Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Pernyataan Tuan Bram.


Tidak beralaskan kaki, Firo menaiki jendela atas rumah utama. Ia menyelinap menaiki tembok tinggi masuk ke kamar seseorang penghuni rumah itu.


Semua penghuni rumah tidak ada yang melihatnya. Firo berhasil mencongkel salah satu jendela kamar. Ia mulai bergerak masuk dengan langkah pelan. Terlihat sosok pria yang sudah hampir tua sedang tertidur nyenyak sendirian di atas tempat tidurnya.


Waktu menunjukan pukul setengah dua malam di jam dinding ayahnya. Tangan kanan Firo memegang pisau berukuran kecil yang sengaja ia sembunyikan di balik punggungnya. Tatapan mata Firo tak berkedip sedikitpun melihat ke depan tubuh ayahnya.


Pantatnya ia dudukan di tepi kasur tepat di sebelah ayahnya tertidur. Firo lalu menggoyangkan tubuh ayahnya, "Bangun" ucapnya agar ayahnya terbangun.


"Aku bilang banguuuuunn!" teriak Firo mengagetkan ayahnya tepat di telinganya.


"Firo," sahut tuan Bram yang baru terbangun, di dapatinnya Firo sudah duduk di dekatnya.


Meski bukan pertama kali Firo mendatanginya di tengah malam, Tuan Bram masih terkaget melihat Firo tiba-tiba ada di kamarnya.


"Katakan padaku, kalau kamu yang membunuh ibuku," Sorot mata Firo seperti Serigala yang hendak memangsa buruannya.


Baju tuan Bram dicengkeramnya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya mengaitkan pisau di leher ayahnya.


"Firo, tenanglah nak!" Tangan Tuan Bram mencoba menenangkan Firo.


"Kenapa kamu membunuh ibuku?" Pisau di tangannya hampir sebentar lagi menggores leher ayahnya.


"Akan aku katakan tapi lepaskan dulu pisaunya," pinta Tuan Bram kepada anaknya.


Dengan gerakan cepat Tuan Bram menekan tombol darurat yang ada di bawah bantalnya, memanggil pengawal yang ditugaskan untuk menjaganya. Dia sengaja membuat pengamanan kepada dirinya kalau sewaktu waktu ada ancaman yang menyangkut nyawanya.


Beberapa detik kemudian tiga orang pelayan memasuki kamarnya. Melihat Firo hendak mencelakai tuannya, Dengan cepat mereka bertiga langsung membekap tubuh Firo agar melepaskan pisaunya.


Firo di seret menjauh dari ayahnya, kedua tangannya masing masing dipegang erat oleh dua orang pengawal.


"Lepaskan aku! Sudah aku duga kamu sangat licik!" umpat Firo.


Tuan Bram masih bersikap santai.


"Sudah berapa kali aku katakan, bukan aku yang membunuh ibumu," jelas Tuan Bram.


Tuan Bram lalu duduk di tempat tidurnya.


"Kalau bukan kamu, kenapa ibuku tiba-tiba meninggal, Keparat!" umpat Firo lagi sambil berusaha melepaskan tangannya.


"Mungkin sudah saatnya kamu tahu semuanya. Baiklah kalau begitu aku akan memberitahu kebenarannya,"


Tuan Bram memberi kode kepada pengawalnya agar memberi obat penenang buat Firo, seperti yang biasa ia lakukan, Agar kaki Firo berhenti menendang benda benda di sekelilingnya.


Firo langsung memberontak tapi kalah kuat dengan kedua pengawal Tuan Bram yang mengunci tangannya.


Satu pengawal Tuan Bram menyuntikan obat penenang kepada Firo dengan cepat agar Firo tak mengamuk lagi.


Tubuh Firo mulai merasakan reaksi dari obat itu. Ia mulai melemah dan mulai merasakan kakinya tidak bertenaga.


Firo terduduk di lantai kondisinya masih sadar namun tubuhnya seakan tidak bisa ia gerakkan.


"Firo, Bangunlah!" ucap Tuan Bram.


Dengan di bantu kedua pelayannya dia didudukan di sofa kamarnya, Tuan Bram lalu mendekatinya.


