Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Restoran Cepat Saji.


Sony melajukan mobilnya menuju restoran cepat saji yang letaknya paling ujung.


Berkali-kali ia menggerutu karena kelakuan Medina yang membuatnya seperti pria bodoh.


Rasanya aku terlihat sangat bodoh karena wanita itu! Sony memukul kemudi mobilnya.


Aku rasa dia sedang mempermainkan aku, kenapa aku sangat bodoh sekali. gerutu Sony kesal.


Sony tersenyum licik.


Bukankah aku suaminya tidak salahnya seorang suami meminta haknya malam ini. ucapnya sambil menyunggingkan senyum.


Baiklah Nona, Aku akan turuti semua permintaanmu sekarang! tapi lihatlah apa yang aku minta. Setelah ini aku akan membuktikan sendiri malam ini.Apa kamu beneran amnesia atau tidak, Nona!


***


Sementara itu tidak jauh dari mobilnya.


Sebuah mobil hitam melewatinya. Di dalam mobil itu ada Firo dan Shaka.


Padahal jarak yang ditempuhnya sangat jauh. Bahkan sudah hampir satu jam Shaka melajukan mobilnya sampai ke kampung atas.


"Apa kamu yakin kita tetap berjalan ke depan," ucap Shaka.


"Teruslah berjalan," sahut Firo.


Hatinya merasa yakin kalau jalan yang dilaluinya akan mempertemukan ia dengan istrinya.


Entah keyakinan dari mana, Firo sendiri tidak mengerti.


Shaka sudah berjanji akan menemaninya seharian ini.


"Sepertinya perutku sangat lapar, sebaiknya kita makan dulu di restoran itu," Shaka menunjuk restoran cepat saji di depannya.


Firo menuruti permintaan saudaranya. Lagi pula perutnya juga merasa lapar. Dari pagi perutnya belum menerima satu suap pun makanan masuk ke mulutnya.


Shaka berjalan bersebelahan di samping Firo.


Seorang gadis memperhatikan mereka berdua sambil meyipitkan sebelah matanya.


"Pria yang tampan," gumam gadis itu sambil melihat ke arah mereka yang sedang berjalan tak berkedip.


Shaka tak terlalu memperdulikan wanita yang menggodanya. Apalagi Firo yang tak menoleh sedikitpun.


Kedua pria dengan pakaian santai itu berjalan bersama. Dengan tinggi seratus delapan puluh centimeter Firo berjalan beriringan dengan Shaka yang tingginya tiga centimeter di bawahnya.


Kalau dilihat dari posturnya. Shaka lebih berisi dibandingkan Firo.


Shaka mempunyai badan bak binaragawan karena Shaka termasuk pria yang sangat mengatur pola makan dan rajin berolahraga.


Sebenarnya Shaka sangat anti dengan makanan cepat saji. Namun karena hanya restoran itu yang ada di dekatnya. Terpaksa Shaka harus mengisi perutnya karena dari tadi cacing di perutnya sudah berteriak minta diberi jatah.


Firo bukan pria yang kurus. Berat badannya masih dikategorikan ideal. Namun akhir-akhir ini semenjak istrinya menghilang. Firo terlihat bertambah kurus.


"Aku pesan menu paket A," ujar Shaka menunjuk sebuah gambar.


Dia menyenggol bahu Firo di sebelahnya.


"Aku ikut kamu saja," sahutnya.


Firo lalu mencari tempat duduk yang letaknya di luar. Pemandangan pegunungan membuat hatinya sedikit tenang.


Sementara Shaka berjalan menuju tempat duduk Firo dengan membawa nampan berisi tiga makanan cepat saji.


"Kenapa siang ini begitu sangat panas, Padahal kita sedang di puncak" ujar Shaka membuka satu kancing bajunya yang letaknya paling atas.


Dada bidangnya sedikit terlihat dari celah baju Shaka. Banyak wanita yang melirik ke arah mereka berdua. Terlebih ketika melihat bulu halus di dada Shaka yang terlihat sedikit meneteskan keringat. Menambah hawa panas di hati para wanita.


