Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Kesedihan Firo.


Polisi menduga mayat kedua orang itu adalah Sony dan Medina. Karena dilihat dari ciri keduanya yang sangat mirip.


Medina tak memiliki saudara kandung begitu juga Sony. DNA mereka tak bisa di cocokkan dengan kedua mayat itu karena tidak punya saudara sedarah yang dapat dijadikan sampel DNA.


Tidak ada laporan kehilangan orang selain dari keluarga Tuan Bram. Polisi akhirnya memutuskan bahwa kedua orang itu adalah Sony dan Medina.


Seusai penguburan semua orang terlihat sedih. Syerli yang dari semalam bersama Sony merasa begitu kehilangan suaminya. Ternyata tadi malam adalah malam terakhir ia bersama Sony. Padahal tadi malam mereka begitu menikmati penyatuan cinta mereka. Tak sampai menunggu ayam berkokok ia harus mendengar kabar bahwa suaminya dinyatakan meninggal.


Tuan Bram bersama Syerli dan Ny. Stella berada di kuburan Sony.


Berbeda dengannya, Niki yang baru sehari menikah harus di tinggal suaminya selamanya tepat di malam pengantinnya. Bukan hanya kematian suaminya, Niki juga sangat terpukul dengan kematian kakaknya.


Kedua orang tua angkat Medina datang di acara penguburan anaknya begitu pula dengan Niko adik kesayangannya. Tak henti-hentinya air mata mereka menangisi kepergian anak kesayangan mereka.


"Kenapa kakak begitu cepat meninggalkan kita," Niko yang tak pernah menangis akhirnya tak kuasa menahan air matanya. Niko yang dari tadi meraung di kuburan kakaknya berhasil ditenangkan.


"Niko, tak baik menangis sambil meraung seperti itu di kuburan kakakmu," ujar Pak Joko membantu anaknya agar bangun.


Bu Sari dan Pak Joko tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.


"Maafkan aku, Nak! yang belum bisa membahagiakan mu," sambil menangis Pak Joko mengusap batu nisan anaknya.


Niki di samping ibunya yang dari tadi masih shock tak percaya bahwa yang di depan itu adalah rumah terakhir Medina.


Padahal ada rahasia yang harus aku sampaikan kepadamu, kenapa begitu cepat sekali, Nak. kamu meninggalkan kami. batin Bu Sari.


Bu Sari sempat pingsan beberapa kali setelah mendengar kabar kematian anaknya yang begitu tragis.


Semua pembantu di rumah mereka merasa sangat bersedih. Bahkan Shaka yang dari luar kota buru-buru datang ke acara pemakaman menemani Firo yang dari tadi mematung di kuburan istrinya.


Semenjak di temukan mayat istrinya, dari tadi Firo hanya diam. Bibirnya terkatup rapat seperti terkunci. Firo berdiri mematung di tengah penguburan. Firo hanya diam sambil memandangi keluarga istrinya yang sedang menangis.


Kalau ditanya siapa yang paling bersedih sudah pasti Firo. Dia begitu sangat terpukul kehilangan belahan jiwanya. Air matanya sudah mengering pagi itu karena dari semalam ia menangisinya. Raut muka Firo begitu sangat pucat.


Entah mengapa hatinya masih begitu yakin kalau yang di kubur itu bukan istrinya.


Satu persatu orang meninggalkan tanah penguburan. Untuk pertama kalinya Firo bersama dengan Shaka berada dalam satu mobil lagi. Shaka duduk di bangku tengah mobil bersama Firo.


"Aku turut berduka cita," ucap Shaka menguatkan Firo yang dari tadi hanya diam.


Firo tak bergeming.


Shaka tau dari semalam saudaranya itu pasti belum memasukan makanan apapun di mulutnya. Terlihat dari bibir Firo yang terlihat sangat pucat.


Sebenarnya pagi itu Firo sedang demam karena air hujan semalam membuat suhu tubuhnya begitu panas namun sangat berasa dingin.