"Apa kamu siap mendengar semuanya?"


Firo tak berhenti menatap ayahnya dengan penuh amarah.


"Sebelumnya maafkan Daddy sudah membius mu seperti ini. Daddy tidak mau semua orang di rumah ini mendengar kamu mengamuk,"


Karena dirasa aman buatnya, Tuan Bram menyuruh ketiga pengawalnya keluar.


"Aku akan menceritakan kebenarannya selama ini," Terangnya kepada Firo di depannya.


"Apa kamu tahu ibumu mendonorkan kornea matanya? Untuk seorang anak yang waktu itu berumur tujuh belas tahun?" Tuan Bram memulai bercerita.


Firo terkaget dengan pernyataan Ayahnya, dia benar benar baru tahu bahwa ibunya mendonorkan kornea matanya kepada seseorang.


"Kamu pasti mengenalnya, Anak itu bernama Ricko anak dari Bi inah yang selama ini menjagamu,"


ucap Tuan Bram lagi.


"Ibumu dulu sebelum meninggal mempunyai wasiat seandainya dia meninggal Fira akan mendonorkan kornea matanya agar bermanfaat. Kakek mu dulu adalah pria buta, ibumu sangat menginginkan ada pendonor mata untuk ayahnya agar bisa melihat dunia. Tapi sayang sampai meninggal pun tidak ada satu orang pun yang mendonorkan kornea untuk kakek mu. Ibumu berjanji lewat sebuah surat wasiat dia akan mendonorkan kornea matanya kepada seorang yang sangat membutuhkannya. Berita itu terdengar oleh Bi inah yang waktu itu masih merawat nenekmu. Bi inah mempunyai satu anak yang tidak bisa melihat dari lahir yang ia titipkan kepada orang tuanya. Kamu tahu kan Nenekmu dulu sangat membenci ibumu dia bersekongkol dengan Bi inah agar melenyapkan ibumu dengan berkali-kali memberinya obat dosis tinggi agar ibumu yang punya riwayat jantung cepat mati. Kamu tidak pernah melupakan kejadian saat ibumu dirawat, Bi inah lah yang memberi ibumu obat yang salah. Nenek sangat mendukung rencana Bi inah yang sangat menginginkan mata untuk anaknya, "


Firo begitu terpukul dengan pernyataan ayahnya.


"Kenapa kamu baru memberitahukan sekarang," teriak Firo marah.


"Maaf Daddy baru memberitahu sekarang, Bertahun-tahun Daddy menyembunyikan ini demi almarhum nenekmu agar kamu tak membencinya. Tetapi sekarang kamu benar benar sudah sembuh, Daddy tak bisa menutupi rahasia ini lagi, "


Perlahan Firo kembali mencerna apa yang di katakan ayahnya. Dia tahu Neneknya dulu sangat membenci ibunya karena ibunya terlahir dari keluarga miskin, Dan Bi inah dia baru tahu ibunya mendonorkan matanya kepada Ricko yang selama ini dia anggap seperti kakaknya sendri, Firo juga tahu Nyonya Stella, Bi inah dan Neneknya dulu sering menyiksa ibunya. Firo tak mempercayai perkataan ayahnya sepenuhnya tetapi dia begitu sangat kecewa kepada Bi inah kenapa dia tidak pernah memberitahu bahwa sepasang mata yang selama ini ada pada Ricko adalah milik ibunya.


Tuan Bram memegang bahu Firo, "Aku tahu ini adalah kenyataan yang pahit buatmu,"


"Sekarang kamu sudah benar-benar sembuh, Daddy akan membawamu kembali ke hidup yang normal," ucap Tuan Bram lagi.


Firo mengepalkan tangannya, dia hanya di bius di bagian pinggang ke kaki, "Tidak mungkin," ucapnya sambil menggeleng.


"Kamu harus menerima kenyataan itu, Lupakan semua masa lalu mu, Daddy akan membawamu ke dunia barumu. Daddy akan menjadikanmu pewaris utama, Percayalah pada Daddy." Tuan Bram memegang erat bahu Firo mencoba meyakinkan Firo.


Firo menatap wajah ayahnya, hatinya benar benar terasa sakit dan sangat kecewa.