Wajah Shaka terlihat berbeda dengan Firo. Shaka yang wajahnya seperti pria bule diturunkan dari Ny.Stella yang keturunan dari spanyol. Berbanding terbalik dengan wajah Firo yang oriental yang sangat mirip dengan Tuan Bram.


Dua wanita yang berada di sebelahnya mengedipkan mata ke arah Shaka yang dari tadi mencuri perhatian. Sedangkan Firo dari tadi terlihat sangat cuek tidak memperdulikan siapapun. Di hatinya hanya memikirkan agar segera menemukan istrinya.


Firo hanya memasukan beberapa suap nasi ke mulutnya.


"Setelah ini kita akan kemana?" tanya Shaka.


"Aku juga bingung harus mencari kemana lagi," sahut Firo sembari menyedot minuman di depannya.


Firo hanya memakan setengah dari porsi nasi di depannya. Dia tidak terlalu memperdulikan perutnya yang masih menagih makanan agar masuk lagi ke perutnya. Mulutnya terasa hambar tidak berselera.


Sementara Shaka telah menghabiskan dua porsi makanan.


***


Dari jauh,


Mereka tidak mengetahui Sony sudah ada di dalam sedang memesan makanan di meja kasir.


Firo dan Shaka sengaja memilih tempat duduk outdoor agar bisa menikmati pemandangan puncak.


"Aku pesan tiga porsi Paket B," ucap Sony.


Setelah menunggu beberapa menit makanan itu sampai di tangannya.


Sony memberikan kartu black card miliknya untuk membayar makanan yang di belinya.


Setelah mendapat dua kantong makanan, Sony kembali menuju mobilnya.


Langkahnya tertahan ketika dari jauh dia melihat mobil dengan garis emas di ujungnya sedang terparkir di parkiran restoran.


"Sepertinya itu mobil milik Daddy," gumamnya.


Sony sudah paham ciri-ciri mobil milik Tuan Bram. Hampir semua mobilnya memiliki garis emas di setiap ujung sisinya.


Sony dengan cepat masuk kembali di dalam mobilnya.


"Kenapa ada mobil Daddy di sini?" gumam Sony terus memantau dari dalam mobil.


Tak menunggu setengah jam, Dua orang pria keluar dari dalam restoran.


Rambut Firo yang berwarna merah marun membuat silau matanya karena terkena sorotan mata hari. Sony mulai sadar bahwa dua pria itu adalah anak dari ayahnya.


"Mengapa mereka kesini?"


"Apa mereka sudah tahu kalau aku dan Medina masih hidup?" batin Sony.


Dari dalam ia terus memperhatikan gerak gerik dua pria yang sudah memasuki mobilnya. Sony segera meraih handphone miliknya segera menelepon Agung.


Sudah berapa kali panggilan tak dijawab Agung. Padahal panggilan sudah terhubung.


Sony begitu sangat kesal. Dia tidak mau lengah sedikitpun. Sony terus memantau mereka berdua. Ketika mobil mereka berjalan, Sony lalu mengikuti mobil itu di belakangnya.


Ponsel Sony berdering, Ada panggilan dari Agung. Sony segera mengangkat panggilan itu sambil terus mengikuti mobil di depannya.


Tuan, maaf tadi aku sedang ke belakang. Ada apa Tuan menghubungiku? tanya Agung di telepon.


"Jangan biarkan Nona Meysa keluar dari rumah. Tutup pintu rumah, jangan biarkan siapapun masuk ke dalam rumah!" ucap Sony.


Baik Tuan, dari tadi juga Nona Meysa hanya di dalam. Dari tadi Nona Meysa hanya bermain laptop anda. Dia tidak pergi kemanapun. ucap Agung di telepon.


"Apa?"


Wanita itu membuka laptopku? Sebenarnya apa yang di cari wanita itu? Bodoh mengapa aku tertipu lagi olehmu! seru Sony kesal sambil memukul stir mobilnya.


"Tuan, apa ada yang di bicarakan lagi?" tanya Agung di telepon.


"Tidak usah kamu hanya perlu menjaga Nona Meysa agar tidak keluar rumah," ucap Sony.


"Baik, Tuan"


Sony lalu menutup teleponnya. Mobil Shaka sudah berada jauh dari mobilnya. Ia segera mempercepat laju mobilnya agar tidak tertinggal jauh.