
Shaka mendekati tubuh Firo yang terbaring di kasurnya. Begitu pingsan Shaka langsung membawanya ke kamar. Shaka begitu sangat khawatir.
Tubuhnya begitu panas, Firo terpaksa diinfus. Hampir empat jam Shaka menunggui Firo yang tak segera siuman.
Sampai Shaka ikut mengantuk tertidur disebelah Firo dengan posisi duduk. Kedua tangannya ia tekuk di depan sebagai bantal untuk ia tidur.
Perlahan kelopak mata Firo terbuka dengan sempurna. Pertama kali yang dilihat adalah Shaka yang tertidur di sebelahnya. Firo baru sadar kalau dia sudah berada di kamarnya.
Masih terasa pusing. Tangannya sudah terpasang selang infus memegang kepalanya.
Firo kemudian bangun dan duduk bersandar di ujung kasurnya. Pikirannya masih menerawang kemana-mana.
Tak begitu lama Shaka di sebelahnya ikut terbangun.
"Kamu sudah bangun?" ujar Shaka sembari mengusap mukanya. Ia lalu mendekatkan dirinya di sebelah Firo.
"Terima kasih kamu sudah membawaku ke kamar," sahut Firo.
Shaka tersenyum menanggapi.
"Apa kamu sudah merasa baikan?" tanya Shaka.
Firo tak menjawab.
"Aku tahu kamu akan berat menerima kenyataan ini," ujar Shaka.
"Aku juga pernah berada di posisi mu," ucap Shaka.
"Kalau kamu mau, aku siap mendengarkan semua beban di hatimu," seru Shaka.
Shaka tidak mau Firo kembali depresi seperti dulu.
Firo hanya diam, Saat ini dia sedang tidak ingin berbicara kepada siapapun.
"Baiklah mungkin kamu tidak bercerita sekarang, kapanpun kalau kamu ingin menceritakannya aku siap mendengarnya," ujar Shaka.
Firo meraih air minum di sebelahnya. Tenggorokannya terasa kering. Diminumnya habis air yang berada di gelas itu.
***
Gadis kecil yang berumur lima tahun sedang duduk di bangku tengah mobil ayahnya.
Wajahnya sangat imut dengan rambut yang dikepang dua. Jovan ayahnya sedang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Ayah kita mau kemana?" tanya Meysa.
"Kita akan segera pulang," ujar Jovan sambil menyetir.
"Tapi jangan terlalu ngebut ayah, aku takut" Meysa memegang erat kursi di tengah agar tubuhnya seimbang.
Mobil di belakangnya sedang mengejar mobil ayahnya. Jovan lalu menambah lagi kecepatan mobilnya.
Jovan adalah seorang yang di tuduh mengedarkan gan** dan sudah masuk daftar pencarian orang.
Kini Jovan sedang dalam pengejaran Polisi. Jovan yang sedang menjemput anaknya Meysa dari sekolah langsung bergegas mempercepat mobilnya.
Sebenarnya dia bukan pelaku sesungguhnya. Jovan di jebak oleh sahabatnya karena barang bukti ada di dalam kantornya.
"Meysa, takut ayah. Meysa ingin cepat pulang bertemu ibu dan Shinta, hiks" gadis kecil itu menangis keras.
"Iya, sebentar lagi nak! Pejamkan mata Meysa kalau Meysa takut," ucap Jovan sembari menyetir mobil.
Mobil di belakangnya tak kalah cepat. Bahkan dari belakang terdengar bunyi tembakan sebagai peringatan agar mobil Jovan segera menepi.
Jovan yang sangat ketakutan dibuat kalap dan menerjang pembatas jembatan di sebelahnya. Mobil Jovan masuk ke dalam sungai.
DUARRR...
Setelah itu Meysa sudah tak sadarkan diri.
***
Tangan Sony sudah melingkar di leher Medina. Ia ingin sekali menghabisi wanita di depannya. Sebentar lagi nyawa wanita itu akan habis di tangannya.
"Uhuk... uhuk" Medina terbangun merasa sesuatu ada yang mengganjal di lehernya.
"Si-siapa kamu?" ujar Medina.
Tangan yang kekar itu kembali ia renggangkan. Padahal sebentar lagi dia akan menghabisi satu nyawa namun ketika Medina bertanya siapa dirinya. Sony kembali melepaskan tangannya.
"Siapa kamu? kenapa aku di sini?" Medina kembali bertanya kepada lelaki di depannya.
Medina menggeleng.
