Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Malam yang Panas.


Sudah seharian Medina tidak mandi, Bahkan saat pergi ke pesta pun ia hanya mencuci muka. Medina sangat tidak nyaman kalau harus mandi di rumah sakit.Medina yang merasakan kegerahan akhirnya memutuskan mandi malam itu.


Tangannya meraih punggungnya mencoba membuka resleting gaun yang di pakainya.Beberapa helai rambut yang ia gerai tersangkut di resleting belakang gaunnya, sudah beberapa kali ia mencoba membukanya namun karena rambut itu tersangkut membuat resletingnya sangat susah ia buka sendiri.


Firo masih berkutat dengan laptopnya.Sudah hampir lima belas menit Medina tak bisa membuka gaunnya. Akhirnya dari pada ia tidak bisa membuka gaunnya.Ia memutuskan keluar kamar mandi meminta bantuan suaminya.


"Sayang," panggil Medina.


"Hem" Firo yang tidak melihatnya hanya berdehem.


"Bisa bantu aku ngga," ucap Medina lagi.


"Bantu apa?" tanya Firo masih sibuk tak menoleh.


"Tolong bantu aku membuka resleting bajuku,"


Medina berdiri mendekat suaminya agar membantunya melepas gaunnya.


Firo masih tak menoleh tetapi tangannya ia kerahkan ke resleting gaun istrinya.


"Beberapa helai rambutku tersangkut di bajuku," ucap Medina.


Firo mulai menoleh ke arah Medina ketika resleting itu berkali-kali tidak segera turun ke bawah.


"Pantas saja dari tadi aku tak bisa membukanya" ujar Firo.


Matanya berbinar.


"Kalau tidak nyangkut aku juga bisa membukanya sendiri," sahut Medina.


Rambutnya ia samping kan ke bahu bagian kanannya agar tidak mengganggu. Punggung Medina yang sudah terbuka separuh menampakan kemulusan kulit putihnya.


Firo menelan salivanya, kedua matanya tak berhenti berkedip melihat punggung yang setengah terbuka itu membuat pandangannya yang dari tadi fokus ke laptop beralih ke punggung yang putih mulus.


Firo segera menutup laptop dan segera menyingkirkannya dari sampingnya.Dengan refleknya tangan Firo yang masih berusaha membuka resleting beralih menyentuh ke bagian atas punggung istrinya.


Sangat halus, gumamnya.


Tubuh Medina sedikit bergetar dengan sentuhan lembut Firo di tengkuknya.Firo mendekatkan wajahnya ke leher jenjang itu.


"Sayang hentikan, aku belum mandi" ujar Medina terasa kegelian karena hembusan nafas Firo.


"Apa kamu sengaja menggodaku," ucapnya di telinga kanan Medina.


Medina meremas gaun yang masih di pakainya.Ia yang merasa kegerahan semakin panas di buatnya.


"Bukan begitu maksud... "


Ucapannya tertahan karena Firo sudah menutup mulutnya dengan Bibir merahnya.


Sungguh terasa manis.


Pipinya di buat merona ia tak berani menoleh ke arah suaminya.Tangan Firo yang semula di belakang punggungnya kini sudah beralih ke tempat yang lain, tempat yang lebih berasa empuk dipegangnya.


Firo sudah tak tahan lagi gaun yang masih di kenakan Medina segera ia robek di bagian belakang karena sangat susah ia lepas.


Brett.


Suara robekan gaun itu terasa nyaring di kamar yang mendadak sunyi itu.Beberapa helai rambut Medina yang masih tersangkut akhirnya terlepas.Firo segera melempar gaun itu ketika berhasil menyobeknya sampai ke bawah.


"Sepertinya malam ini aku harus melupakan masalahku," ucap Firo sambil menarik dengan lembut tubuh istrinya.


***


Setelah mandi Medina nampak begitu segar. Bahkan karena aktifitas barusan, membuat Firo akhirnya ikut mandi juga.


Medina sedang berkaca di depan cermin. Walaupun bukan pertama kalinya Medina masih tampak malu malu dengan kelakuan suaminya barusan. Berkali kali ia tersenyum sendiri karena mengingat perlakuan lembut suaminya. Kali ini mereka berdua sangat menikmati di bandingkan dengan sebelumnya.


Firo memeluk istrinya dari belakang yang masih duduk di depan cermin.


Mereka kadang tersenyum bersama.


