
kenapa kepalaku terasa sangat berat padahal tadi aku tak meminum alkohol. Geya memegang kepalanya yang terasa sangat pusing dan berat.
Rupanya salah satu teman Geya menukar minuman Geya dengan minuman beralkohol.
"Diam lah, Kau sedang mabuk. Nona!" Shaka kembali menarik tangan gadis berusia dua puluh tahun itu.
"Ayo kita pulang, Tidak baik gadis sepertimu malam malam begini keluar rumah!" Shaka merangkul Geya agar dibawa pulang.
"Anda pulang saja pak, Biar Geya pulang bersamaku!" ucap Shaka kepada sopir pribadi Geya.
"Baik, Tuan!"
Geya merasa begitu risih dengan tangan Shaka yang merangkulnya.
"Lepaskan! Aku tidak mau dipegang olehmu!" Geya mencoba menarik tangannya. Namun bukannya lepas malah tubuhnya ketarik dan membentur dada Shaka.
"Hoek...hoek, badanmu begitu sangat bau membuatku mual,"
Geya memuntahkan semua isi di dalam perutnya ke baju Shaka.
"Aish! Gadis ini begitu sangat menyusahkan!" Baju Shaka sudah penuh dengan muntahan Geya.
"Hoek.. Hoek" Geya kembali muntah untuk kedua kalinya. Kali ini ia muntah di bajunya.
Sepertinya gadis ini tak biasa mabuk. Padahal aku hanya melihatnya menenggak dua gelas minuman.
"Ayo kita pulang! Bajumu sudah basah," Kalau bukan calon istrinya Shaka tidak mau direpotkan seperti itu oleh seorang gadis labil seperti Geya. Dilihat dari mana pun Gadis itu jelas bukan seleranya.
Shaka sudah sampai di depan mobilnya. Namun sebelum memasukan Geya ke dalam mobil. Seorang pria muda menghalanginya.
"Kau! jangan bawa gadis ini kedalam mobilmu! Dia adalah pacar ku" Seorang pria muda menghentikan langkah Shaka yang hendak memasukan Geya ke dalam mobil.
Shaka menatap tajam wajah pria yang terlihat dari tampangnya, seperti seusia dengan Geya.
Sebelum meladeni pria itu. Shaka sudah memasukan Geya lebih dulu kedalam mobil.
"Tadi apa yang kau katakan?" tanya Shaka lagi setelah memasukan Geya ke mobilnya.
"Aku bilang gadis itu adalah pacarku, Apa kamu tidak dengar, Hah" teriak pria muda lagi.
Mendengar teriakan pria itu membuat Shaka tak dapat menahan emosinya.
"Jadi kau yang sengaja membuat mabuk Geya?" Shaka begitu sangat geram.
Bug.
Dengan sekali pukulan dari Shaka, Pria muda itu langsung tersungkur ke tanah.
***
Flashback on.
"Sebaiknya aku pulang, Tak ada gunanya memperhatikan wanita ****** seperti dirinya. Dia ternyata sama saja dengan gadis lainnya, Murahan!" ucap Shaka yang ada di dalam mobil.
Walaupun dia bukan pria baik-baik, Shaka menginginkan gadis baik-baik untuk mendampinginya.
Belum sempat memutar balik mobilnya, Tak sengaja Shaka mendengar percakapan dua orang di sebelah mobilnya.
"Apa Geya sudah mabok?" tanya seorang pria muda kepada seorang gadis.
"Yah, Aku yakin sudah membuatnya mabuk!" jawab gadis itu.
Shaka melihat mereka berdua dari spion mobilnya. Rupanya gadis yang ada di sebelah pria muda adalah salah satu teman Geya yang ia lihat duduk bersama Geya. Mereka ternyata sudah berniat buruk kepada Geya.
"Terima kasih. Aku akan memberinya kenang-kenangan malam ini. Salah siapa dia memutuskan aku secara sepihak! Aku ingin menghamilinya sebelum ia menikah dengan calon suaminya," Pria muda tampak memiliki maksud buruk kepada Geya.
Melihat itu Shaka tak jadi pulang.
Aku harus menolongnya. Batin Shaka.
"Ha...ha, Aku juga tidak suka dengan Geya. Dia terlalu beruntung menjadi seorang perempuan. Minggu depan ia akan menikah. Kamu sangat beruntung kalau bisa mendapatkan keperawanan Geya malam ini," ucap Gadis di sebelahnya.
