Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Medina Hamil.


Bibirnya kembali mengulas senyum mengingat kejadian barusan ketika Sony begitu jijik melihat muntahannya.


Medina duduk di depan cermin kamarnya.


"Kenapa kepalaku berasa sering pusing," Medina memijat dahinya.


Medina kembali merasakan begitu mual di perutnya.


"Semenjak kecelakaan itu kepalaku sering sakit, apa karena benturan itu," gumam Medina.


Tangannya membuka plastik berisi plester dan obat luka. Dengan sangat cekatan ia membersihkan darah yang sudah mengering di kepalanya menggunakan kapas.


"Kenapa aku harus menghadapi situasi seperti ini," gumamnya lagi sambil membersihkan luka.


Masih teringat jelas di ingatanya kejadian semalam yang tak berbeda jauh dengan kejadian dua puluh tahun yang lalu.


Medina terdiam.


"Ayah," tanpa terasa ia meneteskan air mata mengingat kejadian dua puluh tahun yang lalu.


Medina melihat jelas peristiwa yang baru di ingatnya itu.


Ia menangis di depan cermin sambil memasang plester diujung keningnya.


"Kemana ibu dan adikku? kenapa tidak mencari ku?" Medina terus menangis.


Diusap air matanya berkali-kali.


Perutnya kembali berasa mual. Medina segera berlari ke luar menuju kamar mandi.


"Hoek... hoek,"


Medina memuntahkan semua isi perutnya.


Agung yang sedang membersihkan rumah bergegas menghampirinya.


"Nona ada apa dengan anda, Nona?" ucap Agung lelaki setengah perempuan.


"Aku tidak tahu, kepalaku terasa pusing dan perutku berasa sangat mual," Medina menoleh sebentar ke arah Agung namun karena perutnya kembali mual ia memuntahkan lagi.


"Hoek,"


Agung tersenyum-senyum di belakangnya, "Nona, aku punya minyak angin siapa tahu ini bisa merendahkan mual yang di alami nona," ujar Agung.


Setelah agak baikan Medina duduk di kursi yang ada di dekatnya. Tangannya meraih minyak angin yang diberikan Agung kepadanya. Medina menghirup dalam aroma minyak angin yang membuat mual di perutnya berkurang.


"Terima kasih, Gung" sahutnya.


"Apa nona sedang hamil?" tanya Agung mendekatinya.


"Apa? hamil?" Medina terkaget dengan ucapan Agung. Ia tak pernah berpikiran seperti itu.


Agung tersenyum, "Sepertinya memang nona sedang hamil, Biasanya kalau ciri-ciri orang hamil seperti yang Nona alami. Aku sih belum pernah merasakannya, tapi mendengar dari orang katanya seperti itu," ucap Agung sambil menutup mulutnya malu.


Agung seorang lelaki namun gayanya sedikit mirip perempuan.


"Benarkah?"


"Apa bulan kemarin Nona telat menstruasi?" tanya Agung lagi.


Medina terdiam sambil mengingat-ingat kapan terakhir kali dia menstruasi.


Medina mengangguk.


"Berarti anda memang hamil," ucap Agung kegirangan.


"Kalau mau nona segera periksa ke rumah sakit, kalau benar nona hamil Tuan Sony pasti sangat senang," ujar Agung.


"Kalau mau aku bisa antarkan anda, Nona" seru Agung.


Sony yang mendengar percakapan mereka dari dalam langsung keluar dari kamarnya.


"Jangan ke rumah sakit," seru Sony menyela pembicaraan mereka.


Sony menatap tajam Medina yang sedang duduk.


"Suamiku, kata Agung sepertinya aku hamil" Medina mendekati Sony.


"Apa?" Sony terkaget mendengar berita itu.


"Kata Agung kita harus memeriksanya ke dokter, memastikan kalau benar aku hamil atau tidak" Medina tersenyum ke arah Sony.


Sony terdiam sebentar.


Kenapa wanita sialan ini malah hamil. gerutu Sony dalam hati.


"Apa kamu senang mendengarnya, suamiku?" Medina tersenyum melihat raut muka Sony.


"Tuan kalau anda tidak mau ke rumah sakit, aku punya kenalan dokter yang bagus di dekat sini," Agung menimpali obrolan mereka.


"Jangan,"


"Suamiku, apa maksudmu?" ucap Medina mendekati Sony.


"Bukankah, kamu senang kalau mendengar istrimu hamil, Suamiku!" ujar Medina lagi.


"Baiklah, Agung bawa dokternya kemari," pungkas Sony kepada Agung. Sony harus terpaksa menuruti Medina.


