Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Niky dan Sony


Niky memencet no telepon berkali-kali yang akhir-akhir ini sangat susah dia di hubungi.


"Kemana aja si kamu.. hiks.. hiks"


gerutu Niky sambil menangis.


Setelah berpuluh-puluh panggilan akhirnya teleponnya terjawab.


"Bisakah kamu tak menghubungiku dulu, aku sedang ada keperluan"


Sony menanggapi telepon Niki seperti tidak suka.


"Sayang bisakah sepulang sekolah kamu menemui ku sekarang?" Dengan suara parau Niki menelpon kekasihnya Sony.


"Aku tidak bisa sayang, aku kan sudah bilang kepadamu kalau keluargaku mengirim ku keluar negri untuk keperluan bisnis di luar negri," ucap Sony di telepon.


"Ada yang harus aku omongin, itu sangat penting! Bisakah kau kembali untukku sekarang?" Pinta Niki memelas.


"Bicara saja lewat telepon sayang, Aku benar-benar tidak punya waktu!" seru Sony.


"Aku.... "


Niky menangis tertahan di dalam toilet sekolahnya takut siswa lain mendengarnya.


"Bicaralah sekarang ada apa denganmu?" tegas Sony dalam telepon.


Air mata Niky tak bisa berhenti ketika dia melihat tes pack di tangannya menunjukan dua garis merah. Dia tidak tahu harus berbuat apa dia bingung akan bagaimana nantinya bilang kepada orang tuanya. Dia berharap Sony cepat menikahinya.


"A....ku ha....mil anakmu" Niky berbicara sambil terbata.


"Apa kamu bilang?"


"Aku hamil, kamu pernah berjanji padaku kalau kamu akan bertanggung jawab dan menikahi ku kalau terjadi apa-apa denganku!" tegas Niky sambil terisak.


"Aku tidak bisa kembali sekarang. Orang tuaku pasti tidak akan mengijinkannya," ucap Sony di telepon.


"Lalu bagaimana dengan aku dan anakmu? Bilang saja sama orang tuamu, kalau aku mengandung cucunya, pasti dia akan mengerti" Mohon Niky sambil menangis.


"Tidak semudah itu sayang, Baiklah kamu tenang saja, untuk sementara ini aku tidak bisa kembali. Kamu tunggu saja, Setelah urusanku selesai aku akan meyakinkan orang tuaku dulu ya sayang, Percayalah padaku!" rayu Sony.


"Sampai kapan aku menunggunya, hiks..."


"Aku akan mengabari mu lagi. Maaf sayang aku tidak bisa berlama-lama aku lagi banyak kerjaan"


Tiba-tiba telepon di matikan oleh Sony. Niki sangat kesal dengan perlakuan Sony dia memencet tombol hendak menghubungi lagi. Tapi sial telepon Sony malah tidak aktif.


Niki semakin menangis menjadi di dalam toilet.


***


Di rumah utama,


"Sayang tadi siapa yang telepon?" tanya Syerli kepada suaminya karena wajahnya terlihat gugup .


"Ah, itu tadi yang telepon rekan bisnisku sayang katanya ada klien yang ingin bertemu denganku," jawab Sony sekenanya.


"Apa mereka menyuruhmu kembali ke kantor?" Syerli memanyunkan bibirnya tanda tidak senang.


"Betul sayang, Mereka menyuruh aku kembali. Tapi demi kamu aku batalkan semua perjanjian dengan klien" Sony berusaha merayu Syerli agar tidak cemberut.


"Kalau begitu apa kita jadi jalan-jalan ke mall?" tanya Syerli .


"Tentu, Sayang. Tidak mungkin aku mengingkari janji denganmu,"


Dengan menaiki mobil mewah mereka berjalan menuju mall tempat biasa mereka menghabiskan uang.


Ciiiiiiittttt.


Tiba-tiba mobil mengerem mendadak karena ada sepeda motor yang menyenggol mobilnya.


Sony dan Syerli langsung keluar dari mobil mengecek mobilnya, dan benar saja mobilnya terkena goresan sepeda motor.


"Kalau nyetir pakai mata goblok!" Sony memarahi pengendara sepeda motor yang tak sengaja menggores mobilnya. Sony menarik kerah bajunya.


"Maaf, Tuan! Aku tidak sengaja. Aku terburu-buru karena anakku yang masih balita sedang menunggu sendirian di rumah," ucap lelaki pengendara motor itu takut.


