
Tuan Bram berlari kecil melewati setiap sudut Hotel Prodeo. Dia terburu-buru karena saking gembiranya, Melewati deretan jeruji besi yang berjejer rapih di setiap ruangan. Guratan senyum terlukis dari bibirnya yang sedikit pucat.
Ada beberapa tahanan yang menyapanya, Mereka sudah seperti keluarga baru bagi Tuan Bram. Dari beberapa tahanan ada diantara mereka yang akan dieksekusi mati sama seperti dirinya, "Selamat Pak Bram," seru mereka bergantian.
Bagi mereka ada salah satu keluarga yang menjenguk, Merupakan suatu hadiah yang paling berharga dibandingkan uang. Tuan Bram membalas sapaan mereka dengan senyum, "Terima kasih," sahutnya bahagia.
Tuan Bram tampak bergetar hebat saat langkah kakinya tiba di ruangan besuk, Yang diinginkannya dari tahun ketahun terkabul sudah hari ini. Tubuh kurus itu tampak berjalan pelan mendekati dua orang laki-laki yang sedang menunggunya.
Sekarang sudah hampir lima tahun ia di dalam penjara. Ya, Tuan Bram yang sudah biasa menyendiri dan diasingkan, Kini terlihat bahagia.
"Kakek..." teriak Drago kecil berlari menghampiri Tuan Bram.
Drago kecil memeluk tubuh yang kurus dan semakin keriput itu dengan erat, "Apa kakek merindukanku?" tanya Drago dengan mata berbinar.
Tuan Bram memeluk balik dan mensejajarkan tubuhnya dengan bocah kecil di hadapannya. Ia tak bisa menampung air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Secara bersamaan air matanya jatuh di bahu Drago.
Tuan Bram menciumi pipi anak kecil yang sedang berada di dekatnya berulang kali, "Firo! Apakah anak ini cucuku?" tanya Tuan Bram pelan.
Firo mengangguk mengiyakan, Dari tadi ia hanya menyaksikan keduanya.
"Drago, berikan salam untuk kakek mu!" seru Firo kepada Drago.
Drago lalu mencium punggung tangan pria tua itu, "Bagaimana kabarmu, Kek? Drago sangat merindukanmu!" ucap Drago sambil mengusap pipi Tuan Bram, "Kata Papa, Laki-laki tidak boleh cengeng, Kenapa kakek menangis?"
Tuan Bram membiarkan tangan mungil itu menyentuh wajahnya, "Laki-laki boleh menangis, Nak! Apalagi kalau menangis karena bahagia" sahut Tuan Bram. Ia lalu menggendong Drago mendekati Firo yang sedang duduk di depan meja besuk.
"Kabar kakek sangat baik. Ternyata kamu sudah sebesar ini, Terakhir kakek melihatmu saat berusia satu tahun. Terima kasih sudah mengunjungi kakek lagi," ucap Tuan Bram mendudukkan anak kecil itu di kursi.
Saat berusia satu tahun, Medina pernah dua kali menjenguk Tuan Bram saat masih berada di Lapasa yang lama. Karena Lapasa yang sekarang berada di luar pulau, Medina sudah tak pernah mengunjungi Tuan Bram lagi bersama Drago.
Firo masih memperhatikan kakek dan cucunya itu melepas kerinduan. Ia begitu bahagia melihat Drago sangat senang bertemu kakeknya. Mereka duduk diapit meja yang memisahkan keduanya.
"Terima kasih, Sudah mau menjengukku, Firo" tutur Tuan Bram menatap anaknya.
Akhirnya kamu mau menemui ku juga. Batin Tuan Bram.
Firo mengangguk balas menatap mata ayahnya.
"Daddy dapat salam dari Mey, Maaf dia tak bisa menjenguk mu lagi," sahut Firo, "Benarkah tiga hari lagi, Daddy akan..." Firo tak bisa meneruskan kata-katanya.
Firo membuang mukanya ke samping, Menarik napasnya pelan sambil menahan air matanya yang hampir menetes. Sejujurnya ia sangat merindukan ayahnya.
"Maafkan aku, Daddy. Baru bisa menjenguk mu sekarang," Firo masih memalingkan mukanya, mencoba menyembunyikan air mata yang sudah menetes di pipi kanannya, Jelas dia tak bisa memperlihatkan itu di depan anaknya.
Tuan Bram memeluk tubuh cucunya dan menidurkan anak kecil itu di pangkuannya. Drago tengah asik memainkan mainan dari kayu yang dibuat olehnya saat berada di dalam Lapasa.
