Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Pembunuh Jovan


Firo sudah sampai di luar kota. Saat itu juga ia langsung mencari alamat rumah pria pembunuh Jovan. Selama diperjalanan istrinya selalu mengirimi pesan kepadanya. Namun sudah setengah jam ini istrinya sudah tak mengirim lagi pesan kepadanya.


Mungkin Mey sedang kelelahan habis berbelanja. Gumam Firo.


Firo sudah sampai di depan rumah yang terlihat tak terawat. Firo memastikan sekali lagi kalau alamat yang ia tuju benar. Setelah mengetuk pintu berulang kali tak ada sahutan akhirnya Firo memberanikan diri masuk kedalamnya. Tak ada orang di ruangan depan, Firo langsung menuju kamar.


Pertama kali yang dilihat Firo setelah memasuki kamar, Adanya seorang pria yang sedang terbaring di kasur. Sepertinya pria di hadapannya sedang tertidur, Terlihat dari matanya yang tertutup.


Firo melihat seksama wajah pria yang tidur di depannya, Nampaknya sudah tidak asing bagi Firo. Pria yang sedang tertidur itu sering ia lihat dulu bersama ayahnya kemanapun.


Sepertinya benar pria ini yang aku cari! batin Firo.


Pria yang separuh tertidur itu langsung terjaga ketika mengetahui ada pria asing di rumahnya.


"Tu-tuan mu-muda" seru pria itu kaget mendapati mantan majikannya ada di dalam rumahnya.


"Kau," ucap Firo melotot kearah pria itu.


Wajah pria itu tampak pucat seperti sedang sakit dengan baju panjangnya pria itu terlihat sangat kurus tidak seperti yang dilihat Firo biasanya.


Uhuk... uhuk. Pria itu batuk.


"Katakan padaku, Apa kau yang membunuh Tuan Jovan dua puluh tahun yang lalu?" Tanpa basa-basi Firo menarik kasar baju pria itu.


Mata pria itu seketika membulat sempurna padahal ia barusan terjaga.


"Tu-tuan sudah mengetahuinya?" Bobi nama pria itu ketakutan dengan perlakuan Firo.


"Jadi benar kau orangnya!" Firo begitu geram melihat wajah pria itu.


Bug.


Sebuah bogem mentah mendarat di wajah pria yang masih duduk di kasurnya.


Tubuh pria itu langsung ambruk ke samping. Ia hanya pasrah menerima semuanya. Bahkan pria yang sedang sakit itu tak menghindari pukulan Firo sama sekali.


"Maafkan aku tuan muda, Aku hanya di suruh ayah anda untuk menghabisinya" Bobi langsung turun dari kasurnya meminta pengampunan.


Melihat itu Firo menendangnya lagi tanpa ampun tepat di dadanya, "Kamu harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan mu!"


Hoekkk.


Bobi mengeluarkan darah dari mulutnya. Rupanya Bobi adalah penderita TBC, "Aku menyesal, Tuan! Aku akan bertanggung jawab."


"Katakan apa saja yang kamu lakuin selain membunuh ayah dari istriku, Hah!" teriak Firo menarik baju pria yang sudah di tendangnya tadi, "Apa kau juga yang selama ini menaruh serbuk ganja di makananku?"


Sejak dulu Firo sudah mencurigai Bobi, Pria yang dulu pernah menjadi tangan kanan ayahnya sebelum digantikan Sony.


Pria bernama Bobi itu mengangguk, "Aku hanya dua kali melakukannya, Tuan."


Mendengar jawaban Boby, Firo menatap geram.


"Bajingan!" umpat Firo kembali memukul lagi.


Beberapa kali Firo kembali mendaratkan bogem di tubuh Boby. Kini wajah dan tubuh Boby sudah babak belur ditambah darah yang terus keluar dari mulutnya telah mengotori bajunya.


"Uhuk..Uhuk...Tuan! Ada hal yang harus aku katakan semuanya. Tolong dengarkan aku dulu." Sambil terbatuk Boby berlutut tepat di bawah kaki Firo. Ia terlihat sangat mengenaskan.


Firo menutup matanya sejenak lalu membukanya lagi, "Katakan padaku semuanya," ujar Firo merendahkan emosinya sambil duduk di tepi kasur.


Firo merasa Bobi akan mati kalau ia pukuli lagi, Sementara ia adalah tersangka sekaligus saksi kunci untuk memperkarakan kejahatan ayahnya.