"Baik Tuan aku akan segera mendatangi dokter itu kesini," Agung lalu bergegas keluar.


"Ingat jangan sekali-kali keluar dari rumah ini walaupun ke rumah sakit sekalipun," ucap Sony sekali lagi.


"Baik suamiku,"


Sony menatap tajam ke arah Medina meninggalkannya sendiri.


*


Selang setengah jam Agung sudah membawa seorang dokter untuk memeriksa keadaan Medina.


Sony tengah duduk tidak jauh dari tempat Medina di periksa.


"Selamat siang nona, Dengan nona siapa ya," tanya Dokter kepada Medina.


"Meysa, namaku Meysa doker," jawab Medina kepada dokter.


Mata Sony membulat sempurna mendengar ucapan Medina yang menyebutkan dirinya adalah "Meysa".


Kenapa dia mengatakan dirinya Meysa. batin Sony bingung.


"Nona Meysa, sebentar saya periksa dulu ya," ujar Dokter, "Sebaiknya Nona berbaring agar aku mudah memeriksanya," tambahnya.


Sony terus memperhatikan Medina yang sedang diperiksa.


Wanita ini benar-benar menyusahkan aku. gerutu Sony.


Setelah selesai memeriksa perut Medina. Dokter tersenyum.


"Untuk membuktikan keakuratannya nona sebaiknya kita testpack dulu ya, Nona silahkan ke kamar mandi untuk mengeceknya, bla...bla.." ujar Dokter memberikan wadah berukuran kecil dan testpack kepada Medina sambil memberitahukan tata caranya.


Medina lalu menuju kamar mandi mengecek hasil urinenya.


Selang beberapa menit.


"Dokter," panggil Medina.


"Iya Nona,"


"Bisa tolong kemari," ujar Medina, "Aku tidak mengerti. Bisakah anda kesini, Dokter!" tambah Medina memanggil dokter wanita itu agar memasuki kamar mandi.


Dokter wanita itu lalu menghampiri Medina ke kamar mandi.


Setelah beberapa menit mereka akhirnya keluar. Medina kembali duduk di kursi. Sementara dokter tengah sibuk menulis.


Dokter telah selesai memeriksa Medina.


"Selamat Tuan, istri anda dinyatakan hamil. Kehamilan istri anda sudah memasuki sembilan minggu," ucap Dokter menyalami Sony yang berdiri tercengang.


Dengan raut muka tidak suka Sony membalas uluran tangan Dokter itu.


Mata Medina berbinar mendengar ucapan dokter. Bahkan Agung yang bukan siapa-siapa Medina turut senang mendengarnya.


"Selamat ya Nona," ucap Agung. Medina tersenyum menanggapi.


"Tuan, ini vitamin yang harus Nona Meysa minum setiap hari. Saya sarankan mulai sekarang anda harus menjadi suami siaga. Kehamilan muda sangat beresiko sebaiknya anda harus selalu membuat nyaman istri anda," ucap Dokter memperingati.


"Terima kasih, Dok" ucap Sony.


"Ingat,Tuan! biasanya setiap kehamilan muda ibu hamil akan merasakan proses yang dinamakan ngidam. Sebaiknya anda turuti saja setiap keinginannya agar Nona Meysa tidak stres karena dapat mempengaruhi janinnya," ucap Dokter lagi.


"Dan satu lagi, karena kondisi janin Nona Meysa masih rawan sebaiknya anda menunda dulu keinginan anda untuk berhubungan suami istri," ujar Dokter.


"Iya, Dokter" ucap Sony singkat.


Kenapa Dokternya cerewet sekali. gerutu Sony.


"Apa ada yang ditanyakan lagi, Tuan?" tanya Dokter lagi.


"Tidak ada dokter karena saya sudah paham," tegas Sony.


"Kalau tidak ada yang ditanyakan, saya pamit pulang" sahut Dokter.


"Nona Meysa jaga kandungan anda baik-baik," ujar Dokter sambil tersenyum kepada Medina, "Kalau ada apa-apa anda boleh memanggil aku lagi," tambahnya.


"Terima kasih Dok," ucap Medina.


Agung kemudian mengantar dokter itu pulang.


***


Medina tersenyum manis ke arah Sony.


"Apa kamu senang mendengarnya, suamiku"


"Sebentar lagi aku akan menjadi ibu," ucap Medina mengelus perutnya.


Sony membuang mukanya mendengus kesal.


Bahagialah kamu sekarang, Nona! Karena aku tidak akan membiarkan anak itu lahir ke dunia.