
"Apa sekarang aku sedang bermimpi," ucap Ny.Vika mengusap air matanya.
"Tidak, anda tidak bermimpi, Ibu" Shaka mendekati Ny.Vika lalu memeluknya.
"Shaka," Ny.Vika balas memeluk Shaka yang sudah seperti anaknya sendiri.
"Bagaimana kabarmu, Nak? Sudah lama kau tidak kemari" ujar Ny.Vika.
"Kabar aku baik, Apa ibu sangat senang hari ini? Aku baru tahu kalau Medina adalah anak ibu yang menghilang dua puluh tahun yang lalu," ucap Shaka.
Hari ini Ny.Vika begitu sangat bahagia. Rencananya hari ini ia akan bekerja namun karena kedatangan putrinya yang tak terduga, Semua pekerjaannya ia serahkan kepada bawahannya.
"Aku sangat bahagia hari ini. Terima kasih sudah membawa putriku kesini," ujar Ny.Vika masih meneteskan air mata.
Pandangan Ny.Vika kini teralihkan ketika melihat Firo yang dari tadi diam mematung.
Firo tersenyum, lalu mendekati Ny.Vika. Dengan sangat sopan Firo langsung mencium punggung tangan Ny.Vika.
"Dia suamiku, Bu" ucap Medina kepada ibunya.
"Siapa namamu nak? Wajahmu sangat tampan sekali" ucap Ny.Vika sambil memegang dagu Firo.
"Namaku, Firo. Bu" ucap Firo memperkenalkan diri.
"Firo! Nama yang tidak asing!" ucap Ny.Vika, "Terima kasih sudah memilih anakku sebagai istrimu, Kelihatannya kamu anak yang baik," tambahnya sambil memeluk menantunya. Pelukan seorang ibu yang begitu hangat.
Firo sangat senang mendengar ucapan mertuanya, "Terima kasih juga, Bu. Sudah melahirkan Medina," ucap Firo.
"Medina!"
"Ya, nama pemberian ibu angkat aku, Bu" ucap Medina tersenyum.
Nyonya Vika memeluk Medina lagi, "Nama yang bagus," ucapnya sambil mengecup kening anaknya.
"Sebaiknya kita sarapan dulu ke atas. Kebetulan ibu dan Lela sudah memasak,"
Sebenarnya ia ingin berlama-lama melepas rindunya. Namun ia tahu mereka pasti sedang kelaparan. Ny.Vika lalu mengajak mereka bertiga ke atas untuk sarapan pagi.
Mereka berempat sudah duduk berhadapan di meja makan.
Lela sudah tidak ketakutan lagi begitu mendengar Medina adalah anak majikannya yang sudah lama menghilang. Lela menyajikan beberapa makanan di meja.
Nyonya Vika tak henti-hentinya memandangi wajah anaknya. Ingin sekali ia memeluk anaknya lagi seperti saat kecil dulu. Rasa rindunya masih belum terobati. Begitupun Medina. Firo di sebelah Medina masih terlihat canggung sambil memakan sarapannya. Berbeda dengan Shaka yang makan dengan sangat lahapnya.
Banyak pertanyaan yang akan ia tanyakan kepada anaknya. Namun untuk saat ini ia membiarkan mereka untuk menghabiskan makanannya dulu.
Setelah selesai makan, Mereka dibawa ke ruang tengah. Shaka dan Firo merasa tidak enak hati mengganggu mereka berdua yang sedang melepas kerinduan. Kebetulan juga Agung yang ia tinggal di rumah sakit sendirian. Mereka berdua akhirnya pamit akan pergi menemui Agung di rumah sakit.
Sebenarnya Ny.Vika sempat melarang mereka untuk pergi. Pasalnya mereka baru sampai di rumahnya. Namun mereka beralasan ingin menemui Agung. Kerena ada sesuatu yang harus Firo tanyakan.
Karena alasan itu akhirnya Ny.Vika membolehkan mereka pergi.
"Hati-hati di jalan," ucap Ny.Vika ketika mereka berdua berpamitan.
Setelah mengecup kening istrinya, Firo berjalan keluar bersama Shaka menuju rumah sakit.
Ada banyak pertanyaan yang akan Firo tanyakan kepada Agung.
***
Bahkan kalau ini hanya bermimpi. Aku rela tidur seumur hidup. Batin Ny.Vika.