"Katakan padaku siapa yang membunuh ibuku? Kau juga pasti mengetahuinya." Firo terdiam sambil terus mengingat kejadian saat ia kecil.


Bobi mengatur nafasnya sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Yang membunuh ibumu adalah...Tuan Bram sendiri, Tapi Tuan Bram pernah bercerita kepadaku kalau dia terpaksa melakukannya karena dua alasan. Pertama karena Ny.Fira sudah sakit parah, Tuan Bram hanya ingin mengakhiri penderitaan istrinya."


"Apa? penderitaan?" Mata Firo melotot sempurna.


"Iya, Tuan! Sebelum meninggal Ny.Fira mengidap penyakit komplikasi yang tidak bisa disembuhkan"


Brakk.


Firo menendang benda di sebelahnya.


"Apa harus dengan cara membunuh? Sudah aku duga ia yang melakukannya!" Tangan Firo mengepal keras. Ingin rasanya ia melampiaskan kepada Bobi namun segera ia urungkan, "Kemudian apa alasan kedua?" Firo menatap tajam ke arah Bobi.


Bobi mulai bercerita lagi.


"Tujuh belas tahun yang lalu, Ny.Fira telah mengetahui bisnis haram yang sedang dijalankan suaminya. Ny.Vira mengetahui kalau Tuan Bram tidak hanya mengedarkan ganja tapi juga memproduksi dan menanamnya. Tidak hanya tanaman ganja, Tuan Bram juga menanam beberapa tanaman beracun lainnya, salah satunya bunga aconitum dan brugmansia yang ditanam di halaman samping rumah anda."


Firo masih mendengarkan dengan seksama. Selama ini Firo terlalu cuek dengan apa yang dikerjakan ayahnya. Ia baru mengetahui kalau di halaman rumahnya terdapat tanaman haram itu, Pantas saja halaman samping tidak diperbolehkan siapapun masuk.


"Jangan berbelit-belit dengan apa ia membunuh ibuku?" teriak Firo geram.


"Nyonya Fira menyuruh Tuan Bram agar mengakhiri bisnis haramnya. Namun Tuan Bram tetap tidak mau. Karena kalau sampai ia mengakhiri bisnis haramnya, ia akan menjadi incaran dan akan dihabisi beberapa mafia yang sudah tersebar di Indonesia. Tidak hanya ia bahkan seluruh keluarga dan semua yang ikut terlibat akan dihabisi tak bersisa."


Bobi kembali meneruskan ucapannya.


"Tuan Bram menghabisi Ny.Fira dengan racun yang di ekstrak dari bunga aconitum. Alasan kedua, Tuan Bram terpaksa menghabisi Ny.Fira yang ingin melaporkannya ke polisi karena sudah membunuh temannya, Jovan."


Jadi ia menghabisi ibuku dengan cara diracun. Batin Firo


Firo yang mendengar itu begitu sakit mendengar pernyataan Bobi barusan. Hatinya seperti sedang tertusuk pedang kali ini, Sakit tapi tidak berdarah.


"Tuan muda, Sebenarnya Tuan Bram sangat menyayangi anda walaupun caranya yang salah. Ia terpaksa memberi obat penenang dan mengurung anda di dalam rumah agar ketua mafia tidak membunuh anda, Dengan alasan karena anda gila"


Firo mencerna ucapan Bobi barusan. Bagaimana mungkin seorang ayah sayang kepada anaknya tetapi melakukan hal sekeji itu. Firo tak habis pikir sambil menggelengkan kepalanya. Semuanya terungkap sudah.


Bunyi dering di handphone menghentikan lamunannya. Firo lalu mengambil handphone yang bergetar itu dari saku celananya.


Tuan, Nona Medina hilang! Aku sudah mencarinya kemana-mana tapi tidak ketemu.


Isi pesan di handphone Firo dari Agung.


Firo dengan cepat menelepon Agung.


"Cepat cari istriku kemanapun! Aku akan segera pulang!" ucap Firo ditelepon.


Dengan cepat Firo memasukan lagi Handphone di sakunya. Rahang Firo mendadak mengeras, Darahnya mendidih mendengar isi pesan itu. Yang dilakukan sekarang adalah ia harus cepat pulang dan mencari istrinya.


Ini pasti perbuatan kamu, Bram. Batin Firo.


"Ikutlah denganku! Kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu" Firo lalu menarik tubuh Bobi.


###


Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya agar author lebih semangat lagi.


Terima kasih sudah membaca.