
"Terima kasih, Pak" ucap Tuan Bram kepada petugas Rutana.
"Sama-sama, Pak. Ingat pergunakan waktu berkunjung anda yang hanya 15 menit ini," sahut petugas Rutana.
Walaupun bukan orang yang diharapkannya, Tuan Bram sangat senang ketika menemui seseorang yang mengunjunginya
"Bagaimana kabar mu, Daddy?" tanya Shaka kepada Tuan Bram begitu muncul dari pintu.
Petugas Rutana lalu meninggalkan mereka keluar hanya memantau dari CCTV.
Anak yang mengunjunginya ternyata adalah Shaka. Walaupun bukan anak kandungnya, Tuan Bram sangat bahagia ada yang mengunjunginya.
Sebelum Shaka memeluknya, Tuan Bram menyetopnya. Ia tidak mau air kencing di bajunya mengenai Shaka.
"Aku baik-baik saja, Shaka" sahut Tuan Bram.
Sebenarnya kondisi Tuan Bram sedang tidak baik-baik saja melihat keadaannya sekarang yang babak belur. Belum lagi bau pesing masih tercium di tubuhnya. Bahkan Shaka sempat menduga kalau Tuan Bram tidak mandi selama seminggu karena baunya sampai menyengat di hidungnya.
"Jangan bohong, Daddy! Kenapa dengan wajahmu?" tanya Shaka. Ia mengamati wajah bonyok ayahnya.
Mereka berdua lalu duduk berhadapan di apit meja kecil di tengahnya.
Tuan Bram lalu memegang wajahnya yang babak belur.
"Aku membawakan mu makanan, Daddy" ucap Shaka.
"Terima kasih, Nak. Sudah perhatian sama Daddy yang tidak pernah perhatian dengan mu!" sahut Tuan Bram.
"Daddy juga pernah menjadi ayah yang baik buatku, Aku tidak akan melupakannya dulu saat kecil," ucap Shaka.
Shaka masih memperhatikan Tuan Bram.
"Apa polisi memukuli mu, Daddy?" tanya Shaka lagi.
Mendengar pertanyaan Shaka, Tuan Bram hanya diam saja.
Tidak hanya dari sesama tahanan di Rutana, bahkan selama proses penyelidikan polisi sering berlaku kasar bahkan memukulnya agar mengakui semua perbuatannya. Tuan Bram sudah kenyang mendapatkan pukulan selama beberapa bulan ini.
"Bagaimana kabarmu, Nak?' tanya Tuan Bram mengalihkan pembicaraan.
"Kabarku baik, Daddy. Kenapa Daddy tidak menjawab pertanyaan ku tadi?" Shaka masih memperhatikan wajah ayahnya. Shaka tidak mengetahui kalau Tuan Bram bukan ayah kandungnya
"Sudahlah Shaka, Kalau kamu menanyakan apa aku dipukuli di sini. Jawabannya iya, Tapi aku tidak peduli karena itu memang resiko yang harus aku terima," ujar Tuan Bram.
Shaka memandang iba ayahnya, "Kenapa Daddy harus melakukan hal itu! Aku tidak menyangka kalau Daddy sama saja dengan mereka! Bahkan Daddy tega-teganya membunuh ibu,"
Tuan Bram kembali terdiam.
"Maafkan aku, Shaka! Aku benar-benar Khilaf!" ujar Tuan Bram menyesal.
Dari wajah Tuan Bram, Shaka melihat wajah penyesalan pada dirinya.
Shaka menghela nafasnya.
"Aku sudah mengetahui semua bisnis yang kamu lakukan, Daddy. Sekretaris Karan yang memberitahukan aku. Dia pula yang memberi informasi kepadaku ketika Firo di sekap," jelas Shaka.
Selama ini Sekretaris Karan ada di belakang Shaka. Setiap kali ada masalah dalam hidupnya, Pria tua itulah yang selalu mengawasi Shaka.
Mendengar nama itu, Tuan Bram kembali teringat siapa Sekretaris Karan sebenarnya.
"Shaka, Maafkan aku selama ini, Sebenarnya aku bukan ayah kandungmu" ucap Tuan Bram.
Mendengar pernyataan Tuan Bram, Shaka diam sejenak.
"Apa?"
"Apa maksud dari ucapan mu, Daddy?" Shaka masih tak percaya.
Dari kecil Shaka memang tidak terlalu dekat dengan Tuan Bram. Bahkan Shaka lebih dekat dengan Sekretaris Karan dibanding Tuan Bram.
"Kamu bukan anak kandungku, Shaka" ucap Tuan Bram lagi.
