Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Curhatan Shaka


"Joni punyaku tidak bereaksi saat bertemu dengan Simeki," bisik Shaka pelan di telinga Firo.


Firo mencerna perkataan Shaka barusan.


"Maksudmu Si Joni punyamu itu?" tunjuk Firo ke celana Shaka.


Shaka mengangguk mengiyakan.


Mendengar itu Firo menarik nafasnya sambil terus memandangi wajah Shaka yang terlihat murung.


"Apa kamu Gay?" tanya Firo menggeser sedikit duduknya menjauhi Shaka.


"Kamu tidak perlu bergeser seperti itu, Karena aku bukan Gay," tampik Shaka.


"Syukurlah! Kenapa dengan si Joni milikmu? Apa kamu memiliki penyakit sampai ia tidak bisa berdiri?" tanya Firo.


Shaka menggeleng.


"Aku sehat, Bahkan sangat sehat. Apa kamu tidak bisa melihat badanku?" gerutu Shaka.


Firo kembali menatap ke arah Shaka.


"Lalu kenapa sampai tidak bisa berdiri? Apa kamu tidak menyukai gadis itu?"


"Aku sudah mulai menyukai gadis itu, Justru karena aku menyukainya. Aku meminta saran kepadamu" gerutu Shaka, "Punyaku normal. Hanya saja tidak mau diajak main bersama. Si Joni hanya mau berdiri setiap aku pegang di kamar mandi," jelas Shaka lagi.


Shaka berbicara sangat pelan takut ada orang lain mendengarnya.


"Apa Si Joni sering kamu ajak main sendirian?" tanya Firo, "Aku benar-benar tidak habis pikir kenapa kamu bisa seperti itu"


Shaka mengangguk.


"Ya, Setiap pagi setiap kali mandi aku ajakin Joni main sendirian sambil menonton video di Handphone"


Mendengar itu Firo menggelengkan kepalanya.


"Berarti kesalahan ada padamu, Sekarang mana handphone mu?"


"Apa?"


"Sini aku lihat handphone mu!" ucap Firo lagi.


Shaka akhirnya memberikan Handphone kepada Firo.


Firo lalu membuka Handphone milik Shaka dan membuka isi di dalam handphone itu.


Firo kembali menggelengkan kepalanya, "Hapus semua video yang sering kamu tonton bersama Joni" Firo menyodorkan Handphone milik Shaka agar pria itu menghapus video mesum di handphonenya.


"Tapi, ini udah kebiasaan ku setiap pagi,"


seru Shaka.


Malam ini pria itu terlihat sangat frustasi ketika Firo suruh menghapus seluruh video kesukaannya.


Lagi-lagi Lela kembali lewat di depannya.


"Maaf Tuan, Aku mau ke kamar mandi lagi" seru Lela.


Firo hanya menganggukkan kepalanya.


"Kenapa wanita itu sering kali ke kamar mandi malam-malam begini?" tanya Shaka merasa terganggu.


"Nanti kamu akan tau jawabannya kalau sudah menghapus semua video kesukaan di handphone mu itu lalu tunggu beberapa hari," sahut Firo.


Akhirnya mau tak mau Shaka menghapus semua video mesumnya.


"Kalau sudah di hapus jangan sekali-kali kamu menyimpannya lagi," seru Firo mengingatkan.


Dengan sangat terpaksa Shaka mengikuti saran Firo.


Maaf Joni, Kamu harus berpuasa dulu. Batin Shaka.


"Besok kamu jangan ajak main Joni"


Firo kembali memberi saran, "Biarkan si Joni membuang kebiasaan buruknya dulu," larangnya.


"Sampai kapan?" protes Shaka mendengus kesal.


"Sampai Joni bisa mencari teman sendiri," tekan Firo, "Kalau tidak suruh Geya sendiri yang mengajak bermain Joni"


Saat mengatakan itu Firo mencoba menahan tawanya.


Shaka kembali terdiam sesaat. Apa yang dikatakan Firo ada benarnya juga.


Firo mengangkat bahunya, "Berhasil atau tidak itu tergantung kamu," cetus Firo tidak tau, "Kamu mencintai istrimu kan?" tanyanya.


Shaka mengangguk mengiyakan.


"Kamu tidak mau kan Geya meninggalkanmu gara-gara kamu tidak normal? Mau di taruh dimana mukamu kalau semua orang sampai tau, Apalagi ibu mu!" seru Firo.


