
"Aku mohon jangan lakukan itu, kak!" Niki bersujud di kaki Firo memohon Firo agar mempertimbangkan lagi keputusannya.
Niki menangis sesegukan di kaki Firo.
"Tidak bisa, Kesalahan dia sangat fatal. Dia sudah membunuh banyak orang," ucap Firo.
Tidak hanya Niki, Syerli pun memohon kepada Firo sambil menangis menahan kaki Firo agar tidak menelepon polisi.
Medina mencoba mengangkat tubuh Niki agar tak bersujud di kaki suaminya.
Tuan Bram belum melakukan hal apapun. Dia masih berdiri mematung seakan masih belum mempercayai.
"Kalian salah jangan memohon padaku, tapi memohon lah kepada keluarga korban yang sudah Sony bunuh," ucap Firo.
"Orang ini adalah pembunuh berdarah dingin, dia tidak bisa di biarkan bebas." ucap Firo lagi.
Kesempatan itu di pakai Sony untuk mengambil pisau di saku belakang Firo.
Pisau yang di gunakan Firo jatuh tergeletak di bawah. Firo tak sadar tiba-tiba Sony meraih pisau itu.
Sony menarik tubuh Medina di dekatnya. Dengan sangat cepat ia melingkarkan pisau itu tepat di leher Medina.
"Jangan mendekat! Atau aku bunuh istrimu di depan matamu," bentak Sony kepada Firo.
Langkah kaki Sony mundur selangkah demi selangkah menuju ke pintu keluar.
Medina yang terkaget baru sadar beberapa detik kalau sekarang dia sudah menjadi sandera Sony.
"Satu langkah saja maju, Akan aku potong leher istrimu yang paling kamu sayangi," bentak Sony.
Firo terlihat semakin marah kepada Sony karena menjadikan istrinya sebagai sandera. Firo tak mau salah melangkah bisa-bisa istrinya terluka mengingat Sony adalah pria yang sangat berbahaya. Tak segan-segan ia bisa melukai Medina istrinya.
"Sony! lepaskan Medina," teriak Tuan Bram memohon kepada Sony agar melepaskan menantunya.
Firo menahan langkahnya.
"Semuanya mundur, Atau ku bunuh wanita ini," ucap Sony.
"Semuanya mundur," teriak Tuan Bram memberi perintah kepada semuanya.
Tangan Sony begitu kekar menahan tubuh Medina. Medina tak bisa berkutik dia ingin lepas dari cengkraman Sony tapi dia begitu kuat menahan tubuhnya.
"Lepaskan," rintih Medina ketakutan.
"Lepaskan istriku," teriak Firo.
Firo sangat takut istrinya kenapa-napa. Medina yang menatap Firo seakan meminta pertolongan suaminya agar menolongnya.
"Sedikit saja kamu melukai istriku. Tidak akan ku biarkan kamu hidup," teriak Firo.
"Ha... ha... aku tidak akan melepaskan dia sebelum aku bisa keluar dari sini," sahut Sony sembari tertawa.
"Jangan macam-macam kamu Sony!" ujar Firo sambil berteriak keras.
Sony masih menodongkan pisau di leher Medina. Sedikit demi sedikit kaki Sony mulai keluar dari pintu ruang tengah.
Padahal di rumah itu banyak sekali pengawal. Namun karena mereka takut pisau itu mengenai majikannya mereka membiarkan Sony mundur melewatinya.
"Minggir! Atau ku bunuh wanita ini," bentak Sony menyuruh semua orang menjauhinya.
Pisau itu hampir saja menusuk leher Medina. Bahkan karena saking tajamnya. Pisau itu sedikit mengenai kulit lehernya. Medina sudah merasa perih di bagian lehernya. Semakin ia berontak Sony semakin mencengkeramnya.
"Tolong lepaskan aku," ucap Medina memohon.
"Diamlah agar umurmu bisa semakin panjang," bisik Sony.
Firo mengikuti Sony yang membawa istrinya kemudian di susul dengan Tuan Bram dan para pengawal.
Niki menangis melihat kakaknya menjadi sandera. Karena sedang hamil dia tak di ijinkan mengikuti Medina.
Akhirnya Sony berhasil keluar dari rumah itu.
"Nyalakan mobilnya," suruh Sony kepada sopir yang ada di depan pintu gerbang.
"Ta-tapi tuan," sopir itu terlihat ketakutan.
Sopir melihat Tuan Bram yang menganggukan kepalanya.
"Cepat nyalakan!" teriak Sony lebih keras.
