
Sony meninggalkan motornya d halaman depan. Dengan sangat tenang ia masuk kedalam ruma Firo yang terlihat sangat sepi malam itu.
Dengan keahliannya, Sony mampu membuka pintu pagar dan pintu rumah belakang. Sony berjalan sangat tenang masuk kedalam rumah Firo. Agung yang biasanya menjaga rumah itu sedang asik berbulan madu.
Sony memasuki satu persatu kamar rumah. Kebetulan rumah itu tidak ada pengaman sama sekali.
Sepertinya ini adalah kamar Firo. Gumam Sony.
Sony memasuki kamar Firo yang sangat gelap.
Di dalam kamar itu sedang ada Medina yang sedang tertidur. Sony yakin yang disebelah Medina adalah Firo yang sedang tertidur ditutupi selimut.
Kamu harus mati sekarang, Firo. Batin Sony.
Sony menaikkan pisau tepat di atas kepalanya hendak menusuk Firo yang sedang tertidur.
Tak.
Pisau menancap di atas tubuh Firo yang sedang tertidur.
"Mati kamu sekarang!" ucap Sony sambil tersenyum.
Bersamaan dengan itu, Medina yang sedang tertidur langsung terbangun dan menghindar kebawah kasur.
Lampu tiba-tiba menyala.
"Jangan bergerak!"
Dari pintu muncul empat orang polisi menodongkan pistol ke arah Sony.
Dari tadi dua polisi sudah ada di dalam kamar Firo yang sengaja dimatikan lampunya.
"Angkat tangan! Anda sudah tertangkap! Jangan bergerak!" teriak seorang polisi berjalan mendekati Sony yang masih kebingungan.
Sony akhirnya mengangkat tangannya.
Ternyata rencananya sudah tercium oleh Firo. Dan yang ia tusuk adalah sebuah bantal yang sengaja Medina tutupi dengan selimut.
Firo sudah mengetahui semuanya dari pihak polisi yang menghubunginya sesaat setelah Sony kabur dari penjara. Polisi langsung melakukan pencarian di penjuru kota bahkan ia meminta bantuan Firo untuk mencarinya.
Firo langsung berpikiran Sony pasti akan menemui anaknya. Saat Sony bertemu Niki, Diam-diam Firo sedang memantaunya. Bahkan ia mengikutinya sampai ke dalam hotel.
Karena ketahuan Sony menyuap petugas Lapasa, Pihak berwajib langsung memecat semua pihak yang terlibat karena memberi ijin kepada Sony keluar penjara.
Selain memecat, Pihak berwajib bahkan memberikan sanksi bagi petugas yang terlibat di dalamnya.
Bersamaan dengan itu juga pihak berwajib langsung mengadakan sidak besar-besaran di dalam Lapasa. Semua fasilitas yang tidak sesuai dengan hukum akan di sita sebagai aset negara. Untuk kedepannya petugas memastikan tidak ada perlakuan istimewa kepada Sony.
Saat itu Medina yang sudah menghindar langsung berlari mendekati Firo yang muncul bersama dua Polisi.
"Kamu tidak apa-apa, Honey?" tanya Firo begitu ketakutan.
Medina menggeleng.
Sementara Nyonya Vika bersama Drago sudah di amankan di tempat lain.
"Rupanya kamu masih belum kapok juga, Sony!" tegas Firo.
Polisi langsung meringkus Sony dengan cepat, "Jangan kira anda bisa menipu dan menyuap petugas kami dengan seenaknya." Polisi memukul kepala Sony.
Bug.
Firo mendekati Sony sambil tersenyum miring, "Bodoh!" cibir Firo, "Bukanya kapok, Kamu malah semakin menjadi!"
Plak.
Firo menampar pipi Sony.
"Aku pastikan hukuman mu akan bertambah lebih lama lagi, Aku akan menambah tuntutan kepada mu!" ketus Firo.
Sony menatap tajam ke arah Firo.
Polisi langsung membawa paksa Sony ke dalam mobil polisi yang sudah terparkir di halaman depan.
***
Sidang dakwaan terakhir Sony telah berakhir. Awalnya Sony akan di pidana selama sepuluh tahun. Namun karena Firo menambah tuntutan dan karena kasus suap yang menimpanya, Akhirnya hakim memutuskan hukuman dua puluh tahun kepada Sony.
