Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Bunuh Aku!


"Apakah kamu tau, Aku selalu iri denganmu. Bramantyo sengaja membuat gila kamu agar ketua kami tak memilih kamu menjadi penerusnya. Dengan gilanya kamu, Ayahmu berniat mencari pengganti penerusnya dengan menjadikan aku generasi berikutnya. Aku sangat benci, Kenapa dia menjadikan aku anak angkat dari kecil hanya ingin mendidik ku menjadi seorang penjahat seperti ini"


Sony yang sangat murka menendang tubuh Firo hingga terjatuh kelantai bersama dengan kursi tempat ia terikat.


Firo menahan rasa sakit ditubuhnya. Kini rasa sakit itu berubah menjadi sangat perih di sekujur tubuhnya. Firo sedikit terenyuh dengan perkataan Sony barusan. Namun ia tetap tidak mempercayai perkataan Sony. Yang ia tau, Ayahnya sangat jahat karena sudah membunuh ibunya dan ayah Medina.


"Aku selalu iri denganmu ketika, Bram menjadikan kamu menjadi pewaris seluruh bisnis Resort dan aset yang lainnya sementara ayahmu hanya mewariskan aku bisnis haram ini! Kenapa? Apa karena aku bukan anaknya?"


Berulang kali Shaka menendang habis tubuh Firo yang tergeletak dilantai. Sekarang tidak hanya wajahnya yang berdarah. Bahkan Tangan dan kakinya yang tergores besi mulai meneteskan darah. Keringat dan darah menjadi satu ditubuhnya.


Saat Firo dinyatakan gila karena depresi, Tuan Bram sengaja mengangkat anak untuk menjadi pengganti dirinya kelak. Ia tidak mau darah dagingnya mengikuti jejaknya dan sengaja membuat Firo menjadi gila. Saat itu usia Sony baru berumur delapan tahun. Sony yang sudah tidak memiliki orang tua dari kecil, ia jadikan anak angkat.


Tuan Bram sengaja mencari anak yang memiliki tabiat seperti dirinya. Saat Sony kecil ia sering terlibat perkelahian dengan temannya di panti asuhan. Tuan Bram begitu sangat yakin memilih Sony karena ia memiliki jiwa psikopat seperti dirinya.


Lambat laun Sony bisa menyerap beberapa ilmu yang diberikan Tuan Bram. Ia tidak hanya bertangan dingin, tetapi juga kejam. Dibawa didikan Ketua Mafia langsung membuat Sony tumbuh menjadi psikopat yang sangat kejam. Saat usia sepuluh tahun Sony sudah diajarkan untuk membunuh.


"Lalu apa mau mu? Bukan kah aku juga cukup menderita karena ayahku!" lirih Firo. Ia tidak bisa bergerak sedikitpun karena tangan dan kakinya masih terikat.


"Kamu lebih beruntung daripada aku. Ayahmu selalu melindungi dirimu dari ketua Mafia yang ingin menjadikan kamu seperti dirinya. Aku tidak pernah sedikitpun dianggap ayahmu!" Sony terduduk didepan Firo yang terbaring tidak berdaya.


Ada rasa iba di hati Firo melihat raut muka Sony.


"Kenapa kamu tidak membunuh ayahku, Bukankah kamu membencinya?" ucap Firo pelan.


"Ha... ha.. ha" Sony tertawa keras, "Sebentar lagi aku juga akan membunuhnya! Apa kamu senang dengan kelakuanku?"


"Jadi bagaimana apa kamu mau bergabung denganku?" tanya Sony lembut membangunkan Firo agar kembali duduk.


***


Di Terowongan.


"Aku membunuh Jovan karena dendam ku kepada orang tuanya. Mereka tidak memberiku pinjaman uang untuk biaya pengobatan adikku. Padahal mereka adalah orang yang mampu. Jovan adalah temanku, Tapi tak pernah menolong aku disaat kesusahan. Mereka membiarkan kedua adikku mati karena sakit"


Medina masih mendengarkan Tuan Bram sembari menahan rasa mulas di perutnya.


"Maafkan aku, Mey. Aku sangat menyesal! Karena dendam membutakan mata hatiku," sesal Tuan Bram, "Setelah ini kamu boleh hukum aku semau mu!"


Tuan Bram menceritakan semuanya kepada Medina. Alasan kenapa ia membunuh Jovan dan Fira, Tuan Bram juga memberitahu Medina alasan ia membuat gila Firo karena semata-mata ingin melindunginya.


