Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Terowongan


"Kau!"


Medina memundurkan langkahnya ingin berbalik arah meninggalkan pria separuh baya itu.


Tuan Bram sudah menyadari kalau Medina akan terkaget ketika mengetahui siapa orang yang menolongnya.


"Jangan kembali!" seru Tuan Bram memohon. Ia mencoba mendekati Medina namun Medina tambah memundurkan langkahnya.


"Aku mohon, Jangan kembali ke sana!" pinta Tuan Bram dengan sangat kepada Medina yang menatap sinis kearahnya.


Suasana terowongan yang sedikit temaram hanya terdengar bunyi angin yang dikeluarkan dari blower dalam. Rupanya terowongan itu dulunya adalah tempat pembuangan air dan angin.


"Aku sudah tidak mempercayaimu! jangan mendekat!" Medina mengarahkan telapak tangannya ke arah Tuan Bram agar ia tak mendekat.


Medina berbalik arah menghampiri pintu namun baru beberapa langkah Tuan Bram menarik kakinya dari bawah.


"Aku mohon, Demi kamu dan cucu ku, kalian akan mati kalau kembali!" mohon tuan Bram sambil menangis.


Medina sulit menggerakkan kakinya karena kakinya ditahan tangan Tuan Bram, "Mereka akan membunuhmu dan akan mengambil anak di dalam perutmu. Aku mohon percayalah," pintah Tuan Bram kesekian kalinya.


Rasa mulas kembali Medina rasa diperutnya. Medina yang baru pertama kali mengandung tidak mengetahui kenapa perutnya tiba-tiba mulas berulang kali seperti itu. Medina kembali memegang perutnya yang sedang hamil tujuh bulan.


Bukan karena perkataan Tuan Bram yang menyuruhnya jangan pergi, melainkan rasa mulas di perutnya yang membuat Medina memutuskan untuk menghentikan langkah dan seketika tubuhnya kembali ambruk ke lantai.


"Maafkan aku, Mey!" sesal Tuan Bram, "Maaf aku sudah membunuh ayahmu, Jovan!" tambahnya.


Bahkan Medina muak melihat wajah didepannya. Ingin rasanya ia cepat pergi dari situ.


"Lalu apa yang kamu inginkan lagi setelah membunuh ayahku? Apa kamu ingin membunuhku? Hah!" cecar Medina.


"Setelah ini kamu boleh menghukum ku! Tapi tolong jangan kembali kedalam. Aku minta maaf, Mey! Aku sangat menyesal!" lontar Tuan Bram sambil menangis.


Baru kali ini Medina melihat Tuan Bram menangis. Seorang yang sering terlihat berwibawa dan garang kini sedang menangis dihadapan menantunya. Medina tidak terenyuh sedikitpun melihatnya.


"Apa alasanmu melarang ku kembali? Katakan pembunuh?" cetus Medina sembari mengusap air matanya.


Kejadian Dua puluh tahun yang lalu kembali teringat lagi.


"Karena mereka menginginkan anakmu menjadi penerus ku! Mereka berniat menghabisi kalian, Jika kalian tetap memperkarakan kami dan tidak mau bergabung bersama kami!" jelas Tuan Bram. Ia tidak mau melakukan kesalahan lagi dengan membiarkan keturunannya ikut terlibat dengan bisnis haram yang ia geluti. Cukup dia yang menyesal.


"Apa? Aku tidak mengerti!" Medina sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan mertuanya.


Bergabung? Mengambil anakku? Sebenarnya siapa mereka yang ia maksud? Medina bergumam di dalam hatinya.


"Kami adalah sebuah organisasi mafia terbesar di Asia. Organisasi ilegal yang mendistribusikan obat terlarang dan berbagai tanaman ilegal lainnya ke seluruh dunia. Bertahun-tahun aku dikendalikan oleh ketua yang bertangan dingin dan kejam. Termasuk membunuh Jovan dan istriku! Semuanya atas perintah mereka," tutur Tuan Bram masih menangis.


"Kejam! Apa kamu tidak menyadari mereka adalah orang terpenting dalam hidupmu, Hah!" ketus Medina kesal, "Kenapa harus mengorbankan ayahku dan istrimu?"