"Kamu ngga mau kan Geya meminta cerai dari mu gara-gara si Joni tidak mau diajak duet?" sambung Firo lagi.


Shaka kembali mengangguk.


"Lama-lama kamu sudah seperti orang tua," papar Shaka sambil menonjok tangan Firo, "Terima kasih, Firo"


"Lagian aku ngga habis pikir apa enaknya sih main sendirian. Lihat saja Agung, orang seperti itu saja bisa! Apa lagi pria tulen seperti kamu!" ejek Firo, "Main bareng lebih asik dari pada sendirian. Apalagi kalau sampai dapat bonus kaya Drago"


Dari tadi Shaka hanya tersenyum mendengarkan ceramah Firo.


"Besok aku akan mencobanya," sahut Shaka.


Kamu harus kuat, Joni.


Untuk ketiga kalinya Lela kembali lewat ke kamar mandi.


"Kamu mau ke kamar mandi lagi?" tanya Shaka geram.


Sambil tersenyum Lela mengangguk mengiyakan.


Firo yang sedang duduk langsung menepuk jidatnya.


***


Firo yang belum bisa tidur akhirnya memutuskan kembali ke kamarnya. Ia masih memperhatikan wajah Drago yang sedang tidur nyenyak di samping istrinya.


Drago sudah mengerti akan kehadirannya. Anak itu tidak akan mau tidur kalau bukan ayahnya yang menggendongnya.


Firo kembali mengingat masa kecilnya dulu saat belum datang ke rumah itu. Walaupun banyak kenangan yang terlupakan. Firo masih mengingat beberapa momen saat bersama Tuan Bram, Ayahnya.


"Daddy, Aku mau di gendong kaya pesawat"


"Aku tidak mau mandi kalau tidak bersama Daddy"


"Daddy, aku ngga mau makan kalau bukan Daddy yang suapi"


"Daddy aku ingin makan es krim coklat"


Firo masih mengingat beberapa kenangan ia bersama Tuan Bram dulu saat kecil.


Walaupun banyak kenangan buruk yang dibuat ayahnya. Firo tidak bisa menghilangkan semua hal yang manis bersama Tuan Bram.


Terakhir bertemu, Saat di lokasi penyekapan. Tuan Bram terlihat sangat menyesal mengakui kesalahannya kepada Firo. Apapun alasannya, Firo tetap membenci dirinya.


Diam-diam air mata keluar dari ujung netra Firo. Ada rasa rindu yang menyeruak terhadap ayahnya.


Kenapa rasa benci ini lebih besar dari rasa rinduku?


Air mata seorang lelaki ternyata lebih jujur dari pada perempuan. Andaikan ia perempuan, Firo akan menangis menjerit malam itu.


Firo mencoba menyeka air matanya berulang kali setiap mengingat ayahnya. Sebenarnya ia tak sekeras itu kalau saja ayahnya tak membunuh ibunya. Dan membawa mereka dalam masalah sesulit ini.


Firo kembali memandangi wajah Drago yang lebih condong mirip dengan Medina. Wajah polos itu selalu mengingatkannya kalau sekarang ia juga telah menjadi seorang ayah. Tidak ada seorang ayah yang sempurna. Itu yang ada di pikiran Firo sekarang.


Saat Drago tiba-tiba menangis. Firo buru-buru menyeka air matanya agar Medina tidak mengetahuinya.


"Kamu belum tidur, Sayang" Medina kembali terjaga karena mendengar tangisan Drago.


Firo menggeleng, "Tadi Shaka mengajakku mengobrol di luar," tampik Firo.


Firo berusaha menyembunyikan kesedihannya. Bagaimanapun caranya, Ia harus tetap tegar di hadapan anak dan istrinya.


"Drago sepertinya haus," ucap Firo mendekatkan mulut Drago agar mau menyusu.


Setiap malam Firo selalu bergantian bersama istrinya menjaga Drago. Dibandingkan Medina, Firo lebih posesif kepada anaknya. Ia tak mau kehidupan Drago seperti dirinya. Firo selalu bertindak berlebihan setiap ada sesuatu menyangkut anaknya.


"Tidurlah sudah malam, Tidak baik tidur sampai larut seperti ini," seru Medina.


Firo akhirnya menurut tidur di sebelah Drago. Sambil menutup matanya Firo tak berhenti mengelus Drago agar tertidur kembali.


###


Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.


Terima kasih.