
Firo merenung sejenak, Berkelebat di benaknya bayangan sosok ayahnya ketika kecil memenuhi pikirannya. Ya, hanya saat itu ia begitu dekat dengan ayahnya. Firo merasa bersalah tak bisa menolongnya sekarang. Dia terduduk di lantai menunggu kedatangan Tuan Bram yang akan dieksekusi malam ini.
Sudah dua jam menunggu, Sosok ayahnya baru muncul berdiri di depannya dengan tangan terborgol di dampingi petugas Lapasa, "Jangan bersedih, Aku sudah ikhlas menerimanya," seru Tuan Bram pelan.
Wajah Firo mendongak keatas, Matanya yang sembab karena terlalu benyak mengeluarkan air mata menatap sayu ke arah ayahnya, "Daddy, Maafkan aku!" sahut Firo memeluk tubuh ayahnya sambil berlutut, "Harusnya aku tidak melaporkanmu, Daddy! Maafkan aku" ucap Firo dengan suara parau.
Tuan Bram mengangkat bahu anaknya dengan pelan, "Bangun, Nak! Jangan bersedih. Setiap yang bersalah pasti akan menerima hukuman yang setimpal, Entah itu di dunia maupun di akhirat," tutur Tuan Bram.
Kedua pria itu saling berpelukan untuk terakhir kalinya. Kali ini Firo tak mampu menahan air matanya. Ia tumpahkan tepat di atas bahu ayahnya, "Terima kasih sudah menjadi ayahku! Terima kasih sudah menjaga aku sampai sebesar ini, Daddy. Aku tidak akan membencimu lagi"
Tinggal beberapa jam lagi eksekusi mati akan di lakukan. Tuan Bram yang awalnya gelisah kini mulai tenang kembali. Pria tua ini sudah siap nyawanya di habisi hari ini, "Jaga semua keluargamu, Firo" ucap Tuan Bram untuk terakhir kalinya, "Aku sudah tenang meninggalkan kalian semua"
Hampir sepuluh menitan Firo memeluk ayahnya. Baginya ia sudah tidak memperdulikan petugas yang dari tadi memperhatikan mereka, "Aku berjanji akan menjaga mereka, Daddy"
Sudah tiga hari ini Firo berada di pulau Nusakamba bersama anak dan istrinya. Tiga hari juga, Firo menjenguk ayahnya di Lapasa. Sengaja ia menyewa sebuah rumah di pulau itu agar bisa menemani ayahnya di tiga hari terakhirnya.
Sebelum Tuan Bram di eksekusi, sebelumnya regu eksekutor telah menghabisi satu orang terpidana mati lainnya. Bahkan ketika sakit pun terpidana mati itu tetap di eksekusi malam ini juga. Satu jam lagi tiba gilirannya, Tuan Bram akan di giring ke lapangan tembak yang jaraknya tidak jauh dari lapasa.
Petugas Polisi menarik pelan tubuh Tuan Bram dari pelukan anaknya. Tuan Bram cukup tenang, Ia berjalan pelan menjauhi Firo yang mencoba menahan tubuhnya.
"Pak! Aku mohon pertimbangkan lagi hukuman mati untuk ayahku, Jangan lakukan sekarang!" pinta Firo memohon kepada salah satu petugas Lapasa.
"Tuan! Saya hanya pelaksana, Maaf! Anda harus bisa melepaskan dengan ikhlas ayah anda," ucap seorang petugas Lapasa menenangkan Firo.
Tuan Bram digiring keluar didampingi beberapa petugas kepolisian bersenjata lengkap memasuki sebuah mobil, Menuju tempat eksekusi. Firo yang berusaha menahan tubuh ayahnya, Di dorong ke belakang agar menjauhi Tuan Bram, "Anda tidak bisa ikut bersama kami!" seru salah satu regu eksekutor.
Firo yang mencoba memohon kepada polisi terus di dorong mundur hingga terjatuh. Sebegitu besar kesalahan Tuan Bram kepada dirinya, tetap saja ia belum siap menerima ayahnya di eksekusi malam ini.
Di luar sudah banyak berkumpul beberapa media, Wartawan dan petugas kepolisian bersenjata lengkap tengah berjaga. Beberapa anggota keluarga terpidana mati tengah berkumpul di luar, Termasuk Shaka yang berdiri menenangkan ibunya yang sedang menangis. Medina ikut menemani Firo, Ia berdiri di luar sambil menggendong Drago yang tengah tidur di pundaknya.
Untuk terakhir kalinya Tuan Bram memberikan senyum terhangat sekaligus senyum perpisahan terhadap keluarganya yang sedang menunggu di luar. Satu persatu mereka bergantian memeluk Tuan Bram. Drago yang tengah tertidur mendadak bangun karena pelukan dari Tuan Bram.