Kali ini ucapan Tuan Bram terdengar lebih keras. Shaka yakin kalau ia tak salah dengar.
"Kalau kamu bukan ayah kandungku? Lalu siapa ayah kandung ku sebenarnya?" Shaka mendekatkan wajahnya di hadapan Tuan Bram.
"Ayah kandungmu adalah Sekretaris Karan," ucap Tuan Bram pelan.
Deg.
Shaka lalu memundurkan kursinya.
"Demi melindungi mu, Ia rela tidak menikah seumur agar bisa terus mengawasi mu. Dari Sekretaris Karan aku sadar kalau aku juga punya seorang putra yang harus aku lindungi. Ketua mafia sudah mengincar kalian berdua agar kalian ikut bersama kami, Ayahmu tidak mau kamu ikut terlibat bersama bisnis haram kami," ucap Tuan Bram.
"Daddy," Shaka terdiam sesaat mencerna kata-kata Tuan Bram.
"Kalau iya, Kenapa baru sekarang Daddy mengatakannya. Kenapa tidak dari dulu bilang semua padaku?" Shaka masih tak percaya.
Tuan Bram mendekati Shaka, "Ayahmu sendiri yang melarang ku!"
"Apa karena alasan itu aku dibawa keluar negeri?" tanya Shaka.
Tuan Bram mengangguk.
"Ya, Sekretaris Karan sengaja menjauhkan kamu dari aku," sahut Tuan Bram.
Shaka diam sejenak.
Konyol! Batinnya.
Dari dulu ia menduga ibunya yang telah mengirimnya keluar negri, Ternyata bukan.
"Jangan benci ayahmu, Shaka! Dia melakukan itu bukan tanpa alasan," ucap Tuan Bram memegang pundak Shaka.
Shaka masih terdiam membayangkan bagaimana selama ini Sekretaris Karan memperlakukan dirinya layaknya anak kandung. Dari dulu ia sering memarahi pria itu agar menjauhinya. Tapi Sekretaris Karan tetap bersikeras bersamanya. Bahkan sampai sekarang Sekretaris Karan memutuskan untuk tidak menikah.
"Terima kasih Daddy, Kamu sudah memberitahukan semuanya!" ucap Shaka.
Tuan Bram mengangguk, Bagaimanapun juga Shaka harus tau semuanya.
"Daddy, Dua hari lagi aku akan menikah dengan seorang gadis yang tidak aku sukai. Apa aku harus meneruskan pernikahan bersamanya?" tanya Shaka.
Walaupun Shaka jauh dari Tuan Bram. Pria itu masih menghargai pendapat Tuan Bram. Dari kecil Sekretaris Karan mengajarkannya agar selalu sopan dan harus menghargai pendapat orang tua.
"Nak, Kalau ayahmu menyetujui. Aku pasti akan mendukungnya. Aku yakin ayahmu tidak akan salah memberimu restu," ucap Tuan Bram.
Dari dulu Tuan Bram sangat menyukai tabiat Shaka.
"Terima kasih, Daddy" sahut Shaka sambil memeluk Tuan Bram.
Shaka tak memperdulikan baju Tuan Bram yang basah dan berbau pesing.
Sebelum Shaka pamit,
"Shaka," ucap Tuan Bram.
"Ya, Daddy"
"Bisakah kamu mempertemukan aku dengan Firo?" pinta Tuan Bram.
Wajah Tuan Bram begitu memelas seakan benar-benar merindukan putranya.
"Aku akan mencoba membujuknya, Daddy"
Tuan Bram duduk terdiam.
"Beritahukan dia, Kalau sampai hakim memberikanku vonis hukuman mati, Aku ingin sekali saja menemui Firo dan cucuku. Aku ingin mengatakan kalau aku benar-benar menyayangi mereka."
Kata-kata Tuan Bram begitu dalam keluar dari dalam lubuk hatinya. Ia sangat berharap sekali saja Firo menemuinya di penjara. Setiap malam Tuan Bram selalu berdoa agar keinginannya terkabul.
Shaka menghampiri Tuan Bram.
"Daddy, Aku akan mencobanya. Aku yakin Mey juga akan memaafkan Daddy dan menyuruh Firo menemui mu," sahut Shaka.
"Terima kasih, Shaka. Semoga kebahagiaan selalu menyertai mu!" ucap Tuan Bram.
Andaikan lelaki seperti wanita yang mudah menangis dimana saja. Saat itu juga Tuan Bram akan menangis. Ia tidak mau Shaka mengetahui kalau dia begitu menyedihkan saat ini.