Firo menatap wajah keriput ayahnya yang sudah menua. Pria itu tampak memelas di hadapan Firo, "Aku sudah memaafkan semuanya, Daddy. Sekarang katakan padaku, Apa permintaan terakhirmu? Aku akan mengabulkan semuanya," Firo menempelkan tangannya di meja.
Mendengar pertanyaan Firo, Tuan Bram menggeleng. Ia lalu menyodorkan sebuah buku di hadapan Firo, "Jaga dirimu dan keluargamu baik-baik, Di buku ini ada nama-nama orang yang harus kamu waspadai. Di dalam buku ini juga, Daddy sudah menulis banyak semuanya. Aku ingin kamu membacanya ketika aku sudah meninggal nanti," jelas Tuan Bram.
Firo meraih sebuah buku dari tangan ayahnya, "Apa hukumannya tidak bisa diganti dengan yang lain? Kenapa tak meminta banding di pengadilan?" tanya Firo. Tuan Bram hanya menggeleng membalasnya.
Sebenarnya selama ini di belakang Tuan Bram, Firo mencoba mendatangkan pengacara agar meringankan hukuman ayahnya. Namun setiap ada pengacara yang menemuinya, Tuan Bram selalu menolak melakukan Banding ke pengadilan. Menurutnya hukuman mati adalah hukuman yang pantas untuk dirinya.
"Tidak bisakah hukuman matinya di undur?" Firo kembali bertanya. Beberapa minggu ini ia tak bisa tidur ketika mendengar ayahnya akan di eksekusi beberapa hari lagi.
"Aku sudah ikhlas menerima semuanya, Firo. Maafkan Daddy selama ini tidak bisa menjadi ayah yang baik untukmu!" ucap Tuan Bram sembari mengelus rambut cucunya.
Firo memundurkan kursinya, "Kalau begitu mintalah agar eksekusi itu tidak dilakukan tiga hari lagi. Drago masih ingin melihatmu, Daddy." Kali ini ia tak bisa menahan air matanya. Di tutupnya wajahnya dengan buku agar Drago tak melihat ia menangis.
Drago yang dari tadi sibuk dengan mainannya berlari menghampiri Firo, "Papa, Kata kakek laki-laki boleh menangis. Apalagi kalau menangis karena bahagia. Bukannya papa sedang bahagia karena bertemu dengan kakek?"
Firo segera menghapus air matanya, "Kamu benar anak pintar! Apa kamu sudah bilang terima kasih kepada kakek karena telah membuatkan banyak mainan untukmu?" Firo mencoba mengalihkan ucapan Drago.
Drago kembali mendekati kakeknya, "Terima kasih, kek. Aku sangat suka dengan mainan buatan kakek. Kalau Drago kesini lagi, Kakek harus membuatkan mainan lagi untuk Drago, Nanti Drago mau berikan kepada El dan Denis. Mereka pasti mau juga," ucap Drago polos.
Tuan Bram mengusap lembut rambut Drago, "Kakek tidak janji ya, Nak. Karena sebentar lagi, kakek akan pergi jauuuh sekali. Kalau nanti Drago mau, Minta tolong papa yang membuatnya untuk teman Drago," sahut Tuan Bram.
"Drago boleh ikut ngga, Kek? Apa perginya ke luar negri, seperti ayahnya El?"
Tuan Bram menggeleng, "Nanti kalau besar nanti, Drago akan tau kakek pergi kemana," sahut Tuan Bram.
Petugas Lapasa melihat mereka dari jauh, Sebenarnya waktu berkunjung Firo sudah habis, Ia membiarkan ayah dan anak itu melepas kerinduannya.
Sudah hampir satu jam Firo menjenguk Tuan Bram. Tuan Bram lebih benyak bercengkrama dengan cucunya, Firo yang biasanya tak pernah dekat dengan Tuan Bram, Terlihat begitu hangat berbicara dengan ayahnya.
Karena sudah hampir dua jam lamanya Firo menjenguk Tuan Bram, Petugas Lapasa akhirnya menyuruh Firo menyudahi pertemuan mereka.
"Daddy, Aku sangat menyayangimu. Aku janji akan menemui mu lagi," ucap Firo memeluk Tuan Bram.
Firo balas memeluk anaknya, "Terima kasih, Nak. Jaga dirimu dan keluargamu baik-baik" sahut Tuan Bram.
Sebelum masuk ke dalam jeruji besi Tuan Bram mencium kening Drago, "Jadilah anak yang baik, Drago"
Orion Drago, Anak itu mengangguk, "Aku janji akan menjadi anak yang baik, Kakek"
Bersamaan dengan itu, Tuan Bram melangkah masuk bersama Petugas Lapasa meninggalkan Firo dan Drago yang begitu sedih melihat kepergiannya.