Firo sudah ada di depan mengikuti Sony.
"Mundur atau leher istrimu akan aku tebas. Kamu tahu kan setajam apa pisau ini." tegas Sony.
Firo terpaksa memundurkan langkahnya lagi.
"Aku mohon jangan lukai istriku," ucap Firo memohon.
Air mata Medina tak bisa ia bendung. Ia benar-benar sangat ketakutan.
Firo tidak tega melihat istrinya yang menangis.
"Honey, tenanglah! aku akan berusaha menolong mu," ucap Firo menenangkan istrinya.
Tuan Bram mengerahkan seluruh pengawalnya agar bersiap.
Sopir yang di tugaskan Sony sudah siap menyalakan mobilnya.
Sony segera menaiki mobil itu sambil membawa Medina masuk ke dalamnya. Ia masih mengaitkan pisau di leher Medina.
"Tolong lepaskan aku, Sony" lirih Medina kepada Sony.
"Aku tidak akan melepaskan mu wanita jalan**" ujarnya kepada Medina.
"Jalan," ucap Sony kepada sopir itu.
"Ba-baik tuan" ucap sopir itu ketakutan. Ia melajukan mobilnya ke jalanan mengikuti perintah Sony yang masih mengaitkan pisau di leher majikan perempuannya.
Dua mobil di siapkan untuk mengikuti mobil Sony. Ketika mobil yang ada Sony di dalamnya berjalan ke depan. Tuan Bram dan Firo segera menaiki mobil lainnya. Firo mengikuti mobil Sony yang sudah berjalan.
Mobil mereka saling berkejar-kejaran. Mobil Sony melaju dengan cepat. Tuan Bram sudah menelepon polisi agar dapat menghentikan mobil Sony di tengah jalan.
"Lebih cepat lagi," teriak Sony kepada sopir.
Kita bisa dalam bahaya tuan kalau mempercepat lagi," ujar Sopir sambil mengendarai mobilnya.
"Lepaskan aku," Medina terus memberontak.
Sony yang geram akhirnya memukul Medina agar diam.
Tak.
Sekali pukulan membuat Medina tak sadarkan diri.
Sony meraih kemudi yang sedang di kemudian sopir. Dengan gerakan cepat Sony meraihnya.
Kemudi sudah di tangan Sony. Dengan cepat kakinya mendorong tubuh Sopir di sebelahnya agar keluar. Sony menendang sopir itu hingga terjatuh di jalanan.
Kini Sony yang membawa mobil itu.
Mobil sudah dalam kecepatan tertinggi. Karena tengah malam jalanan terlihat sepi. Mobil Sony dengan bebasnya melaju. Sony sengaja menabrak tiang pembatas yang ada di depan karena menghalanginya. Berkali-kali mobil itu menerjang apa saja yang menjadi penghalangnya bahkan ketika lampu merah pun terus melaju cepat. Mobil menuju arah puncak.
Mobil Firo tak kalah cepat di belakangnya.
"Lebih cepat lagi!" teriak Firo di telinga sopir. Ia tidak mau kehilangan jejak Sony yang membawa istrinya.
Sudah setengah jam Mobil Firo mengikuti mobil Sony. Ternyata Mobil Sony menuju puncak .
Tuan Bram di mobil yang berbeda mengikuti mobil Sony yang semakin cepat.
Polisi yang sedang berpatroli merasa curiga. Mereka mengerahkan anak buahnya mengikuti mobil hitam yang ada Sony di dalamnya.
Empat mobil mengikuti mobil yang di kemudikan Sony. Medina masih pingsan di sebelahnya.
Bersamaan dengan itu hujan turun dengan derasnya.
Karena saking cepatnya Mobil Sony sampai kehilangan arah. Empat mobil di belakang masih mengikutinya. Sony hilang kendali ia menabrak pepohonan yang menjadi pembatas antara dataran tinggi dan dataran rendah.
Keempat mobil kehilangan jejak Sony.
Suasana menuju puncak di tengah malam begitu gelap. Ditambah hujan deras yang membuat pandangan Sony sedikit kabur. Ia masih dengan cepat melajukan mobilnya.
Di depan ada dua orang pasangan duduk berduaan sedang asik berpacaran. Sony benar-benar hilang kendali. Ia membanting stir mobilnya lalu dengan brutal menabrak dan menyeret kedua orang itu di depannya semakin menjauh.
Dan mobilnya sampai di ujung pembatas tak bisa ia kendalikan.
DUAARRRRRRR!!
Dua orang pasangan dan mobil Sony terjatuh masuk ke dalam jurang.