Tuan Bram mencium kening anak lelaki itu, "Kakek pamit pergi, Drago. Tolong jaga Drago, Mey"
Medina mengangguk sambil menahan Drago yang mencoba turun dari gendongannya yang ingin mengejar kakeknya, Tuan Bram.
"Kakek, mau kemana? Drago mau ikut kakek" ucap Drago merengek ingin turun, "Mah, turunkan Drago, Aku mau ikut kakek"
Drago menangis ketika Tuan Bram melepaskan tangan mungilnya. Ia melambai ke arah Firo, Shaka, Nyonya Stella dan Medina yang tak berhenti mengeluarkan air mata.
"Jangan ikut, Nak. Biarkan kakek menuju surga dengan tenang!" ucap Medina kepada Drago memeluk tubuh kecil anaknya.
Firo yang masih belum percaya masih mencoba meminta pembatalan eksekusi terhadap ayahnya,
Sayangnya seberapa kerasnya Firo memohon, Tetap saja hukuman mati untuk Tuan Bram dilakukan malam ini. Shaka yang melihat saudaranya berlutut sambil memohon, Berlari mengangkat tubuh itu agar berdiri, "Firo, Kita harus ikhlas!" ucap Shaka membangunkan Firo.
Tuan Bram telah memasuki mobil menuju tempat eksekusi dengan di dampingi satu rohaniawan dan beberapa petugas kepolisian bersenjata lengkap. Tuan Bram begitu kuat menghadapi detik-detik terakhirnya di dunia ini.
Sebelum sampai ke tempat eksekusi, Tuan Bram sudah ditenangkan seorang pemuka agama di dalam mobil. Tuan Bram sudah siap seratus persen kalau malam ini adalah satu jam terakhirnya di dunia.
Shaka menaiki mobil yang sama bersama Firo dan Medina menuju tempat eksekusi, Mobil mereka berjalan beriringan dengan mobil jenazah yang akan di tempati Tuan Bram kelak ketika meninggal.
Bunyi sirine mobil ambulan berhenti bertepatan dengan sampainya mereka di tempat Tuan Bram akan di eksekusi mati. Mereka hanya bisa menunggu sampai di depan.
Dengan langkah gontai, Firo turun dari mobil yang dikendarai Shaka. Pria itu kemudian berlari menuju tempat yang sekarang tengah ramai dengan polisi dan wartawan.
Rupanya Tuan Bram telah masuk kedalam tempat dilakukan eksekusi. Tuan Bram berkali-kali menarik nafas panjangnya agar ia bisa yakin dan tenang meninggalkan dunia ini. Sekelebat kenangan indahnya di dunia ini bersama anak dan istrinya. Tuan Bram teringat kenangan bersama Fira, Istrinya yang ia bunuh dan Jovan sahabatnya.
Fira, Jovan. Aku akan menyusul kalian sekarang. Aku yakin kalian sudah tenang, Nyawa dibalas dengan nyawa. Aku sudah ikhlas kalau sekarang akhir dari dunia ku. Tunggu aku.. Fira.. Jovan.
Sebelum Tuan Bram memasuki lapangan tembak, Kepalanya menatap ke langit, Berdoa kepada Tuhan sambil terus menenangkan pikirannya yang mulai gelisah. Dadanya yang dari tadi tenang mendadak bergemuruh setelah salah satu petugas akan menutupkan kain penutup kepala kepadanya.
Tubuhnya bersih dan wangi sebelum di eksekusi, Tuan Bram sudah mempersiapkan tubuhnya agar terlihat bersih ketika meninggal nanti. Ia juga sudah memberikan wasiat kepada Firo, kelak ia ingin dikuburkan bersebelahan dengan mantan istrinya.
Deg.. deg.. deg...
Setenang apapun dirinya, Tuan Bram tetap merasa takut ketika kakinya berjalan memasuki lapangan Tembak yang sudah dipersiapkan sebagai saksi bisu kematiannya. Tanpa terasa buliran air mata keluar dari sudut matanya. Tubuhnya sedikit bergetar, Pasrah dan lemas, Kakinya seakan sudah tak sanggup menopang tubuhnya.
Apa yang telah kita tanam, Itulah yang akan kita tuai. Seperti itu pribahasa yang menggambarkan Tuan Bram saat ini. Ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya karena dengan sengaja membunuh istri dan sahabatnya. Alasan apapun tidak ada yang membenarkan seorang Tuan Bram, seorang pengedar sekaligus penanam daun ganja.
Tuan Bram yang sudah tertutup matanya tengah berdiri di tengah, Tangannya yang semakin melemas sedang dikaitkan ke sebuah tiang. Tuan Bram terus berdoa di dalam hati, Sambil terus mengatur nafasnya.
###
.
.
.
Mohon maaf kalau Eksekusi Tuan Bram disini tidak sesuai atau mirip dengan Eksekusi mati di dunia nyata. Author tidak bermaksud menyinggung atau menyamakan pihak manapun. Karya ini di buat murni dari kehaluan Author.
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.
Terima kasih.