"Aku tidak peduli! Kalau semua pengendara seperti kamu, bisa-bisa rusak mobil aku di tabrak orang seperti kamu," cetus Syerli menambahi.


"Kamu tidak tahu berapa harga servis mobil untuk mengganti goresan ini Hah! Bahkan kalau kamu bekerja setahun pun belum tentu bisa mendapatkannya." Sony hendak menonjok muka pengendara itu.


"Maafkan aku, Tuan!" Pengendara itu menutup mukanya karena takut di tonjok beneran.


"Sepertinya memang kamu, tidak sengaja. Baiklah aku akan memaafkan mu" Sony buru-buru langsung membawa Syerli masuk lagi ke mobilnya agar tidak bertemu dengan Niki.


"Tapi, Sayang" Syerli sangat bingung dengan kelakuan suaminya.


"Ah, Sudahlah kasian anaknya sedang menunggu di rumah, Ayo sayang" Sony menarik tangan Syerli memasuki mobil.


Mereka kembali masuk ke mobil, sementara Syerli masih bingung melihat kelakuan suaminya yang mendadak berubah.


Sony menarik nafas panjang, setelah itu dia mulai menyetir lagi mobilnya.


"Sayang kenapa kamu tiba-tiba baik terhadap pengendara itu. Jelas-jelas dia bersalah," ucap Syerli di dalam mobil.


"Sayang bukan begitu, Ketika aku mendengar anaknya sendirian di rumah, aku merasa kasian terhadapnya." Sony menggenggam tangan Syerli dengan tangan kirinya berusaha meyakinkan Syerli agar tidak curiga.


"Kamu begitu baik sekali sayang," puji Syerli.


Sony tersenyum menanggapi.


Syerli tidak mengetahui hubungan terlarang Sony dengan Niki, Bahkan Niki pun tidak mengetahui bahwa Sony adalah kakak ipar kakaknya.


Untung saja Tadi Niki tidak melihatku. Hampir saja aku ketahuan. Batin Sony dalam hatinya.


***


Sudah hampir tengah hari Medina tidak melihat Firo, Dia tahu dimana harus mencari Firo.


"Sudah aku duga kamu pasti berada di sini," ucap Medina yang melihat Firo sedang memasak di ruang bawah.


"Apa kamu sudah makan?" tanya Firo.


Medina menggeleng.


"Kenapa kamu tak keluar, apa kamu marah padaku?" tanya Medina mendekati Firo.


"Aku cuman malas keluar!"


Aku tidak bisa berlama-lama marah denganmu. Batin Firo.


Medina memandangi wajah Firo ketika memasak. Hari ini tampaknya tidak seperti kemarin malam pikirnya.


"Aku bantu kamu memasak ya," Medina mengambil pisau mulai memotong sayuran di depannya.


Biasanya Bi inah yang memasak untuknya, tetapi karena Bi inah ijin libur, akhirnya Firo sendiri yang memasak.


Medina memang tidak pandai dalam memasak. Dari kecil Medina lebih senang menjaga kedua adiknya daripada membantu ibunya di dapur.


"Aduh!"


Tiba-tiba karena terlalu banyak melamun jari Medina tergores pisau hingga membuatnya berdarah.


Firo yang sedang Fokus memasak, menghentikan kegiatannya.


"Kenapa dengan jarimu, Honey?"


"Ah tidak papa, cuman sedikit tergores" Medina berusaha menyembunyikan jarinya.


"Tidak papa tapi darahmu menetes ke mana-mana" Firo kemudian menarik tangan Medina, tanpa pikir panjang Firo langsung memasukan jari Medina ke mulutnya. Darah yang keluar dirasa Firo di mulutnya.


"Kata ibuku, kalau kita tergores pisau kita bisa gunakan cara ini agar darah cepat berhenti," ucap Firo.


Setelah itu Firo mengambil plester dan membalut luka di jari Medina.


"Sekarang darahnya sudah berhenti. Sebaiknya kamu duduk saja, Biar aku sendiri saja yang masak"


Firo menarik kursi agar Medina tidak usah membantunya.


Medina akhirnya menurut.


Kenapa aku tidak bisa mencintai dia, padahal dia sangat baik sekali. Batin Medina.


Sepuluh menit kemudian.


"Makanannya sudah matang, Honey"


Firo menyiapkan makanan di meja makan. Medina tidak berhenti memperhatikan Firo.


Firo terlihat sangat cekatan dan mandiri berbeda dengan Medina yang sering bertindak ceroboh.


Mereka mulai melakukan kegiatan makan siangnya bersama.