Medina memegang kepalanya yang berdarah. Terasa sangat pusing yang ia rasa.
"Hmm, jangan berpura-pura! aku tak bisa di bodohi!" ujar Sony keras.
Saat kecelakaan berlangsung Sony dan Medina yang berada di dalam mobil jatuh dari atas puncak. Namun belum sampai jurang Sony berhasil selamat.
Sony yang berlumuran darah segera menarik Medina keluar. Dengan sangat cepat ia menggantikan dua orang yang ia tabrak dimasukan ke dalam mobilnya.
Sony tidak ingin tertangkap polisi setelah selamat. Ia akhirnya membakar mobilnya dan mendorong mobil itu agar jatuh ke jurang.
Sony segera membawa Medina yang pingsan menjauhi lokasi dan masuk ke dalam hutan.
"Dimana ayahku?" tanya Medina kepada Sony.
Ayah? apa maksudnya? siapa yang ia panggil ayah? batin Sony bingung.
Medina yang merasa pusing lalu duduk di atas bebatuan.
Sony terus melihat ke arah Medina yang membuatnya bingung.
"Aku ingin cepat pulang, ibu dan Shinta pasti mencari ku," ujar Medina lagi.
"Shinta? siapa shinta?" tanya Sony tambah bingung.
"Shinta adikku, apa kamu tidak mengenalnya?" sahut Medina sesekali memegang kepalanya yang pusing.
Sony terdiam, "Aku mengenalnya," ucapan itu mendadak keluar dari mulutnya.
Apa jangan-jangan wanita ini hilang ingatan. gumam Sony.
" Kalau begitu antarkan aku pulang, ibuku pasti mencari ku," ucap Medina lagi.
"Tenanglah, sebentar lagi aku akan mengantarkan mu," ucap Sony.
Darah mulai sedikit mengering di kepalanya. Dari semalam Medina tak sadarkan diri. Sony membawa Medina menjauhi lokasi masuk ke dalam hutan yang tidak jauh dari jurang.
Padahal ia bisa melemparnya ke jurang bersama dua orang yang ia masukan kedalam mobil. Namun seketika pikirannya berubah ia segera menyelamatkan Medina agar polisi tidak mencurigai bahwa ia masih hidup.
Sony segera membersihkan luka di kakinya dengan air yang mengalir di sungai itu. Cara berjalannya sedikit pincang. Di tambah mukanya yang tak berhenti meneteskan darah. Mukanya terkena serpihan kaca.
"Kenapa aku berada di sini?" berkali-kali ia mencecar pertanyaan kepada Sony.
Sony bingung harus menjawab apa. Padahal ia ingin sekali membunuh Medina lalu menguburkannya di sana. Namun karena Sony merasa Medina seperti hilang ingatan pikiran untuk membunuhnya hilang seketika.
Ada rencana lain yang sudah ada di otaknya.
Aku tak peduli walaupun kamu bersandiwara sekalipun. batin Sony.
"Tenanglah aku akan mengantarkan kamu kepada ibu dan adikmu. Tapi untuk sementara kita di sini dulu sampai stamina kita pulih," ujar Sony.
"Mukamu berdarah," tangan Medina menyentuh muka Sony yang terkena goresan kaca.
Sony lalu melihat mukanya bercermin di air sungai yang terlihat jernih. Sony terkaget biasanya Medina sangat kasar kepadanya tapi hari ini Medina mendadak menjadi wanita yang lembut.
"Sebenarnya apa yang terjadi kenapa kepalaku terasa pusing sekali," Medina memegang kepalanya.
Sony masih belum yakin. Dia masih waspada terhadap Medina.
"Tidak terjadi apa-apa kamu hanya jatuh terpeleset di sungai," seru Sony.
"Benarkah? pantas kepalaku terasa pusing," ucap Medina.
"Aku ingin pulang," ucapnya lagi.
"Kalau begitu ayo kita pulang," ajak Sony kepada Medina.
Medina mencoba bangkit di bantu Sony yang berjalan sedikit pincang.
"Tunggu," ucap Medina.
"Siapa kamu?" tanya Medina.
Pertanyaan itu membuatnya sangat kebingungan Sony tak mungkin menjelaskan kalau dia adalah musuhnya.
"Aku... aku suamimu.. memangnya kamu tak mengingatnya," ujar Sony.
Aku tak yakin kamu benar-benar hilang ingatan. Baiklah aku akan bermain bersamamu. Aku akan mengikuti cara bermain mu sampai sandiwara mu terbongkar. batin Sony.