"Sekarang pergilah! berjalanlah sampai ke ujung terowongan ini. Orang suruhan ku sedang menuju kemari. Aku harus menyelamatkan Firo dari amukan Sony," ucap Tuan Bram menyuruh Medina cepat keluar.


"Apa?" Medina terkaget mendengar Firo ada di dalam bersama Sony.


"Dimana suamiku?" Medina tidak tau kalau Firo sedang disekap di dalam, "Kenapa dengan suamiku?" teriak Medina merasa khawatir.


"Tenanglah! Daddy akan segera menolongnya sekarang" sahut Tuan Bram.


Medina mencoba berdiri sambil memegang perutnya. Melihat Medina seperti sedang menahan rasa sakit. Tuan Bram terlihat sangat iba kepadanya.


"Kenapa denganmu, Nak? Cairan apa ini?" tanya Tuan Bram memegang cairan bening dilantai.


Medina menggeleng tidak tau. Ia tidak mengerti kenapa cairan bening itu keluar dari tubuhnya. Bahkan dress yang ia pakai sudah basah di bagian bawahnya.


Medina tidak menjawab, "Tolong selamatkan Firo di dalam!" lirih Medina ia tidak memperdulikan dirinya sekarang.


"Jangan-jangan kamu mau lahiran!" ucap Tuan Bram, "Kalau begitu kita cepat keluar dari sini."


Medina menggeleng, "Aku tidak apa! Tolong cepat selamatkan Firo di dalam!" pinta Medina sambil menangis. Ia takut terjadi apa-apa dengan Firo.


"Tapi.. "


Tuan Bram sempat bingung ketika harus memilih antara menyelamatkan Firo atau membawa Medina pergi dari sana.


Namun karena Medina selalu memintanya pergi menyelamatkan Firo. Akhirnya Tuan Bram meninggalkan Medina didalam terowongan.


"Tunggulah disini sebentar, Nak!" ucap Tuan Bram sambil berlari.


***


Di ruangan pembantaian.


"Uhk, Kamu harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan mu!" ucap Firo pelan sambil batuk, Tenggorokannya begitu sangat sakit.


"Sepertinya kamu sedang kehausan! Kalau begitu kamu akan aku beri minuman yang biasa kamu minum!" ucap Sony.


Sony lalu mengambil beberapa serbuk ganja di kantongnya dan ia campurkan kedalam gelas berisi air.


Gelas itu sudah ditangannya sekarang yang akan ia berikan kepada Firo.


"Minumlah, Kamu pasti kehausan!" Sony memegang dengan kasar dagu Firo agar ia membuka mulutnya.


Firo yang memejamkan matanya tetap menutup mulutnya.


"Buka mulutmu, Atau aku sobek dengan pisau ini!" Sony mengarahkan pisau tepat di depan Firo.


"Buka!!! " teriak Sony begitu keras.


Tapi sebelum Sony membuka paksa mulut Firo.


Tiba-tiba dari pintu seseorang menembak kaki Sony.


Dor.


Sebuah peluru tepat mengenai kaki kanan Sony. Air yang ada di dalam gelas langsung tumpah ke wajah Firo.


Prank


Sony langsung ambruk ke lantai bersamaan dengan pecahnya gelas yang ia pegang.


Melihat Sony ambruk pria itu langsung berlari dan menjauhkan Firo dari Sony.


Firo lalu menggerakkan wajahnya agar air yang tumpah tidak mengganggu pandangannya. Mata Firo yang Bengkak membuatnya perlahan demi perlahan membukanya. Dilihatnya dengan samar siapa orang yang sudah menolongnya.


Sekarang orang yang menembak Sony sudah ada di hadapannya dan segera melepas kaki dan tangan Firo yang terikat.


"Kenapa kamu menolongku?" Dengan kondisi babak belur seperti itu Firo masih saja tidak bisa menahan emosinya ketika mengetahui orang didepannya adalah orang yang ia benci.


Ditariknya pria yang menolongnya, Dengan keras Firo mendorong tubuh pria tua itu ke lantai. Selemah apapun tubuhnya, Tetap saja dia begitu sangat marah dengannya.


"Kenapa kamu tidak membunuhku saja sekarang?"


Dengan langkah gontai Firo lalu mengambil pisau yang tergeletak di sebelah Sony.


"Firo," ucap Pria itu pelan sambil menangis, "Maafkan aku!" tambahnya.


Firo mendekati tubuh pria tua yang ia dorong ke lantai. Di tangannya sudah ada pisau milik Sony yang ia ambil.


"Kalau kamu tak mau membunuhku? Aku akan membunuh mu sekarang!"