Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Perubahan Firo


Adzan subuh membangunkan Medina dari tidurnya, biasanya ketika bangun tidur Firo orang pertama yang ia lihat, tapi pagi ini dia tak ada di atas tempat tidurnya.


Selesai membersihkan diri, Medina hendak mencari suaminya. Dicarinya ia sampai ke ruang bawah tanah biasa suaminya kalau menyendiri.


Sudah ada rasa rindu di hatinya ketika ia tak bisa menemui Firo pagi ini, "Apa dia keluar bersama Bi inah?" pikirnya dalam hati.


Medina bergegas mencari Bi inah ke kamarnya yang tidak jauh dari rumah utama.


Pintu kamar Bi inah tidak terkunci,


"Bi, Apa bibi ada di dalam?" tanya Medina.


Medina lalu memasuki kamar Bi inah mencoba mencarinya. Tetapi kamarnya terlihat kosong dan berbeda seperti yang biasa ia masuki sebelumnya, "Apa bi inah cuti lagi ?" batinnya.


Setelah sekian menit Medina akhirnya memutuskan keluar karena apa yang ia cari tak di temukan.


Medina berjalan balik ke arah kamarnya. Di tengah jalan seorang pelayan memanggilnya.


"Nona Medina," Seorang pelayan menghentikan langkahnya.


Medina menoleh, " Kamu memanggilku?" tanyanya.


"Nona, Tuan muda Firo menunggu anda di dalam rumah," ucap seorang pelayan.


"Iya, sekarang aku akan kembali ke kamar, " jawab Medina.


"Bukan di sana Nona, tapi di rumah utama. Nona sedang di tunggu sarapan pagi," jelas pelayan wanita yang bernama Mita.


Medina mengangguk masih terlihat bingung.


"Mari Nona, Saya antar, " ucap Mita.


Medina mengikuti langkah Mita di depannya.


"Terima kasih sudah mengantarkan, Mita" ucapnya pada pelayan setelah sampai di meja makan.


"Sama-sama Nona," Mita langsung menarik kursi mempersilahkan Medina duduki untuk sarapan pagi bersama keluarga yang lain.


Medina mendapati Firo sudah duduk di sebelahnya terlebih dahulu, Tuan Bram duduk di kursi utama. Sementara di depannya sudah ada Shaka dan Nyonya Stella yang sudah siap sarapan dari tadi.


Syerli dan suaminya sedang tidak ada di rumah.


Penampilan Firo sungguh berbeda kali ini. Dia terlihat lebih tampan dan rapih dari biasanya. Tatanan rambutnya terlihat berbeda dan tidak gondrong lagi, Dengan memakai stelan jas di padu padankan dengan celana warna hitam penampilan Firo begitu sangat berkharisma hari ini. Bahkan Medina tak sempat mengenali suaminya.


Firo tersenyum ke arah Medina yang terus melihatnya.


Betul kah itu kamu, Firo? ucapnya hanya ada dalam hatinya.


Bukan hanya dia yang tak berhenti melihat Firo, Shaka dan Nyonya Stella juga seperti tak menyangka melihatnya.


"Pagi Daddy," Mereka lalu menjawab bersamaan.


"Daddy akan memperkenalkan kembali Firo , Mulai sekarang Firo akan mengambil alih sejumlah pekerjaan Daddy, sekarang Firo dan Medina akan berada di tengah keluarga kita lagi."


"Saya tegaskan untuk semua penghuni rumah ini, untuk tidak mengungkit masa lalu Firo kembali, Bagi yang keberatan atau mengusiknya akan berhadapan langsung denganku," Tegas Tuan Bram memecah kesunyian di meja makan.


"Apa dia sudah benar sembuh," Nyonya Stella menyela pembicaraan.


"Tutup mulut lancang mu, kalau kamu tidak suka caraku sebaiknya kamu pergi dari sini," ucap Tuan Bram kepada Nyonya Stella.


"Baiklah sayang, aku percaya padamu," Tidak ada yang berani membantah ucapan Tuan Bram bahkan istrinya sendiri.


Acara sarapan pagi di mulai. Mereka mulai melahap makanan mereka yang tersaji di meja makan. Awalnya Firo sempat ragu, tetapi ketika makanan yang mereka makan sama, Firo akhirnya ikut menikmati acara sarapan pagi bersama yang baru kali ini ia lakukan.


Firo memberikan potongan daging yang ada di piringnya ke piring Medina, "Makanlah honey," ucapnya.


Medina masih terasa asing terhadap suaminya. Dia merasa kehangatan yang biasa ia dapatkan terasa berbeda pagi ini.


"Mulai sekarang, Firo dan Medina akan tinggal di rumah utama, Dan hari ini Firo akan aku ajak ke kantor." Ucap Tuan Bram.


Acara sarapan pagi selesai. Nyonya Stella yang pertama meninggalkan meja makan, setelah itu Tuan Bram.


"Selamat datang kembali, Firo" ucap Shaka.


Firo tak menjawab sapaan Shaka.


"Jaga diri kamu hari ini, aku akan kembali secepatnya," seru Firo kepada Medina.


"iya," jawab Medina singkat, entah mengapa hatinya terasa mulai hampa.


"Kalau kamu tak biasa di sini, sementara tinggallah di kamar kita yang dahulu, "


Tuan Bram sudah menunggu Firo di depan agar segera ikut dengannya.


"Aku akan segera kembali honey, "


Cup.


Firo mencium kening istrinya.


Sebelum pergi Firo menghampiri Shaka.


"Jangan macam-macam dengan istriku, " Firo menekan bahu Shaka dengan tangan kanannya yang masih duduk di meja makan.


Medina memandangi punggung suaminya yang mulai menjauh. Perasaannya seperti ada yang tidak enak mengganjal di pikirannya.