Walaupun masih belum puas dengan hukuman Sony, Firo akhirnya menerimanya. Untuk sementara Ia bisa bernapas lega karena Sony akan di awasi lebih ketat lagi.
Sekarang sudah tidak ada fasilitas khusus untuknya. Sony sekarang mendekap di dalam lapasa menghirup udara bersama-sama dengan narapi lainnya.
***
Sementara Tuan Bram di dalam Rutana masih menunggu sidang dakwaan terakhir untuknya. Kasus yang menimpanya lebih berat dari Sony.
"Sayang, Besok akan di adakan sidang dakwaan terakhir untuk Daddy," ucap Medina kepada Firo yang sedang duduk santai bersama Drago di ruang tengah.
Kalau sudah membahas ayahnya, Firo pura-pura sibuk dengan Drago. Ia tidak memperdulikan ucapan istrinya.
"Sayang, Apa kamu tidak mendengar ku?" tanya Medina lebih keras lagi.
"Hem," Firo hanya berdehem.
"Drago ayo maju.. kamu pasti bisa," ucap Firo kepada Drago yang sedang belajar merangkak.
Medina yang merasa diacuhkan langsung mendekati Firo.
Drago mulai merangkak selangkah demi selangkah.
"Bayi pintar... mmuaach" Firo mencium bayi Drago berkali-kali.
"Sayang, Bisakah besok kamu datang ke sidang terakhir Daddy?" teriak Medina lebih keras lagi.
Mendengar teriakan Medina, Firo mendengus kesal.
"Bisakah kamu tidak membahas orang itu kepada ku?" Firo terlihat sangat marah.
Baru kali ini Firo sangat emosi karena ucapan istrinya.
"Bagaimana pun juga orang itu adalah ayahmu!" ucap Medina.
Walaupun Medina juga pernah menjadi korban dari Tuan Bram, Ia masih bisa memaafkan ayah mertuanya. Menurutnya Tuan Bram sudah menyesali perbuatannya. Bahkan Ia sudah menerima imbas dari kesalahannya.
"Jangan paksa aku menemui orang itu," ketus Firo.
Drago yang sedang belajar merangkak langsung di gendongnya.
Medina menarik napasnya. Kemarin Shaka sempat meminta tolong kepadanya agar membujuk Firo menemui Tuan Bram.
Sebenarnya Medina tidak yakin suaminya akan menurutinya mengingat kebencian Firo sudah terlalu besar terhadap ayahnya.
"Apa tidak bisa sekalipun kamu menemuinya? Walaupun kesalahannya sangat besar, Daddy tetap ayah kandungmu. Bahkan kamu juga seorang ayah, Bisakah kamu mengerti bagaimana perasaannya sekarang yang setiap hari menunggumu di dalam penjara?" ucap Medina.
"Aku tidak mau. Sekali lagi jangan paksa aku menemuinya. Apa kamu tau berapa tahun aku di kurung di kamar terpisah itu? enam belas tahun aku di kurung sendirian di sana! Bahkan dengan tindakan bodohnya, Ia membuatku gila! Apa sekalipun ia menolongku? Tidak!. Ia hanya membiarkan ku hampir mati sendirian di sana! Ayah mana yang tega membiarkan anaknya terkurung sendirian?" ketus Firo dengan keras.
"Kalau kamu mau, Kamu saja sendiri yang menemuinya!" bentak Firo menatap tajam istrinya.
Gara-gara membahas Tuan Bram, Terjadi pertengkaran antara Medina dan Firo. Medina tak bisa menahan air matanya ketika Firo membentaknya.
Perseteruan mereka berhenti ketika Drago menangis kencang.
"Bisakah kamu berkata pelan terhadap istrimu!" ucap Medina sambil menghapus air matanya.
"Maafkan aku, Sudah memaksamu!" ucap Medina terisak, "Sebenarnya maksudku baik" tambahnya lagi.
Baru kali ini Firo berkata ketus kepadanya.
Sambil menggendong Drago, Medina meninggalkan Firo sendirian di ruang tengah.
Melihat istrinya menangis, Firo begitu merasa bersalah. Firo tak bermaksud membentak istrinya, Hanya saja ia tidak mau membahas Tuan Bram lagi dalam hidupnya. Apa lagi menemuinya, Itu adalah hal yang tidak mungkin bagi Firo.
"Mey, Aku tidak bermaksud membentak mu.." Firo berlari menemui Medina di dalam kamar.