Bagi Firo sakit ditubuhnya tak begitu parah dibandingkan sakit di hatinya karena kehilangan.


Firo sengaja menguatkan tubuhnya agar dapat menyaksikan saat saat terakhir istrinya. Walaupun Firo masih tak yakin itu adalah istrinya.


"Aku punya sesuatu yang bisa membuatmu sedikit tenang," ucap Shaka menyodorkan satu toples permen kepada Firo.


Terakhir kali Shaka memberinya permen ketika kematian ibunya Firo.


Shaka tak yakin Firo akan menerimanya. Firo yang begitu pucat akhirnya meraih satu permen di toples. Shaka tak tahu Firo sedang menahan dingin di tubuhnya.


Firo mengambil permen dari tangan Shaka. Ia lalu membukanya dan memasukan ke dalam mulutnya. Firo memakan permen itu agar ia bisa menahan sedikit tubuhnya yang terasa menggigil.


"Bagaimana apa sudah berasa manis?" ucap Shaka.


Firo memejamkan matanya. Dalam pikirannya kembali teringat seperti saat ia berusia sepuluh tahun. Dengan waktu yang berbeda tetapi dengan orang yang sama. Firo mulai berhalusinasi.


Firo kemudian meraih satu permen lagi. Sudah kebiasaan Firo ketika kecil kalau sedang sedih dia selalu memakan permen. Bahkan satu toples pun bisa ia habiskan sampai pikirannya sedikit tenang.


"Kamu boleh menghabiskan semua permen ini," ujar Shaka.


Firo hanya menghabiskan tiga permen di tangannya. Tubuhnya tambah berasa dingin karena terkena AC mobilnya.


"Uhuk.. uhuk" permen itu membuatnya terbatuk.


"Terima kasih." ucap Firo singkat.


Firo masih menahan tubuhnya yang menggigil, Bibirnya sedikit bergetar saat berucap. Dari semalam ia tak mengganti bajunya yang basah terkena air hujan. Walaupun terkena matahari tadi saat penguburan tetap saja baju Firo masih sedikit lembab.


Sepertinya kamu sakit. gumam Shaka.


Shaka menyentuh kening Firo.


Panas.


"Kamu demam, kalau begitu sebaiknya kita ke rumah sakit dahulu," ujar Shaka.


Firo menggeleng.


"Pak, bawa kami ke rumah sakit dahulu," ucap Shaka kepada sopir.


Belum sempat sopir menjawab Firo sudah menyela.


"Aku tidak mau," ujarnya sedikit gemetar.


"Tapi, panas di tubuhmu sangat tinggi," ucap Shaka.


Shaka menyentuh kening Firo lagi. Namun Firo langsung menepis tangan Shaka.


"Aku bilang tidak mau," tegas Firo lagi.


Di saat seperti itu Firo masih menunjukan rasa marahnya kepada Shaka.


"Baiklah percepat lajunya pak," ujar Shaka kepada sopir.


"Baik tuan," sahut sopir.


Firo memejamkan matanya di mobil. Masih terbayang di ingatannya mengenai istrinya.


Harusnya ia sedang sarapan pagi bersama istrinya sekarang.


Di pikirannya Medina sedang tersenyum sambil menuangkan sayur ke mangkoknya.


"Sayang habiskan makanan itu kalau tidak aku akan jewer kuping mu," Kata-kata itu yang selalu di ucapkan Medina kalau dia tidak mau makan.


Tubuhnya sudah tak bisa lagi menahan rasa dingin di tubuhnya.


Bibirnya semakin bergetar hebat.


Bahkan giginya sudah mulai beradu.


Dalam keadaan itu Firo masih saja membayangi wajah istrinya yang sedang tersenyum.


Firo membalas senyuman itu.


Matanya sudah terasa sangat berat. Perlahan mata itu tertutup dengan sendirinya.


Bug.


Firo pingsan di pangkuan Shaka.