari cara agar keluar dari rumah ini!
Ketika tangan itu mulai menyentuh bagian dadanya. Medina segera menepis dengan lembut tangan itu.
"Suamiku, aku mau makan. Tolong jangan ganggu dulu" ucap Medina.
Medina sedikit merasa lega ketika tangan itu menjauh.
"Baiklah sekarang aku tidak mengganggumu, Tapi malam nanti aku ingin bersamamu. Aku sangat merindukanmu, Istriku!" bisiknya di telinga Medina.
Mendengar itu Medina sangat ketakutan.
Ternyata ia sedang masuk ke dalam lobang buaya. Berkali-kali ia terlihat berfikir sambil terus mengunyah makanan di depannya.
Melihat ekspresi Medina, Sony tersenyum licik.
"Apa kamu mau makan?" tanya Medina begitu manis.
"Untuk kamu saja, istriku. Karena siang ini kamu harus mengisi energimu untuk malam nanti," bisik Sony, pelan.
"Makan yang banyak, istriku" Sony mengusap rambut Medina.
"Uhuk.. huk," Medina tersedak ketika Sony menyentuh rambutnya.
"Agung, berikan segelas minum kepada Nona muda," ucap Sony lalu meninggalkan Medina.
"Baik, Tuan" dengan langkah cepat ia mengambil minuman, lalu memberinya kepada Medina.
Sony akhirnya masuk ke kamarnya. Medina sedikit merasa tenang karena Sony sudah tidak ada di sebelah.
Medina menenggak habis minuman yang dikasih Agung kepadanya. Setelah itu memasuki kamarnya.
Raut muka Medina mendadak begitu pucat karena di bayangi kata-kata Sony di kepalanya.
Nanti malam aku ingin bersamamu. Nanti malam aku ingin bersamamu.
Nanti malam aku ingin bersamamu.
Oh Tuhan! apa yang harus aku lakukan? batin Medina merenung di dalam kamarnya.
Jangankan tidur dengannya. Di sentuh pipinya pun Medina merasa jijik kepada Sony.
Medina terus berjalan mondar-mandir di kamarnya sambil memikirkan rencana apa yang akan di lakukan.
***
Malam hari pun tiba,
Medina menatap langit kamarnya begitu sangat gelisah. Berbaring ke kiri lalu ke kanan, kemudian ke kiri lagi. Hanya itu yang ia lakukan dari tadi.
Kreekkk.
Suara pintu terbuka perlahan, terdengar sangat menakutkan melebihi adegan dalam film horor.
"Istriku," ucap Sony.
Mata Medina terbelalak sempurna seakan sedang melihat setan. Tangannya mulai meremas sprei di kasurnya.
"Ya Tuhan, tolong aku" batinnya.
Sony berjalan mendekat ke arahnya. Dengan tatapan seakan ingin menerkam. Lebih seram dari pada harimau atau sejenisnya.
Bau parfum Sony begitu sangat menyengat di hidungnya. Terasa begitu mual.
"Suamiku, bau parfum mu membuat perutku mual." ujar Medina menutup lobang hidungnya.
Namun Sony tak menggubris. Ia terus mendekat ke arah Medina.
"Bukankah kata dokter kita tidak boleh berhubungan dulu," ucap Medina pelan dalam posisi duduk sambil memundurkan tubuhnya ke belakang.
Statusnya sedang dalam kondisi waspada.
"Tadi siang aku bertanya kepada Dokter lain, kalau wanita hamil muda boleh di sentuh asalkan dengan hati-hati," Sony terus mendekatinya merangkak di kasur mendekati Medina yang semakin mundur ke belakang.
"Bukankah seorang istri harus melayani suaminya?" ucap Sony mengedipkan sebelah matanya.
Medina menarik nafasnya panjang. Lelaki di depannya benar-benar begitu dekat sekarang. Bahkan nafasnya sudah terasa di wajahnya. Medina memalingkan wajahnya ke kiri.
Sony dengan sangat kasar menyentuh dagu Medina.
"Istri yang baik tidak akan menolak ajakan suaminya," mata Sony membulat sempurna menambah suasana mencekam di kamar itu.
Sony dengan paksa membuka kancing baju milik Medina dengan kasar. Beruntungnya malam itu Medina memakai baju lagi di dalamnya.
Tak ada kelembutan sedikitpun. Sony meraih tubuh Medina hendak menindihnya.
Medina memejamkan matanya.
Dan,
PRANNGGGGGG
Tepat sasaran!!!
Medina berhasil memukul kepala Sony dengan vas bunga di sebelahnya sebelum lelaki itu dengan buas menerkamnya.
Medina sudah menyiapkan semuanya.
"Keparat!!" teriak Sony sambil memegang kepalanya yang berdarah. Pandangannya sedikit kabur.
Sony masih lengah belum terlalu sadar. Dengan cepat Medina menarik satu tangan Sony ke tiang ranjang.
Di tangannya sudah memegang borgol yang ia persiapkan di dalam saku bajunya.
Dengan gerakan sangat cepat Medina memborgol tangan Sony di tiang ranjang.
Dengan tersenyum menang Medina menjauhi Sony yang terborgol tangannya di tiang ranjang. Sony bagaikan hewan di dalam kandang.
Borgol itu adalah miliknya sendiri.
Sony lalu mencari kunci borgol itu di sakunya.
Darimana jala** itu menemukannya. batin Sony marah.
Medina berdiri mendekati pintu sambil tersenyum.
"Apa kamu mencari ini, suami palsuku?"
Medina menunjukan kunci borgol yang tergantung di tangannya.
"Wanita licik," teriak Sony.