"Aku sangat menyesal! Aku mohon maafkan aku," mohon Tuan Bram lagi.


Tuan Bram terus menangis, Baru kali ini air matanya keluar beruang kali. Tuan Bram benar benar menyesal. Karena ambisinya, semuanya tidak sesuai apa yang diinginkannya. Harta tahta dan wanita sudah dimilikinya dari bisnis haram itu, Kecuali kebahagiaan dan ketenangan.


"Kenapa aku menghabisinya, Karena mereka berdua terlalu ikut campur masalahku! Ketua kami tidak menyukainya. Terlebih Jovan dan Fira akan memperkarakan perbuatan kami seperti kalian. Apa yang dikerjakan organisasi kami sangat rapih, Satu orang yang menghalangi akan dibunuh tanpa ampun. Bahkan kalian akan dibunuh dan tidak akan hidup bebas kalau tetap melaporkan ke pengadilan. Ketua organisasi kami sudah berkerja sama dengan banyak polisi. Kalian tidak akan selamat" sahut Tuan Bram.


Medina menatap nanar mertuanya. Ia tidak tau harus berkata apa, "Kamu tetap bersalah! Kamu harus menerima akibat dari perbuatan mu!" cetusnya.


"Maafkan aku, Mey! Setelah ini pergilah dari sini dan tolong cabut gugatan kalian agar kalian bisa selamat. Ketua kami tidak akan main-main dengan ancamannya!"


**


Di ruangan tempat Firo disekap.


Seorang pengawal Sony datang menemuinya dan mengatakan kaburnya Medina. Mendengar kabar itu ada raut senang di hati Firo. Kini ia bisa bernafas lega walaupun Firo tidak tau ia akan selamat atau tidak malam ini.


Sony sedang sangat murka mendapati kabar Medina yang tiba-tiba kabur. Bahkan karena saking murkanya ia membanting semua barang barang di sekelilingnya.


Brak.. Prank.. semua benda ia banting.


Melihat kelakuan Sony, Firo tersenyum miring, "Kau sudah gila!"


Melihat Firo yang tersenyum seperti mengejeknya, Membuat Sony kembali murka. Sony menarik rambut Firo, lalu memukuli muka Firo berulang kali sampai ia puas.


Jiwa psikopat Sony kembali muncul. Berulang kali ia menendang Firo habis-habisan dan memukul dengan besi di tangannya, Sampai membuat darah segar keluar dari ujung mulut dan hidung Firo.


"Tuan Bram yang membawaku kedalam bisnis haram ini! Aku menyesal sudah menjadi anak angkatnya! Ia yang mendidik ku menjadi gila seperti ini." Sony kembali memukul Firo lagi.


"Sekarang katakan padaku! Bergabung bersama kami atau mati di tanganku!" teriak Sony keras memegang muka Firo dengan kasar.


Firo yang sudah terbiasa menahan sakit dari kecil sudah tidak memperdulikan rasa sakit ditubuhnya akibat pukulan Sony.


Disaat seperti itu Firo masih bisa tersenyum ke arah Sony, "Berarti bukan cuma aku yang menyesal menjadi anak dari Bramantyo," ucapnya, "Ternyata, Disini bukan cuma aku yang gila!" Firo menyunggingkan bibirnya yang berdarah.


"Bergabunglah bersama kami! Karena kamu sangat cocok menggantikan ayahmu," bisik Sony.


***


Di tempat lain.


Dengan dibantu Shaka, Ny.Vika bersama polisi mencari keberadaan Medina dari petunjuk lokasi yang dikirimkan orang suruhannya di handphone. Mereka bersama polisi sedang menuju ketempat Firo disekap.


Nyonya Vika sangat takut akan terjadi apa-apa dengan anak dan cucunya. Ny.Vika tidak mau kehilangan anak untuk kedua kalinya.


Berulang kali Shaka menenangkan wanita paruh baya itu agar bersikap tenang.


"Ibu tenanglah! Medina sudah diamankan Daddy," ucap Shaka.


Shaka menggenggam erat tangan wanita tua itu.


###


Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.


Terima kasih.