
Sehari sebelum hari pernikahan.
"Tuan Muda, Ada yang bisa aku bantu untuk persiapan besok," Sekretaris Karan mendatangi Shaka yang dari tadi duduk termenung melihat ke arahnya terus.
Shaka hanya diam tak menanggapi.
"Tuan, Apa anda sedang tidak sakit?" ucap Sekretaris Karan lagi menggoyangkan telapak tangannya ke muka Shaka.
"Tidak perlu, Mommy sudah mempersiapkan semuanya," ucap Shaka.
"Kalau begitu, Aku pamit undur diri, Tuan!" sahut Sekretaris Karan.
Sebelum Sekretaris Karan keluar, Shaka menghentikannya.
"Ayah," ucap Shaka pelan.
Ucapan Shaka barusan membuat langkah kakinya terhenti di bibir pintu.
Sekretaris Karan mencoba mempertajam pendengarannya, Kalau yang di dengarnya itu benar.
"Ayah," sekali lagi ia mendengar ada yang memanggilnya ayah.
Sekretaris Karan menoleh memastikan yang memanggilnya adalah Shaka, Majikannya.
"Aku yang memanggilmu...Ayah" ucap Shaka lagi.
Shaka sudah berdiri di hadapan Sekretaris Karan yang masih terbengong. Tangannya gemetar saat Shaka mengucapakan kata ayah kepadanya.
Dua orang ayah dan anak itu saling menatap. Wajah mereka memang berbeda karena wajah Shaka mirip seperti ibunya, Nyonya Stella.
"Shaka," wajah Sekretaris Karan mendadak berseri. Terlukis senyum di bibirnya.
"Bolehkah aku memeluk mu, Ayah?" tanya Shaka.
"Bukankah kamu tidak suka aku peluk dari kecil?" ujar Sekretaris Karan. Ia tau betul kalau dari kecil Shaka selalu risih dipeluk olehnya.
"Kalau begitu, Bolehkah aku memanggilmu, Ayah?" tanya Shaka lagi.
"Tuan," ucap Sekretaris Karan.
"Ayah, panggil aku semau mu. Seperti waktu aku kecil dulu, Tapi tolong jangan panggil aku, Tuan."
"Aku sudah tau semuanya, Ayah" tegas Shaka.
Sekretaris Karan lalu merentangkan tangannya, "Peluk aku kalau kamu sudah tau semuanya,"
Dalam sekejap Shaka lalu memeluknya sesaat, Setelah itu Shaka lalu memukulkan tangan Sekretaris Karan ke pipinya, "Lihatlah aku sudah besar ayah, Besok aku akan menikah. Jadi berhentilah mengikuti ku!"
Sekretaris Karan menepuk kedua pipi Shaka seperti saat kecil dulu kalau ia nakal.
"Sepertinya benar kamu sudah besar. Aku baru menyadarinya sekarang!" Sekretaris Karan memandang tubuh anaknya yang lebih tinggi dan besar darinya.
Dari baru lahir, Sekretaris Karan lah yang dari pagi sampai malam menjaga Shaka sampai sudah sebesar ini.
"Carilah kebahagiaan mu sendiri ayah, Jangan pikirkan aku!" Shaka menepuk dada ayahnya.
Sekretaris Karan hanya tersenyum menanggapi.
"Jadilah ayah yang baik untuk anak-anak mu kelak!" ucap Sekretaris Karan memegang bahu anaknya.
***
Hari ini semuanya mendadak sibuk. Yang paling sibuk adalah Nyonya Stella. Hari ini adalah hari pernikahan anaknya, Shaka.
Shaka sudah bangun pagi sebelum matahari terbit. Walaupun bukan pernikahan yang diinginkannya, Shaka masih menghargai usaha ibunya yang begitu antusias mempersiapkan acara untuknya.
"Shaka, Cepatlah! Kita harus tiba di gereja tepat pada waktunya. Sekarang sudah pukul tujuh pagi," ucap Nyonya Stella merapihkan jas nikah yang dipakai Shaka. Pria itu sangat terlihat tampan sekali hari ini.
Di tempat lain, Firo dan Medina sudah mempersiapkan diri untuk datang ke acara pernikahan Shaka. Mereka memang berbeda keyakinan dari kecil. Demi menghormati Shaka, Mereka rela datang ke gereja tempat acara pemberkatan pernikahan Shaka.
***
Di rumah Geya,
Tok.. tok.. tok..