"Apa kamu sudah merasa baikan sayang" ucap Medina.


"Benarkah? " ucap Medina tersenyum.


"Sepertinya memang obat stres yang paling mujarab adalah bermain bersama istriku," ujar Firo mengecup rambut istrinya.


***


Di kantor Tuan Bram,


Pagi itu Firo memasuki ruangan yang nampak paling besar di banding ruangan pribadi lainnya.


Di kursi sudah duduk seorang yang berpakaian necis dan memiliki sedikit kumis tipis di bawah hidungnya sudah menunggunya.


Sekretaris Andre yang ada di ruangan itu lalu undur diri meninggalkan mereka agar bisa leluasa mengobrol berdua.


"Duduklah," ucap Tuan Bram kepada anaknya setelah Sekretaris Andre keluar dari ruangannya.


"Bagaimana kabarmu Firo?" tanya Tuan Bram.


Firo lalu duduk di depan Ayahnya.


"Kabarku baik-baik saja," jawabnya.


Kedua orang yang terjalin hubungan ayah dengan anak ini terlihat canggung ketika ngobrol berdua.Sejak kematian ibunya Firo sudah tak menerima perlakuan hangat seorang ayah lagi.


"Bagaimana perkembangan kasus di Hotel Axon? saya dengar juga kemarin malam di Hotel Aurora juga mengalami masalah?" Tuan Bram memulai obrolan.


"Sepertinya saya tak usah menjelaskan panjang lebar, bukannya sekretaris Andre pasti sudah memberitahukan terhadap anda," ujar Firo.


Tuan Bram yang semula duduk di kursinya beralih duduk di meja mendekati puteranya.


"Apa yang akan kamu lakukan untuk menyelesaikan masalahnya?" tanya Tuan Bram.


"Aku akan mencari pelakunya, walaupun itu dari keluarga sendiri aku akan memberi perhitungan terhadapnya," sahut Firo.


"Apa kamu yakin pelakunya dari orang dalam?" tanya Tuan Bram.


"Aku sangat yakin, karena dari kecil aku sudah terbiasa dengan adanya musuh dalam selimut," ucap Firo tegas.


"Hati hati dengan tindakanmu! kamu harus punya bukti yang kuat"


Tuan Bram memperingatkan.


Tuan Bram mendekati Firo.


"Firo, apa kamu tahu, Dari aku kecil Daddy sudah harus menjadi tulang punggung keluarga, Daddy selalu berusaha mendapatkan apa yang Daddy mau. Bahkan kesuksesan yang Daddy punya tidak semudah itu mendapatkannya,"


"Aku dari kecil adalah seorang pemulung yang lahir dari keluarga miskin. Setiap hari aku harus mencari sesuap nasi untuk menghidupi kedua adik dan ibuku yang lumpuh,"


"Berbagai cara aku lakukan demi mendapatkan uang. Menjadi miskin itu sakit. Berkali kali keluarga aku di hina, di tendang dari pintu ke pintu karena tidak bisa membayar sewa rumah.Memakan makanan yang di dapat dari tempat sampah berdampingan dengan kucing dan anjing."


"Kamu tidak tahu sesulit apa aku akhirnya bisa mendapatkan ini semua," ujar Tuan Bram panjang lebar.


Firo menarik kursi agar sedikit menjauhi ayahnya, "Apa tujuan anda berbicara seperti itu?" tanya Firo.


Tuan Bram tersenyum lebar.


"Aku ingin kamu harus seperti diriku," ucap Tuan Bram.


Firo menatap tajam ayahnya.


"Aku ingin kamu harus seperti serigala yang kelaparan, selalu tidak puas dengan apa yang kamu capai. Kamu harus melumpuhkan semua musuh di depan yang mengganggumu.Jangan biarkan orang lain menghancurkan mu" ujar Tuan Bram.


Firo tersenyum miring di depan ayahnya. Ia mencerna apa yang di katakan ayahnya barusan.


Firo mendekatkan tubuhnya tepat di depan ayahnya. Matanya menatap tajam ayahnya seperti hendak menerkam.


"Baiklah,Aku akan menjadi seperti dirimu, manjadi seorang serigala yang akan menggigit musuhnya menjadi mangsanya. Bahkan kalaupun musuhnya adalah orang yang sedang berdiri di depannya sekalipun,"


Ucapan Firo membuat Tuan Bram terdiam.