Mendengar itu Shaka lalu berubah pikiran. Sebelum mobilnya meninggalkan area. Shaka buru-buru menghampiri sopir pribadi Geya yang ada di area parkir menyuruhnya agar membawa Geya pulang.
Melihat Geya yang bersikeras tidak mau pulang, Akhirnya terpaksa Shaka yang mengantarnya.
***
Shaka kembali mendaratkan pukulan tepat ke rahang pria muda itu.
"Siapa kamu? Beraninya kamu memukulku?" tanya pria muda lagi. Ia tidak Terima dengan perlakuan Shaka kepadanya.
"Kamu ingin tau siapa aku?" Shaka kembali menarik baju pria muda itu.
Berkali-kali pria muda hendak memukul balik Shaka. Namun tetap saja tidak berhasil, Tubuh besar Shaka tidak bisa di jangkaunya.
Bug.
Ketiga kalinya Shaka memukul pria itu.
"Jangan berani menjebak calon istriku! Kalau tidak kamu akan mati di tanganku!" geram Shaka.
Pria muda yang mendapatkan bogem mentah dari Shaka tidak berani melawannya lagi.
Tidak menunggu lama akhirnya Shaka kembali memasuki mobilnya dan segera melajukan ke jalan raya.
Di belakang tempatnya duduk sudah ada Geya yang masih belum sadar dari masuknya.
"Kalau sekarang aku tidak menolong mu! Mungkin pria itu sudah menodai mu," ucap Shaka sambil mengemudikan mobilnya.
"Hai gadis labil, Dimana rumahmu? Katakan padaku?" ucap Shaka setengah berteriak.
Rupanya Geya benar-benar tak mendengar ucapan Shaka.
Shaka memang mengenal Tuan Sam, Ayahnya Geya. Namun ia tidak tau alamat rumah Geya.
Geya yang tertidur di mobilnya tak menyahuti pertanyaan Shaka kepadanya.
"Sial! Kenapa tadi aku tidak bertanya kepada sopirnya dimana alamat rumahmu!" Shaka menepuk jidatnya.
Mobil Shaka sudah jauh dari Cafe tadi. Shaka sempat ingin berbalik menuju cafe hendak menanyakan alamat kepada sopir pribadi Geya.
Kalau aku ke sana, Pasti sopir itu sudah pulang! batin Shaka.
Kini ia bingung harus membawa Geya kemana.
Berkali-kali Ia menghubungi ibunya menanyakan dimana alamat rumah Geya. Namun Nyonya Stella tak menanggapi panggilannya.
Mungkin mommy sedang tidur.
Sebaiknya aku pesankan kamar hotel untuk gadis ini. Tidak mungkin ia tertidur di dalam mobil ku.
***
Sepuluh menit kemudian.
Shaka telah masuk ke dalam salah satu hotel milik Tuan Bram. Dirangkulnya Geya yang sedang mabuk memasuki kamar hotel.
"Kau sedang membawaku kemana, Pria sombong?" Geya masih meracau.
"Diam lah! Kamu boleh tidur sekarang!" Shaka merebahkan Geya yang dari tadi ia rangkul ke kasur.
"Bajumu basah! Kamu boleh memakai baju gantiku," ucap Shaka lagi sambil melempar baju ke kasur di sebelah Geya yang telentang. Kebetulan Shaka membawa baju ganti di dalam mobil.
"Kenapa kepalaku sangat pusing?" tanya Geya masih belum sadar kalau ia sedang mabuk.
"Hai gadis labil! Apa kamu tidak sadar kalau kamu sedang mabuk?" ucap Shaka, "Mulai sekarang jangan sekali lagi berteman dengan teman mu yang tadi. Mereka punya niat jahat kepada mu!" tambahnya.
Geya menoleh ke arah Shaka yang duduk di sebelahnya.
"Kenapa mukamu terlihat sangat tampan malam ini?" racau Geya yang masih mabuk.
"Memang aku dari dulu sudah tampan. Apa kamu hanya menyadarinya saat mabuk?" gerutu Shaka.
Sepertinya akan sia-sia berbicara dengannya. Batin Shaka.
"Istirahatlah! Kalau membutuhkan sesuatu kamu boleh menghubungi staf hotel lewat telepon," ujar Shaka. Ia tidak mau berlama-lama dengan seorang gadis di dalam kamar hotel.
"Tunggu,"
Geya yang masih mabuk tak sadar menarik tangan Shaka.
Shaka yang tak bisa mengimbangi tubuhnya tiba-tiba terjatuh tepat di atas tubuh Geya.