Tok.. tok.. tok..
Suara ketukan kembali terdengar. Kini lebih keras lagi.
Karena tak ada sahutan akhirnya, Nyonya Sam terpaksa memakai kunci cadangan untuk membuka pintu kamar itu.
Dengan di dampingi beberapa pelayan, Ny.Sam masuk kedalam kamar Geya. Mereka hendak mendandani Geya secara paksa.
"Geya, Bangun... Nak! Lihat ini sudah jam enam. Kamu masih tidur, Padahal ini adalah hari pernikahan mu," Nyonya Sam menggoyangkan tubuh anaknya agar bangun.
Geya menggeliat pura-pura masih tidur.
"Pelayan buka baju Geya, Ia harus segera mengganti bajunya dengan gaun itu!"
Atas suruhan Ny.Sam. Seluruh pelayan berada di posisi mereka masing-masing hendak mendandani paksa Geya yang sedang tertidur. Pelan-pelan mereka membuka kancing baju Geya.
Apa yang akan ibu lakukan? Batin Geya ketika kancing bajunya satu persatu di buka paksa.
"Ibu... hentikan!" teriak Geya ketika kedua pelayan hampir selsai membuka piyama yang ia kenakan.
Dengan mata masih mengantuk, Geya akhirnya bangun dari tidurnya.
Geya langsung menutup kembali piyamanya yang sudah terbuka.
"Bisakah ibu memundurkan pernikahanku? Aku masih mengantuk sekarang. Hoaem... " Geya hendak tidur lagi.
"Kalau kamu tidak cepat bangun. Pelayan akan memandikan mu di sini," ujar Ny.Sam mengancam anaknya.
Mata Geya langsung terbelalak. Bagaimana mungkin ia akan dimandikan di atas tempat tidur seperti ini.
"Jangan lakukan itu!" ucap Geya.
"Kalau begitu cepat kamu mandi, Sayang. Sebentar lagi kita bisa terlambat!" sahut Ny.Sam.
Sambil mengerucutkan bibirnya Geya pergi ke kamar mandi.
"Ingat jangan terlalu lama mandinya, Kita sudah kehabisan waktu!"
Selang beberapa menit.
Para pelayan tengah sibuk mendandani Geya. Dari tadi Geya hanya pasrah dan terus ngedumel di dalam hati.
Kenapa aku dinikahkan dengan pria kasar seperti itu. Rasanya seperti akan masuk ke dalam lobang buaya. Huft..
Geya mencoba mengatur napasnya.
"Sayang, Jangan kecewakan ayah dan ibumu. Kalau kamu berbuat kekacauan, Kamu tau sendiri kan penyakit ayahmu bisa kambuh kapan pun!" Ny.Sam duduk di sebelah Geya yang terus memanyunkan bibirnya.
"Ibu, Pria itu bicaranya sangat kasar. Apa ibu tega menjodohkan aku dengan pria seperti itu?" gerutu Geya.
"Ibu tidak tau nak, Ayahmu sendiri yang menginginkannya. Tapi menurut ibu, Shaka adalah pria yang sopan. Atau jangan-jangan kamu yang salah duluan?"
"Ingat sebentar lagi ia akan menjadi suamimu. Kami harus menurut kepadanya," ucap Ny.Sam.
Geya hanya mengiyakan apa yang diucapkan ibunya. Geya bahkan tidak bisa menolak apa yang sudah diperintahkan ayahnya kepadanya.
Satu jam kemudian Geya telah selesai dirias. Ia terlihat lain dari biasanya, Geya yang biasanya berpenampilan urakan terlihat sangat cantik hari ini dengan mengenakan gaun putihnya.
Sekarang mereka sudah sampai di Gereja tepat jam delapan pagi.
Di sana sudah berkumpul beberapa tamu undangan di luar. Diantaranya Firo dan Medina yang sedang menggendong Drago, Di samping Medina ada Ny.Vika yang duduk di sebelahnya.
Kalau bukan pernikahan Shaka, Nyonya Vika tidak mau datang ke acara yang diselenggarakan Ny.Stella, Ibunya.
Geya berjalan di dampingi Tuan Sam di sebelahnya sedang berjalan menuju mimbar.
Shaka telah lebih dulu sampai mimbar. Shaka memandangi gadis labil yang biasa ia panggil, Begitu berbeda kali ini.
Gadis itu sangat cantik sekali. Gumam Shaka.