Medina pun tak kalah. Sekarang ia seperti hidup kembali ketika bertahun-tahun ia mati suri karena amnesia. Ibunya sudah menceritakan kalau adiknya "Shinta" sudah meninggal satu tahun yang lalu.
"Katakan pada ibu, Bagaimana ceritanya kamu bisa selamat, Nak!" Nyonya Vika sudah siap mendengar cerita anaknya.
Medina duduk di pangkuan ibunya yang terus membelai rambutnya. Ia memperlakukan Medina seperti saat kecil dulu. Nyonya Vika juga baru tahu kalau anaknya sedang hamil. Kebahagiaannya kali ini berlipat ganda.
Medina menceritakan semuanya dari awal. Ketika dia kecelakaan. Dan ketika ia terbangun sudah berada di rumah seseorang.
Sudah hampir satu pack tisu dihabiskan Ny.Vika untuk mengusap air matanya. Dan lebih terkagetnya lagi ternyata rumor yang menyatakan suaminya bunuh diri itu salah. Ternyata suaminya meninggal karena di bunuh.
Hatinya begitu sakit begitu mendengar putrinya mengatakan kalau suaminya meninggal karena di bunuh di depan anaknya. Hal itu yang membuatnya sangat sakit.
Pembunuhnya begitu sangat kejam bisa-bisanya membunuhnya di depan anakku yang masih kecil. batin Ny.Vika.
Bertahun-tahun keluarganya menanggung malu karena cibiran negatif masyarakat terhadap keluarganya. Hari ini akhirnya terungkap juga.
"Aku mengandung cucu pembunuh ayah, Bu... " ucap Medina membenamkan wajahnya di paha ibunya. Ia tidak sanggup mengatakannya. Begitu sangat menyakitkan ketika mengucapkannya.
Kata-kata Medina bagai petir di siang bolong. Ny.Vika yang sedang berbahagia harus mendengarkan kenyataan pahit yang di ucapkan anaknya.
Untung saja Ny.Vika tak mengidap penyakit jantung. Kalau tidak mungkin sekarang dia sudah tak sadarkan diri. Berkali kali Ny.Vika memegang dadanya sambil mengusap lembut rambut anaknya.
***
Dua orang berwajah tampan itu sedang berada tepat di depan Agung yang sedang berbaring. Berkali-kali kata terima kasih keluar dari mulut Firo.
Agung yang merasa hidupnya sudah berakhir waktu itu merasa sangat bersyukur ia masih bisa di selamatkan.
"Apa kamu sudah baikan, Gung?" tanya Firo.
Kemarin ia ingin bertanya banyak. Namun karena tidak memungkinkan akhirnya ia mencari waktu yang tepat. Hari ini sudah waktunya Firo tahu semuanya.
"Sudah, Tuan" Agung mulai terbiasa dengan dua orang lelaki di depannya. Baginya sekarang mereka adalah tuannya.
"Apa aku tidak keberatan kalau aku bertanya banyak, Gung?" Firo takut pertanyaannya mengganggu kondisi Agung yang baru baikan.
luka di perutnya memang parah namun otaknya masih bisa berpikir dan menjawab pertanyaan Firo.
Shaka duduk tidak jauh dari Firo di ruangan itu. Hanya duduk sambil terus memperhatikan mereka berdua.
"Bisakah kau beritahu padaku bagaimana kamu bertemu dengan istriku?" tanya Firo.
Agung yang berbaring langsung duduk bersandar di tepi kasur. Ia masih memegang perutnya yang masih berasa nyeri.
Dari awal sampai terakhir Agung menceritakan awal pertemuan ia dengan Medina. Awalnya Agung sempat takut dengan Firo. Pasalnya ia takut kebawa masalah karena Sony adalah tuannya.
Firo yang mendengar di sebelahnya harus menahan amarahnya berkali-kali ketika mendengarkan cerita Agung. Shaka yang tadinya duduk menjauh memegang bahu Firo agar dia bisa menahan emosinya.
Firo begitu sangat marah ketika mendengar cerita Agung. Istrinya sampai berpura-pura hilang ingatan dan menjadi istri pura-pura Sony. Ia begitu geram dengan Sony. Ingin rasanya ia menghabisi iblis itu.
"Bajingan itu pasti masih hidup!" Firo mengepalkan tangannya keras.